
Esok paginya....
Beberapa polisi sudah berjaga di gedung A apartemen milik Keluarga Delisa itu, dengan bantuan beberapa staf apartemen tersebut, Kinara mengetuk pintu Unit tersebut.
Tak lama seorang pria bertubuh besar keluar dari dalam sana.
"Maaf ada apa ya?" Tanyanya santai menggunakan bahasa Inggris.
"Mohon maaf, saya putri pemilik gedung apartemen ini, saya mendapat laporan bahwa di salah satu Unit apartemen saya ini ada penyanderaan seorang wanita, boleh saya mengeceknya?" Tanya kinara sopan.
"Maaf, mungkin anda salah kamar" Pria itu hendak menutupnya namun segera di tahan oleh teman Kinara yang seorang aparat kepolisian itu.
"Tolong beri waktu kami untuk memeriksanya, karena kami membawa surat ijinnya jadi anda tidak boleh menghalangi tujuan kami" Tutur pria di sebelah Kinara.
Dengan pucat pria itu bergeser keluar lalu berusaha melarikan diri dan saat itu juga di hadang oleh seorang polisi yang sudah berjaga disana yang langsung meringkus nya.
Di saat yang sama Kinara pun masuk ke dalam kamar itu.
Benar saja seorang wanita yang terlihat memprihatinkan tengah menatapnya dengan mantannya yang sayu itu.
"Nyonya, anda baik-baik saja?" tanya Kinara, wanita itu pun mengangguk sembari tersenyum.
"Ibu Sinta tolong bantu dia ya dan bawa ke rumah sakit, aku harus pergi ke suatu tempat" Ucap Kinara pada managernya itu, wanita itu pun membungkuk.
(Kembali ke gedung kosong...)
"Apa maksud mu menyebut aku dengan sebutan pembunuh Lifia?" Tanya Jo, masih berusaha melepaskan diri dari pegangan dua polisi di samping kiri dan kanannya.
Dengan mengangkat tangannya Lifia memutar rekaman itu, sesaat mata Jhonatan melebar saat mendengarkan isi rekaman itu.
"Li...Lifia?"
"Kau mau mangkir kak Jo? KAU MAU BERALASAN APA LAGI HAH!!" Pekik Lifia dengan sesak.
"Teganya kau melakukan itu pada orang tua kita Kak, mereka yang sudah membuat mu terlahir ke dunia ini, dan merawat mu hingga menjadi pria hebat seperti mu!!" Lifia mencengkram baju kakaknya itu.
"Lifia? Semua karena ayah tidak mau memberikan hak ku, tolong jangan lakukan ini pada kakak mu Lifia, bebaskan aku Lifia, tolong bebaskan aku" Jhonatan memohon.
"Tidak akan pernah! Aku justru ingin menuntut mu dengan hukuman mati kak" Ucap Lifia nanar.
"A...apa? Li... Lifia kau??" Mata Jhonatan membulat.
__ADS_1
"Itu hukuman yang pantas untuk seorang pembunuh seperti mu" Tutur Lifia dengan pandangan bengis nya.
"Adik tidak tahu diri kau Lifia, lepaskan aku bangs*t!! Lepaskan aku!!" Jhonatan terus mengumpat kesal saat tengah di seret paksa oleh dua polisi itu, sedangkan Lifia hanya bisa menangis sembari memalingkan wajahnya.
Arjuna pun mendekati Lifia dan menyentuh bahunya.
"Lifia? Kau baik-baik saja? Terimakasih sudah menolong kami" Ucap Juna.
"Ini bukan karena kau kok" Jawab Lifia masih terisak, Juna pun tersenyum.
"Ahhh ibu Almira aku harus menyelamatkannya" Seru Juna yang berniat melenggang pergi.
"Tidak perlu, kinara sudah Mengurusnya" Seru Lifia sesaat membuat Juna dan yang lain menghentikan langkahnya.
"Kinara? Dia ada disini" Tanya Juna
"Iya" Jawab Lifia singkat.
"Ia sedang menuju kesini bersama istri mu" Ucap Lifia.
"Istri ku? Kenapa mengajaknya kemari?" Tanya Juna.
"Kalau begitu bilang pada kinara bawa ibu Almira ke sini juga"
Dodit yang melihat itu pun mendekati Lifia dan berdiri di sampingnya, yang saat itu membuat Lifia bergeser satu langkah dari sana, hal itu juga membuat Dodit bergeser lagi satu langkah dan membuat Lifia kembali bergeser dua langkah, saat Dodit akan bergeser lagi Lifia langsung melirik nya dengan tatapan tajam sehingga membuat Dodit urung mendekatinya lagi.
Juna menoleh ke yang lain, "kalian baik-baik saja kan?" Tanya Arjuna.
"Iya bos, tapi aku hampir mati di keroyok tadi" Tutur Rian.
"Yang penting saat ini Anda baik-baik saja Tuan" Ucap Raihan yang lantas membuat mereka terkekeh-kekeh.
"Tenang Rian, gaji mu ku naikan nanti" Seru Arjuna.
"Benarkah Tuan?" Rian bersemangat.
"Iya benar" Jawab Juna.
"Wahhh kalau begitu aku siap untuk melakukan misi lagi hehehe" Tuturnya membuat semuanya tertawa.
