Istri Kontrak Tuan Arjuna

Istri Kontrak Tuan Arjuna
kebahagiaan Naya dan Juna


__ADS_3

Mobil yang di tunggangi Naya baru saja tiba di pelataran gedung pengadilan agama itu, seorang sopir membukakan pintu untuk Naya, yang saat itu juga Naya keluar dari dalam mobil itu. Ia pun menoleh kebelakang saat dua mobil lain berhenti di belakang mobil yang tadi di tunggangi Naya.


Naya menghela nafas dan berharap ia bisa mengatakannya pada Arjuna, sesaat senyumnya tersungging saat om Arjuna itu keluar dari dalam mobil itu, ia pun menunggu Arjuna keluar, namun semangatnya meredup saat yang keluar lagi bukan lah Arjuna namun asisten pribadi Arjuna dan pengacaranya.


Om Rudy mendekati Naya dan memegangi kedua bahu Naya.


"Naya? Kau pasti kecewa ya Arjuna tidak ikut?" Tanya Om Rudy, Naya pun hanya tersenyum kecut.


"Ia hanya tengah menyesali perbuatannya Naya, jadi dia tidak bisa menghadiri persidangan ini" Ucap Omnya itu.


"Tidak apa-apa om" Jawab Naya lirih.


"Nah Naya, dia Tuan Adrian pengacara yang akan mendampingi mu di dalam ya, dan om harap kau biasa menguatkan hati mu sayang, kau pasti akan bertemu dengan pria yang lebih baik dari pada Arjuna setelahnya" Ucap omnya itu, seketika mata Naya mulai berkaca-kaca.


'Arjuna? Kenapa kau tidak datang? Apa sebegitu marahnya kau pada ku?' gumam Naya dalam hati, mereka pun mulai melangkahkan kakinya masuk kedalam gedung itu.


Sesaat pengacara Arjuna tengah membacakan semua permasalahan yang tengah mereka hadapi, setelahnya juru bicara Arjuna pun turut berbicara, bahwa Arjuna menyerahkan, rumah, mobil, dan sebuah Black cart untuk Naya.


Disisi lain Naya pun berbisik pada pengacara yang mendampinginya bahwa ia ingin menolak semua pemberian Arjuna, yang saat itu juga pengacara Naya pun menyampaikan pesan Naya pada ketua hakim itu.


"Nona Nayaka Larasati? Apa anda yakin dengan keputusan anda untuk menolak semua pemberian suami Anda?" Tanya Hakim ketua itu, Naya pun berdiri.


"Saya sangat yakin bapak Hakim, karena bagi ku? Selama ini suamiku sudah banyak memberikan satu hal yang tidak ternilai harganya, yaitu sebuah cinta yang akan selalu ku simpan dalam hati ku, maka dari itu aku ingin melepas ikatan ini tanpa menuntut apapun dari suami ku" Tutur Naya dengan pandangan nanar.


Om Rudy mengusap matanya yang basah, ia menggeleng pelan.


'Arjuna benar-benar bodoh' tuturnya dalam hati.


"Baiklah, jika nyonya sudah yakin dengan keputusan Nyonya, maka? Saya selaku hakim ketua akan memberi putusan, bahwa pada hari ini, Kamis, tanggal sepuluh Desember 2020 Tuan Arjuna Dirgantara dengan Nyonya Nayaka Larasati di nyatakan telah resmi...?" Braaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkk


"Tahan sebentar hakim ketua!" Seru Arjuna yang tengah berdiri di depan pintu ruangan persidangan itu dengan nafas yang masih tersengal-sengal akibat berlari.


Perlahan ia mulai melangkah maju dan mendekati Naya lalu berjongkok di hadapan Naya, dengan meraih tangan Nayaka ia menatap Naya dalam-dalam.


"Sayang, aku tau kau mencintai ku juga, aku tau semuanya dari buku catatan mu, kembalilah padaku sayang kita perbaiki semuanya ya? Aku sungguh-sungguh tidak ingin bercerai dengan mu" Ucap Arjuna dihadapan Naya, sembari mengecup tangan Nayaka, perlahan Naya mulai melepaskan tangannya membuat Arjuna terpaku.


'Apa Naya masih menolak ku?' gumamnya dalam hati.


