
Pagi itu Arjuna dan Dodit mengunjungi hotel tempat berlangsungnya pesta tadi malam, yang bisa di bilang salah satu gedung hotel milik Jhonatan.
Setelah menceritakan semuanya pada Arjuna tentang apa yang ia lihat tadi malam, dan apa yang ia dengar dari para Cleaning Servis itu, pagi-pagi sekali mereka langsung mengunjungi lokasi tersebut, dan mencoba memantau kondisi disana.
"Tuan, aku tidak yakin namun sepertinya para penjaga itu sudah melaporkan pada Tuan Jo, dan besar kemungkinan kalau ibu Almira di pindahkan ketempat lain" Tutur Dodit, Juna pun menatap ke arah hotel tersebut dengan tangan bertopang pada kaca sampingnya sembari mengusap keningnya.
"Kalau mendengar Analisa mu sepertinya, besar kemungkinan terjadi seperti itu, dan lagi kita tidak mungkin masuk begitu saja selain tidak ada bukti, kita juga hanya berdua" Tutur Arjuna fokus menatap lurus ke pintu masuk hotel itu.
"Apa kau ada ide untuk ini?" Tanya Juna menoleh ke Dodit, Dodit berfikir sejenak.
"Sadap" Gumamnya lirih dengan pandangan masih lurus ke depan.
"Maksud mu?" Tanya Juna.
"Pasang alat sadap di benda yang biasa Tuan Jo gunakan" Ucap Dodit.
"Alat sadap?" Juna berfikir sejenak.
"Iya Tuan, karena dengan alat itu kita bisa tahu kegiatan apa saja yang di lakukan Tuan Jhonatan, dan mungkin saja kita bisa menerima jawaban tentang lokasi tepatnya ibu Almira" Tutur Dodit.
"Lalu bagaimana caranya kita bisa memasang alat sadap itu?" Tanya Juna.
"Mungkin seperti ini Tuan" Dodit berbisik.
"Kau yakin itu akan berhasil?" Tanya Juna, Dodit pun mengangguk.
"emmm Tuan? Kapan lagi anda kira-kira akan bertemu Tuan Jo?" Tanya Dodit.
"Sepertinya dalam minggu ini belum ada"
__ADS_1
"Kalau begitu kita tunda dulu kepulangan kita Tuan, lalu atur pertemuan kalau bisa malam ini juga" Ucap Dodit, Juna pun termenung.
"acara?" Juna melamun,
"makan malam biasa saja Tuan" ucap Dodit.
"sebenarnya, hubungan ku tidak baik karena kejadian tadi malam, aku takut ia merasa curiga pada ku dan menolaknya" tutur Arjuna.
"maaf Tuan, Anda harus berusaha membujuknya, karena aku ingin menggunakan cara ini" Dodit pun membisikan sesuatu lagi pada Arjuna, sesaat matanya melebar.
"Dodit? Apa itu tidak berbahaya?" Tanya Juna yang sedikit khawatir.
"Kita memang harus menjebaknya dengan cara itu Tuan, ini harus di lakukan tidak ada cara lain" Ucap Dodit, Juna berusaha berfikir keras tentang rencana Dodit itu namun memang tidak ada pilihan lain untuknya semua demi menyelamatkan ibunya Naya.
"Dan sepertinya kita butuh satu orang lagi di sini Tuan" Tutur Dodit menambahkan.
"Satu orang?" Tanyanya.
"Raihan?" Gumamnya lirih, ia pun meraih ponselnya cepat, menghubungi Raihan dan mengabari bahwa ia harus datang ke Singapura hari ini juga, agak sedikit bingung sebenarnya namun akhirnya Raihan pun mengiyakan siang ini juga ia berangkat ke Singapura dengan tiket pesawat yang sudah di siapkan oleh Arjuna untuknya.
Ya hari ini Dodit mulai menjalankan idenya, sebelumnya Dodit pun sudah mengatur siasat mencari tau kegiatan Jhonatan siang itu, ia mendatangi sebuah restauran di salah satu kota tersebut terlebih dulu menunggu Jhonatan, tak lama ia pun melihat seorang pria ber jas tengah melenggang masuk bersama sekertaris nya.
dengan buku di tangannya Dodit sudah duduk di kursi belakang tempat Jho melakukan Reservasi sebelum menjalani meeting nya itu, ia pun mencari kesempatan dengan pena di tangannya, sesaat ia melihat tas Jhonatan tergeletak di bawah kursi tempat Jhonatan duduk.
Perlahan tangannya itu pun mulai bekerja dengan sengaja menjatuhkan pena di tangannya, yang saat itu juga menggelinding di dekat tas Jhonatan.
Ia pun menunduk mendekati tas Jhonatan dan menempelkan alat sadap kecil sebesar kancing baju kemeja dan menempelkan nya di bagian bawah tas Jhonatan, lalu segera meraih pena di dekatnya.
__ADS_1
Greeeeeepppp seseorang mencengkram tangan Dodit sehingga membuat Dodit terkejut, ia pun menoleh dan tersenyum berusaha tenang saat tau itu adalah Jhonatan.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Jo dengan tatapan menghunus.
"Maaf Tuan, aku hanya mengambil pena ku yang terjatuh" Ucap Dodit.
"Kau yakin tidak ada yang kau lakukan selain itu?" Tanya Jhonatan.
"Iya Tuan" Dodit tersenyum tenang, membuat Jhonatan melepaskan cengkraman nya itu, Dodit pun beranjak, dan segera menata buku-bukunya di atas mejanya dan membawanya pergi.
"Tunggu!" Seru Jhonatan, saat baru beberapa langkah Dodit berjalan sehingga membuatnya menghentikan langkahnya.
Ada sedikit kekhawatiran bagi Dodit terlebih saat Jho mendekatinya.
"Buku anda tertinggal satu" Tutur Jho, Dodit pun menghela nafas pelan, dan menoleh kebelakang, Jhonatan pun mengulurkan buku itu menyerahkannya pada Dodit.
"Terimakasih Tuan" Ucap Dodit sembari meraih bukunya yang berada di tangan Jhonatan, ia pun tersenyum pada Jhonatan dan mengucapkan terimakasih sekali lagi sebelum akhirnya berlalu pergi dari tempat itu, di sisi lain Jhonatan masih menatap ke arah punggung Dodit.
'Aku seperti mengenalinya, tapi siapa ya?' Gumamnya dalam hati, ya akhir-akhir ini Jho sedikit pelupa dengan semua yang momen yang sering ia lakukan.
Di depan Resto itu ia menghela nafas panjang dan segera berjalan masuk kedalam mobil yang di sewa Arjuna.
"Bagaimana apa kau berhasil?" Tanya Arjuna, Dodit pun mengambil nafas sejenak lalu mengangguk.
"Iya Tuan" Jawa Dodit.
"Rian coba buka perekam suaranya" Titah Arjuna Rian pun mulai membuka laptopnya dan segera memeriksanya.
"Tuan alat sadap itu bekerja dengan baik" Ucap Rian, Juna pun tersenyum.
__ADS_1
"Bagus, sekarang kita ke bandara tiga puluh menit lagi pesawat Raihan landing" Tutur Arjuna, Dodit pun menyalakan mesin mobilnya dan mulai melajukan mobilnya menuju bandara menjemput Raihan.