Istri Kontrak Tuan Arjuna

Istri Kontrak Tuan Arjuna
rencana Lifia dan Jhonatan


__ADS_3

Di Sore hari itu ia memarkirkan motornya di sebuah sevel, ia membeli sesuatu yang perlu di beli sebelum pulang, setelah selesai ia pun keluar dengan langkah kakinya yang terhenti ia pun menatap langit yang tiba-tiba hujan.


"Hei, kenapa tiba-tiba turun hujan sih?" Raihan menengadahkan tangannya di bawah rintikan air hujan yang jatuh dari atap minimarket itu.


Di sisi lain mobil Kinara berhenti di depan sevel itu juga, bibirnya tersungging senang, dalam seminggu ini ia terus mengunjungi sevel demi harapannya untuk bisa bertemu pria hujan itu lagi, ia pun akhirnya menemukannya lagi.


"Hari ini turun hujan, sepertinya pria itu memang pria hujan, karena kemarin-kemarin aku tidak menemukan mu di sini" Kinara pun tersenyum senang, ia meraih payungnya dan membuka pintu mobilnya lalu keluar dari mobil itu, namun sesaat langkahnya terhenti saat mendapati seorang wanita keluar dari dalam mini market itu,



mereka mengobrol lumayan lama terlihat senyum itu tersungging di keduanya sehingga membuat Kinara urung mendekati Raihan dan memilih untuk kembali kedalam mobilnya.


Di dalam mobilnya Ia mengamati cukup lama dua orang itu masih bertahan di sana, membuat Kinara sedikit kecewa ia pun berfikir pria itu pasti sudah memiliki kekasih, dan tidak mungkin ia tiba-tiba mendekatinya dan mengajaknya kenalan itu akan sangat aneh dengan budaya di Indonesia, ia pun memutuskan untuk kembali memacu laju mobilnya pergi dari tempat itu, dengan sedikit menghapus harapannya itu untuk mengenal pria hujannya.


Di sisi lain...


Wina yang kala itu tidak sengaja melihat Sosok pria yang sepertinya ia kenal itu tengah berdiri di depan sevel membuatnya memutuskan untuk menyapanya.


"Kak Raihan?" Sapa Wina, Raihan pun menoleh ke belakangan.


"Lho, Wina? Kau di sini?" Tanya Raihan.


"Iya kak, aku sekarang kerja di jakarta dan menetap lagi di sini" Ucap Wina.


Setelahnya mereka pun mengobrol basa basi sembari sama-sama menunggu hujannya sedikit reda, tidak ada bahasan lain selain mengobrol tentang pekerjaan masing-masing, dan menanyakan tentang Naya pada Raihan.


Raihan mengenal Wina karena dulunya Wina sering main ke rumah Naya saat ia masih satu sekolah dengan Naya.


Tak lama hujan itu pun reda mereka pun memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.


Wina yang sudah pergi lebih dulu pun melambai pada Raihan yang turut melambai padanya, pandangan Raihan pun beralih pada kursi sevel itu, bibirnya sedikit tersungging lalu kembali mengenakan helmnya dan melajukan kembali motornya keluar dari area sevel itu, menerobos hujan gerimis menuju rumahnya.


****


Di Singapura...


Naya dan Juna baru saja tiba, mereka pun menuju hotel tempat tinggalnya.


Mereka datang berempat bersama Dodit dan Rian juga.


Sebelum beraktivitas mereka beristirahat sejenak di hotel tersebut, Rian dan Dodit mendapat satu kamar yang sama, kedua nya pun langsung masuk kedalam kamar itu.


Sedangkan Juna membawa Naya ke kamar mereka, kamar yang sangat mewah itu sukses membuat Naya kembali takjub.


Ya walau dia sudah terbiasa dengan rumah mewah Arjuna namun tetap saja ia masih di buat takjub oleh interior setiap bangunan mewah yang ia kunjungi itu.


"Naya, kita istirahat dulu ya soalnya dua jam lagi kita akan mengunjungi acara Tuan Jhonatan" Tutur Arjuna yang tengah mengusap kepala istrinya itu dan berjalan menuju ranjang mereka yang lumayan besar itu.


Naya mengangguk ringan ia pun turut mengikuti Arjuna dan duduk di bibir ranjang itu.


"Kau pasti lelah sekali ya?" Tanya Naya.


"Iya, dari pagi aku menyelesaikan tiga pertemuan sekaligus di tiga tempat, setelahnya langsung ke airport, dan saat menyentuh ranjang ini aku benar-benar ingin tidur" Gumam Juna.


