Istri Kontrak Tuan Arjuna

Istri Kontrak Tuan Arjuna
buku catatan Nayaka


__ADS_3

Satu jam sebelum menuju gedung pengadilan Naya sudah siap dan duduk termenung di depan meja rias nya.


"Aku akan, benar-benar berpisah dengannya?" Gumam Naya.


Tok tok tok...


Seseorang mengetuk kamar Naya membuatnya segera beranjak dari kursi itu dan membuka pintu kamarnya, di depan pintu itu ada Raihan yang tengah tersenyum kepadanya. Ia pun menyentuh pipi Naya dan mengusapnya.


"Kau sudah siap?" tanya Raihan, Naya pun mengangguk.


"Apa supir Arjuna akan menjemput mu lagi? Kenapa dia belum juga datang?" Tanya Raihan, sembari menatap ke arah jam tangannya pandangannya pun kembali pada Naya yang tengah tertunduk itu.


Perlahan tangan Raihan mengangkat dagu Naya, dan mendapati mata Naya yang terlihat sedih dengan air mata yang menggenang di sudut matanya.


"Naya, Kita duduk dulu ya? Aku ingin bicara pada mu" Raihan pun menggandeng Naya menuju kursi sudut di ruang tamu rumah Naya.


Di sana Raihan terus mengamati Naya yang masih tertunduk itu dan meraih tubuh Naya lalu memeluknya.


"Menangis lah Naya" Ucap Raihan yang saat itu juga membuat air mata yang sedari tadi tertampung pun tumpah, dengan suara tangis yang terdengar sesak, Naya terus menangis di pelukan Raihan.


Tangan Raihan terus mengusap bahu Naya, ia tau sekarang Naya tidak benar-benar ingin berpisah dengan Arjuna, ia juga menyadari cinta Naya bukan lah untuknya melainkan untuk Arjuna.


"Aku tau, kau mencintai nya kan?" Tanya Raihan, membuat Naya mendongak. Tangan Raihan mengusap pipi Naya yang basah itu.


"Aku tau, kau pasti tidak ingin berpisah darinya, sebelum terlambat Naya lebih baik kau katakan pada Arjuna sekarang kalau kau menyukainya, aku yakin Juna juga sangat mencintai mu"


"Rai?" Panggil Naya dengan suara seraknya.


"Juna sudah menjatuhkan talak pada ku tadi malam, dia sangat marah pada ku, dia bahkan tidak mau melihat ku pagi ini, bahkan saat aku pergi? Dia sama sekali tidak mencegah ku, cintanya itu untuk Kinara bukan untuk ku Rai" Isak Naya.


"Naya? Pria memang seperti itu, dia tidak akan menunjukan kehilangannya di depan gadis yang ia cintai, namun kau harus tau, seberapa frustasinya seorang pria saat tau gadis yang ia cintai itu bersama orang lain" Tutur Raihan.


"Naya? Aku rasa selama ini kau hanya salah paham pada Arjuna, aku tidak ingin kau menyesal sama seperti ku, ikuti kata hati mu Naya selesaikan masalah mu" Ujar Raihan.


"Lalu bagaimana dengan mu Raihan?" Deeeeegg Raihan terdiam


"Kau bilang? Kau mencintai ku, kau ingin aku berpisah dengannya kan?" Cuppphh Raihan mengecup kening Naya.


"Kau benar Naya, aku ingin kau berpisah dengan Arjuna dan beralih pada ku, kau tidak pernah tau seberapa cinta ku pada mu selama ini, bahkan sampai detik ini? aku masih berharap bisa menikahi mu setelah masa idah mu berakhir sayang" Mendengar kata sayang dari mulut Raihan membuat Naya terdiam.


"Maaf aku memanggilmu itu, semua karena aku sangat? sangat menyayangi mu Naya, kau tidak tau seberapa gilanya aku saat kau menikah dengan Arjuna, tapi untuk saat ini? Aku bisa melepas mu dengan ikhlas jika kau ingin rujuk dengan Arjuna" Ucap Raihan sembari menatap Naya dalam-dalam yang saat itu juga turut menitikkan air mata.


