
Di sebuah taman hiburan.
Naya melepas safety belt nya dan membuka pintu mobil itu, ia masih berdecak kagum melihat taman hiburan yang menurutnya sangat bagus itu Arjuna melepas kaca matanya mendekati Naya dan menggandeng tangannya dengan tatapan lurus kedepan, membuat Naya seketika terkejut.
"Ayo jalan" Ajak Arjuna sembari melangkahkan kakinya yang di susul ayunan kaki Nayaka mengikuti laju kaki Juna. Sebelumnya Arjuna sudah memesan tiket masuk Dunia Fantasi itu sehingga mereka hanya tinggal menunjukan kode barcode nya tanpa harus mengantri lagi.
Sebelumnya mereka berkeliling dulu mengitari luasnya area tersebut.
"Luar biasa, tempat ini bagus sekali, lebih bagus dari pada pasar malam" Gumam Naya membuat Arjuna terkekeh.
"Ini hanya Dunia Fantasi, kau pasti belum pernah ke Universal studio, Disneyland, Legoland dan masih banyak lagi taman bermain lainnya di dunia ini yang akan membuat mu ternganga" Oceh Arjuna yang sama sekali tidak di dengarkan oleh Naya yang masih sibuk menatap ke seluruh arah,
"Kyaaaa Tuan lihat itu badut bekantan" Seru Naya yang langsung berlari menemui badut yang sedang menghibur anak-anak.
Arjuna mendesah lalu menggaruk keningnya "Ckckck, baru melihat badut bekantan saja sudah girang begitu, sikapnya kekanak-kanakan sekali" Gumamnya ia pun menyusul Naya.
"Tuan, badut itu memberikan ku bunga" Ucap Naya girang, Arjuna pun berniat merebut bunga itu namun di jauhkan okeh Naya.
"Cih badut itu pasti seorang pria, Naya lebih baik kau buang saja bunga itu, aku bisa memberikan mu bunga yang lebih bagus dari itu" Seru Arjuna sebal.
"Tuan ini apa-apaan sih, ini bagus tau" Tutur Naya.
"Bagus apanya? Hanya bunga plastik saja senang" Juna menggerutu, membuat Naya terkekeh.
"Kita kesana ya Tuan" Naya menarik tangan Arjuna membawanya ketempat lain, mata Naya tertuju pada permainan Histeria dimana banyak orang berteriak saat wahana itu mulai naik turun.
"Apa itu? Mereka naik sendiri tapi teriak-teriak" Tutur Juna dengan matanya yang menatap ke atas sembari menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Tuan ini bagaimana sih? Namanya juga wahana ekstrim sudah pasti mereka akan berteriak" Ucap Naya.
"Menggelikan, itu sih belum begitu ekstrim menurut ku" Gumam Arjuna dengan nada meremehkan.
"Kalau begitu mari kita naik itu Tuan, aku juga suka naik wahana ekstrim" Tutur Naya yang seketika itu membuat mata Arjuna membulat.
"a...a....apa kata mu? Naik itu?" Tanya Arjuna.
"Iya? Tadi Tuan sendiri bilang kan wahana itu tidak terlalu ekstrim untuk Tuan, jadi ayo kita naik itu" Ajak Naya sembari menarik lengan Arjuna.
"I...itu kan wahana anak-anak, kita sudah dewasa Naya sudah tidak pantas" Arjuna menghindar.
"Apanya wahana anak-anak sih Tuan, yang ada anak-anak justru tidak boleh naik itu" Tutur Naya.
"Iya.. Tapi kan?"
"Tuan takut ya?" Deeeeeg Arjuna merona, ia tidak mungkin menunjukan rasa takutnya pada Naya yang ada Naya pasti akan mengejeknya.
"Si...siapa bilang aku takut, tidak tuh?" Tutur Arjuna, Naya menyeringai.
"Kalau begitu ayo naik itu"
'Mampus...gengsi mu tak akan mengalahkan Phobia mu Juna bodoh' gerutu Juna dalam hati, kaki Juna terasa kaku membuat Naya kesulitan menggandeng Arjuna.
