Istri Kontrak Tuan Arjuna

Istri Kontrak Tuan Arjuna
Prahara keran air


__ADS_3

Pukul 00:46 dini hari itu Raihan baru saja pulang, ia menghentikan laju motornya dan mematikan mesinnya, sesaat kepalanya menoleh ke belakang ia melihat mobil Arjuna di depan rumah Naya, bibirnya tersungging.


"Selamat Naya, kau berhasil untuk rujuk dengannya, semoga kau bahagia Naya" Tuturnya ia pun menghela nafas, dan turun dari atas motornya dan melenggang masuk.


Pagi berselang...


Arjuna mengendus aroma sedap di hidungnya, sehingga membuatnya terjaga.


"Sudah pagi?" Gumamnya lirih sembari meregangkan tubuhnya dan beranjak, ia pun membuka pintu kamar itu dan berjalan keluar mencari istrinya.


Sesaat langkahnya terhenti di depan pintu masuk area dapur, ia menyilang kan kedua tangannya di dada sembari menyandar, matanya terus tertuju pada Naya yang tengah memasak itu, ia pun mendekati Naya dan memeluknya membuat Naya terkejut dan menjatuhkan Spatula nya.


"Ju...juna? Kau?" Naya bernafas lega, ia lupa kalau Juna ada di rumah ini juga.


"Kau masak apa?" tanya Juna.


"Hanya nasi goreng, dan telur mata sapi" Tuturnya, Naya pun mematikan kompornya.


"Hey lepaskan aku, dan mandi saja sana kau kan harus ke kantor" Ucap Naya.


"Nanti saja aku masih betah memeluk mu"


"Bicara apa sih kau, sudah sana mandi, cepat Juna" Seru Naya yang masih berusaha melepaskan tangan Arjuna yang masih melingkar di pinggangnya, membuat Arjuna melepaskan pelukannya itu.


"Kau ini kenapa sih? Sepertinya kau tidak mau sekali di peluk oleh ku" Tutur Juna.


"Bukan begitu, tapi kan ini sudah pukul 05:30 kau sudah kesiangan Juna" Ucap Naya.


"Haaahhh aku iri pada karyawan ku yang bisa berangkat pukul tujuh" Tutur Juna ia pun melenggang masuk ke dalam kamar mandinya, dengan Naya yang menggeleng heran.


"Naya? Airnya tidak menyala" Seru Arjuna dari dalam kamar mandi.


"Masa sih?" Naya pun masuk ke dalam kamar mandi itu, dan mencoba memutar kerannya.


"Waduh, Jangan-jangan pompa airnya rusak?" Gumamnya, ia pun berfikir sejenak.


"Aku akan menimba air untuk mu dulu ya" Gumam Naya.


"Menimba air? Maksudnya?"


"Iya di rumah yang bersebelahan sama rumahnya Raihan ada sumur timba, aku akan mengambil air disana" Naya pun meraih ember kosong dan membawanya.


"Naya aku ikut" Seru Arjuna


"Tidak usah Juna kau disini saja" Ucap Naya yang langsung melenggang keluar.


"Tunggu? Tadi dia bilang di sebelah rumah Raihan kan?? Nanti kalau Naya ketemu Raihan dan berduaan dengannya disana bagaimana? Ahhh aku harus menyusul Naya ku" Gumamnya yang langsung mengejar Naya.


Di luar ia berpapasan dengan bu Riris yang hendak ke warungnya.


"Lho Naya? Kau disini?" Tanya bu Riris yang terkejut setelah bertemu dengan Naya.


"Iya bu, maaf saya ingin mengambil air di sumur ibu, suami saya mau mandi tapi airnya tidak menyala, mungkin pompa nya rusak" Ucap Naya meminta izin.


"Oh... Silahkan Naya, jangan sungkan-sungkan ambil saja ya, kalau begitu ibu permisi dulu" Ucapnya, Naya pun tersenyum dan mengangguk pelan.


Saat ia ingin melalui celah sempit di tengah-tengah antara rumah Raihan dan rumah bu Riris Naya sedikit takut, ia takut bertemu ibunya Raihan, namun sepertinya dari kemarin ia belum melihat ibunya Raihan itu.


Naya mulai berbelok saat berada di pintu belakang rumah Raihan, cklaaaaaakk Naya tersentak, ia sedikit takut kalau itu adalah ibunya Raihan.


Kriiieeeeeetttt.


"Naya?" Panggilnya pelan membuat Naya sedikit bernafas lega, karena yang membuka pintu itu adalah Raihan.