"Boleh aku mencium kening mu lagi?" Tanya Raihan yang lantas mendekatkan wajahnya ke kening Naya lalu mulai mengecupnya, dengan Air mata yang menderas Raihan mengikhlaskan Nayaka untuk Arjuna.


'Ini yang terbaik, aku tidak ingin Naya tidak bahagia karena hidup dengan ku' gumamnya dalam hati, tak lama mobil yang akan menjemput Naya tiba, ia pun melepas kecupan nya.

__ADS_1


"Mobil Arjuna sudah datang, kau bisa pergi Naya dan batalkan perceraian kalian nanti saat bertemu dengan Juna di pengadilan, katakan bahwa kau mencintainya" Ucap Raihan, Naya pun mengangguk dan mengusap air matanya.


"Terimakasih Raihan, aku pergi dulu ya" Ucap Naya, ia pun bergegas masuk kedalam mobil itu.


Mata Raihan terus memandang mobil itu ke luar dari halaman rumah Naya, ia kembali mengusap air matanya dan mendesah menatap ke atas.


"tidak apa-apa Raihan, di luar sana? Masih ada wanita berhati baik seperti Naya untuk mu" Gumamnya menenangkan dirinya sendiri sembari berusaha tersenyum.


Di sisi lain...


Arjuna masih terduduk di bawah ranjangnya dengan menutup semua gorden nya membuat kamar itu sangat gelap, cklaaaakkkk Arjuna menoleh cepat.


"Naya?" Ia sempat mengira pintu kamar itu di buka oleh Naya dengan senyum bersemangat yang langsung memudar saat yang ia lihat adalah omnya, ia pun kembali memalingkan wajahnya dan kembali ke posisi awal, dengan satu kaki tertekuk dan satunya lagi di luruskan tubuhnya menyandar di ranjang itu sembari memegangi keningnya.


Om Rudy menghela nafas dan berjongkok di dekatnya lalu menepuk bahunya.


"Sedang apa kau? Ayo bangun, Bukankah kau seharusnya senang kan kontrak Naya habis, dan Kau bisa dekat lagi dengan Kinara?" Ucap Om Rudy ketus, dengan Arjuna yang tak menjawabnya sama sekali.


"Hey! Kau ini laki-laki apa yang kau lakukan hah!! Ayo cepat bangun dan tertawa lah" Seru om Rudy lagi.


"Akun ingin mati saja Om" Gumam Arjuna dengan suara seraknya.


"Apa kau bilang? Mati? Dasar tidak tau diri, dimana jiwa pria mu? Kau benar-benar pecundang ternyata ya?" Om Rudy mendorong pelan bahu Arjuna, sehingga membuatnya kembali menangis.


Sehingga Membuat om Rudy lantas memeluk tubuh Arjuna dan menepuk-nepuk bahunya pelan.


"Aku menyesal om, aku menyesal" Gumam Arjuna berkali-kali.


"Seribu kali kau mengucapkannya, itu tidak akan mengubah keadaan, jadi sekarang kuatkan hati mu dan bersiap-siaplah, kita ke pengadilan sekarang" Ucap omnya, Arjuna pun menggeleng cepat.


"Aku tidak mau datang om" Tuturnya


"Kenapa? Kau harus datang"


"Tolong om, aku tidak akan sanggup, aku sudah memerintahkan Rian untuk jadi juru bicara ku, aku tidak akan datang" Ucap Arjuna.


"Kau yakin?" Tanya Omnya, Arjuna pun mengangguk.


"Ya sudah, kuat kan hati mu Arjuna, percayalah, semua hanyalah perkara waktu kau pasti akan segera melupakannya dan hati mu akan terobati dengan sendirinya" Tutur omnya lagi sembari beranjak dan melangkah keluar, lalu menutup pintu itu lagi.


"Aku tidak yakin" Gumam Arjuna lirih.


Tak lama Claudia mengetuk kamar Arjuna,


"Siapa lagi sih?" Dengan malas ia pun beranjak dan membukakan pintu kamar itu lalu berdiri di hadapan wanita paruh baya yang sedang membungkuk itu.