__ADS_1
"Tuan, kau ini kenapa sih? Jika kau tidak mau tidak apa-apa, aku tau kok tidak semua orang berani naik itu" Ucap Naya membuat Juna merasa terendahkan.
"Enak saja kau bilang begitu, hanya seorang pecundang yang tidak berani naik itu, ayo...!" Ajak Juna yang melangkah lebih dulu.
'Tamat riwayat ku' gumamnya sembari berjalan, mereka pun mengantri bersama.
"Panjang sekali antriannya membuat ku bosan saja" Tutur Juna.
"Tidak apa Tuan kan tidak lama, keloter selanjutnya kita kok"
'Sial aku pikir Naya akan berubah fikiran, kalau begini aku bisa mati' kaki Arjuna mulai gemetaran, saat kloter itu tengah selesai kini giliran Arjuna dan Naya yang duduk di kursi itu.
"Tuan kau yakin tidak apa-apa kan?" tanya Naya meyakinkan saat menatap wajah Arjuna yang terlihat pucat pasi.
"Emmmm" Arjuna benar-benar tegang tangannya yang tengah berpegangan itu mulai gemetaran. Terlebih saat wahana itu telah naik pelan Arjuna mulai berteriak,
"Daddy, mommy tolong aku, aku belum maun menyusul kalian ke surgaaaaaaaaaaaaaaaa" Arjuna menjerit saat wahana itu terjun kebawah dengan kecepatan tinggi, ia benar-benar merasa ketakutan.
"Sudah hentikaaaaaaaaaaannn" Tubuhnya mulai melemas, baru sebentar permainan itu di mulai, Arjuna sudah tidak sadarkan diri.
Saat permainan itu selesai, Naya menepuk-nepuk pipi Arjuna.
"Tuan bangun, Tuan?" Naya terlihat panik, perlahan mata Arjuna terbuka.
"Aku... Aku sudah di surga? Aku melihat bidadari di depan ku" Arjuna berucap asal, membuat Naya menahan tawanya.
"Tuan ayo bangun, aku bantu bangun ya?"
"Me...memang aku kenapa?" Tanya Arjuna ia berusaha bersikap normal dan berusaha berdiri walau sedikit oleng tubuhnya ia berjalan lebih dulu mendahului Naya, melihat itu membuat Naya menutup mulutnya menahan tawa, ia pun menyusul Arjuna cepat.
"Kau ini bicara apa? Kita masih belum naik wahana lain kan?"
'Mulut bodoh ini bicara apa sih?' runtuk Juna dalam hati.
"Memangnya anda tidak apa-apa jika naik wahana lagi? Anda yakin Tuan?" Tanya Naya, "aku tidak apa kok kalau harus naik wahana sendirian, ah aku mengantri di wahana tornado itu dulu ya?" Seru Naya yang lantas membuat Arjuna menarik tangan Naya karena antrian paling belakang itu adalah seorang pria.
"Aku ikut" Ucap Arjuna
"Tapi tuan, kalau anda tidak berani jangan memaksakan" Naya membungkam mulutnya sendiri.
"Apa kata mu? Tidak berani? Hey Naya? Naik seribu kali wahana itupun aku sanggup kau jangan meremehkan aku ya?" Seru Arjuna yang lantas berjalan dulu.
Saat sudah duduk di kursi Tornado wajah pucat Arjuna kembali dengan tatapan tegang menatap lurus ke depan.
'Demi Neptunus, terkutuk kau Author!' umpatnya dalam hati. (maaf Juna)
"Aaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrgggggggghhhh" Ya... Penderita Arjuna kembali terulang di sana akibat gengsinya yang tinggi membuatnya harus melalui menit-menit penuh penyiksaan itu lagi di wahana Tornado.
Setelah turun dari wahana.