__ADS_1


"I...iya Rai? Emmm aku kaget saat kau membuka pintu itu" Tutur Naya, Raihan pun tersenyum.


"Emmmm ibu mu tidak nampak?" Tanya Naya.


"Iya, ibu ku beberapa hari ini sedang di cileungsi, di rumah kakek ku karena kakek ku sedang sakit" Tuturnya.


"Oh syukur lah" Ucap Naya lirih.


"Apa?" Tanya Raihan yang merasa mendengar Naya mengucap syukur saat dia mengatakan kalau kakeknya sedang sakit.


"Ahhh, tidak Raihan maksud aku, aku turut prihatin, semoga kakek mu cepat sembuh ya?" Ucap Naya yang lantas membelokan tubuhnya kearah lain dan masuk ke halaman belakang rumah bu Riris.


"Kau mau mengambil air Naya? Biar ku bantu menimbakannya ya?" Raihan menawarkan bantuan.


"Tidak usah, biar aku saja!" Seru Arjuna membuat keduanya menoleh.


"Anda? Anda mau menimba air?" Tanya Raihan tidak percaya.


"Memangnya kenapa? Aku bisa tuh" Tuturnya.


"Pfffffffttt" Raihan menutup mulutnya menahan tawa.


"Hei...hei... Kau menertawakan ku? Memangnya ada yang lucu?" tanya Arjuna.


"Tidak tuan Dirgantara, aku hanya menertawakan sebuah judul FTV, tentang seorang CEO yang tengah menimba air di sumur, itu kocak sekali" Tutur Raihan meledek.


"Bedebah ini?" Arjuna hendak mendekati Raihan namun dengan cepat di tahan oleh Naya.


"Sudah-sudah aku bisa sendiri kok, kau pulang saja ya aku hanya sebentar kok" Ucap Naya pada Arjuna.


"Iya Tuan, Naya itu hanya sebentar mengambil air, dia tidak akan di culik siapapun kok, kan ada aku yang akan berjaga di disini" Ledek Raihan lagi.


"Justru karena adanya kau, aku jauh lebih was was"


"Kenapa was was paling aku hanya membantu sembari saling memandang antar satu sama lain, akan sangat romantis kan Tuan" Ucap Raihan.


"Juna sudah, Raihan! Kau jangan meledek terus" Tutur Naya yang langsung masuk ke halaman belakang rumah bu Riris, sedangkan Raihan masih terkekeh terlebih ekspresi mantan bosnya yang terlihat kesal itu selalu membuatnya ingin terus mengerjainya.


Dengan membuang muka Arjuna pun turut ikut ke halaman belakang itu.


'Eaaaaakkkkk, menjijikkan sekali disini' runtuknya dalam hati karena lantai dari semen itu sedikit lembab dan berlumut.


"Juna kenapa kau masuk kesini, aku kan meminta mu untuk pulang saja" Ucap Naya yang menyadari Arjuna ikut masuk.


"Iya Tuan kau masuk saja kerumah mu sana, aku akan membantu Naya menimba jadi kau tidak perlu khawatir" Seru Raihan yang lantas mendekati Naya dan meraih tali timba itu dengan sengaja sedikit menyentuh tangan Naya di depan Arjuna sehingga membuat Mata Arjuna melebar ia pun menarik baju Raihan dan mendorongnya.


"Dasar bedebah! Sengaja sekali kau menyentuh tangan istri ku, kau mau mati Hah!" Seru Arjuna. "Berikan itu pada ku Naya" Ucap Arjuna yang langsung memegangi tali timba itu.


"Juna ini berat" Tutur Naya.


"Aku itu laki-laki, aku biasa angkat beban, menimba begini sama seperti saat aku nge Gym, jadi kau tenang saja" Tuturnya sombong.


Raihan pun menggeleng sembari terkekeh tanpa suara, ia menyender dengan kedua tangannya di saku celananya.


"Kau lihat ini Naya aku!" Mata Juna melebar.


'Kenapa berat sekali?' Gumamnya dalam hati.


"Bagaimana Tuan? Kau butuh bantuan?" seru Raihan.


"Tu..tup... Mu.. Lut.. Mu, a...aku..ti... Dak bu...tuh ban..tuan mu" Tuturnya masih berusaha menarik tali timba itu.


"Oh okay, berjuanglah Tuan CEO" Tutur Raihan yang masih menutup mulutnya menahan kekehan nya.