Namun dengan cepat Naya mengecup pipi Arjuna membuat bola matanya melebar. Ia pun menoleh kearah Naya yang tengah tersenyum padanya.


"Kau mau sayang?" Tanya Arjuna, Naya pun mengangguk dangan cepat Arjuna beranjak sembari memegangi kedua tangan Naya dan mendekapnya.


"Aku mencintaimu sayang" Gumam Arjuna merasa senang tangis haru tumpah di ruangan persidangan itu, hakim pun memutuskan pembatalan perceraian keduanya.


Arjuna menggandeng tangan istrinya itu, berjalan keluar gedung.


Di depan gedung itu paman Arjuna memeluk keduanya, ikut merasa senang karena kedua keponakannya itu tidak jadi bercerai.


"Om ikut bahagia, semoga kalian selalu bahagia ya" Ucap omnya itu, yang di balas anggukan keduanya.

__ADS_1


"Kalau begitu, om pulang dulu" Sambung omnya itu yang lantas melenggang masuk ke dalam mobilnya, Naya melambai kearah omnya Arjuna itu.


Pandangannya pun beralih kepada Arjuna yang masih terus memandangi nya.


"Tu... Tuan? Ke...kenapa kau melihat ku seperti itu?" Tanya Naya.


"Kenapa? Kau kan istri ku, jadi bebas kan aku mau melihat mu atau tidak" Ucap Arjuna, "dan lagi?" Arjuna memegangi pinggang Naya dan menariknya hingga menempel ke tubuh Arjuna membuat Naya gelagapan.


"Tu...tuan?" Cuppphh Arjuna mengecup bibir Naya cepat dan langsung melepasnya.


"Tu... Tuan?" Cuppphh mata Naya benar-benar melebar saat Arjuna kembali mengecupnya.


"Panggil saja terus aku dengan sebutan itu, maka aku akan mencium mu terus disini, mau?" Ucap Arjuna yang lantas membuat Naya menggeleng cepat.


"Aku... Aku belum terbiasa memanggil itu Tu?" Dengan cepat Naya menutup mulutnya menggunakan kedua telapak tangannya, saat Arjuna hendak menciumnya lagi.


"Kau benar-benar suka ku cium di sini ya?" Naya menggeleng cepat masih dengan tangannya yang terus menutupi mulutnya.


"Kalau begitu Panggil aku dengan sebutan yang romantis, cepat! Ini perintah" Titah Arjuna.


"Ro...romantis, ya...yang seperti apa Tu, maksud aku Juna" tanya Naya gugup karena tubuhnya masih terus berada dalam dekapan Arjuna.


"Hmmm apa ya enaknya? Sayang atau Suami ku mungkin, emmm atau yang sedang di gandrungi anak muda jaman sekarang oppa" Tutur Arjuna membuat Naya terkekeh.


"Maksud mu? Opah Opah tua itu?" Ledek Naya.


"Oppa Naya bukan Opah" Seru Arjuna


"Ohhoo kau berani mengejek ku sekarang hah!" Seru Arjuna yang seketika membuat Naya membungkam mulutnya dan menggeleng.


"Mau ku beri hukuman?" Tanya Arjuna.


"Ti...tidak Juna jangan" Ucap Naya.


"Kalau begitu meminta maaflah pada ku, cepat"


"Maaf Juna"


"Yang romantis" Seru Juna.


"Maaf sa...sayang"


"Sayang apa?" Tanya Juna


"Sayang ku" Jawab Naya malu-malu


"Kurang mesra" Tegasnya


"Kau ini banyak maunya ya?" Tutur Naya membuat Arjuna membulatkan matanya.

__ADS_1


"Apa kata mu?"


"Tidak suami ku maaf, sekarang lepaskan aku, ku mohon, kau lihat semua orang melihat kita" Ucap Naya yang membuat Arjuna menoleh ke segala arah.


"Ehmm..." Juna berdeham saat sadar mereka tengah menjadi tontonan orang-orang disekitar tempat mereka berdiri, dan melepaskan dekapannya lalu menggandeng Naya menuju mobilnya.


Didalam mobil Arjuna memasang safety belt Naya, setelah terpasang Arjuna pun memandangi wajah yang tengah gugup itu.


