
Naya membuka pintu mobil itu, ia benar-benar tidak tega dengan suara tangisan Arjuna yang terdengar sangat sesak itu, terlebih sudah satu jam lamanya Arjuna bertahan pada posisinya ia pun berjalan menghampiri Arjuna dan berdiri di hadapannya.
"Bangunlah Tuan" Ucap Naya lirih, kepala Arjuna perlahan terangkat, terlihat jelas wajah yang memerah itu benar-benar menyesal.
"Naya? Apa kau berubah fikiran?" tanya Arjuna yang mulai beranjak bangun dan memeluk Naya erat.
"Tidak Tuan, aku tidak akan mengubah keputusan ku, namun aku tidak ingin kau seperti ini" Ucap Naya, Arjuna pun melepas pelukannya.
"Kenapa? Aku harus melakukan apa Naya, kau bisa marah pada ku, kau bisa memukul ku, menampar ku, silahkan Naya, silahkan lampiaskan semuanya pada ku, aku akan menerima itu, asal kau mau memaafkan ku dan menerima ku" Ucap Arjuna dengan memegangi kedua tangan Naya.
Tangan Naya terangkat seakan hendak menampar Arjuna, namun perlahan kembali turun.
"Kenapa berhenti? Ayo tampar aku, cepat tampar aku sepuas mu"
"Aku tidak bisa Tuan! Aku tidak mau! Jangan paksa aku, ku mohon jangan paksa aku Tuan" Seru Naya yang justru terisak. Arjuna kembali meraih tubuh itu dan memeluknya keduanya hanyut dalam pelukan itu.
Arjuna mendesah dan melepaskan pelukan itu pelan, lalu memegangi wajah Naya dengan kedua tangannya dan menatapnya dalam-dalam.
"Aku masih menunggu mu sampai malam sebelum perceraian kita Naya, fikirkan baik-baik, jika kau mencintai ku maka katakan itu, jangan membohongi perasaan mu ya" Ucap Arjuna, yang tidak di balas oleh Naya walaupun hanya sebatas anggukan kepalanya.
"Aku mau pulang Tuan, aku lelah" Ucap Naya, yang lantas membuat tangan Arjuna melonggar.
"Okay, kita pulang sekarang ya?" Ucap Arjuna yang langsung membukakan pintu untuk Naya, ia mengusap air matanya dan berjalan menuju kursi kemudi nya, Naya masih mengamati Arjuna dengan perasaan bimbang, mungkinkah keputusannya ini akan salah? Atau benar yang pasti untuk saat ini ia tidak ingin terluka lagi hanya karena memendam rasa padanya, ia masih merasa Arjuna akan terus berhubungan dengan Kinara di belakangnya.
Terlebih cinta Arjuna yang sangat dalam pada Kinara hingga membuatnya tidak bisa mempercayai Arjuna seratus persen.
__ADS_1
Brraaaaaakkk Juna menutup pintu mobilnya dan memasang safety beltnya lalu mulai menurunkan tuas remnya dan menyalakan mesinnya.
Tangannya menyentuh tangan Naya seraya meraihnya dan mengecupnya berkali-kali membuat Naya terkejut.
"Tu... Tuan"
"Ssssssssttt jangan panggil Tuan lagi, aku tidak mau kau memanggil aku dengan sebutan itu" Ucap Arjuna yang tengah menyentuh wajah Naya.
Tangan Naya pun perlahan menyentuh tangan Arjuna dan melepasnya.
"Tolong bersikaplah dengan Normal Tuan" ucap Naya membuat Arjuna segera tersenyum kecut.
"Iya... Maaf Naya" Gumam Arjuna lunglai ia pun kembali menatap ke depan dan mulai memundurkan mobilnya lalu mulai melaju pelan.
Di dalam kamar mereka Naya hendak tidur di kursi panjangnya namun tangan Arjuna menahannya.
"Apa kau suka, jika aku menggendong mu setiap malam untuk memindahkan mu keranjang itu?" Tanya Arjuna datar.
"Tuan tapi?"
"Tidur lah di ranjang itu Naya,kau masih terikat kontrak dengan ku, jadi yang ku katakan tadi itu masih menjadi perintah yang harus kau jalani" Titah Arjuna dengan tatapan datar itu.
Ia pun melenggang keluar kamarnya meninggalkan Naya yang masih mematung itu, kaki Naya mulai mengayun dan berjalan pelan ke ranjang Arjuna yang mewah dan empuk itu.
"Kau pasti marah pada ku, tapi ini yang terbaik untuk kita Tuan" Naya merebahkan tubuhnya dan menarik selimutnya.
__ADS_1
Ia mengendus bantal yang ia pakai itu sangat wangi aroma rambut Juna membuatnya meraih bantal itu dan memeluknya yang seketika membuat air matanya kembali menetes.
Di sisi lain Arjuna di dalam kamar yang berbeda berdiri di sebuah loteng menatap keluar, tangan kirinya terangkat ia mengamati cincin pernikahannya itu, ia pun melepasnya dan mengamati dalam-dalam cincin itu.
"Tidak terasa, satu tahun itu sudah berlalu, dua minggu lagi aku akan melepas mu Naya" Gumamnya, entah apa yang membuatnya tiba-tiba menjatuhkan cincin itu sehingga cincin itu jatuh ke genting dan menggelinding turun ke bawah,
"Sial! Cincin ku jatuh" Arjuna pun bergegas masuk dan berlari turun kebawah untuk mencari cincin itu, dengan di bantu beberapa pelayan dan tukang kebun Juna terus mencari cincin itu.
"cepat cari sampai ketemu!" Perintah juna, dengan dia sendiri pun ikut mencarinya.
"Tuan? Anda yakin cincinnya jatuh kesini? Soalnya sudah satu jam lebih kita mencarinya tetap tidak ketemu" Ucap kepala pelayan di sana. Sedangkan Arjuna masih fokus menyibak tanaman dan masih berusaha mencari cincin itu tanpa mendengarkan pelayan tadi.
"Aahhh mana sih?" Juna masih terus berusaha.
"Tuan, cincin Anda benar-benar tidak ada" Ucap kepala pelayan itu lagi.
"Aaarrrhhhhggg kalian itu pakai mata tidak sih nyarinya? Pokoknya cincin itu harus ketemu, kalau tidak kalian semua akan ku pecat!" Seru Arjuna geram yang masih berusaha menyibak rerumputan di bawahnya, membuat semua yang di sana melanjutkan pencariannya.
Hampiri tiga jam mereka berusaha mencari bahkan beberapa pelayan sampai mengecek ke genting loteng, cincin pernikahan Juna itu tetap tidak di temukan.
"Tuan cincin itu benar-benar tidak ada" Tutur pelayan itu yang lantas membuat Arjuna terduduk lunglai di atas rumput itu dengan tangan dan baju yang sedikit kotor.
'Cincin pernikahan ku hilang? Apa ini pertanda kalau aku juga akan benar-benar kehilangan Naya?' Gumamnya dalam hati ia pun mengusap peluhnya.
"Tuan, sebaiknya anda istirahat, besok kami akan berusaha mencarinya lagi" Tutur kepala pelayan itu, yang lantas membuat Arjuna beranjak bangun dengan perasaan kecewa.
__ADS_1