__ADS_1


"Tuan, mohon maaf saya hanya ingin menyerahkan ini pada Tuan" Ucap Claudia sembari menyodorkan tangannya yang terdapat cincin pernikahan Arjuna, mata Arjuna melebar dan meraih cincin itu.


"Cincin ku ketemu?" Tanya Arjuna.


"Iya Tuan, tukang kebun anda pak Hari lah yang menemukannya" Ucap Claudia, air mata Arjuna menetes.


Tanpa berucap apa-apa ia langsung masuk dengan tatapan matanya yang tertuju pada cincin itu, dan berjalan lunglai menuju kursi panjang tempat Naya tidur itu.


"Kau ku temukan, namun kini Naya ku sudah tidak ada di sini" Gumamnya lirih, sesaat tangannya menyentuh sesuatu, ia pun menyipitkan matanya dan mendapati sebuah notebook berwarna hitam.


"Ini?" Ia pun mengusap air matanya dan meraih buku itu.


"Ini buku catatan Naya?" Gumamnya ia pun mulai membuka lebaran itu, ada banyak tulisan Naya selama satu tahun di rumahnya, perlahan ia mulai membuka satu persatu.


Hingga akhirnya ia berada di pertengahan buku itu, tidak banyak yang Naya catat karena Naya hanya mencatat sesuatu yang penting saja untuknya.


(Hai teman bercerita ku...


Hari ini? Aku tidak tau kenapa aku harus menangis sendirian di kamar yang besar ini, Tuan ku? Iya manusia arogan yang selalu membuat ku ketakutan, hari ini dia bertemu dengan seorang wanita di belakang ku, dengan kebodohan ku? Aku malah mengikutinya dan melihatnya berciuman dengan wanita itu.


Dan aku tidak tau? Kenapa malah aku menangisi hal itu, dimana ketidak berdayaan ku membuat ku seperti wanita bodoh yang hanya diam saja saat melihat suami ku mencium wanita lain di belakang ku, ya... Aku tidak memiliki hak apapun untuk melarang Tuan ku melakukan itu, karena aku hanyalah seorang budak, persis seperti yang Tuan ku selalu ucapkan kepada ku.)


Arjuna terhunus kata-kata Nayaka... Ia pun kembali membuka halaman lain.


(Hai teman bercerita ku...


Semalam Tuan Arjuna tiba-tiba menyatakan perasaannya, bahkan ia sampai bersimpuh di dekat kaki ku, memohon pada ku agar aku tetap bersedia hidup dengannya sebagai istri yang sesungguhnya.


Malam itu? Aku ingin menerimanya namun? Keraguan hatiku kala mengingatnya masih mencintai Kinara membuat ku takut kembali menelan kekecewaan ku kepadannya, aku tidak ingin sesumbar atas itu, aku takut nantinya aku akan menyesal, mungkin saat ini aku ingin melihat keseriusannya pada ku)


Juna kembali membuka catatan terakhir Naya di buku itu sesuatu pun terjatuh, yang merupakan selembar foto dirinya.


Ia pun kembali membaca catatan itu.



(Hai teman bercerita ku...


Kau tau? Tuan Arjuna sangat manis hari ini, ia mengajak ku bermain di sebuah taman hiburan, banyak hal lucu terjadi disana.


Aku tau, Tuan ku itu sangat takut naik wahana ekstrim bahkan kau percaya tidak? Dia sampai pingsan akibat memaksakan naik demi menemani ku hihihi.


Ya... Aku tidak bisa membohongi perasaan ku lagi sekarang, kalau aku saat ini benar-benar nyaman di dekatnya, aku bahagia, sangat bahagia mungkin karena aku mencintainya.


Iya aku mencintai Tuan arogan itu, Arjuna Dirgantara)

__ADS_1


Air mata Arjuna mengalir deras ia pun memakai kembali cincinnya dan berlari keluar, dengan cepat ia melajukan mobilnya menuju gedung persidangan.


"Masih ada waktu tiga puluh menit lagi, Aku harus membatalkan perceraian ku dan Naya" Gumamnya sembari mengecup cincin pernikahannya itu.


__ADS_2