Istri Kontrak Tuan Arjuna

Istri Kontrak Tuan Arjuna
pengintaian Lifia


__ADS_3

Mobil Lifia terus mengikuti Laju mobil di depannya dengan jarak yang lumayan jauh namun tetap berusaha untuk tidak kehilangan jejak mobil di depannya. Mata Lifia menyipit sesaat ia melihat mobil di depannya itu Perlahan mulai memasuki area basement sebuah gedung Apartemen, dahinya mulai berkerut.


"Sebenarnya kakak ku itu sedang melakukan apa sih? Aku pikir dia akan membawa wanita itu kerumah sakit, kenapa malah ke apartemen?" Ia pun mulai turun dari dalam mobilnya, dan berdiri di depan pintu lift, ia menatap ke angka Lantai yang di tuju.


"Lantai 23 ya?" Gumamnya ia pun mulai menekan tombol buka itu dan masuk saat pintu itu mulai terbuka.


"Apa yang sedang ku lakukan sebenarnya?? Kenapa aku malah memata-matai kakak ku sendiri?" Disana ia pun mulai keluar saat pintu itu terbuka.


"Setelah ini kemana ya?" Lifia masih menoleh ke kiri dan ke kanan, saking bingungnya ia pun asal memilih arah dan berniat berbelok namun secepat mungkin ia memundurkan langkahnya saat mendapati Jhonatan keluar dari unit tersebut dan berdiri mengobrol dengan pria yang berjaga di depannya.


"Sebisa mungkin, jangan sampai ada penyusup lagi, kau mengerti?" Seru Jhonatan.


"Iya Tuan" Jawabnya sembari membungkuk, tak lama Jhonatan pun melenggang ke arahnya membuat Lifia sedikit panik ia pun memutuskan untuk sedikit berlari mencari tempat bersembunyi dan memutuskan untuk bersembunyi di balik sebuah pot besar yang bersebelahan dengan tong sampah stainless di dekat lift.


Ada sedikit ketegangan di benak Lifia saat kakaknya itu berdiri di depan lift ia benar-benar takut kakaknya itu akan menangkap basah dirinya yang sudah mengikutinya sampai sejauh ini, sesaat pintu lift itu terbuka dan Jhonatan pun masuk kedalamnya lalu menutup kembali pintunya.


Di sana Lifia menghela nafas panjang, merasa lega ia pun beranjak dari tempat persembunyiannya itu.


"Haaaahhhh kenapa aku melihat kak Jo sangat lain, ia benar-benar mengerikan, walau kak Jo memang terkesan misterius namun untuk saat ini aku justru ngeri melihat tatapan matanya itu


Ia pun kembali menuju unit tersebut guna memastikan apakah penjaga itu masih di luar atau tidak, dengan berpura-pura menjadi pengunjung Unit tersebut, Lifia pun menggunakan kacamatanya dan berjalan santai melewati pintu yang tak ber penjaga itu, sesaat matanya melirik ke arah pintu itu dan membaca nomor unitnya, lalu kembali melenggang sampai ke ujung, tak lama ia pun kembali keluar dari tempat itu setelah mendapatkan pasti Nomor Unit di pintu itu.


Di area basement lift itu terbuka, mata Lifia membulat saat mendapati Kinara ada di depannya.


"Kau?" Seru mereka bebarengan karena tidak menyangka bertemu di tempat itu.


"Kinara, sedang apa kau disini?" Tanya Lifia.


"Hari ini aku menemui ayah ku, ini kan salah satu gedung milik Delisa group" Ucap Kinara.


"Oh, begitu?" Gumam Lifia.


"Lalu kau? Sedang apa disini?" Tanya Kinara.


"Bukan urusan mu, jadi kau tidak perlu tau" Jawab Lifia yang langsung melenggang pergi.


"Ckckck wanita itu belum berubah masih saja menyebalkan" Gumam Kinara yang langsung masuk ke dalam lift di depannya itu.

__ADS_1


(Kembali ke Hotel Jhosan)


Di dalam kamar itu Raihan masih berusaha berkutat dengan kode-kode itu, sesaat keringat bercucuran di dahinya akibat terlalu Fokus, Perlahan jari Raihan pun mulai menekan angka demi Angka kode tersebut pik...Pik... Pik... Pik... Cklaaaakkk. Kedua mata Raihan melebar dengan senyum senang tersungging di bibirnya.


"Aaakhiiirnyaaaaaa" Seru Dodit merasa senang setelah Raihan berhasil membuka pintu itu.


