
Sebelum kembali ke Bandung dengan bus sekolah, Auris menyempatkan singgah kebeberapa market untuk membeli sesuatu.
Saat itu pukul 19:15 WIB. Auris pergi bersama Ken dengan menaiki bus kota. Suasana malam yang dingin malah menciptakan kenyamanan yang sempurna. Ken sendiri terlihat senang berkeliling kota.
"Nanti kalau papa udah pulang, Ken mau kesini lagi. Boleh kan ma?" tanya Ken sembari melihat dari jendela kaca memperhatikan bangunan-bangunan tinggi dan kendaraan yang melaju dijalanan.
"Ken.. Papa sibuk, gak mudah buat papa untuk bisa pergi-pergi sayang.."
"Kalau gitu Ken tunggu sampai papa gak sibuk!"
"Papa kan jauh.."
"Tapi kan nanti pasti pulang!"
Auris geleng-geleng kepala melihat tingkah anaknya. Begitu keras kepala, ternyata salah satu sifat Abian terwariskan pada anaknya.
Bus sudah berhenti dihalte, Auris pun menyebrangi jalan dan pergi menuju market.
Tetapi selama perjalanan mereka diluar, ada sesuatu yang aneh. Seperti ada yang mengikuti mereka.
Mungkinkah itu orang suruhan Karina?
Saat berbelanja dan memilih barang pun, Ada seorang pria bertubuh tegap yang sesekali kedapatan tengah melirik kearahnya.
Merasa ada sesuatu yang aneh, Auris pun pergi keluar dari market dengan terburu. Tangannya begitu kuat memegangi tangan Ken dan berhenti dibahu jalan untuk menghentikan Taxi.
Salah satu Taxi berhenti lalu Auris dan Ken masuk dengan cepat. Tadinya Auris sudah merasa lega, tapi ternyata ketegangan sebenarnya baru saja dimulai.
Mobil jip berwarna hitam ternyata mengikutinya dari belakang.
"Pak tambah kecepatannya ya! agak lajuan dikit!" pinta Auris.
Mobil itu memang cukup kencang, dan saat dijalanan yang lumayan sepi, disitu lah para penguntit itu bertindak. Taxi yang ditumpangi Auris dan Ken disalip dan diberhentikan dipinggir jalan.
"Keluar lo!" teriak dua orang pria bertubuh besar.
Sopir Taxi yang lemah dan tidak tahu apa-apa tentu dibuat gelagapan. Baru satu pukulan diwajah saja sudah membuatnya jatuh pingsan.
"Keluar lo! atau enggak Lo bakalan nyesel!" ancamnya.
Jendela kaca dipukul-pukul dengan sangat keras.
"Ma.. Mereka siapa?"
"Ken.. Kamu tetap didalam sini, jangan keluar! kamu pahan?"
"Tapi ma. Nanti mama dijahatin.."
"Ayo lah Ken.. kamu ngeremehin mama?" goda Auris.
"Oke.."
Auris keluar dan mencoba untuk bicara baik-baik.
"Ini ada apa ya pak? saya gak kenal kalian!"
Tanpa permisi dan aba-aba kedua pria itu menarik tangan Auris dan hendak membawanya. Meski sudah pasti Auris akan kalah dengan kedua pria itu, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa Auris juga cukup mampu memperlihatkan keberaniannya.
Auris bertarung dengan penuh emosi hingga menghabiskan banyak tenaga.
__ADS_1
"Mama!!" teriak Ken.
Ken pergi kebangku depan dan menyalakan klakson berkali-kali dan berharap ada orang yang membantu mereka.
Dan tidak berapa lama kemudian, ada satu mobil balap berwarna biru cerah berhenti disana.
Dua orang pria jangkung berkulit putih dan tampan.Kedua pria itu adalah Alan dan Anthoni.
"Itu bukannya Auris ya?"
Tanpa basa-basi Alan dan Anthoni menghajar penjahat itu habis-habisan hingga membuat mereka lari terbirit-birit.
"Kalian?"
"Elo Auristela kan?" tanya Alan.
"Iya saya Auris!"
Dan tiba-tiba Ken keluar dari dalam mobil lalu memeluk Auris.
"Mama..!"
"Mama? ini anak lo?" tanya Alan dan Anthoni bersamaan dan Auris mengangguk.
"What? serius lo? wahh kalau Abian tau ini pasti dia seneng banget!"
"Ayo kita anter Lo ketemu sama Abian!" ajak Anthoni.
"Enggak makasih.. Maaf ya, saya belum bisa ketemu Abian untuk saat ini!" tolak Auris.
"Kenapa? Abian harus tau ini kan?"
"Saya gak bisa.."