Tak lama Arjuna mendengar suara langkah kaki yang terdengar tengah berlari, senyumnya pun tersungging menanti wanitanya.
__ADS_1
Dengan perasaan cemas Naya berlari menaiki anak tangga dengan Kinara menyusul di belakangnya, ia benar-benar merasa takut terjadi sesuatu pada suami dan teman-temannya itu.
Pandangan Naya pun tertuju pada pria yang tengah tersenyum padanya sembari merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, membuat Naya segera melanjutkan langkahnya berlari menghampiri Arjuna. Dengan Air mata yang terus menderai-derai di pipinya ia menghentikan laju kakinya itu dan berdiri di hadapan Arjuna, sesaat ia menatap Nanar kepada suaminya tanpa mendekap langsung tubuh Arjuna yang sudah menantinya itu, Naya justru memukul-mukul dada bidangnya Arjuna sembari terisak lantaran kekhawatirannya yang teramat pada suaminya itu.
"Bodoh... Kau bodoh sekali Juna bodoh...bodoh...bodooooh" Naya terus terisak dengan kedua tangannya yang masih memukuli Arjuna yang saat itu juga meraih kedua tangan Naya menahan pukulan itu lalu memegangi kepala bagian belakang guna menariknya maju mendekati wajahnya dan menciumnya lama, Juna mengulum lembut bibir manis istrinya itu dengan air mata yang juga menetes dari sudut matanya merasa bersyukur ia bisa melihat istrinya itu lagi.
Sedangkan Kinara tertegun saat melihat sosok yang ia sebut sebagai pria hujan yang juga ada di sana dengan posisi membelakanginya menatap kearah Naya dan Juna.
Di sana Raihan yang melihat itu pun tersenyum sembari tertunduk ia pun membalik badannya dan mendapati Kinara yang sudah menatapnya penuh kekhawatiran.
Sesaat mata Raihan melebar kala menyadari wanita dihadapannya itu adalah perempuan yang ia temukan tengah menangis di sevel waktu itu.
kinara pun tersenyum dan mendekati Raihan, tangannya terangkat pelan dan dengan sedikit ragu mengusap darah yang berada di sudut bibirnya membuat Raihan meringis dan meraih tangan itu.
"Ma...maaf" Ucap Kinara lirih, sedangkan Raihan hanya tersenyum dan melepaskan tangan Kinar lalu melenggang pergi melewatinya tanpa berkata apapun, sementara Kinara menoleh ke belakang memandangi bahu yang tengah menuruni anak tangga itu.
"Aku harus mengikutinya" Gumam Kinara yang lantas berlari mengejar Raihan turun.
Sedangkan Dodit yang berdirinya di dekat Lifia hanya bisa bingung melihat wanita itu terus menangis menatap ke arah bingkai foto keluarganya, tangannya pun terangkat pelan.
"Tidak usah menyentuhku bedebah!" Pekik Lifia dengan suara seraknya tiba-tiba sebelum tangan itu menyentuh bahunya, saat itu juga Dodit mengalihkan laju tangannya menggaruk kepalanya sendiri.
"Pe...pede sekali kau, dasar wanita penyihir!" Gumamnya lirih.
"Huwaaaaaaaaaa" Tangis Lifia makin keras dengan tangan yang masih memeluk bingkai foto keluarganya, Dodit pun mengelus dadanya karena terkejut dengan suara tangis Lifia yang tiba-tiba keras itu.
"Berisik sekali sih! Mengagetkan saja!" Seru Dodit ia pun meraih lengan Lifia dan menariknya ke tubuhnya lalu mendekap nya.
"Kyaaaaaaaa lepaskan aku! Jangan sentuh aku bedebah tengik!!" Seru Lifia sembari meronta berusaha melepaskan diri saat menyadari pria berkacamata itu tengah memeluknya.
"Aaaarrrhhhh kuping ku sakit sekali mendengar mu berteriak! Tapi demi terimakasih ku karena kau membantu kami ku beri pelukan penenang okay cup... cup.... cup... Jangan menangis lagi ya" Ucap Dodit semakin mempererat pelukannya itu.
"Huaaaaa bedebah tengik jangan memeluk ku seperti ini, kau itu bau keringat bodoh, lepas tidak hiks hiks hiks" Lifia semakin terisak.
"Tidak tau diri sudah di peluk menghina pula dasar!" Gerutu Dodit. "Tapi kau menikmati pelukan ku kan itu buktinya tangis mu semakin pecah, kau pasti nyaman sekali kan?" Ucap Dodit yang masih mendekap tubuh Lifia dengan sangat erat.
"Kau bicara apa sih mata kaca? Aku menangis karena kau bau badan tau!!" Rengek Lifia.
"Hahh menghina lagi dia ck ck ck" Gerutu Dodit namun mereka masih saling berpelukan.
Rian yang menatap keduanya tengah berpelukan pun mulai jengkel dan berjalan cepat turun ke bawah.
__ADS_1
"Cih...Emang dasar Author pilih kasih, hanya aku yang tak di kasih perempuan yang mau memeluk ku, padahal aku juga ikut bertarung di sini!" Akibat jiwa kesendiriannya yang meronta Sembari menggerutu Rian pun akhirnya turun menuruni anak tangga itu dengan perasaan jengkelnya meninggalkan pemandangan yang menyesakan baginya. (Maaf Rian)