Istri Kontrak Tuan Arjuna

Istri Kontrak Tuan Arjuna
tak semestinya cinta


__ADS_3

Seperti biasa langit senja yang indah selalu membuatnya nyaman untuk membaca buku di sebuah bangku taman yang sangat tertata apik di halaman rumah yang besar itu, ia hanya berusaha keras melupakan kejadian tadi malam, dan kembali berusaha bersikap normal pada Arjuna, sesaat matanya beralih pandang pada ponsel nya yang berdering, ia pun tersenyum saat teman SMAnya itu menelfon nya, Naya pun menerima panggilan telfon itu dan mengobrol lama disana, saat Naya tengah asik menelfon temannya, ia mendapati mobil Arjuna yang sudah memasuki halaman rumah mereka.


"Wina, sudah dulunya suami ku pulang" ucap Naya


"Oh baiklah nyonya Naya" Ledeknya yang lantas membuat Naya menggeleng lalu mematikan ponselnya.


"Akhir-akhir ini dia sering pulang cepat?" gumam Naya sembari berlari menghampiri Arjuna dan meraih tasnya,


"Selamat datang" ucap Naya sembari berusaha tersenyum, melihat ekspresi Naya ia merasa sedikit senang namun ia masih menyembunyikan perasaan senangnya itu sesaat tatapannya tertuju pada bibir Naya yang membuatnya tidak tahan lagi untuk tidak menyentuhnya, tanpa membalas sapaan Naya Arjuna menarik lengan Naya dan mencium bibirnya membuat Naya seketika terkejut, dengan berusaha keras ia terus memukul-mukul bahu kekar itu agar dapat terlepas dari ciuman Arjuna yang semakin melum*tnya.


"haaaahhh" Arjuna melepasnya dan saat itu juga ia mendapatkan tamparan keras di pipinya dari Naya, membuat Arjuna menoleh cepat.


'Dia menampar ku? Kemarin dia saja menerima ciuman Raihan dan sekarang dia malah menampar ku saat tengah ku cium?' Gumamnya dalam hati sembari mengepalkan tangannya dengan satu tangannya lagi memegangi pipinya sendiri.


"Istri ku? Kau menampar ku?" ucap Juna yang lantas menyadarkan Naya bahwa ia masih berada di sekitar para pelayan yang saat itu memandang mereka dan langsung kembali memalingkan wajah melanjutkan pekerjaan mereka.


"Ma.. Maaf juna aku? Aku hanya mmmppphhh" Juna kembali meraih kepala Naya dan menciumnya lagi, kali ini tidak ada pilihan lain untuk Naya selain membiarkan Arjuna menciumnya tanpa ampun, dengan Kepalanya yang bergerak ke kiri dan ke kanan, sungguh ia tidak mengerti kenapa Arjuna tiba-tiba menciumnya di tempat yang seharusnya tidak pantas untuk melakukan itu.


Arjuna melepaskan bibirnya itu dan memeluk Naya.


"Kau menyukai hal ini kan wanita Jal*ng?" Bisik Arjuna di dekat telinga Naya membuat mata Naya melebar.


"Ini balasan untuk mu yang sudah berani-beraninya berciuman dengan pria lain sedangkan aku saja belum menyentuh bibir mu itu, yang ternyata membuat ku sedikit menikmatinya" lanjut Arjuna yang lantas membuat Naya berusaha melepaskan pelukan Arjuna itu.


"Hey...tenang saja kau mau meminta uang seberapa pun setelah ini, aku pasti akan memberikannya, jadi sebutkan berapa harga tubuh mu itu Naya, agar aku bisa menikmatinya juga" ucap Arjuna yang benar-benar membuat Naya tidak tahan dengan ucapannya itu,


"Tuan? tolong hentikan! Ucapan mu itu sangat melukai ku" ucap Naya yang masih menatap lurus kedepan dengan air mata yang menetes.


"Melukaimu? Hey Naya apa kau masih memiliki harga diri setelah berciuman dengan pria lain? Atau jangan-jangan kau sudah menyerahkan kehormatan mu itu pada Raihan?" ucap Arjuna tanpa sadar karena merasa kesal dengan tamparan Naya tadi, yang lantas membuat Naya menginjak kaki Arjuna hingga membuatnya reflek melepaskan pelukannya pada Naya yang saat itu juga mengaduh, tanpa membuang waktu lagi Naya pun berlari masuk.


"Wanita itu!" Gerutu Arjuna yang lantas berjalan menyusulnya,

__ADS_1


Naya baru saja masuk ke dalam kamar mereka dan menutup pintu itu, dengan tangannya yang tengah menutup mulutnya dengan isak tangisnya yang pecah, akibat sesak di dadanya karena kata-kata pria arogan itu, tak lama Arjuna pun masuk dan menarik tangan Naya kasar.


"Aku belum selesai bicara Naya!" seru Arjuna.