Naya pun menarik selimut itu dan menyelimuti tubuh Juna, ya suaminya itu terlihat sangat lelah akhir-akhir ini ia juga sering pulang pagi lagi, ia hanya melihat jam tidur Arjuna yang sangat tidak teratur, ada kekhawatiran juga untuk Naya kalau Juna akan sakit karena kesibukannya itu.

__ADS_1


"Istirahat lah suami ku, tidur saja dulu, dua jam lagi aku akan membangunkan mu" Ucap Naya.


"Kau juga istirahat dulu saja sayang, sini berbaringlah di sebelah ku" Ucap Juna dengan mata yang terpejam.


"Aku tidak begitu lelah kok, jadi kau tidur saja ya" Ucap Naya, Juna pun tersenyum dan melanjutkan tidurnya itu. Naya mengusap lembut kepala Arjuna ia masih tidak percaya pria seperti Arjuna bisa semanis ini, jika mengingat sikapnya dulu padanya. Ya...Naya harus melupakan semua itu, dan menoleh ke depan, dimana suaminya yang sudah berusaha dengan baik membahagiakannya.


Setelah beberapa jam berselang keduanya pun telah siap menghadiri acara Jhonatan di gedung hotel milik jo.


Di sana Dodit dan Rian turut dalam acara tersebut dan mengobrol dengan beberapa tamu undangan di sana.


Sedangkan Jhonatan yang mendapati dua orang yang sedari tadi ia tunggu pun langsung menghampiri Naya dan Juna, mata Naya melebar saat mendapati pria di hadapannya itu, ya benar pria itu ada pria yang bersama ibunya saat di bandara dulu.


"Tuan dan Nyonya Dirgantara, selamat datang" Sapa Jo sembari menjabat tangan keduanya.


Sedikit lama Jo menjabat tangan Naya, sehingga membuat Naya berusaha melepaskan tangan Jhonatan itu.


"Terimakasih telah mengundang kami Tuan Jhonatan, saya liat Anda semakin bersinar setelah dua prodak baru Anda sukses di pasaran ya?" Tutur Arjuna, yang masih merasa kesal dengannya.


"Ahhh iya itu berkat kerja keras para tim devisi ku" Jhonatan tertawa bangga.


"Kerja keras Devisi mu ya? Baguslah setidaknya kau tidak mendapat kesuksesan itu dari hasil mencuri ide orang lain" Hunus Arjuna yang lantas membuat senyum Jhonatan memudar.


'Cih... Dia tengah menyindir ku rupanya' gumam Jhonatan dalam hati.


"Ahhh Tuan, Nyonya semoga kalian bisa menikmati hidangan makan malam disini, saya permisi sebentar ya" Ucap Jo,


"Tunggu sebentar Tuan Jo, bolehkan saya menanyakan satu hal?" Ucap Juna menahan Jhonatan.


"Boleh? Anda ingin menanyakan apa Tuan Dirga?" Tanya Jo


"Ah... Itu? Emmm kenapa Tuan Dirga menanyakan istri saya?" Tanya Jo sedikit tergagap.


"Yaa, ini acara penting perusahaan Anda kan? Biasanya Anda selalu bersama istri Anda, dan lagi istri saya ini salah satu penggemar Nyonya Almira Larasati, jadi dia sangat ingin bertemu dengannya" Ucap Juna.


"Ohhh begitu ya? Gini, sebenarnya istri saya itu saat ini tengah sakit keras" Ucap Jo yang saat itu membuat Naya terkejut saat mendengar kabar tentang ibunya itu.


"A..apa sakit, sakit apa Tuan?" Tanya Naya tiba-tiba, Arjuna pun memegangi tangan istrinya itu, agar menahan dirinya.


"Ya.. Almira ku sakit keras, ia mengidap kangker dan sudah stadium akhir, itulah sebabnya ia sudah tidak pernah nampak di acara televisi lagi" Jawab Jo sembari tertunduk.


Naya yang mulai berkaca-kaca itu tidak bisa menyembunyikan kesedihannya, Juna yang menyadari raut wajah Naya yang berubah pun memutuskan untuk mengalihkan pembicaraan ini.


"Saya turut prihatin Tuan Jo, semoga Nyonya Almira bisa cepat sembuh" Ucap Juna.


"Iya Tuan Dirga terimakasih atas doa mu" Jawab Jhonatan dengan raut wajah sendunya itu.


"Kalau begitu saya permisi ingin menemui yang lain dulu Tuan Jo" Ucap Juna yang langsung membawa Naya menjauh dari Jhonatan.


Jhonatan yang mengamati raut wajah Naya sedikit bingung, karena Naya yang tiba-tiba turut sedih setelah mendengar keadaan istrinya itu.