"Hooeeekkk... Hooeeeeekk" Arjuna memuntahkan isi perutnya, di dalam toilet ia benar-benar lemas sehingga membuatnya terduduk lunglai di atas toilet duduk itu.
"Haahhh... Haahhh, tak ku sangka cinta segini menyiksanya, atau jangan-jangan dia sengaja menyiksa ku untuk balas dendam?" Arjuna meraih ponselnya yang bergetar.
__ADS_1
"Ya Naya?" Arjuna menerimanya.
"Tuan? Anda tidak apa-apa kan? Anda tidak pingsan lagi kan?" Tanya Naya dari sebrang.
"Tidak? Siapa bilang aku pingsan?" Seru Arjuna.
"Lalu kenapa Anda lama sekali, aku khawatir Tuan" Tutur Naya, yang seketika membuat Arjuna tersenyum senang.
'Naya mengkhawatirkan ku?'
"Ehmmm, sebentar lagi aku keluar kok" Ujarnya yang lantas menutup panggilan telefonnya.
Di sisi lain Naya menunggu di luar dengan perasaan cemas.
"Naya" Panggilnya.
"Tuan? Maaf ya, gara-gara aku mengajak mu main kau jadi seperti ini?" Ucap Naya merasa bersalah.
"Iya kau itu benar-benar mengerikan, sudah lupakan itu aku hanya tidak mood saja makannya malas bermain itu jika tidak seluruh wahana disini pasti sudah ku naiki" Ucap Arjuna masih berusaha sombong.
'Tidak mood bagaimana? Jelas-jelas kau ini takut Tuan Arjuna' tutur Naya dalam hati.
"Kita makan saja yuk, tidak usah naik wahana lagi, sudah lewat jam makan siang ini" Ajak Arjuna yang lantas di iyakan oleh Naya.
Juna pun menggandeng Naya mencari resto di sekitar situ.
"Makan dimana yang enak ya?" Gumam Juna, ia pun melihat sebuah resto yang terlihat bagus dan rapi,
"Kita makan disana saja ya?" Ajak Arjuna Naya pun mengangguk, ia masih fokus melihat tangannya yang terus di gandeng oleh Arjuna sehingga membuat pipinya merona.
Setelah makan siang dan melanjutkan mengelilingi taman itu seharian tidak terasa waktu sudah semakin sore dengan langit yang mulai berubah warna orange, keduanya masuk ke dalam mobil sport Arjuna.
"Tuan?" Panggil Naya, membuat Arjuna menoleh.
"Terimakasih banyak untuk hari ini, aku sangat bahagia" Ucap Naya tulus sembari menyunggingkan bibirnya itu.
"Sama-sama Naya" Tutur Arjuna yang lantas kembali menoleh ke depan mengatur mobilnya untuk keluar dari area parkir itu.
Naya menatap ke jendela samping menatap lampu-lampu yang mulai menyala.
Ya, hari ini memang sangat membahagiakan namun tidak hari esok. Ia tetap ingat tentang nasib pernikahannya ke depan.
Walau Arjuna semakin menunjukkan sikap baiknya namun ia tidak ingin menaruh harapan lebih pada Juna.
Tangannya yang berada di pangkuannya itu saling meremas sembari menggerak-gerakan bola mantannya menahan air mata itu agar tidak tumpah di pipinya.
Kini Juna dan Naya sudah sampai di rumah yang bak istana itu, dua orang pelayan menghampiri mereka dan membukakan pintu itu, sedangkan Arjuna menyerahkan kunci mobilnya pada supirnya itu agar memarkirkan mobil sport nya.
Di dalam kamar mereka...
"Istirahat lah Naya kau pasti lelah" Tutur Juna yang berniat menyentuh bahu Naya untuk mengecup keningnya namun seketika urung.
__ADS_1
"Se... Selamat malam" Lanjut Arjuna yang lantas keluar dari kamar itu, Naya mengamati tingkah Arjuna yang sudah mulai bisa, ia pun menuju kamar mandi guna membersihkan dirinya lalu beranjak tidur.
***