
Di Malam sebelumnya...
Malam dimana saat Jhonatan tengah menelfon Arjuna, Lifia tidak sengaja mendengarkan pembicara kakaknya dari balik celah pintu yang terbuka sedikit, melalui telfon genggam di tangannya, ia mendengar nama Dirgantara membuatnya merasa pemasaran dengan apa yang tengah di bicarakan Kakaknya itu.
Tak lama Jhonatan pun mengakhiri panggilan telfonnya dan meletakan telfon genggamnya itu di atas meja, tangannya pun beralih pada gagang sebuah laci dan Menariknya keluar, di sana senyumnya tersungging saat tangannya mulai meraih sesuatu dari dalam laci itu, mata Lifia melebar saat tangan Jo mengangkat sebuah senjata api di tangannya dan terkekeh-kekeh dengan nada mengerikan.
"Siapapun yang akan menghalangi langkah ku dia pasti akan mati, termaksud diri mu tuan Dirgantara" Tuturnya sembari terkekeh-kekeh.
'Ka...kakak akan membunuh Juna?' gumam Lifia dalam hati.
"Yah, sejauh ini aku sudah membunuh orang-orang yang ku sayangi, termaksud ayah dan ibu" Deeeeeegggg Lifia menutup mulutnya menggeleng cepat, ia tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Aku tidak mungkin melepaskan mu begitu saja, karena besok gedung kosong itu akan menjadi tempat eksekusi mu Tuan Dirgantara" Jhonatan tertawa senang sedangkan Lifia dengan berat berusaha melangkahkan kakinya keluar menjauh dari tempat itu menuju kamarnya.
Di dalam kamar ia terduduk lunglai dengan mata menatap lurus ke depan.
"Tidak, aku pasti salah dengar, aku pasti salah" Ia pun memutuskan untuk keluar dan berjalan menuju kamar mendiang orang tuannya.
Dan mencari sesuatu yang bisa menunjukan bukti kejahatan kakaknya itu, di sebuah meja kerja ayahnya ia terus membuka-buka laci kerjanya dan mendapatkan suatu benda seperti sebuah pena yang unik, karena pena itu ukurannya lebih besar dari pena biasa.
Lifia meraih pena itu memutar-mutarnya sesaat.
"I...ini pena recording" Gumamnya lirih, dengan cepat ia pun kembali menutup laci itu dan keluar dari kamar ayahnya itu.
Sesaat ia terkejut saat mendapati kakaknya itu berdiri di depan kamar orang tua mereka, dengan cepat Lifia menyembunyikan pena tersebut.
"Apa yang kau lakukan di sini Lifia?" Tanya Jo.
Dengan sedikit panik Lifia menggeleng cepat "aku...aku hanya tiba-tiba rindu ayah dan ibu, jadi aku rebahan sebentar di kamar mereka" Jawab Lifia, ia pun segera berjalan melewati Jo dan masuk kedalam kamarnya.
"Semoga Kak Jo tidak curiga" Gumamnya, ia pun mengunci pintu kamar itu dan berjalan menuju ranjangnya.
Dengan ragu Lifia masih terus memandangi pena di tangannya itu, perlahan ia pun menekan tombol kecil di pena itu dan mendengarkan sesuatu di sana.
~tesss....teeessss...teeeesss wah benar kah pena ini bisa merekam~
Lifia menitikkan air mata saat mendengar suara pria yang sangat ia rindukan itu, ia pun menekan lanjutannya.
~wahhhh ehhmmm ternyata memang bisa, oh Jo? Kemarilah~
__ADS_1
~ayah, aku? Aku ada permintaan pada mu~
~permintaan apa putra ku?~
~aku ingin harta warisan ku di berikan sekarang juga~
~apa! Kenapa kau tiba-tiba berkata seperti itu, ayah dan ibu saja bahkan belum mati kau sudah meminta itu dari ku~
~aku sudah bilang pada mu aku ingin membantu suatu agency~
~aku tidak akan memberikannya!! Sadar Jo, kau sudah di buta kan oleh itu~
~ayah mengertilah, aku mencintainya~
~tidak!! Cukup hentikan pembicaraan ini, jika kau terus berbicara seperti itu nama mu akan ku coret dari penerima hak waris ku~
Hening sesaat...
