
"BARAMARKET! Woooyeaayyy!"
Suara para suporter semakin menggila saat sesi pertandingan sudah hampir selesai. Dan waktu kemenangan pun tiba, poin penentuan kemenangan dilakukan oleh Thomi. Team Abian menang dan pertandingan pun selesai.
Amanda menemani Thomi di loker penyimpanan pakaian. Menunggu manajernya mengganti sepatu dan menyiapkan minumannya. Saat itu tidak sengaja baju olahraga Thomi ketumpahan air dari botol minuman temannya yang tidak sengaja bertubrukan dengannya.
Terpaksa Thomi harus mengganti pakaiannya dan dengan repleks dia membuka bajunya yang saat itu ada Amanda disana.
Amanda terlonjak kaget luar biasa bukan karena melihat bentuk abs Thomi yang sixpack, melainkan karena bekas luka jahitan yang begitu jelas terlihat.
Amanda tiba-tiba mati kaku, tubuhnya mulai gemetaran dan panas dingin, tampaknya pikiran itu mulai berpikir keras.
"Amanda, kamu kenapa?"
Thomi merasa aneh dengan gelagat Amanda, saat ingin menyentuh tangannya saja, Amanda sedikit menghindar seperti ketakutan.
"Kamu sakit?"
"Sa-saya izin ketoilet sebentar pak!" ucapnya lalu pergi terburu-buru.
Saat ditoilet Amanda langsung meminum beberapa obat penenang dari Dokter konsultasinya. Rasanya masih begitu aneh, kenapa pak Thomi memiliki bekas luka yang sama seperti 'Rama'.
Anak geng motor dari SMU Merah Putih. Mantan kekasih yang pernah melecehkannya.
Thomi menyebut namanya Rama saat ia berkenalan dengan gadis SMP pada masa lalu yang sekarang dikenal dengan nama Amanda.
"Gak mungkin kan itu Rama? Enggak.. Pasti ini kebetulan aja!" Amanda mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua itu hanya kebetulan.
Ia kembali lagi menemui Thomi dan dengan pandangan serius memperhatikan manajernya. Thomi membuka loker, menyiapkan bajunya, mengganti sepatu olah raga dengan sepatu kerja, Amanda memperhatikan semua itu.
"Kamu kenapa? segitunya banget ngeliatin saya!" Thomi menyadarkan lamunannya.
"Bu-bukan apa-apa pak!"
Setelah selesai dengan semuanya, keduanya bergegas menuju mobil. Tetapi langkah mereka harus berhenti sejenak saat salah satu teman Thomi menyapanya.
Amanda berada tepat dibelakang Thomi, dan masih memikirkan kejadian saat diloker tadi.
Setelah selesai dengan obrolan singkat itu, Thomi kembali melanjutkan langkahnya.
Namun karena penasaran, Amanda memanggil Thomi dengan mengucapkan nama Rama.
"Rama!" panggil Amanda dan tentu Thomi menoleh.
Keduanya masih saling memandangi satu sama lain. Dalam pikiran Thomi, 'Kenapa Amanda tau dengan nama itu'.
Sedangkan dalam pikiran Amanda, 'Kenapa pak Thomi menoleh? apa dia benar-benar Rama?.
"SMU Merah Putih?"
__ADS_1
Lanjut Amanda sedangkan Thomi tidak menjawab apa pun.
"Geng Halilintar?" Bola mata Amanda sudah berkaca-kaca dan bendungan air mata itu hampir saja meluap.
"Kamu tau nama itu?" tanya Thomi sedikit heran.
Hanya satu pertanyaan singkat dari Thomi, namun Amanda sudah mendapatkan jawaban yang cukup jelas. Bahwa benar manajer yang selama ini ia idolakan dan hampir saja mampu melunakkan hatinya, ternyata adalah seorang pria yang selama ini sudah menorehkan luka dalam hatinya dan juga sudah menciptakan kenangan buruk bagi ingatannya.
Amanda pergi berlari meninggalkan Thomi. Toilet adalah tempat satu-satunya yang paling baik untuk meluapkan amarahnya kali ini.
Ia berteriak sangat keras didalam sana. Melihat pantulan dirinya didalam cermin, dan masih tidak menyangka dengan kebodohannya. Kenapa baru sekarang menyadari semua itu?.
Disisi lain Thomi masih mencari kemana Amanda pergi, dan kenapa dia bersikap begitu.
Setengah jam kemudian, seorang wanita keluar dari toilet dan berteriak meminta pertolongan. Ada seorang wanita yang pingsan disana. Dan itu adalah Amanda.
Thomi berlari menghampiri dan sangat terkejut melihat Amanda sudah tidak sadarkan diri dan terbujur lemas dilantai.
"Amanda kamu kenapa?" ucapnya sangat panik sembari menepuk pelan pipi Amanda.
Thomi memapah dan mengendongnya sampai kedalam mobil lalu langsung membawanya kerumah sakit.
Amanda diperiksa oleh Dokter dengan cukup lama, setelah kondisinya mulai jauh lebih baik, Dokter pun menemui Thomi dan menjelaskan keadaan Amanda.
