
"Kamu ngapain ada disini?" tanya Abian penuh curiga.
"Menurut kamu? kamar ya buat tidur!"
"Jangan bercanda Auris! kamar buat siapa?"
"Ya buat saya lah! terus buat siapa lagi?" tanya Auris dengan nada datar, tanpa senyuman, atau ekpresi yang lebih.
"Siapa yang nyuruh kamu tidur disini?"
"Kayaknya seharian ini aktivitas saya udah terlalu banyak ya. Bantuin Karina milihin gaun pengantinnya, bantuin mama milih dekor buat lamaran kalian berdua.. Terus.., pindahin barang-barang saya kekamar ini.. Ya pokoknya saya agak sedikit capek! saya mau istirahat, dan anak kamu juga butuh istirahat kan?"
"Karina yang nyuruh kamu pindah kesini?"
"Kenapa? kamu mau marah sama Karina?"
"Auris.."
"Calon istri kamu loh dia! yakin mau berantem sama dia cuma karena permasalahan tempat tidur?"
Sikap Auris begitu dingin pada Abian. Entah kenapa Auris sendiri tidak menyadari gelagatnya yang bersikap acuh tak acuh pada Abian.
"Pindahin semua barang-barang kamu ini kekamar saya!"
"Apa? pindahin? kenapa Tuan Abian Kaindra Bara? udah mulai gak bisa jauh dari saya?" goda Auris.
"Hah! jangan terlalu percaya diri kamu! saya cuma gak mau kalau kamu tidur sendirian, terus tiba-tiba terjadi sesuatu sama anak saya? kamu mau tanggung jawab?!"
"Hah Abian.. Abian.. Ini juga anak saya, saya akan pertaruhkan apa pun bahkan nyawa saya demi anak ini. Keluar dari kamar saya sekarang! saya mohon!" pinta Auris dengan serius.
"Oke.. Kalau itu mau kamu!"
Abian hendak pergi dari sana, namun Auris menghentikannya untuk beberapa saat.
"Dan satu lagi! Mungkin mulai malam ini dan seterusnya, kamu harus terbiasa ya tanpa saya! kan udah ada Karina!" ungkap Auris lalu mengunci pintu kamarnya.
Diluar Abian mengusap wajahnya dengan keras, rasanya cukup aneh dengan setiap kata yang terucap dari mulut wanita itu.
'Dia pikir secinta itu kah aku pada Karina?'
Itu lah yang terlintas dalam benak Abian. Kalau bukan karena terlanjur memiliki hubungan yang baik dengan keluarganya Karina, jangankan menikah dengannya, menjadi temannya saja harus dipikirkan dua kali.
...🍃🍃🍃...
Setelah selesai dengan pekerjaannya yang bisa ia kerjakan pagi itu, Auris menyiapkan segala kebutuhan yang ia perlukan untuk melukis.
Rasanya sudah sangat lama tidak menyalurkan hobi dan bakatnya itu diatas sebuah kanvas. Ditaman sebelah rumah, nuansa dan suasananya nampak sempurna untuk dijadikan tempatnya berekreasi.
Matahari masih memancarkan cahaya yang sempurna, tidak terlalu panas, angin sedang yang berhembus pelan juga memberikan kesejukan yang sempurna. Apalagi suara kicauan burung-burung kecil yang hinggap diranting pohon besar ditaman itu, semakin mendominasi keadaan.
Sudah waktunya Auris membuat seni disana.
"Tapi siapa ya yang harus dilukis?" gumamnya masih mencari ide.
Lalu terbesit dibenaknya untuk melukis wajah Abian.
"Astaga.. Kenapa kepikiran dia sih? enggak.. Jangan Auris! gak banget tau gak.."
Tempat dan semua alat sudah siap, hanya saja saat mencari sosok yang akan menjadi objek lukis, kenapa harus wajah pria berhati batu itu yang muncul?.
"Ya.. Gakpapa kali ya? anggap dilukisan ini, itu karakter dia yang baik, rendah hati, dan sempurna!"
__ADS_1
Auris ngedumel tidak jelas, membayangkan sosok Abian yang seandainya bisa berubah menjadi seperti yang dia bayangkan.