~aaarrrhh apa ini??~
~hanya air putih yang akan membuat saraf mu lumpuh ayah~
~kalau harus menunggu mu mati karena takdir itu terlalu lama, dan jika kematian kalian bisa terjadi sekarang kenapa tidak ku lakukan itu pada mu ayah, berpulang lah aku akan mengurus semuanya termaksud Lifia~
~Jo... Jhonatan....ke... Kembali, bruuuuuuukkk~
Taaaaaaakkkk Lifia menjatuhkan pena itu ke lantai, bola matanya bergerak-gerak tangannya gemetaran, selama bertahun-tahun ia tidak pernah mau mendatangi rumah orang tuannya yang di Singapura karena hal itu akan membuatnya sedih dan semakin merindukan kedua orang tuannya,
Ia tidak pernah menduga bahwa semua kematian ayahnya ada kaitannya dengan kakaknya.
"A... Ayah? Ayah mati karena kak Jo?" Lifia menutup wajahnya menangis sesegukan di dalam kamarnya.
Sesaat ia pun teringat dengan apa yang ia lihat tadi siang dan langsung meraih telfon genggamnya. Dan mencoba mencari nomor telfon Arjuna.
Lalu mengirimnya pesan singkat tentang unit kamar yang ia temukan tadi.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan?" Lifia kembali menangis, sesaat ia pun mengingat tentang Kinara dan mencoba menghubunginya lalu mengajaknya bertemu.
Di sebuah Kafe.
__ADS_1
Mereka duduk saling berhadapan, Kinara terus memandangi Lifia yang hanya terdiam sembari mengaduk minuman yang ada di hadapannya itu.
"Lifia? Sebenarnya tujuan mu mengajak ku bertemu itu apa?" Tanya Kinara, Lifia pun mengangkat kepalanya menatap ke arah Kinara.
"Aku ingin bercerita tentang sesuatu yang baru saja ku ketahui Kinar, tapi aku tidak tau mau memulainya dara mana" Jawab Lifia nanar,
Kinara menatapnya serius, Lifia yang di hadapannya ini tidak terlihat arogan seperti biasanya.
"Apa yang terjadi, ceritakan saja dengan perlahan aku akan mendengarkan mu" Jawab Kinara, Lifia pun menitikkan air matanya lagi, perlahan ia mengeluarkan pena itu dari dalam tasnya dan menyerahkannya kepada Kinara.
Di sana Kinara pun bingung, tangannya mulai meraih pena itu dan menatapnya.
"Ini apa?"
"Dengarkan saja" Ucap Lifia, yang saat itu juga membuat Kinara menekan tombol itu dan mendekatkan pena itu di telinganya, sesaat matanya membulat saat mengetahui maksudnya.
"Selama ini yang ku tau, orang tua ku mati karena kecelakaan, tapi malam ini aku mengetahui kebenarannya" Lifia menunduk sembari tertunduk, tangan Kinara pun terangkat ia menyentuh bahu Lifia dan menenangkannya.
"Aku tidak tahu harus apa? Aku harus menghukum pembunuh orang tua ku, namun? Kenapa harus Kak Jhonatan pelakunya?" Lifia semakin terisak menghadapi kenyataan yang tidak terduga-duga itu.
"Lifia, kasus itu sudah lama berlalu, akan sulit untuk mengungkapnya lagi, terlebih kakak mu itu sepertinya tidak akan tinggal diam dengan itu" Tutur Kinara.
"Kau benar Kinara, itu yang ku takutkan, beliau saja bisa membunuh kedua orang tua ku, apalagi diriku? Aku takut Kinara, aku takut ia akan melakukan hal yang sama pada ku" Ucap Lifia masih terisak.
"Lifia, tenangkan dirimu, untuk saat ini berpura-pura lah untuk tidak mengetahui apa-apa, bersikaplah sewajarnya saja" Tutur Kinara.
"Iya Kinara , tapi? Juna dalam bahaya" Ucap Lifia.
"Juna?" Tanya Kinara bingung.
"Iya, aku tidak tau jelas yang pasti kakak ku akan membunuh Arjuna besok siang di sebuah gedung kosong" Ucap Lifia.
"Tunggu? Aku tidak mengerti, kenapa kak Jhonatan berniat melakukan itu?" Tanya Kinara.
"Semua ada kaitannya dengan artis Almira Larasati, aku tidak tau pasti yang jelas Jhonatan sampai menyembunyikan Almira ke Unit apartemen di adalah satu gedung milik orang tua mu" Ucap Lifia.
Di sana Lifia pun mulai menjelaskan sedikit yang ia tau, dan mengajak Kinara untuk bekerjasama agar bisa membantunya melakukan rencana penangkapan kakaknya itu.
Sedikit khawatir Kinara saat mendengarkan rencana yanga akan di jalani Lifia itu, karena rencana itu akan sangat membahayakan mereka.
__ADS_1
"Baiklah aku akan coba menghubungi kenalan ku yang seorang aparat di sini" Ucap Kinara, ia pun meraih ponselnya dan mulai mengatur siasat dengan temannya itu.