
Perlahan Arjuna melepaskan pelukannya, membuat kinara menatapnya aneh.
"Maaf kinara, aku harus mencari Naya dulu" Tuturnya.
"Naya?" Ia pun baru sadar kalau Arjuna datang kemari bersama istrinya itu.
Arjuna mengeluarkan ponselnya dari saku jasnya dan mencoba menelfon Naya, sedangkan Kinara menyadari ada suara dering ponsel di sekitar mereka, membuatnya mencari sumber suara tersebut. Dan mendapati sebuah dompet yang tergeletak.
"Juna? Sepertinya ini dompet Naya" Ucapnya Arjuna pun meraihnya cepat.
"Jangan-jangan ia melihat kita tadi?" Arjuna pun berlari cepat mencari Naya meninggalkan Kinara sendiri di area parkir itu.
"Juna terlihat khawatir sekali dengan Naya?" Ia masih terpaku memandangi punggung Arjuna yang mulai menjauh dari pandangannya, dan memutuskan untuk kembali masuk kedalam Mobilnya lalu pergi.
ke sana kemari Arjuna mencari Naya sampai kembali masuk kedalam gedung itu,
"Naya kau dimana?" Gumamnya sedangkan waktu sudah semakin larut, ia kembali keluar dan memutuskan untuk membawa mobilnya khawatir jika Naya sudah pulang lebih dulu.
Baru saja ia sampai di parkiran itu ia mulai menghentikan langkahnya dan bernafas lega.
"Kau dari mana sih? Bisa-bisanya kau menghilang begitu saja membuat ku Khawatir, bagaimana jika terjadi sesuatu pada mu hah!" Seru Arjuna sembari memegangi bahu Naya.
"Maaf Tuan" Ucap Naya lirih ia berusaha keras untuk tidak menangis lagi, terlebih saat itu juga Arjuna memeluknya.
"Maaf aku telah menyusahkan mu Tuan" Gumam Naya.
"Bagus jika kau sadar itu? Kau memang selalu menyusahkan ku" Seru Arjuna yang masih memeluknya, dengan perasaan lega.
"Tuan? Apa urusan Anda sudah selesai dengan nona Kinar?" tanya Naya yang lantas membuat Arjuna melepas pelukannya itu.
"kau melihatnya?" Tanya Arjuna, Naya mengangguk.
"Iya Tuan, dan aku sengaja pergi sebentar, agar aku tidak mengganggu Anda dan nona kinara" Naya tersenyum kecut.
"Lupakan itu, kau seharusnya memarahi ku Naya" Ucap Arjuna.
"Untuk apa, itu kan hak Anda" Ucap Naya yang lantas membuat Arjuna mematung.
"Sebaiknya kita pulang Tuan, ini sudah malam" Ucap Naya yang lantas membuat Arjuna menekan tombol pembuka kunci mobilnya, Naya pun bergegas membuka pintu mobil itu dan masuk kedalamnya.
__ADS_1
'Sikap Naya benar-benar membuatku bingung, apa dia benar-benar menyukai Raihan dan ingin segera lepas dari ku? Maka dari itu dia ingin aku bersama Kinara?' Gumam Juna dalam hati sembari mengepalkan tangannya.
'Baik kalau itu mau mu? Aku akan terus berhubungan dengan Kinara, sampai kau benar-benar menyesal akan sikap mu itu Naya' lanjutnya yang lantas kembali masuk kedalam mobilnya.
Dengan suasana dingin mobil itu terus melaju menuju rumah Arjuna, mata Arjuna sesekali melirik kearah Naya yang masih tahan menatap lurus ke depan tanpa memandangnya sedikitpun, hal itu pula yang semakin membuat Arjuna kesal pada Naya.
Setelah sampai di rumah mereka Naya mengganti pakaiannya dan membasuh wajahnya keluar dari kamar mandi itu ia berpapasan dengan Arjuna yang juga akan masuk kedalam kamar mandi itu,
Arjuna menelan ludah saat dua sepasang mata indah itu tengah menatapnya,Arjuna pun mendekati Naya berniat untuk menciumnya namun dengan cepat Naya memalingkan wajahnya menghindari Arjuna.
"Ck" Juna mengecak pelan ia pun melewati Naya dan membuka pintu kamar mandi itu lalu menutupnya kasar membuat Naya tersentak.
"Haaahh, aku berhasil menghindarinya" Gumam Naya lega ia pun berjalan cepat menuju kursi panjangnya dan mulai merebahkan tubuhnya.
"Tidak terasa sudah hampir satu tahun aku tidur di kursi sempit ini, aku benar-benar merindukan ranjang ku yang luas" Gumam Naya ia pun memejamkan matanya.
Beberapa menit kemudian Arjuna baru saja keluar dari kamar mandinya, ia pun berjalan pelan menghampiri Naya, ia menyentuh wajah yang sudah terlelap di hadapannya.
