
Malam itu Almira pulang dengan perasaan sangat bahagia, ia memeluk Naya dan suaminya itu.
"Ibu, bahagia sekali kelihatannya?" Tanya Naya.
"Hemmm dengar ibu punya kabar gembira buat kalian" Ucap Ibunya itu.
"Kabar gembira apa sayang?" Tanya Arya.
"Ada pengusaha sukses yang akan mensponsori debut ku, tuan Jhonatan dari perusahaan Jhosan" Tuturnya berbinar.
"Wah ibu, selamat ya? Ibu akan benar-benar jadi artis terkenal dong" Ucap Naya menepuk-nepuk tangannya memberi Aplaus pada ibunya itu.
Sraaaaaaaaagggg Arya beranjak tanpa berkata apa-apa ia masuk kedalam kamarnya, membuat keduanya bingung.
"Naya? Apa nenek sudah tidur?" Tanya ibunya itu.
"Iya bu" Jawab Naya.
"Hmmm, sebentar ya? Ibu menemui ayah mu dulu" Ucap Almira yang lantas mengecup kening Naya lalu di balas dengan anggukan kepalanya.
Kriiiiieeeeeeeeeettttt Almira membuka pintu kamar itu dan menutupnya, ia melihat Arya duduk di atas ranjang sembari membelakanginya.
"Mas?" Panggil Almira lirih sembari menyentuh bahu suaminya dan berjalan pelan lalu berjongkok di depannya.
"Kau kenapa mas?" Tanya Almira pelan sembari memegangi tangan suaminya itu.
"Kau semakin cantik, kau semakin menarik, kau semakin hebat, dan kau semakin bersinar, sedangkan aku? Semakin memprihatinkan" Tutur Arya.
"Mas kenapa bicara seperti itu?" Tanya Almira.
"Aku takut kau meninggalkan aku sayang, aku punya firasat buruk untuk itu" Ucap Arya.
"Mas, aku hanya menyanyi, aku juga tidak akan menyembunyikan status ku yang seorang ibu dan istri, jadi kau tidak perlu khawatir atas itu suami ku" Tutur Almira lembut.
"Entahlah, aku mulai ragu, aku menyesal melepas mu menjadi seorang artis" Tutur Arya sembari memalingkan wajahnya membuat Almira tercengang.
"Mas, aku harus apa? Apa kau mau aku membatalkan kontrak ku?" Tanya Almira sembari meneteskan Air matanya.
"Tidak, jangan menangis sayang aku tidak bisa melihat mu menangis, bangunlah" Arya meraih tubuh istrinya itu dan memeluknya.
"Mas, aku tidak apa-apa jika kau ingin aku berhenti mas" Almira terisak
"Tidak sayang tidak, kau harus tetap melangkah, mas percaya pada mu maaf ya sayang" Tutur Arya masih berusaha menenangkan istrinya.
Esok harinya di agency itu.
__ADS_1
"Ini Tuan, Almira Larasati" Ucap Akri, Jhonatan mengusap dagunya sendiri.
"Cantik, lebih cantik dari yang ku lihat di atas panggung" Tuturnya dengan seringai di bibirnya.
"Tapi? Dia belum menikah kan?"
"Emm?" Akri tergagap.
"Me..memangnya kenapa Tuan?" Tanya Akri, sedangkan Almira hanya terdiam.
"Aku hanya ingin bekerja sama dengan artis yang masih singgle belum punya suami apa lagi anak, artis mu ini belum menikah kan?" Tanya Jhonatan.
"Maaf Tuan, tapi saya sudah?"
"Dia belum menikah kok Tuan" Potong Akri membuat Almira menoleh cepat.
"Hmmmm, benarkah?" Tanya Jhonatan.
"Tidak Tuan aku?"
"Almira itu sudah jelas belum menikah Tuan, kau lihat saja bodinya, memangnya ada wanita yang sudah berkeluarga bodinya masi sebagus ini" Lagi-lagi Akri memotong, Jhonatan pun menyeringai.
