Istri Kontrak Tuan Arjuna

Istri Kontrak Tuan Arjuna
sweet ending


__ADS_3

Naya melepas kecupan suaminya itu pelan sembari menatap dalam-dalam wajah yang terluka itu. Dengan tersenyum Juna pun pun membalas tatapan Naya.


"Suami ku terluka hiks" Naya kembali terisak saat menyentuh wajah Arjuna yang terdapat memar di mana-mana.


"Jangan menangis lagi sayang aku kan tidak apa-apa" Ucap Juna sembari mengusap air mata Naya yang membasahi pipinya itu.


"Kau bilang akan pergi meeting dengan client mu, tapi kenapa kau malah berkelahi di sini?" Tanya Naya.


"Semua kulakukan, demi sebuah kejutan manis yang akan ku berikan pada mu sayang" Ucap Juna.


"Kejutan manis?" Tanya Naya bingung, dengan Juna yang mengangguk cepat.


"Sayang ikut aku ke bawah ya? Ada seseorang yang mesti kau temui" Ucap Juna sembari menyeka air mata Naya, dengan Cepat Naya pun mengangguk dan mulai mengikuti langkah Arjuna yang tengah menuntunnya.


Entahlah perasaan Naya saat ini tidak karuan, rasanya kakinya masih gemetaran saat tahu Arjuna sedang dalam bahaya, namun kini perasaannya berubah berdebar, sepertinya akan ada sesuatu yang akan membuatnya bahagia.


Mereka semua pun turun dari gedung itu, langkah Naya dan Arjuna terhenti di depan sebuah mobil berwarna putih yang terdapat Raihan sudah berdiri di depan sebuah mobil tersebut.


"Kau sudah siap dengan kejutan ku sayang?" Tanya Juna, Naya pun menoleh dan mengangguk pelan.


"Raihan, buka pintu mobil itu" Titah Arjuna yang saat itu pula tangan Raihan pun mulai menarik pegangan pintu itu dan menyeretnya hingga terbuka seluruhnya.


Di sana Naya menyipitkan mata saat terlihat seorang wanita duduk menyandar disana dengan tubuh yang sangat lemah itu, wanita itu menoleh ke arah Naya dan menyunggingkan senyumnya dengan mata yang berkaca-kaca tangan lemah itu terulur ke arah Naya, saat itu pula mata Naya melebar, ia terpaku sejenak tidak percaya dengan apa yang ia lihat itu.


"Itu kejutan untuk mu sayang, ayo temui dan peluk ibu mu" Bisik Arjuna pelan,


langkah Naya terseret pelan menghampiri sesosok wanita yang sangat-sangat ia rindukan itu, dengan air mata yang mulai menetes Naya terus mendekati wanita itu dan berdiri di hadapannya.


"I...i...ibu...ibu?" Gumamnya sangat lirih dari bibirnya yang bergetar akibat tidak bisa menahan tangis itu lagi.


Tangan Wanita dari dalam mobil itu terulur lemah menyentuh wajah Naya dengan bibir yang tersungging dan air mata yang menderas di pipinya.

__ADS_1


"Naya?" Balasnya sangat lirih.


"Naya... Putri ibu" Lanjutnya Sesaat ia terus meraba wajah yang masih menatapnya tidak percaya.


"I...ibu?" Naya mulai terisak "ibu...kau ibuku... Hiks ibuuuuuu" Naya memeluknya dengan tangis keduanya yang mulai pecah.


"Aku merindukan mu bu, ibu...Naya merindukan ibu selama ini huuhuuuuuu" Ucapnya masih terus mendekap tubuh ibunya itu.


"Iyaaa... Iya ibu juga nak" Balas ibunya, suaranya sangat lemah bahkan hampir tak terdengar.


"ibu... Ibu Naya rindu ibu... Sangat merindukan ibu" Naya terus bergumam mencurahkan kerinduan selama bertahun-tahun.


"I..ibu Juga sayang, ibu sangat menantikan momen ini, maafkan ibu yang sudah meninggalkan mu sayang" Gumam ibunya itu dengan suara yang sangat lirih.


Naya menggeleng cepat "tidak ibu, ibu jangan bahas itu lagi, yang pasti saat ini aku bisa memeluk mu ibu" Keduanya masih terisak di dalam pelukan rindu yang sudah tertahan lama.


Arjuna menyeka Air matanya dan mengusap bahu Naya.