"Naya, aku itu menyukai mu, tapi kenapa aku tidak bisa mengungkapkannya, semua karena sikap kasar ku selama ini pada mu, membuat ku ragu untuk menyatakan itu semua pada mu" Gumam Arjuna, ia pun mengangkat tubuh Naya perlahan lalu memindahkan ke atas ranjangnya, tubuh Naya sedikit bergerak membuat Arjuna diam sesaat lalu menarik tangannya itu dengan sangat hati-hati.
"Malam ini kau tidur di sini ya? Biar aku yang tidur di kursi panjang itu, menggantikan mu" Tutur Arjuna, ia pun menutupi tubuh Naya dengan selimut itu, dan mengusap keningnya pelan.
"Astaga, tidur disini sangat tidak nyaman" Tutur Arjuna ia pun beranjak duduk.
"Teganya aku? Membiarkan Naya tidur disini selama ini" Arjuna menoleh ke arah Naya yang terlihat nyaman tidur di ranjangnya, matanya mulai basah ia pun mengusapnya.
"Maafkan Aku Naya, aku akan tidur di sini menggantikan mu, sampai kau benar-benar menerima ku nantinya" Gumam Arjuna ia pun kembali merebahkan tubuhnya dan mulai berusaha memejamkan matanya dan tertidur.
Pagi berselang...
Naya merenggangkan tubuhnya, dengan mata yang masih terpejam ia mengusap-usap alas tidurnya.
"Aahhh saking kangennya dengan ranjang ku, kursi panjang ini tiba-tiba mendadak terasa luas dan empuk" Tutur Naya dengan suara seraknya sembari menyunggingkan bibirnya.
Saat itu juga Naya tersadar dan dengan cepat ia membuka matanya itu, tangannya masih meraba-raba.
"I... Ini bukan kursi panjang tapi ranjang?" Naya beranjak duduk dan seketika itu matanya membulat.
"Aku tidur di ranjang Tuan Arjuna?" Naya mulai panik, "apa yang terjadi, aku tidur disini?" Ia pun langsung beranjak bangun dan turun dari ranjang itu, sesaat ia menutup mulutnya terkejut saat melihat Arjuna tidur di kursi panjangnya.
__ADS_1
"Astaga... Astaga... Kenapa bisa begini? Kenapa bisa dia tidur di kursi panjang itu dan aku tidur di ranjangnya?" Naya pun mendekati Arjuna perlahan.
"Tu... Tuan? Tuan bangun" Naya membangunkan Arjuna pelan.
"Tuan?" Naya menyentuh Arjuna dan mencoba menggoyang-goyangkan tubuh Arjuna itu.
Jujur saja lumayan sulit membangunkan Arjuna, apa lagi jika ia pulang pagi.
"Tuan bangun, Tuan?" Tangan Arjuna meraih tangan Naya dan langsung memeluknya.
"Apa Naya? Aku masih mengantuk" Gumam Arjuna.
"Tu... Tuan, lepaskan Aku" Ucap Naya.
"Tidak mau" Jawabnya dengan suaranya yang serak itu dan mata yang masih terpejam, lantas mengencangkan pelukannya.
"Tuan, a...aku tidak bisa bernafas" Ucap Naya membuat Arjuna melonggarkan sedikit dekapannya itu.
"Tuan? Lepas" Naya masih berusaha melepaskan diri.
"Aku bilang tidak mau Naya, kau ini mengganggu kenyamanan orang lain saja" Tutur Arjuna, mendengar jawaban itu Naya pun pasrah.
"Ke... Kenapa Tuan tidur disini Tuan?" tanya Naya.
"Memang kenapa? Ini kan kursi panjang ku, sekarang aku yang tidur disini, dan kau tidur di ranjang itu saja, menurut ku kursi ini jauh lebih nyaman untuk ku" Tutur Arjuna, membuat Naya sedikit terkekeh, merasakan getaran tubuh Naya yang sedang tertawa itu Juna pun membuka matanya lalu menatap Naya.
"Kau tertawa ya, apa ada yang lucu hah?" Tanya Arjuna membuat Naya tersentak.
"Ti... Tidak kok, aku harus bangun Tuan aku harus menyiapkan kau air hangat" ucap Naya.
"Aku bisa menyiapkannya sendiri Naya"
"Ta...tapi itu kan tugas ku" Ucap Naya.
"Tugas mu itu menjadi bantal guling untuk ku sekarang" Ucap Arjuna.
"Tidak mau tuan posisi seperti ini membuat lutut dan pinggang ku pegal" Ucap Naya Arjuna pun tersenyum, melihat itu Naya sedikit senang karena itu kali pertama ia melihat Arjuna tersenyum padanya dengan tulus.
Ia pun melepas dekapannya dan Naya pun langsung beranjak dan meregangkan tubuhnya itu, lalu beranjak ke kamar mandi menyiapkan air hangat untuk Tuannya itu.
__ADS_1