"Bagus kalau begitu, berikan surat kontrak itu biar ku tanda tangani" Ucap Jhonatan semangat di sisi lain Almira mulai pucat.
"Ini Tuan, silahkan di baca dulu" Tutur Akri.
Ia pun mengguratkan mata penanya dan menandatangani itu di atas materai.
"Chaaaaaahhh akhirnya" Gumam Akri lirih merasa senang, Jhonatan pun menutup pena itu dan memasukan ke dalam sakunya.
"Aku akan segera mentransfer dananya dan bekerja sama dengan beberapa stasiun TV, Almira akan segera debut di sini, maaf saya harus segera ke bandara" Ucap Jhonatan yang lantas beranjak.
"Terimakasih banyak Tuan" Ucap Akri yang menjabat tangan Jhonatan namun tangan Jhonatan malah terulur pada Almira, dengan pelan Almira meraih tangan itu.
"Sampai ketemu lagi sayang" Tuturnya, dengan menatap lurus kearah Almira membuat Almira gugup, cupp Jhonatan mengecup pipi Almira membuat Almira terkejut.
"Jangan kaget ya? Itu hal biasa untuk para artis" Ucapnya, Almira pun gemetaran. Ia merasa aura pria di depannya itu sangat mengerikan.
Saat Jhonatan pergi, Almira menatap lurus ke arah Akri ia pun memukul bahunya.
"Apa yang kau lakukan Akri? Aku itu sudah bersuami, kenapa kau bilang padanya kalau aku masih singgle, kenapa harus berbohong?"
"Mau bagaimana lagi, royalti nya besar tuh sayang dong jika di tolak" Jawab Akri santai.
"Tidak waras, bisa-bisanya kau memutuskan tanpa berunding pada ku?"
__ADS_1
"Hei Almira memangnya kau ini siapa? Ini kan agency ku, suka-suka saya dong mau memutuskan apapun, kau kan hanya artis pendatang baru yang berada di bawah naungan ku, jadi kau harus mengikuti apapun peraturan disini" Tuturnya.
"Tuan Akri kau benar-benar picik ya? Baik kalau begitu, aku mundur dari Agency mu ini, karena aku lebih mencintai keluarga ku ketimbang pekerjaan ini" Seru Almira yang berniat pergi.
"Berhenti disitu Nona Almira Larasati, kau lupa ya, kau berhutang pada agency ini untuk pengobatan ibu mertua mu, terlebih kontrak kerja kita masih satu tahun, kau boleh keluar dari agency ku asal kau ganti semua hutang mu itu, dan bayar uang pinalty untuk Tuan Jhonatan itu, nilainya tidak sedikit lho? Kau ada uang kah?" Ucap Akri dengan nada liciknya itu, seketika air mata Almira menetes, ia pun menoleh kebelakang.
"Kau, manusia jahat, kau jahat Akri, KAU JAHAT!" Plaaaaaaaaakkkk "aaaaaarrrrrhhhhh" Almira mengerang saat tamparan keras mendarat di pipinya.
"Dasar wanita rendahan, beraninya kau melakukan itu pada ku! Berkaca lah tanpa ku kau bukan siapa-siapa Almira, kau hanya penyanyi kafe rendahan yang beruntung karena bertemu dengan ku, sekarang kau pulang ambil semua pakaian mu dan pindah ke apartemen yang sudah ku siapkan untuk mu, kau benar-benar harus meninggalkan keluarga mu" Tuturnya yang lantas melenggang pergi meninggalkan Almira yang masih tersungkur dan menangis sesegukan di lantai itu.
Malam itu, ia pulang dengan perasaan kalut, dengan melamun ia masuk kedalam rumahnya dan di sambut hangat oleh suaminya yang lantas memeluknya.