"Ibu Amanda sepertinya mengalami depresi akibat trauma dengan sesuatu yang membuat emosionalnya sulit untuk dikendalikan. Dan karena itu, dia meminum obat penenang!"
"Obat penenang?"
"Jadi keadaannya sekarang udah baik-baik aja kan Dok?"
"Beberapa saat yang lalu ibu Amanda sudah sadarkan diri, tapi nampaknya dia masih tidak bisa mengendalikan emosionalnya. Jadi kami memberikan suntikan penenang. Mungkin sebentar lagi dia akan sadarkan diri."
"Saya boleh masuk Dok?"
"Tentu!"
Thomi masuk dan menghela napas berat ketika melihat tubuh Amanda begitu terlihat lemah diatas tempat tidur rumah sakit.
"Ternyata kamu bisa sakit juga ya, saya kira cuma bisa ngomel-ngomel!" gerutu Thomi sembari duduk dikursi samping tempat tidur Amanda.
"Trauma? trauma gimana ya maksudnya?" pikir Thomi dalam hatinya.
"Ooh iya, kenapa Amanda tau nama gue pas waktu SMA? tau geng motor gue lagi. Gue masih gak ngerti, atau mungkin Amanda pernah sekolah di SMU Merah Putih?"
Thomi masih belum menyadari semuanya, hingga akhirnya dia menemukan sesuatu didalam tas Amanda.
Tas Amanda berada tepat diatas nakas tempat tidur, karena penasaran Thomi mengambilnya dan melihat isi tasnya.
Kartu tanda pengenal Amanda ada didalam tas, Thomi begitu terkejut sampai-sampai dia bangkit dari tempat duduknya.
__ADS_1
'Thania Almahira'
"Thania?"
"Gak mungkin! Gak mungkin Amanda itu Thania!"
Thomi masih tidak yakin, dia mondar-mandir didalam ruang rawat Amanda sembari berpikir keras dengan semua itu.
Lalu tiba-tiba dia teringat dengan kejadian saat terjebak dalam lift, dengan ketakutan Amanda yang begitu berlebihan. Dengan pandangan Amanda melihat luka yang ada diperutnya, dan dengan Amanda yang tiba-tiba menyebut nama Rama.
"Auris? gue harus telpon Auris!"
Thomi menghubungi Auris dan memastikan apakah benar nama Amanda adalah Thania Almahira atau bukan.
"Ya ampun pak.. Nama sekertaris sendiri masa gak tau. Pertama kali masuk SMA Thania ngubah namanya jadi Amanda. Katanya dia gak suka sama nama aslinya. Bahkan sampai ditempat kerja pun.., semua orang ya tau dia namanya Amanda. Dia gak mau pakai kartu tanda pengenalnya!"
Deg
Detak jantungnya berdegup begitu kencang, kenyataan ini hampir membuatnya hilang akal. Kenapa baru sekarang mengetahui semua ini?.
Thomi kembali duduk dikursinya, tangannya kini mulai menggenggam tangan Amanda.
"Thania.."
Thomi tidak bisa menahan air matanya untuk tumpah dari sudut matanya. Air mata itu begitu saja tumpah berlimpah ruah. Thomi menangis sejadi-jadinya sembari mencium punggung tangan Amanda.
"Maafin aku Thania.. Maafin aku!"
Tidak lama kemudian Amanda terbangun dan ketika melihat Thomi berada disebelahnya, spontan saja Amanda mengangkat tubuhnya untuk bisa duduk, lalu tangannya dengan sigap melayangkan tamparan kewajah Thomi.
"Kenapa? Kenapa harus kamu?"
Amanda menangis histeris, keduanya masih sama-sama tidak percaya dengan kenyataan ini.
"Thania.."
"Jangan sebut nama itu!" teriak Amanda.
"Aku minta maaf! aku minta maaf.."
"Maaf? buat apa? buat Rama?"
"Aku minta maaf.. Aku gak tau kalau selama ini keadaan kamu gak baik-baik aja karena aku! dan aku juga gak tau kalau ternyata Thania itu kamu!"
"Saya gak butuh permintaan maaf dari kamu! keluar dari sini sekarang juga!" perintah Amanda.
"Aku tau aku salah, kasih aku kesempatan buat jelasin semuanya!"
"Gak ada lagi yang perlu dijelaskan.." Amanda kembali menangis sembari mengingat masa-masa buruk yang sudah ia lalui.
__ADS_1
"Kamu gak tau kan gimana rasanya harus percaya lagi sama diri sendiri dan percaya sama orang lain. Aku, kehilangan keberanian buat apa pun. Aku masih terlalu lugu buat menghadapi perlakuan buruk kamu waktu itu. Aku selalu ketakutan, kadang aku ngerasa kalau aku udah kehilangan kewarasan aku! semuanya sulit, dan sekarang kamu hadir lagi dan minta maaf? selama ini, kamu dimana? mana kata maaf itu?"
Thomi terdiam sejenak memikirkan kembali setiap kesalahannya. Dia begitu ingin menjelaskan semuanya, tapi Amanda terlanjur sakit hati, hingga begitu sulit untuk mendengarkan penjelasannya.