"Apa yang akan kau katakan lagi Tuan? Apa tidak cukup bagimu menghinaku seperti itu? Dan lagi? Asal kau tau, luka Hati ku itu masih belum sembuh dari perlakuan kotor mu tadi malam Tuan!" Seru Naya yang sudah benar-benar kesal dengan Arjuna, kedua tangan Arjuna mencengkram baju Naya dan menatapnya bengis. Entah apa yang terjadi pada Arjuna yang kembali kesal karena mengingat hal kemarin sedangkan Naya masih menolaknya, seperti tengah menandakan kalau Naya lebih menyukai Raihan ketimbang dirinya.


"Katakan pada ku! Apa saja yang sudah kau lakukan dengannya di belakang ku"


"Aku tidak pernah melakukan hal kotor apapun Tuan! Aku harus mengatakannya berapa kali pada mu sampai kau percaya kalau Ciuman itu hanya sebuah kesalahan" Seru Naya.


"Aku tidak percaya itu Naya"


"terserah pada mu Tuan mau percaya atau tidak dengan ku, yang pasti aku bukan wanita Jal*ng seperti yang selalu kau ucapkan padaku!" Seru Naya.


"KATAKAN DENGAN JUJUR NAYA!!"


Tokkk tokkkk tookkk.. Arjuna menoleh.


"SIAPA!" Bentak Arjuna kesal.


"Aku akan segera keluar" Seru Juna dari dalam kamar membuat pelayan itu membalik badan dan menjauh.


Arjuna pun melepas Jasnya dan melemparnya ke ranjangnya itu, lalu melenggang keluar meninggalkan Naya yang masih terisak itu. tangan Naya yang masih gemetaran itu meraih jas suaminya dan melipatnya, Naya mengusap air matanya ia benar-benar tidak tahan menjalani pernikahan ini terlebih sikap kasar Arjuna yang semakin membuatnya takut.


Di ruang tamu...


Arjuna duduk di hadapan pamannya itu dengan tubuh lunglai nya.


"Kau baru pulang?" tanya Pamannya


"Iya om" jawab Arjuna pelan sembari memijat keningnya.

__ADS_1


"Kau kenapa?" Tanya om Rudy sembari menatapnya aneh, pasalnya Arjuna terlihat tengah marah.


"Aku hanya kelelahan karena pekerjaan ku" ucap Arjuna


"Aku tau, menjadi seorang pemimpin itu tidak mudah Juna, kau sudah bekerja dengan baik orang tua mu pasti bangga atas pencapaian mu itu" ucap pamannya itu membuat Arjuna tersenyum. Mata pamannya itu beralih pandang saat Naya menghampiri mereka.


"Menantu ku" Sapanya dengan senyuman. Dengan Naya yang lantas mengecup punggung tangan paman Juna itu, ia pun duduk di sebelah Arjuna.


"Bagaimana kabar mu Naya?"


"Aku baik om" Jawab Naya sopan.


Arjuna melirik sekilas ke arah Naya, ia sudah bisa tersenyum di hadapan pamannya bahkan bertingkah seolah tak terjadi apa-apa padanya.


"Kau pasti merasa kesepian ya karena kesibukan suami mu itu? Terlebih semenjak kalian menikah kalian sama sekali belum pernah pergi berbulan madu" ucap pamannya "dan apa Arjuna memperlakukan mu dengan baik?" tanya pamannya itu, Naya menoleh kearah Arjuna lalu kembali menatap pamannya dengan senyuman manis tersungging di bibirnya.


"Aku tidak pernah merasa kesepian disini om, dan lagi suami ku ini?" Tangan Naya menyusup ke siku lengan Arjuna membuat Arjuna menoleh kearahnya.


"Dia memperlakukan ku dengan sangat baik, suami ku sangat menyayangi ku paman" ucap Naya dengan mata yang berkaca-kaca karena harus berbohong.


Arjuna pun memalingkan wajahnya ia sangat merasa bersalah pada Naya karena telah kasar padanya.


"Juna?" Panggil pamannya itu membuat Arjuna menoleh kearah pamannya cepat.


"Awalnya om sempat ragu saat kau bilang akan menikahi Naya, namun sekarang om merasa lega" ucap pamannya itu. Membuat Arjuna tertunduk.


"Ya sudah, om hanya ingin menengok kalian" Paman Juna pun beranjak dan menyalami mereka.


"Juna? Jika waktumu sudah lowong, ajaklah istri mu jalan-jalan keluar negeri agar kalian cepat dapat keturunan" Deeegggg ucapan pamannya itu membuat Naya menekan dadanya, bagaimana mana mendapat keturunan? sedangkan pernikahan mereka bukanlah pernikahan sungguhan. Naya pun mencium punggung tangan pamannya itu.


"Om pulang ya, baik-baik untuk kalian" Ucapnya yang lantas melenggang pergi.

__ADS_1


Juna menoleh kearah Naya karena tangan Naya masih memegangi lengan Juna membuat Naya melepaskannya cepat.


"Maaf Tuan" ucap Naya lirih sembari tertunduk, tanpa sepatah katapun Arjuna pun melenggang pergi, menuju kamarnya.


__ADS_2