"Sayang? Kau pasti lapar, mas masakan sayur kesukaan mu kita makan yuk, Naya sedang belajar kelompok jadi kita makan dulu saja ya?" Ucapnya, perlahan tangan Almira mendorong tubuh suaminya itu membuat Arya bingung, ia melangkahkan kakinya menuju kamarnya lalu mengeluarkan kopernya.
Arya menatapnya bingung kenapa Almira tiba-tiba mengeluarkan koper itu, matanya terbelalak saat ia melihat Almira mulai memasukan baju-bajunya kedalam koper itu, dengan cepat Arya menahannya.
"Hey apa yang kau lakukan? Kenapa pakaian mu semua di masukan kedalam koper?" Tanya Arya.
"Aku harus pergi mas, dan kita harus bercerai" Deeeeeeggg bagai petir yang menyambar kata-kata itu keluar begitu saja dari bibir Almira.
"Tu...tung.. Tunggu, kau ini bicara apa sih? Pagi tadi kau masih bersikap biasa kenapa malam ini tiba-tiba kau meminta cerai" Ucap Arya, Almira pun menoleh kearahnya.
"Kau mau tau aku kenapa?" Tatapan Almira berubah bengis ia pun keluar dan membanting semua kanvas, kuas, dan cat milik suaminya itu.
"Almira stop... Apa yang kau lakukan?"
"Aku benci dengan semua ini!, aku benci dengan mu! Aku benci dengan hadirnya Naya!!" Teriaknya, Almira histeris ia mengacak-ngacak semua barang milik suaminya itu.
"Almira stop, ada apa dengan mu sayang, hentikan ini, dan tenangkan dirimu" Arya terus berusaha menghentikan perbuatan Almira yang tengah mengamuk itu.
"Aku mau bercerai dari mu mas, AKU MAU KITA BERCERAI!! AKU MUAK DENGAN MU, AKU MUAK HIDUP SUSAH, AKU MUAK DENGAN SEMUA KETIDAK BERDAYAAN MU SEBAGAI SEORANG SUAMI!!" Praaaaaaaaaaang terdengar pecahan gelas dari dalam kamar ibunya Arya, sedangkan Arya hanya terpaku tubuhnya terhempas ke lantai ia berlutut di bawah kaki istrinya.
"Aku tau sayang, aku memang telah menghancurkan hidup mu, masa depan mu, aku tau itu sayang, aku akan berusaha lagi aku berjanji pada mu, aku akan mencari pekerjaan" Tutur Arya, Almira hanya menangis sesak ia pun meninggalkan Arya yang masih berlutut dan meraih kopernya di dalam kemar mereka lalu menutupnya dan pergi.
"Almira jangan pergi, sayang ku mohon jangan pergi" Ia terus berusaha mencegah istrinya itu namun Almira tetap membuka pintu itu dan berpapasan dengan Naya yang tengah menangis.
Sungguh malam itu ia benar-benar ingin mati, ia tidak bisa melihat suami dan anaknya seperti itu, mereka berdua berlutut di hadapannya namun dengan tidak ada belas asih Almira tetap memalingkan wajahnya terlebih saat mobil Akri sudah menunggunya.
Di dalam mobil itu ia terus menangis Tersedu-sedu, ia mengutuk dirinya sendiri yang telah meninggalkan keluarga kecilnya.
Hingga esok harinya, ia mendengar kabar kematian suaminya itu yang meninggal bunuh diri, berkali-kali ia mencoba untuk kabur dari Akri namun semuanya sudah tidak bisa, uang dan kekuasaan orang-orang disekitarnya telah menjeratnya menjadi wanita jahat yang tak berbelas asih.
(Flashback is off)
"Maafkan aku mas Arya, maafkan ibu Naya, kalaupun Jhonatan membunuh ku? Aku tidak apa-apa, ku anggap ini sebagai hukuman untuk ku" Gumamnya dengan suara lemah.
__ADS_1
Tak lama seorang algojo itu kembali memberi cambukan untuknya, sehingga membuat Almira tak sadarkan diri.
****