
Auris pulang malam itu dengan rasa kantuk dan lelahnya,sesaat sampai dirumah masalahnya bertambah karena Evans masih saja berfikiran buruk padanya.
"Kamu dari mana?jam segini kok baru masuk rumah?"tanya Auris saat mendapati Evans baru pulang entah dari mana.
"Aku mau pulang larut malam,mau gak pulang sama sekali,memangnya kakak perduli?"
"Evans kakak tanya baik-baik sama kamu.Kenapa sih kamu masih aja bersikap kayak gini?"tegas Auris.
"Terus aku harus bersikap gimana kak?"jawab Evans dengan nada tinggi.
"Evans..Kamu gak boleh bentak-bentak seperti itu!"nasehati nek Minah.
"Terus harus gimana nek?dia yang udah buat sikap aku berubah kayak gini!"jawabnya dan akan pergi.
Auris menahannya dan meneriaki Evans,dan saat itu juga perutnya terasa sakit,seperti nyeri,pegal,entahlah,rasanya sangat sakit.
"Auris..Kamu kenapa?"tanya nek Minah.
Melihat itu Evans tentu tidak bisa acuh,dia membantu nek Minah untuk membawa kakaknya kedalam kamar.
"Kakak kenapa?"tanyanya mulai panik.
"Udah kamu kedepan aja sama Aqilla!"pinta nenek.
"Tapi kakak kenapa?"tanya Aqilla sembari menangis.
"Gakpapa sayang..Cuma masuk angin doang,tadi pagi kakak gak sarapan!"jawab Auris.
Evans dan Aqilla menunggu diluar sedangkan Auris diperiksa oleh nenek dan ditemani Rani.
Nek Minah mulai mengecek perut Auris,memijatnya dengan pelan dan tidak berapa lama kemudian,nek Minah menghentikan pijatan tangannya lalu terdiam dengan memandang Auris dengan serius.
"Kenapa nek?"tanya Auris polos.
Nek Minah sampai-sampai harus menutup mulutnya dengan kedua tangannya sendiri karena seakan tak percaya dengan apa yang sedang terjadi.
"Kamu hamil.."jawabnya dengan nada sangat pelan.
Auris melonjak kaget seketika,dia merasa bahwa itu tidak benar.
"Nenek salah kalik!gak mungkin lah nek.."
"Ada neng ada..Nenek udah urut tadi,ndak mungkin salah..!"tegaskan nenek.
"Siapa?siapa yang udah melakukan semua ini sama kamu?"tanya nenek serius.
Auris masih tidak bisa menjawab apa-apa,sepasang bola matanya sudah mulai berkaca-kaca sedangkan fikirannya masih tidak percaya akan kebenaran itu.
"Auris..,ayo cerita nak!Ndak semua masalah harus kamu pendam sendiri!"pujuk nenek dan akhirnya Auris menceritakan semua kesalah pahaman antara dirinya dan Abian.
Saat itu Rani merasa tidak terima,emosinya benar-benar ikut terpancing.Bagaimana bisa seseorang yang sudah menyelamatkan kehidupannya harus menanggung beban masalah sebesar ini.
Dengan bahasa isyarat,Rani mengatakan ingin menemui Abian dan meminta pertanggung jawaban darinya.
__ADS_1
"Jangan Rani..Kakak mohon sama kamu,untuk sekarang..,kakak mohon,cukup kita yang tau ini.Lagi pula,aku masih belum yakin nek.Besok aku coba cek lagi!"ucap Auris dan tiba-tiba saja Evans datang.
"Kakak kenapa?"
Auris menatap lekat kearah Rani dan nenek seakan memberi kode untuk tidak mengatakan apa pun pada Evans.
"Cuma..,asam lambung,karena telat makan!"jawab nenek.
"Kak.."dengus Evans dan menghampiri Auris lalu menggenggam tangannya.
"Aku gak tau apa yang sebenarnya terjadi sekarang ini,aku udah berusaha buat acuh sama omongan semua orang.Aku yakin kakak gak ngelakuin hal buruk apa pun,aku cuma terlalu takut.Aku minta maaf karena udah bersikap buruk sama kakak!"
"Evans..Kakak gak pernah nganggap kamu salah.Harusnya kakak yang minta maaf karena kakak gak bisa kasih jawaban yang bisa buat perasaan kamu tenang."jawab Auris lalu mereka berpelukan.
...****...
Esok paginya Auris pergi kerumah sakit bersama Rani untuk menemui Dokter Yuna.
Dokter Yuna cukup terkejut dengan kedatangan Auris,hari ini bukanlah jadwal baginya untuk melakukan donor darah,tapi kenapa dia datang dan bahkan masih pagi.
"Saya mau membahas sesuatu Dokter Yuna.."Ucapnya dengan wajah serius.
Dokter Yuna pun mulai mendengarkan semua penjelasan dan cerita Auris.Dia terkejut saat mengetahui perlakukan Abian.Memang selama ini Dokter Yuna sudah tau tentang ketidak sukaan Abian terhadap Auris,karena memang Auris kerap berbagi cerita dengannya.
"Kalau memang itu benar,saya sangat merasa bersalah Dok!terus gimana sama operasinya?"
Auris sangat depresi,jika benar dia hamil,lantas bagaimana dengan operasi donor jantung yang sudah disepakati?.Masalah menambah sekarang,sangat tidak mungkin jika menghilangkan janin yang ada didalam kandungannya.Bukan hanya nyawanya yang akan dia pertaruhkan,tapi juga nyawa bayi yang tidak memiliki kesalahan apa pun.