"Ayo cepat kita pergi dari sini" Ajak Raihan keduanya pun bergegas keluar dari tempat itu, dan berjalan cepat keluar gedung lalu menghampiri Arjuna dan Rian di tempat pertemuan mereka.


Mata Arjuna terlihat berbinar saat melihat mobil Yang di bawa Dodit dan Raihan itu memasuki area parkir.


"Syukurlah kalian bisa kembali" Seru Arjuna merasa lega saat keduanya keluar dari dalam mobil itu dan mendekati Arjuna dan Rian.


"Iya Tuan tadi nyaris saja" Jawab Dodit.


"Tapi sayang ibu Almira sudah tidak di sana lagi" Ucap Raihan.


"Aku sudah menduganya sih" Tutur Juna.


Tak lama ponsel Arjuna berdering, ia pun meraih dan menatap ke arah layar ponselnya, sesaat matanya membulat saat mendapati nama Jhonatan di sana, dengan cepat ia pun menerima panggilan itu.


"Hallo?" Sapa Arjuna.


"Emmm, iya Tuan memangnya ada apa?" Tanya Arjuna.


"Tidak Tuan Dirga, hanya saja meeting kita tadi belum maksimal, bagaimana jika besok kita bertemu lagi, saat ini kau masih di Sini kan?" Tanya Jo.


'Bertemu lagi?' Gumam Juna dalam hati.


"Dimana kau berniat mengadakan pertemuan dengan ku?" Tanya Juna.


"Aku akan mengirim alamatnya pada mu, asal kau tetap datang sendirian seperti kemarin, Bagaimana?" Tanya Jhonatan.


"Se..sendirian?" Tanya Arjuna.


"Iya Tuan, seperti kemarin, kita bicara empat mata, dan saling menandatangani kontrak kerja kan enak" Ucap Jo.


"Okay, jam berapa?" Tanya Juna.

__ADS_1


"Pukul sebelas Siang" Jawab Jo.


"Baiklah aku akan datang, kirim saja alamatnya" Ucap Juna.


"Aku akan segera mengirimkannya Tuan Arjuna" Ucapnya sembari mengakhiri panggilan telfonnya, Juna pun menurunkan ponselnya.


"Datang saja Tuan, tidak usah khawatir kami akan berjaga di belakang Anda" Ucap Dodit.


"Jujur saja aku tidak pernah berada dalam masalah semengerikan ini, Jhonatan yang ku kenal sekarang benar-benar monster, aku bahkan selalu merasa tegang akhir-akhir ini saat di dekatnya" Tutur Arjuna.


"Tuan, kita harus tetap berjuang, apa kau sudah mencoba melapor polisi setempat?" Tanya Raihan


Belum sempat ia menjawab pertanyaan Raihan, ponselnya sudah bergetar.


Drrrrrrrtttt.....drrrrrrrrrrrrrttt....


Dengan cepat Arjuna menatap ke arah layar ponselnya.


"Haaahhh Lifia, sedang apa sih dia mengirim pesan pada ku," dengan malas ia pun membukanya.


(Gedung A, milik Delisa group, lantai 23, unit 722, Almira larasati ada di dalamnya)


Mata Arjuna membulat saat membaca pesan tersebut,


"Ini maksudnya apa?" Tanya Juna tak mengerti, dengan matanya yang masih berfokus pada Pesan yang di kirim Lifia.


"Coba ku lihat Tuan" Ucap Dodit, Sedangkan Juna langsung menunjukannya.


"Apa dia turut dalam rencana licik Jhonatan?" Gumamnya.


"Tunggu Tuan, itu bukannya gedung milik keluarga Nona Kinara kan? Kenapa kita tidak menanyakannya pada Nona Kinara" Tutur Rian.


"Ahhh benar, aku akan mencoba menghubunginya" Juna pun menekan kontak Kinara, dan mencoba menghubunginya.


"Nomornya itu tidak aktif" Ucap Juna saat mencoba menghubunginya berkali-kali.


"Apa ada nomor lain?" Tanya Dodit.

__ADS_1


"Hmmm aku hanya punya yang ini" Ujar Juna. "Begini saja, kita kembali saja dulu ke hotel, besok kita kembali mencari tahu" Titah Arjuna melanjutkan yang lantas di iyakan oleh yang lain.


Mereka pun memutuskan untuk kembali ke hotel tempat mereka menginap guna mengistirahatkan tubuh dan pikiran yang terasa lelah itu setelah seharian mencari tau tentang keberadaan ibunya Naya.


__ADS_2