"Ibu? Ibu pasti kesakitan selama ini kan? Sungguh Tuan Jo jahat sekali pada mu ibu...aku akan mengutuk pria jahat itu! Aku akan mengutuknya bu!" Seru Naya masih dengan isak tangisnya.


"Ssssttt sayang... Sayang tenangkan dirimu, Tuan Jo sebenarnya tidak sepenuhnya jahat pada ibu sayang, dia hanya mencintai ibu dengan caranya yang salah, tolong maafkan dia ya? Biar dia menjalani hukumannya dengan tenang" Ucap Almira lemah.


"Tapi dia sudah membuat ibu menderita sampai seperti ini bu" Tutur Naya.


"Tidak apa sayang, anggaplah ini hukuman untuk ibu juga ya uhhukkk uhhhhukkk" Almira terbatuk-batuk..


"I... Ibu? Ibu tidak Apa-apa?" Tanya Naya saat mendapati darah di telapak tangan ibunya itu yang keluar dari mulutnya.


"Ibu tidak Apa-apa sayang" Tutur Almira lirih.


"Ibu mertua? Sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang ya?" Ajak Juna, mata Almira tertuju pada pria hebat disebelah Naya nya itu, ia pun tersenyum dan mengangguk pelan.

__ADS_1


Saat itu juga Naya pun masuk ke dalam mobil itu dengan Juna yang langsung menutup pintu mobilnya itu, ia pun menoleh ke arah Dodit, Raihan, dan Rian sembari tersenyum.


"Terimakasih banyak atas kerja keras kalian, karena telah membantu ku menyelamatkan ibunya Naya" Ucap Arjuna yang di balas dengan anggukan ke tiganya, ia pun beralih pandang pada Lifia.


"Lifia?" Panggil Juna yang kala itu langsung mengangkat kepalanya menatap ke arah Juna.


"Terimakasih sekali lagi sudah memanggilkan polisi dan menunjukan lokasi ibu Almira" Ucap Arjuna kepada Lifia.


"Ya... Ya... Sudah sana bawa ibu mertuamu itu ke rumah sakit" Jawab Lifia malu-malu, Juna pun tersenyum.


"dan kau kinara Terimakasih juga atas bantuan mu yang sudah membatu mengeluarkan ibu Almira dari tempatnya di sandra, dan membawa Naya kesini" Ucap Arjuna lagi, kinara pun tersenyum, dengan Raihan yang menatapnya diam-diam lalu tertunduk sembari tersenyum juga.


"Okay, beristirahat lah kalian, sedangkan aku akan mengantar Naya dan ibu mertua ku ke rumah sakit" Ucap Juna yang langsung melenggang pergi masuk ke dalam mobil itu lalu membawa laju mobil itu pergi menuju rumah sakit terdekat.


"Ayo kita kembali" Ajak Rian yang akan menuju Ke mobilnya.


"Emmm kalian saja dulu" ucap Raihan garuk-garuk kepala sembari melangkah kakinya menuju kearah Kinara berdiri.


"Lalu kau mau kemana?" Tanya Rian bingung.


Raihan pun meraih tangan Kinara dan menggandengnya tanpa menatapnya, sehingga membuat Kinara sedikit terkejut.


"Mengopi dulu sebentar" Jawabnya, sembari membawa Kinara pergi dari sana dengan tatapan datar itu ia terus melangkah kan kakinya, Kinara yang saat itu hanya bisa menatap ke wajah seorang pria yang tengah menatap lurus ke depan, sembari mengikuti langkah dari kakinya yang jenjang itu hanya bisa menyunggingkan bibirnya merasa senang, Terlebih saat ia merasakan tangan Raihan yang sangat hangat baginya.


Dodit menoleh ke arah Lifia "apa kau?"


"Tidak usah bermimpi mengajak ku ngopi juga ya! Dasar bedebah tengik!" Potong Lifia yang langsung melenggang masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan dua pria itu.


Dodit yang membuka mulutnya lebar-lebar itu hanya bisa menatap heran "a...apa sih dia? Idih pedenya bukan Main" Gerutu Dodit, yang saat itu juga menoleh kebelakang menatap ke arah Rian yang tengah terkekeh di belakangnya, Dodit pun membuang muka dan langsung melenggang pergi menuju mobil mereka.


"Aku pikir aku akan merana lagi hehehe, ooooh Dodit mari mengopi saja dengan ku" Seru Rian sembari terkekeh-kekeh dan berjalan cepat menuju mobil mereka terparkir menyusul Dodit.

__ADS_1


__ADS_2