Istri Kontrak Tuan Arjuna

Istri Kontrak Tuan Arjuna
kejanggalan


__ADS_3

Sesaat keduanya telah masuk kedalam kamar tempat penyanderaan Almira, mereka sedikit tercengang saat kamar itu sudah kosong tak ada apapun di dalamnya.


Sedikit berusaha tenang mereka saling tatap beberapa saat berpura-pura mencari pakaian kotor di sana.


"Kalian mencari apa? Cleaning servis palsu?" Seru salah seorang dari mereka yang lantas membuat keduanya menoleh kebelakang, dan mendapati dua penjaga itu telah menutup pintu kamarnya dengan kedua tangan mereka memegangi pisau.


"Kami tau, kau adalah penyusup yang menyamar, karena Tuan Jo tidak pernah membiarkan sembarangan orang masuk kesini bahkan cleaning servis sekali pun" Tuturnya.


"Dimana ibu Almira berada?" Seru Raihan.


"Mana kami tau, yang pasti kami sudah lelah menanti kalian di sini, kini saatnya kita bermain" Ucap orang itu sembari memutar-mutar sebilah pisau di tangannya.


"Dodit berhati-hati lah, ada sajam di tangan mereka" Ucap Raihan,


"Aku tau itu" Jawab Dodit yang lantas menendang troli itu ke arah mereka sehingga membuat salah satu dari mereka terjengkang jatuh.


"Rai? Sekarang!" Seru Dodit, Raihan pun meraih alat kejut listrik dari sakunya dan menyetrum salah satu pria itu, sedangkan Dodit mencoba melawan yang satunya dengan beberapa kali menghindari hujaman pisau yang berkali-kali menghunus ke arahnya, sesaat tangannya mampu meraih gesper di celana penjahat itu dan melepas gesper tersebut dengan gerakan cepat ia menariknya lalu menendang dada pria itu dan menjerat leher pria itu dengan sekuat tenaganya, kedua tangan pria itu terus mencengkram kedua lengan Dodit berusaha melepaskan diri.


"Rai! alat ke...kejut listrik nya" Seru Dodit, yang lantas membuat Raihan langsung menyetrum bagian tubuh pria besar di hadapan Dodit itu, sesaat pria itu menggeliat-geliat dan tak sadarkan diri.


"Haaaahhh...haaaahhhh akhirnya fiuuuhhhh melelahkan sekali" Gumam Dodit hang dengan cepat langsung mengikat kedua tangan dari salah satu pria bertubuh besar itu. Dan Raihan pun melakukan hal yang sama pada yang satunya lagi.


"Mantap" Seru Dodit dan Raihan bersamaan sembari melakukan gerakan tos dengan tangan mereka.


Ya di antara mereka memang Dodit yang paling jago berkelahi dengan tangan kosong, karena Dodit adalah mantan atlit karateka pemegang sabuk hitam Dan 3, itu sebabnya Dodit lebih mahir berkelahi ketimbang Raihan.


Setelahnya mereka pun menyeret dua pria itu menepi agar tidak menutupi pintu tersebut.


"Ayo kita keluar Raihan sebelum mereka sadar" Seru Dodit.

__ADS_1


Sesaat langkah mereka terhenti di depan pintu, dan diam di tempat.


"Raihan, apa kau satu pemikiran dengan ku?" Tanya Dodit.


"Benar, kita tidak tau kunci kode kamar ini" Gumam Raihan datar.


"Sudah ku duga, aaaarrrrhhhh bagaimana ini? Kita tetap terjebak disini?" Runtuk Dodit sembari meremas kepalanya.


"Sebentar" Raihan pun meraih ponselnya dan mencoba meretas sistem kode kunci kamar tersebut, dengan harap-harap cemas Dodit pun mengawasi dua pria bertubuh kekar itu di belakangnya


Di sisi lain....


Arjuna masih sedikit cemas dengan nasib anak buahnya itu.


