
Beberapa hari sebelum Arjuna dan Naya bercerai...
Mobil Lifia berhenti di pelataran rumahnya, dengan malas ia keluar dari mobil itu dan berjalan masuk kedalam rumahnya yang besar itu, ya orang tua mereka sudah tidak ada akibat kecelakaan mobil di area puncak bogor, mobil orang Tua Lifia jatuh ke jurang, walau jasad ayah Lifia belum ditemukan hingga saat ini namun pihak keluarga sudah mengikhlaskan dan menganggap bapak Irawan Jhosan itu sudah meninggal dunia.
Langkah Lifia terhenti di area ruang keluarga di mana ia melihat Jo tengah menuang anggur di gelasnya.
"Hallo adik ku, apa kabar" Ujar Jhonatan. Sudah hampir sepuluh tahun semenjak Jhonatan menetap di Singapura ia belum pernah bertemu dengan kakaknya itu, hal yang membuat Lifia lebih jengkel adalah karena kakaknya itu tidak pernah memberi kabar apapun padanya kecuali aliran dana yang terus masuk ke rekeningnya.
Dengan malas Lifia pun duduk di sebelah Jo.
"Tidak usah basa basi kak? Kau mendatangi ku, pasti ada tujuan lain kan? Kau kan tidak peduli dengan ku" Tutur Lifia ketus membuat Jhonatan terkekeh.
"Hei, maafkan aku, kau kan tahu Jhosan sedang mulai naik daun saat ini, yang penting kakak masih memberikan mu uang kan?" Tutur Jo, Lifia pun hanya mendesah.
"Kau datang sendirian? Mana istri mu itu?" Tanya Lifia.
"Dia sedang sakit keras saat ini" Tuturnya.
"Sakit?" Tanya Lifia
"Ya, sudah ada beberapa bulan, kakak itu sedang sedih saat ini memikirkannya karena? sakitnya itu sudah memasuki stadium akhir" Tutur Jhonatan sembari berkaca-kaca.
"Pantas saja dia sudah tidak pernah nampak di stasiun televisi" Gumam Lifia.
"Iya, dia sedih sebab sudah tidak bisa bernyanyi lagi, itulah yang membuat dia semakin mengurung diri, rambutnya yang mulai rontok dan wajahnya yang pucat membuatnya tidak mau ada media yang meliput nya" Jhonatan menunduk, membuat Lifia mengangkat tangannya menyentuh bahu kakaknya itu.
"Kak, kau pasti sangat sedih dengan kondisinya" Ucap Lifia.
"Iya dek, kakak takut kehilangannya, dia itu wanita yang sangat ku cintai" Tuturnya.
"Tapi kau tetap berusaha mengobatinya kan?" Tanya Lifia.
"Iya, itu pasti aku terus berusaha untuk mengobatinya" Jawab Jo sembari mengusap air mata palsunya itu.
"Emmm omong-omong kakak bilang ada yang penting yang ingin kau tanyakan? Apa?" Tanya Lifia.
Jo pun menghela nafas "ini mengenai Arjuna" Ucapnya.
__ADS_1
"Juna? Ada apa dengannya" Tanya Lifia.
"Aku tau kau menyukai Juna kan?" Tanya Jo.
"I... Iya, kenapa kakak tiba-tiba bilang seperti itu"
"Kau pernah ku bantu untuk memisahkan Juna dan Kinara dulu, apa sekarang kau tidak ingin membuat Arjuna dan istrinya itu berpisah?" Ucap Jo.
"Ke...kenapa tiba-tiba kakak menawarkan bantuan?" Tanya Lifia
"Ehmmm sebenarnya, kakak sedih karena kau tak kunjung mendapatkan Arjuna, jadi kakak ingin kau bersatu dengannya" Ucap Jo.
"Iya tapi bagaimana caranya? Dulu saja setelah putus dengan Kinara dia masih saja menolak ku" Ujar Lifia.
"Itu karena kau tak melakukannya dengan maksimal Lifia, namun jika kau melakukannya dengan maksimal dan membuatnya terikat akan satu hal dia pasti tidak akan bisa menolak untuk menikahi mu dan istrinya pasti akan meninggalkannya karena hal itu" Tutur Jhonatan, Lifia pun menatap lurus kedepan.
"Terikat satu hal? Apa maksud mu, aku harus?" Bibir Lifia tersungging licik.
"Kau mengerti maksudku?" Tanya Jo
"Bagus, lakukan itu pada acara kolega yang akan ku buat di Singapura bulan depan, aku akan mengalihkan istrinya dan kau bersenang-senang lah bersama Arjuna mu" Tuturnya, Lifia pun tersenyum dan memeluk kakaknya.