Juna yang langsung membawa Naya ke tempat lain pun memeluk tubuh istrinya.


"Ibu ku sakit Juna" Isak Naya tiba-tiba.


"Iya sayang aku tau, tabah kan hati mu ya, aku akan berusaha untuk berbicara baik-baik padanya, kali saja ia berkenan untuk mengizinkan kita menemui ibu mu" Ucap Juna yang berusaha menenangkan Naya.

__ADS_1


"Jangan sedih ya sayang, kita belum tahu persis keadaan yang sebenarnya" Ucap Juna, Naya pun mengangguk.


Setelah Naya mulai tenang mereka pun kembali masuk ke ruangan itu.


"Tuan Dirga!" Seru seseorang yang langsung menggandeng Arjuna dan membawanya ke kumpulan pejabat lain di sana, sehingga membuatnya meninggalkan Naya sendirian di tengah ruangan itu, tak lama Jhonatan pun mendekati Naya.


"Nyonya Dirga" Sapa nya Naya pun menoleh cepat.


"Tu... Tuan Jo" Jawab Naya.


"Maaf sepertinya Anda sangat terenyuh saat mendengar kabar tentang istri saya? Apa Anda benar-benar sangat mengagumi istri saya?" Tanya Jo, Naya pun mengangguk cepat.


"Sa...saya sangat mengaguminya, mungkin bisa di bilang saya penggemar nomor satunya, saya sedih saat ibu Almira tidak nampak lagi di televisi" Tutur Naya.


"Ya akhir-akhir ini ia tidak mau makan, mungkin itu karena dia kesepian Nyonya" Ucap Jo.


"A...apa? Tuan Jo, kalau di perbolehkan? Bisakah saya menjenguknya?" Tanya Naya.


'Ohhoo... Aku tidak menyangka akan semudah ini membawa Naya pergi' Gumamnya dalam hati.


"Tentu saja boleh Nyonya, istri ku pasti akan sangat tersanjung" Jhonatan tersenyum.


"Kapan saya bisa menemui istri Anda Tuan?" Tanya Naya.


"bagaimana kalau sekarang juga" Ajak Jo.


"Se...sekarang? Bukankah Anda sedang berada dalam acara yang sangat penting ini, apa tidak apa-apa jika anda meninggalkan acara Anda?" Tanya Naya yang mulai sedikit ragu.


"Nyonya Naya? itu tidak masalah buat ku, mungkin saja dengan hadirnya Anda, istri saya bisa kembali tersenyum dan tidak murung lagi" Ujar Jo.


"Ka...kalau begitu saya akan izin pada suami saya dulu" Naya berniat menemui Juna namun di tahan oleh Jo.


"Nyonya,lihat itu? Sepertinya Tuan Dirga benar-benar sangat sibuk dengan para koleganya, nanti saya yang akan mengabari suami Anda, mari Nyonya mumpung belum terlalu malam" Ajak Jo, sebenarnya Naya sedikit ragu namun rasa rindu akan ibunya itu membuatnya tidak bisa berfikir jernih, perlahan Naya pun mengangguk, dengan seringai nya Jo pun merasa berhasil ia mulai melangkah lebih dulu membawa Naya pergi dari tempat itu.


Di saat yang bersamaan Dodit melihat itu ia pun berpapasan dengan seorang pelayanan yang hendak memberikan Juna sebuah kertas.


"Tunggu" Tahan Dodit pada pelayan itu.


"Iya Tuan?" Tanya pelayan tersebut.


"Berikan pada ku kertas yang tadi di berikan Nona Lifia pada mu" Ucap Dodit


"I...itu?" Pelayan itu tergagap.


"Ku bilang berikan pada ku" Ujar Dodit dengan nada menekan, perlahan pelayan itu pun memberikannya, dan dengan cepat Dodit meraihnya lalu melenggang pergi menemui Arjuna.


"Maaf Tuan Dirga, bisa kita bicara sebentar" Ajak Dodit yang lantas di iyakan oleh Arjuna, mereka pun menjauh dari kerumunan itu.


"Ada apa?" Tanya Juna,


"Tuan sebaiknya anda segera keluar dan segera kejar Naya dan Tuan Jhonatan, aku melihat Tuan Jo membawa Naya pergi" Tutur Dodit, yang saat itu juga membuat Juna berlari keluar mengejar Naya dan Jhonatan.


Dodit pun mengangkat kertas itu, dan membacanya.


(Juna, temui aku di kamar 303, Nayaka)

__ADS_1


Bibir Dodit tersungging "Dasar jal*ng,kini urusan mu dengan ku" Dodit pun melenggang keluar menuju kamar 303.


__ADS_2