Tangan itu mulai menyentuh kuas, membuat pola diatas kanvas. Dimulai dari bentuk mata yang menyimpan sejuta rahasia, lalu beralih pada alis, pada hidung yang mancung sempurna. Tidak tertinggal senyuman manis yang menyelipkan sisi romantis dari seorang Abian Bara yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Tidak apa, bayangkan saja jika Abian adalah seorang pria dengan karakter manis dan romantis.
Tidak selang berapa lama, lukisan itu selesai dengan sempurna.
Abian sedang mengenakan jasnya dilukisan itu, tanpa dasi. Ya.. Abian kan tidak bisa memakai dasi sendiri, tapi dasi itu tidak pernah tidak melekat dilehernya yang tengah memakai jas atau kemeja berkerah. Biar kali ini, lukisan itu tidak memperlihatkan dasi kantor dijasnya yang terlihat maskulin itu.
"Sempurna!" ungkapnya dan tersenyum puas.
"Kok gak ada dasinya?" tanya Tuan Thosio tiba-tiba datang.
"Papa?"
"Papa pikir kamu udah lupa bagaimana caranya melukis? kan udah terlalu lama off!"
"Ya enggak lah pa.. Auris udah terlalu jatuh cinta dengan kesenian! wah.. susah lah kalau harus move on!" jawab Auris lalu keduanya bercanda gurau bersama.
"Ooh iya,, ini kartu tanda masuk buat pameran lukisan!" Beri Tuan Thosio sebuah kartu seukuran kartu tanda pengenal pada Auris.
"Setiap akhir tahun diadakan pameran lukisan disana, siapa tau kamu mau perkenalkan lukisan kamu. Papa yakin lulus seleksi dengan mudah. Atau enggak.., sekedar menambah wawasan aja datang kesana!"
"Ya ampun pa.. Makasih banget.. Ini Auris anggap hadiah dari papa!" ucapnya tersenyum bahagia.
"Kamu ini, begitu aja udah kegirangan. Oh iya.., sini kertas sama pulpen kamu!" pinta Tuan Thosio.
Lalu beliau menuliskan sebuah nama disana.
'Ken Adinata Bara'
"Ini apa pa? bagus banget namanya!"
Auris menganggukkan kepalanya tanda setuju. Lagi pula nama itu tidak buruk, begitu indah terdengar sempurna ditelinga.
...🔥🔥🔥...
Beberapa orang dari petugas dekorasi untuk acara pertunangan Karina dan Abian sudah datang. Auris sudah harus kembali masuk kedalam rumah dan bersemedi didalam kamarnya, orang luar tidak boleh tau tentang dirinya.
Saat tengah berjalan diruang tamu, Auris melihat ibu Sora dan Karina tampak serius membahas sesuatu di mini bar rumah. Karena penasaran, Auris menguping pembicaraan mereka.
"Aku masih terlalu risih liat perempuan itu ada disini tante! nanti kalau aku sama Abian udah nikah, aku gak mau hubungan aku sama Abian jadi kacau!" ungkap Karina dengan nada menuntut.
"Kamu tenang aja Karina.. Tante udah urus semua itu!"
"Maksud tante?"
"Setelah bayi Auris lahir, Tante akan ambil bayi itu dari dia!"
Sraakkk
Rasanya ada sesuatu yang tajam telah menggores hati Auris. Bagaimana bisa ibu Sora akan berbuat hal sekeji itu padanya.
"Kalau om Thosio mengagalkan rencana tante?"
"Gampang Karina.. Orang tua kamu sekalipun harus tau permasalahan ini. Toh perempuan itu akan pergi dari rumah ini, dan kamu akan menjadi satu-satunya istri Abian!"
"Ide Tante bener-bener bagus! aku setuju!"
Keduanya tertawa puas dengan rencana itu. Sedangkan Auris masih tidak habis pikir dengan semuanya. Apakah kali ini dia harus mengalah lagi? apakah harus tetap diam dan menyaksikan semua keinginan busuk mereka tercapai?.
__ADS_1
"Enggak.. Aku gak selemah ini!"
Auris berfikir sangat keras, ada sesuatu yang sudah terlintas dipikirannya, tapi apakah harus dilakukan?.