__ADS_1


'Astaga, bagaimana ini? Tangan ku sakit sekali' Gumamnya dalam hati.


"Juna, sudah ya biar aku saja nanti tangan mu sakit" Ucap Naya.


"Iya Tuan, tangan mu itu kan tidak pernah kerja kasar nanti lecet bagaimana?" Sambung Raihan masih terus menggoda mantan bosnya itu.


"Sudah diam kau tidak usah ikut bicara!" Seru Arjuna yang mulai kesal dengan Raihan.


"Ya ampun? Kenapa ember itu tidak kunjung naik ke atas?? Mungkinkah aku harus mengopi dulu sembari menunggu ember itu terangkat Ke permukaan?" Ledek Raihan.


"Bedebah! Rasanya aku ingin merobek mulut mu itu!" Tutur Arjuna, Naya pun menggeleng pelan.


Tak lama ember itu pun terangkat ke atas bibir sumur.


"Woooaaaaahhh Naya aku berhasil hahaha, aku berhasil Naya" Arjuna girang bukan kepalang.


"Woaaahhh kau hebat Juna" Tutur Naya memuji yang lantas menuangkan air itu ke ember nya.


"Yeeeeeeeaaaaaaayyyyy" Mereka berdua melompat-lompat girang membuat Raihan mengaruk dahinya.


'Sungguh pasangan yang aneh' tuturnya.


Naya pun berniat Menjinjing ember berisi air itu, namun di tahan oleh Raihan.


"Naya? Masa kau yang akan membawa air itu sampai rumah, kan berat? Sini biar aku saja" Ucap Raihan yang akan membawanya, namun dengan cepat tangan Raihan di tepis oleh Arjuna.


"Menyingkir kau? Aku juga bisa kok membawanya" Tuturnya.


"Oh ya Tuan? Tapi sepertinya kau masih kelelahan akibat menimba, lebih baik aku saja yang membawakannya.


"Siapa bilang hah! Tidak usah mengada-ada" Tutur Arjuna yang langsung mengangkat ember itu, dan melangkah keluar dari tempat itu.


"Naya ayo pulang" Ucapnya masih menahan beban di tangannya.


Raihan pun terkekeh, sedangkan mata Naya menuju ke arah Raihan, sehingga membuat Raihan menghentikan kekehannya.


"Kau pasti sengaja ya Raihan? Supaya Arjuna yang melakukannya" Tanya Naya.


"Emmm tidak kok, kan itu atas kemauannya sendiri, salah dia sendiri kan yang tidak ingin tersaingi oleh ku" Tuturnya. Tak lama Arjuna kembali.


"Istri ku, kenapa kau masih disitu, cepat pulang jangan menemani iblis menyebalkan itu" Tuturnya yang lantas membuat Naya melenggang keluar.


"Awas kau nanti" Tutur Arjuna yang langsung melanjutkan langkahnya.


"Ckckck haduuuh mudah sekali mengerjai CEO itu" Raihan terkekeh puas.


Di rumah Naya.


"Haaahh haaahhh... Astaga! Lelahnya? Mau mandi saja susah sekali" Arjuna menggerutu.


Naya merasa tidak enak melihat Arjuna sangat berusaha keras untuk beradaptasi dengannya. Sesaat matanya tertuju pada sebuah saklar, ia pun mendekati saklar itu dan menekannya.


Tak lama air itu keluar dari kran yang tadi terbuka,


Saat itu juga mata Arjuna melebar.


"Na...Naya? Itu airnya menyala?" Tutur Arjuna. Naya pun panik ia lupa kalau harus menekan saklar itu dulu agar pompa nya mau bekerja.


"I..iya aku lupa Juna kalau kita harus menekan saklar itu dulu" Naya garuk-garuk kepala.


"Apa! Setelah aku menimba dan mengangkat ember ini? Ternyata pompa airnya tidak rusak?" Suara Arjuna serak, ia benar-benar kesal bahkan sangat kesal rasanya.


"Ma...maaf ya Juna, aku" Braaaaaaaaakkkk Naya tersentak saat Arjuna masuk kedalam kamar mandi itu sembari membanting pintunya.

__ADS_1


"Aaaaaaarrrrrrhhhhh aku kesal... Kesal... Kesaaaaal!!!" Seru Arjuna dari dalam kamar mandi itu dengan suara seraknya.


Sedangkan Naya di luar hanya bisa merasa bersalah, namun ia juga tidak bisa menahan tawanya itu.


__ADS_2