
8 TAHUN KEMUDIAN
Abian sedang berada disalah satu kebun binatang terbesar dibandung. Beberapa orang sedang merekam aktivitasnya disana. Meski sudah berusia 38 tahun, tapi wajah Abian masih tetap fresh dan tampan.
"Papa!" panggil seorang anak perempuan berusia sekitar tujuh tahunan sembari menarik-narik tangan Abian.
Gadis kecil itu begitu cantik dengan rambut panjang yang dikuncir kuda.
"Oke teman-teman semuanya, bisa kita lihat disini Tuan Abian Kaindra Bara sedang menemani puterinya berlibur. Kita akan lihat perkembangan Puteri kesayangan Tuan Abian!" ucap seorang yang sedang merekam Abian dengan Kameranya.
"Bella jangan main jauh-jauh!" ingatkan Abian saat Puteri kecilnya yang bernama Bella itu pergi berlari ketempat lain.
"Mbak tolong awasi Bella!" perintah Abian pada pengasuh anaknya.
Abian kembali melanjutkan rekaman. Saat itu seekor burung Beo hinggap dipunggung tangannya, dan karena terkejut, burung itu terbang tiba-tiba hingga meninggalkan sedikit bekas cakaran dipunggung tangannya.
"Arrgghh" erangnya dan berjalan mundur dengan cepat hingga tidak sengaja dia menabrak seorang anak laki-laki dibelakangnya.
Anak itu berusia sekitar delapan tahun, dia sangat tampan dan manis. Bulu mata itu begitu tebal dan lentik, warana kulitnya begitu putih berseri-seri hingga menampakkan rona merah muda dipipinya ketika terkena paparan sinar matahari. Rambutnya sedikit ikal dan tebal, sedangkan bola matanya berwarna cokelat cerah.
"Awww!" sang anak laki-laki terjatuh karena tidak sengaja terdorong.
"Matikan kameranya!" ucap salah seorang yang memegang kamera.
"Kamu gakpapa?" tanya Abian dan membantu anak itu berdiri.
Abian membawanya duduk disebuah kursi dan mengajaknya bicara.
"Gak ada yang luka kan? maafin saya ya.., saya gak sengaja.." ucap Abian sembari mengusung senyum manisnya.
"Gakpapa om!" jawabnya dengan suara yang tegas dan lugas.
"Tangan om berdarah!" ucapnya lagi.
Dia mengeluarkan Hansaplast dengan gambar motif dinasaurus dari dalam tasnya lalu menutupi luka ditangan Abian.
Abian memperhatikan anak itu dengan serius, begitu baik dan pintar.
Anak itu menepuk-nepuk pelan punggung Abian lalu mencium punggung tangan Abian yang terluka.
"Kata mama.. Kalau udah diobati dan dikasih satu ciuman begini, pasti cepat sembuh! om jangan takut!"
Abian tertawa melihat kebijakan anak itu. Bagaimana bisa dia sebegitu menggemaskannya.
"Itu mantranya!" sambungnya.
"Oh ya?"
"Iya.. Ini cuma luka kecil om, gak akan sakit kok!"
"Ya ampun kamu ini ada-ada aja! emm.., tapi kamu kenapa sendirian? papa kamu dimana?"
Sang anak terdiam sejenak ketika mendengar pertanyaan itu, namun setelah itu dia menjawabnya dengan senyuman.
"Papa lagi kerja, jauh.. banget!"
"Terus kamu sendirian disini?" tanya Abian dan anak itu mengangguk.
"Rumah kamu dimana? biar om anter kamu!"
__ADS_1
"Enggak om.. Mama udah nunggu didepan!"
Anak itu sekali lagi menepuk-nepuk pelan punggung Abian sembari tersenyum padanya.
"Daah om.." ucapnya lalu pergi dan hilang begitu saja oleh keramaian.
Abian masih memperhatikan Hansaplast motif Dinasaurus yang menempel ditangannya. Senyuman lebarnya juga tidak berhenti terukir untuk cukup lama.
"Ken!" panggil seorang wanita dari parkiran sepeda motor.
Dan itu adalah Auris. Sedangkan anak yang sebelumnya bicara pada Abian adalah puteranya sendiri. Ken Adinata Bara.
"Kenapa lama sayang..?" tanya Auris sembari memasangkan helem pada Ken.
"Eets mama gak boleh marah! hari ini hari ulang tahun ken, jadi ken boleh sepuasnya main sendiri dikebun binatang.." ucapnya dengan lugas.
"Ooh jadi sekarang kamu bersikap seperti orang dewasa? umur kamu masih delapan tahun sayang.." jawab Auris sembari mencubit pelan pipi Ken.
"Mama.. Ayo kita pulang, ken laper!" jawabnya dan menghindari topik pembicaraan sang ibu.
...🍂🍂...
Auris dan keluarga kecilnya sedang makan malam dengan makanan sederhana. Ada Aqilla yang sudah tumbuh menjadi seorang anak remaja yang cantik dan manis. Saat ini Aqilla sudah masuk sekolah umum dan duduk dibangku SMA kelas XI.
Sedangkan Evans terlihat semakin dewasa. Evans tidak lagi melanjutkan kuliahnya karena masalah perekonomian. Saat ini Evans bekerja disalah satu bengkel yang cukup besar dikota itu.