"Elo gak boleh nolak! elo sama anak Lo harus aman dong, kalau sampai kalian berdua kenapa-kenapa, Abian pasti bakalan murka!" sambung Anthoni.
Auris pun ikut bersama dengan Alan dan Anthoni. Dan saat itu Auris meminta untuk diantarkan kerumah Thomi dan Amanda.
Sedangkan Alan dan Anthoni juga terkejut ketika tahu bahwa ternyata selama ini Thomi mengetahui tentang keberadaan Auris.
"Waah parah sih Thomi! kenapa dia gak cerita sama kita?"
"Itu permintaan saya, saya gak mau kalau terlalu banyak orang yang tau." jawab Auristela.
"Tapi btw, elo kenapa pergi tiba-tiba gitu sih?" tanya Anthoni tapi tiba-tiba Ken berbicara.
"Om berdua ini siapa?" tanya Ken tiba-tiba.
"Kita.. Kita temennya papa kamu!" jawab Alan dan tersenyum lebar.
"Temen papa? beneran om?" tanya Ken bersemangat.
"Iya dong.. Kamu mau gak ketemu sama papa?"
"Ken.." ingatkan Auris.
"Ooh jadi namanya ken.. Bagus.."
"Ganteng lagi, kamu itu mirip banget kayak papa kamu!" timpal Anthoni.
__ADS_1
"Bentar lagi kita sampai!" putus Auris.
Mereka sudah sampai ditempat tujuan. Amanda membukakan pintu dan terkejut saat melihat tamu yang datang mengunjunginya.
"Auris..."
Keduanya saling berpelukan satu sama lain.
"Loh kok bisa bareng mereka berdua?"
"Ceritanya panjang."
"Thomi ada?" tanya Anthoni.
"Ada didalam. Kebetulan kita lagi makan malam, ayo masuk!"
"Waah kebetulan banget gue laper!" dengus Alan.
Semuanya masuk kedalam rumah dan mengunci pintu sangat rapat. Thomi hampir saja tersedak ketika melihat sekumpulan orang-orang yang datang kerumahnya.
"Auristela? kenapa gak ngabarin kita?" tanya Thomi.
"Mendadak banget Thom.."
"Tadi pas dijalan gue sama Alan gak sengaja ketemu Auris dijalan lagi digangguin sama orang gak dikenal." beritahu Anthoni.
"Kok bisa? elo gakpapa kan ris? Ken baik-baik aja kan?" tanya Amanda khawatir.
Semuanya duduk dan Auris pun menceritakan semuanya. Dari sejak dia pertama kali kembali lagi kejakarta sampai pada kejadian beberapa waktu yang lalu.
"Syukur deh kalau kalian baik-baik aja!"
"Jadi gimana nih kira-kira? semua ini harus tetap dirahasiakan dari Abian?" tanya Anthoni lalu Amanda dan Thomi melirik bersamaan kearah Auris.
"Sebaiknya tetap dirahasiakan, sampai ada waktu yang baik." kata Thomi.
"Iya kan ris?" tanya Amanda tapi Auris tidak menjawab apa pun.
"Lagi pula, Abian lagi gak sehat sekarang!"
Deg
Auris menatap serius Thomi dan mendengarkan kembali ucapan itu.
"Dia sering mabuk-mabukan gak jelas sekarang. Semenjak kepergian Auris dan juga karena beberapa waktu yang lalu dia gak sengaja ketemu Clara. Mungkin dia masih menyimpan rasa kecewa, gue harap pak Thosio bisa ngarahin dia sih." lanjut Thomi.
"Clara? perempuan yang ada difoto itu?" gumam Auris.
Ingin rasanya Auris bertanya lebih jauh lagi, tapi melihat masih ada Ken diruangan itu, jadi dia mengurungkan niatnya.
Semuanya menikmati makan malam mereka. Dan setelah Ken sudah tertidur pulas, Auris kembali ingin mempertanyakan tentang Clara.
Diruang Tengah
"Clara itu siapa?" tanya Auris pada semua orang disana.
"Clara? gue juga gak tau siapa Clara." sahut Amanda.
"Mantannya Abian.." sambung Alan lalu Thomi pun menceritakan semuanya.
__ADS_1
Auris tiba-tiba saja merasa respect terhadap Abian. Bagaimana pun juga semua itu memang wajar jika menjadi beban pikirannya. Auris sebenarnya sadar bahwa Abian sangat menyayangi puteranya dan sangat berharap untuk bisa menjadi ayah yang baik bagi Ken.
Apa lagi, bagaimana jika Abian tahu bahwa kenyataannya dia memiliki adik perempuan kandung satu ayah lain ibu? apa yang akan terjadi pada hatinya?. Bagaimana dia bisa menerima semua itu.