Jika memilih harus tetap tinggal dirumah ini, sudah pasti ibu Sora dan Karina akan tetap merenggut bayinya jika waktu itu sudah tiba.
Baiklah.. Malam nanti setelah semua orang tertidur lelap,ia dan kedua adiknya akan pergi dari rumah itu. Jauh dari setiap orang yang mengenal mereka.
Amanda akan menjadi orang pertama yang akan membantu pelariannya. Amanda satu-satunya orang yang dapat dipercayai, rahasia Auris selalu terjaga dengan baik.
Tidak lagi untuk kali ini, harga dirinya sudah direnggut paksa oleh Abian, dia harus berpura-pura bahagia tinggal dirumah mewah keluarga Bara.
Dia harus berpura-pura kuat dalam menghadapi setiap permasalahan yang ada. Untuk yang satu ini, anak yang kini dia kandung, satu-satunya alasan untuknya masih sanggup bertahan. Tidak seorang pun bisa merenggut itu darinya.
"Kak kita mau kemana?" tanya Evans kebingungan saat semua pakaian mereka sudah Auris siapkan didalam koper.
"Kita harus pergi dari sini Evans. Nanti kakak jelasin, pastikan gak ada satu pun orang dirumah ini yang tau kita pergi!"
"Tapi kak.. Ini ada apa sih sebenernya?"
"Ini demi kebaikan kita semua!"
Evans membantu Auris membawa koper dan memastikan Aqilla tidak panik dengan keadaan saat ini. Setelah berhasil keluar dari pintu utama rumah, kini satpam harus mereka hadapi.
"Tapi mbak Auris.. Kalau Tuan tau mbak sama den Evans pergi, saya takut urusannya panjang.." ucap bapak satpam.
"Pak saya mohon.. Saya gak bisa tetap tinggal disini! saya mohon sama bapak.. Besok biar saya hubungi Tuan besar! bapak gak usah takut!"
Setelah sesi rayu merayu, akhirnya bapak satpam mau membukakan pagar, Karena dia tidak tega melihat raut wajah Auris yang memohon penuh harap.
Amanda sudah menunggu dipinggir jalan dengan Taxi, setelah Auris keluar pagar, Amanda langsung membantu Auris memasukkan barang-barangnya lalu setelah itu mereka melaju kencang menuju kontrakan sederhana Amanda.
"Waah parah sih itu nenek lampir! bisa-bisanya dia cuma mau cucunya doang? Gilak sih fix gak waras!" omel Amanda sembari menyusun koper Auris masuk kerumahnya.
"Udah lah.. Namnya juga orang punya banyak uang.. Apa pun bisa mereka lakuin!"
"Ya tapi kan. Aah gak tau lah!"
"Tapi ya ris, kalau pun anak Lo mereka ambil, tapi udah pasti dong elo bakalan dikasi uang kompensasi? kan lumayan!" lanjut Amanda.
"Sembarangan aja Lo kalau ngomong! gue bukan lagi jual beli atau ganti rugi barang ya! ini anak gue!"
"Yaahh.. Udah ada yang punya naluri keibuan nih!" ejek Amanda menggoda.
"Gue sadar sih, diluar sana masih banyak perempuan yang berharap dikasih anak sama Tuhan. Masak iya gue harus sesali keadaan gue sekarang!"
"Bener juga sih. Tapi elo tetap disini kan sama gue? kalau buat kita berempat bisa lah.."
"Ya enggak lah.. Gue mau pindah keluar kota! besok naik bus. Kebandung aja kali ya? nanti urusin surat pindahnya Evans ya, biar dia sekolah disana!"
"Elo serius?"
"Iya.. Elo bisa tutup mulut dari siapa pun kan..?" tanya Auris memastikan.
"Gak usah ragu kalau itu. Tapi.. Elo ada ongkos?"
Auris mengeluarkan satu jam tangan pria yang tampaknya itu cukup mahal.
"What?"
"Gue gak bego kali mand.. Ya gue butuh uang juga lah.. Punya Tuan Abian Kaindra Bara!" jawabnya tersenyum lebar.
__ADS_1
Amanda terkekeh melihat kelakuan sahabatnya ini. Meski terlihat lemah dan selalu mengalah, tapi otaknya masih bekerja dengan baik. Tidak selamanya juga harus terlihat lemah.