Sedangkan Auris bekerja disalah satu toko kue yang cukup besar dan Auris bekerja sebagai pendamping koki.
Sebelum makan, Ken pergi mengambil obat merah untuk mengobati luka yang ada disiku tangannya. Ternyata saat Abian tidak sengaja membuatnya terjatuh, tangan Ken ternyata juga sedikit terluka.
"Ken, tangan kamu kenapa?" tanya Aqilla.
"Gakpapa anty.."
"Kan ini lagi diobati!"
"Kamu berantem lagi ya sama miko temen kamu itu?" tuduh Evans.
"Enggak lah om.."
"Kamu itu masih kelas satu SD Ken, berantem sama temen sendiri itu gak baik. Iya kan kamu berantem kan!"
"Kok om Evans maksa? kan emang enggak.."
"Kenapa sih ribut-ribut? lagi mau makan loh!" ingatkan Auris.
"Tangan Ken luka, pasti karena berantem dorong-dorongan sama temennya!" goda Evans lagi.
"Enggak ma..!"
"Coba cerita kemama!" pinta Auris dengan senyuman.
"Tadi pas dikebun binatang Ken ketemu sama om baik.."
Ken pun menjelaskan semua yang sudah terjadi.
"Kamu gak bohong kan?" tanya Evans.
"Ken gak bohong, tapi.. Om Evans yang udah bohong!"
__ADS_1
"Bohong gimana?"
"Kemarin Ken lihat om ikut balapan motor. Ken liat pas mau pulang sekolah. Ramai banget ma!"
"Enggak.. Pasti kamu salah lihat!" elak Evans.
"Enggak ma.. Rangga temen Ken juga liat!"
"Nanti kita bahas soal balapan itu Evans, sekarang kita makan dulu!" jawab Auris lalu mereka makan bersama.
Keesokan harinya setelah anak sekolah pulang, wakil ketua kelas I memanggil beberapa murid yang beruntung untuk dibawa kesalah satu sekolah dasar populer di Jakarta. Akan diadakan pentas seni, bernyanyi, dan lomba melukis disana.
Ken sendiri masuk dalam daftar atas bakatnya dalam melukis, bukan hanya itu, Ken juga terpilih menjadi salah satu anggota dalam pentas seni.
Orang tua murid wajib ikut untuk mendampingi anak-anaknya, hanya saja saat itu Auris cukup menolak. Dia tidak ingin kembali lagi ke Jakarta, namun ada satu hal yang membuatnya berpikir.
Rasanya dia sangat merindukan Rani. Sudah lama semenjak kepergiannya dari Jakarta ke Bandung, dia tidak lagi ziarah kemakam Rani.
"Gakpapa lah kak, sekalian ziarah kemakam Rani!" ucap Evans.
"Iya sih, tapi kakak ragu!"
"Cuma tiga hari kan disana? aku yakin gak akan ada masalah kak!" pujuk Evans lagi.
Dan akhirnya Auris setuju untuk pergi kejakarta mendampingi Ken. Sebenarnya, Auris sendiri sudah memulai kembali kehidupannya. Tanpa ia sadari, kepergiannya kejakarta akan memberikan pembuktian besar kepada puteranya.
...🍃🍃🍃...
Auristela sudah berada didalam bus bersama para anak-anak yang juga didampingi oleh orang tuanya.
Ken terlihat sangat bahagia dengan perjalanan mereka.
"Mama.."
"Iya sayang.. Kenapa?"
"Ken boleh tanya sesuatu?"
"Boleh dong sayang!"
"Kapan papa pulang?"
Pertanyaan yang sudah terlalu sering anaknya tanyakan. Selama ini setelah Ken sudah mengerti dengan yang namanya perasaan rindu, Ken selalu bertanya tentang bagaimana sosok ayahnya dan dimana keberadaannya. Dan Auristela selalu mengatakan bahwa ayahnya sedang bekerja ditempat yang sangat jauh.
Karena alasan pekerjaan, ayahnya sulit sekali untuk bisa pulang. Auris pernah berjanji pada Ken, jika sudah waktunya maka Ken akan bertemu dengan ayahnya.
"Rangga bilang, kalau Ken gak bisa ketemu papa langsung, kan bisa ketemu lewat handphone. Kayak om Evans sama temen dia waktu itu.." ucap Ken polos.
"Ken.. Kamu harus fokus sama lomba ini, jangan pikirin hal yang lain."
"Tapi ma.. Gak bisa ya papa hadir dilomba nanti?"
"Sayang.."
"Mama gak bisa jawab lagi kan? oke..," jawab Ken dan tidak melanjutkan lagi pembicaraannya.
Sepasang netranya menatap lekat kearah luar jendela.
"Ken.. Kamu marah sama mama?"
__ADS_1
"Ken cuma rindu sama papa, Ken mau ketemu sama papa. Tapi kalau memang belum waktunya, Ken nunggu lagi gakpapa kok!" jawabnya sembari mengusung senyumnya.
"Pasti sayang.. Kamu pasti bisa ketemu sama papa kamu!" ucap Auris lalu memeluk anaknya.