"Tuan Juna... Tuan Juna, sudah lebih dari satu jam mereka ada di dalam kamar itu saya khawatir mereka tertangkap Tuan" Tutur Rian yang tengah mengawasi titik pergerakan Raihan dan Dodit, yang saat itu pula membuat Arjuna sedikit panik.


Menyadari ada kepanikan pada Arjuna Jo pun tersenyum.


"Tidak... Tidak Kok Tuan Jhosan" Jawab Juna yang lantas meraih air minum di sebelahnya dan menenggaknya.


"Maaf Tuan Jhosan saya harus meninggalkan anda disini karena tiba-tiba ada urusan penting" Tutur Arjuna sembari beranjak.


"Oh ya? Anda yang mengundang saya namun anda sendiri yang akan pergi lebih dulu?" Tanya Pria dihadapannya.


"Aahhh saya benar-benar minta maaf sekali lagi Tuan, saya harus permisi pergi" Juna pun keluar meninggalkan Jhonatan yang masih sibuk mengunyah daging di mulutnya ia pun meletakan garpu dan pisaunya lalu mengatupkan kedua tangannya.


"Aku tau kau pasti panik karena dua anak buah mu tertangkap Tuan Arjuna" Gumam Jhonatan sembari tersenyum.


Beberapa jam sebelumnya....

__ADS_1


Jhonatan mendatangi hotelnya dan mengecek keadaan Almira disana yang tengah tertidur di atas ranjangnya, tangannya mengusap lembut wajah pucat itu.


"Sayang ku...kau semakin terlihat pucat dan kurus" Gumam Jhonatan dengan tatapan sendunya.


"Maaf Tuan, nyonya Almira itu benar-benar tidak mau makan, dia hanya menghabiskan waktunya untuk tidur saja" Ucap penjaga itu.


Buuuuuuaaaaackkk Jo menghajar wajah Pria di sebelahnya itu.


"Dasar becus! Kenapa kau tak memaksanya?? Almira ku harus makan bodoh!!" Seru Jhonatan yang lantas membuat pria itu tertunduk.


"Maaf Tuan, kami selalu berusaha membujuknya namun Beliau tetap tidak ingin makan" Tutur penjaga itu lagi.


"Almira ku? Tolong jangan seperti ini sayang" Jo mencium pipi wanita yang masih memejamkan matanya itu.


"Tuan maaf, kemarin malam ada penyusup masuk kemari" Ucap Penjaga itu sembari tertunduk, mendengar itu Jhonatan pun menoleh cepat dan beranjak.


"Penyusup?" Tanya Jo


"Iya, pria berkaca mata Tuan, ia tiba-tiba masuk ke lantai ini, saya sempat mengejarnya namun ia sangat gesit sehingga membuat ku tidak bisa lagi mengejarnya" Jawabnya,


"Pria berkacamata" Jo mengingat-ingat lagi, baru saja ia melihat pria berkacamata di resto siang ini dengan gelagat mencurigakan, terlebih dengan Arjuna yang tiba-tiba mengajaknya makan malam.


"Sepertinya ada yang mengajak ku bermain?" Gumam Jhonatan dengan bibir tersungging sinis.


"Hei kalian, cepat persiapkan semuanya kita pindahkan Almira sekarang juga" Titah Jhonatan yang lantas di iyakan oleh yang lainnya.


Sore itu juga semuanya pun bersiap mengeluarkan Almira. Dengan menggunakan kursi roda, tubuh Almira yang lemah itu di bawa keluar oleh Jhonatan dan orang-orang suruhannya.


Disaat yang sama, Lifia tidak sengaja melihat hal janggal di sebuah basement, dari kejauhan ia mengamati Kakaknya itu memasukkan seorang wanita kedalam mobilnya.

__ADS_1


"Apa yang sebenarnya dilakukan kakak ku?, bukankah wanita itu istrinya? Mau dibawa kemana dia?" Gumamnya dalam hati, ia pun mengatur gigi mobilnya dan mencoba mengikuti laju mobil yang membawa Almira pergi.


__ADS_2