Dokter Yuna mulai memeriksa perut Auris dengan memijatnya.Beberapa detik berlalu,ia mulai merasakan ada sesuatu didalam sana.Dokter Yuna juga merasa tidak yakin,lalu kemudian dia memilih untuk melakukan USG.Dan benar saja,bayi yang ada dalam kandungan Auris sudah mencapai usia hampir empat Minggu.
"Gak mungkin Dok!"
"Kamu lihat sendiri kan Auris?ini kenyataannya,kamu hamil!"
"Tapi Dok,saya..,saya gak tau harus berbuat apa!"erang Auris dan dia sangat histeris.
Matanya masih tidak berhenti menangis,dia merasa sangat hancur.Lalu tiba-tiba saja dia terfikir untuk tidak perduli dengan kandungannya.Dia menyarankan Dokter Yuna untuk tetap melakukan tindakan operasi sesaat setelah Dokter Reza kembali dari London.
Saat itu Rani yang berada diluar,menguping pembicaraan keduanya.Dan saat itu lah Rani mengetahui bahwa Auris sudah mengorbankan jantungnya untuk bisa mengobati penyakit Aqilla.
"Kamu gak waras ya?yang mau ikut kamu pertaruhkan itu nyawa loh!bayi yang gak bersalah dan gak tau apa-apa!"bentak Dokter Yuna.
"Terus saya harus gimana Dok?saya gak akan mungkin bisa mengingkari janji saya!"
"Saya akan bicarakan ini sama Daniel nanti.Please Auris,untuk sekarang jangan pikirkan apa pun.Jangan nekat,saya akan cari solusi untuk semua ini!"ucap Dokter Yuna menenangkan Auris.
Lalu Rani masuk dan memeluk Auris.
"Kenapa kakak ngelakuin ini semua?"tanya ya dengan bahasa isyarat.
"Cuma ini jalan terbaik!kamu gak usah khawatir..!"
"Dia siapa?"tanya Dokter Yuna.
__ADS_1
"Adik saya Dok!"
"Adik?"
"Saya udah anggap dia sebagai adik saya sendiri!"beritahunya.
Auris kembali melanjutkan pekerjaannya dan hari ini dia cukup terlambat dan tidak bisa mendampingi Thomi meeting pagi tadi.
"Dari mana aja kamu?"tanya Abian dengan nada datar.
"Ada urusan tadi pak!"
"Ada urusan?urusan apa!lebih penting mana sama urusan pekerjaan kamu disini?kamu pikir ini perusahaan punya kamu?kedisiplinan itu penting!"gertak Abian.
"Udah lah..Toh juga meeting nya udah selesai dan berjala lancar..Cuma satu jam doang kok!"sahut Thomi dengan suara yang tenang.
...(Idaman lah pkoknya wkwk)...
"Jangan membela dia!kalau kamu masih gak bisa disiplin begini,lebih baik kamu berenti kerja aja deh.BARAMARKET gak butuh orang yang tidak berkompeten,dan kerja seenaknya sendiri!"lanjut Abian.
"Maaf pak!bapak gak perlu mengingatkan,tanpa bapak suruh pun saya memang akan mengundurkan diri dari BARAMARKET!"jawabnya dengan tegas.
"Auris?kamu bercanda ya? enggak.Kamu asisten saya dan saya yang berhak memberi keputusan apa pun.Pak Abian gak serius kok sama ucapan dia tadi!"ucap Thomi.
"Saya gak perduli pak Abian serius atau enggak pak.Tapi saya serius,saya akan mengundurkan diri!"
"Bapak gak usah khawatir,saya akan siapkan pengganti secepatnya.Permisi!"jawabnya lalu pergi dari sana.
"Elo bisa gak sih nahan emosi itu?liat sekarang,Auris beneran resain bi.."ketus Thomi.
"Elo nyalahin gue Thom?gue heran ya sama Lo,kenapa sih elo bisa sebaik itu sama dia?Lo suka ya sama Auris?iya kan?"tuduh Abian untuk yang kedua kalinya.
"Sekali lagi Lo udah berfikiran buruk tentang dia dan sekarang Lo bawa-bawa nama gue.Gue belain dia karena dia gak melakukan kesalahan apa pun Abian..!"
"Apa-apaan nih?"tanya Galih yang tiba-tiba masuk.
"Hahh gak tau gue!"jawab Thomi dengan menghela napas kasar.
"Jangan gitu dong guys..Kita ini kan best friends,jadi jangan berantem gini dong.Apa pun masalahnya pasti bisa terselesaikan kalok dipikirin dengan kepala tenang!"nasehati Galih.
"Auris mengundurkan diri.Dia gak pernah bercanda soal pekerjaan kayak gini!"
"Beneran?"
"Iya.Gimana kalau Lo aja deh gantiin dia jadi asisten gue.Tenang aja,ntar gaji Lo gue atur!"
"Deal!"jawab Galih tanpa basa-basi.
Sedangkan Abian bergegas akan pergi dari ruangan Thomi,namun dia menghentikan langkahnya lalu menoleh kearah kedua temannya.
"Gue minta maaf kalau memang udah salah.Tapi gue gak akan minta maaf sama Auris,karena sampai kapan pun kenyataannya keslahan dia jauh lebih banyak daripada kesalahan gue!"
__ADS_1