"Istri ku? Terimakasih ya, karena kau mau menerima ku lagi" Ucap Juna, Naya pun mengangguk.


"kita jalan-jalan dulu yuk, aku mau mengajak mu ke pantai seperti waktu itu" Tutur Juna yang lantas mengatur laju mobilnya menuju pantai itu, waktu yang sudah semakin sore memunculkan pemandangan indah sunset di pantai itu,


Naya terus memandangi pantai itu dengan perasaan lega, Juna benar-benar menyayanginya, namun ia harus ingat bahwa ia harus menikah lagi dengan Arjuna karena Juna telah menalaknya malam itu.


"Nanti kita langsung pulang ke rumah mu mengambil barang-barang mu lalu kembali ke rumah kita ya" Ucap Juna sembari membelai rambut Naya.


"Aku belum bisa ikut pulang ke rumah mu Juna" Ucap Naya


"Kenapa?" Tanya Juna.


"Kau kan sudah menjatuhkan talak pada ku, jadi? Kita harus menikah lagi" Tutur Naya.


"Gampang itu Naya, sebentar aku akan menelfon Rian untuk memanggil penghulu agar malam ini juga kita bisa menikah lagi" Arjuna pun meraih telfon genggamnya, ia menghubungi Rian untuk segera mencarikan penghulu malam ini juga, Rian pun mengiyakan.


Selang hampir satu jam Rian kembali menelfon bosnya itu.


"Bagaimana?"


"Maaf bos, ini malam jumat, semua Ustadz, kyai, penghulu beneran pun tengah sibuk bos tidak bisa datang, kemungkinan besok" Ucap Rian.


"Hei bodoh! Masa iya semuanya sibuk kau jangan mengada-ada ya? Cepat carikan!" Seru Arjuna


"Tuan? Aku tidak mengada-ada, aku sampai kehabisan pulsa untuk menelfon satu persatu penghulu itu"


"Dasar tidak becus!"


"Juna, sudah tidak usah besok kan tidak apa-apa" Ucap Naya, Arjuna pun menurunkan telfon genggamnya, dan mematikan sambungan telfonnya.


"Masa iya harus menunggu besok, aku takut kau berubah pikiran sayang" Ujar Juna.


"Aku tidak akan berubah pikiran kok, percayalah pada ku Juna" Ucap Naya tulus sembari tersenyum Arjuna pun membalas senyum Naya dan mendekati wajah Naya lalu meraih bibirnya sembari mengulum nya lembut.



Kali ini Naya tidak menolak ciumannya, ia justru turut mendekap tubuh Arjuna dan menikmati sentuhan cinta dari Arjuna di bibirnya itu.


***


Di sebuah mini market sevel, Raihan berlari masuk kedalam mini market itu dan mengibaskan bajunya, sesaat langkahnya terhenti saat melihat seorang wanita tengah menikmati kopi hangat di salah satu bangku itu sendirian, gadis itu juga terlihat tengah bersedih, ia pun kembali menatap kedepan dan membuka pintu mini market tersebut, guna membeli satu cup kopi dan beberapa cemilan sembari menanti hujan itu reda, saat ingin membayar pandangannya kembali tertuju pada gadis yang masih duduk sendirian itu, ia pun kembali berjalan menuju rak berisi deretan tissue dan meraihnya satu. Setelah membayarnya ia pun keluar, dengan sedikit ragu ia menghela nafas dan perlahan melangkah maju mendekati gadis yang tengah menangis sendirian itu. Ia duduk di bangku belakang gadis itu dan menyodorkan tissue itu padanya, membuat wanita itu mengusap air matanya dan menoleh ke arah Raihan. Raihan tersenyum pada gadis itu.

__ADS_1


"Pakai itu Nona, dan hapus air mata mu" Tutur Raihan, wanita itu pun tersenyum dan meraih tissue itu lalu mengucapkan terimakasih pada Raihan.


Raihan merasa tidak asing dengan wanita itu namun ia tidak ingat siapa, penampilannya pun seperti bukan gadis dari golongan sederhana, ia terlihat sangat berkelas. di meja yang berbeda keduanya saling menikmati kopi di cup masing-masing sembari menatap hujan dan meratapi ke galauan mereka berdua.


__ADS_2