"Haahhh kenapa baru sekarang terfikir kan hal ini, terimakasih kak" Ucap Lifia, Jhonatan pun tersenyum licik.
'Ya, kalau bukan karena aku menginginkan istrinya untuk apa aku membantu adik tidak berguna seperti mu, yang bisanya hanya menghabiskan uang ku saja' gumam Jo dalam hati.
****
Di kantor Arjuna...
Dodit mengawasi gerak-gerik Farhat yang terlihat mencurigakan, Berkali-kali ia menolak panggilan telfonnya, membuat Dodit semakin curiga ia pun mulai mengikuti Farhat saat pria itu mulai beranjak dan berjalan keluar.
Dengan sangat hati-hati Farhat mencari tempat aman untuk menerima panggilan telfonnya.
"Ha...hallo Tuan?" Ucap Farhat.
"Kau sudah bosan hidup kah? Kenapa sedari tadi tidak menerima panggilan telfon ku" Tutur Jhonatan dari sebrang.
__ADS_1
"Ma.. Maaf Tuan, tadi saya tengah bersama Tuan Arjuna, jadi tidak bisa menerima panggilan telepon Anda" Farhat berbohong.
"Ingat! Kau masih terikat perjanjian dengan ku, jadi jangan pernah berfikir untuk menghindari ku" Ucap Jo mengancam,
"I... Ya Tuan" Ucap Farhat gemetaran.
"Bagus! Sekarang tunjukan ada kabar baru apa di Devisi mu?" Tanya Jo
"Ma...maaf Tuan, saat ini pengawasan Devisi ku sedang di perketat"
"Di perketat? Kau harusnya lebih pandai lagi!! Aku tidak mau tau segera kau berikan info tentang setiap prodak baru Dirgantara, jika tidak? Kau akan mati di tangan ku" Tuturnya dari sebrang yang langsung menutup panggilan telfonnya.
Dengan gemetar Farhat menurunkan telfon genggam itu di telinganya.
"Jadi benar? Kau yang sudah bekerja sama dengan bos Jhosan itu?" Ucap Dodit tiba-tiba di belakang Farhat sehingga membuat Farhat menjatuhkan ponselnya.
Ia pun menoleh ke belakang dan mendapati Dodit sedang berdiri sembari melipat kedua tangannya.
"I...itu tidak?"
"Jawab dengan jujur!! Kau yang sudah berkhianat kan!" Seru Dodit sembari mencengkram kerah Farhat dengan kedua tangannya.
Farhat pun menelungkupkan kedua telapak tangannya "ku mohon Dodit, jangan beritahukan hal ini pada Tuan Arjuna, aku bisa di penjarakan" Farhat memohon pada Dodit,
"Kau bilang jangan ku laporkan? Kesalahan mu itu sangat fatal, bisa-bisanya kau menjual ide perusahaan ke perusahaan lain!" Seru Dodit.
"Aku terpaksa Dodit, sungguh aku sangat terpaksa, aku sudah terikat perjanjian dengan Bos Jhosan itu, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi"
"Perjanjian apa?"
"Malam itu aku tidak sengaja menabrak orang, aku ingin menolongnya namun tiba-tiba masa banyak sekali mendekati mobil ku, membuat aku ketakutan akhirnya tancap gas meninggalkan korban itu dan saat itu juga mobil bos Jhosan itu melintas di jalan itu dan menghentikan laju mobilku, ia tau semua apa yang ku lakukan lalu mengancam ku akan melaporkan tindakan ku yang telah melakukan tabrak lari itu ke polisi, aku takut Dodit, setelahnya ia menawarkan ku pilihan untuk membantunya menjadi kata-kata di perusahaan ini" Mendengar itu Dodit menghajar Farhat, membuat Farhat tersungkur.
"Kau takut di penjara, namun kau melakukan kesalahan lain yang memicu dirimu mendapatkan hukuman lebih berat juga!" Seru Dodit
"Aku... Aku tidak ada pilihan lain Dodit, aku sudah menerima uang banyak darinya jika aku mundur dia tidak segan-segan untuk membunuhku, aku benar-benar bingung Dodit sungguh, aku tidak bermaksud melakukannya" Farhat menangis merasa ketakutan, Dodit pun menghela nafas, ada sedikit rasa iba di hatinya, karena bagaimana pun juga selama ini Farhat adalah orang yang jujur dan pegawai yang sangat bekerja keras,
"Sebisa mungkin menghindar lah darinya, dan jangan mengorbankan kantor ini karena sikap pecundang mu itu" Seru Dodit ia pun melenggang pergi meninggalkan Farhat yang masih tersungkur itu.
__ADS_1