
Thomi mengganti pakaian Amanda dan mengobati luka memarnya. Saat ditempat tidur, Amanda masih saja menangis dan tidak berani menatap wajah Thomi.
Thomi mengerti bagaimana ketakutan istrinya saat ini, apa lagi, Amanda pasti merasa sangat bersalah.
"Amanda udah dong.. Kalau kamu kayak gini aku jadi takut.." ucapnya dan naik keatas ranjang.
Thomi mendekati Amanda yang memalingkan wajahnya.
"Harusnya aku gak pergi sama Doni. Cuma karena aku cemburu, aku gak dengerin omongan kamu sama sekali!" dengusnya.
Thomi mengarahkan Amanda berhadapan dengannya lalu memeluk tubuh Amanda dengan erat dan penuh kasih sayang.
"Liat aku sekarang.." pintanya dan mengusap lembut pipi Amanda.
"Kalau ada yang perlu disalahkan dalam keadaan ini, itu aku orangnya. Harusnya aku bisa jaga perasaan kamu! aku suami kamu dan semestinya aku faham gimana perasaan kamu."
"Aku emang bego.." umpatnya.
"Kalau itu aku setuju!" jawabnya dan membuat Amanda tersenyum lepas.
Thomi mengecup bibir Amanda dengan pelukan hangat yang masih tidak ia lepaskan.
Amanda begitu bahagia dan merasa beruntung karena mempunyai suami seperti Thomi. Karena lelah dan mengantuk, Amanda tidur lebih dulu.
***
Pagi hari telah tiba, biasanya Amanda sudah sangat sibuk dengan pekerjaan rumah tangga yang harus dia bereskan sebelum berangkat kekantor.
Tapi pagi ini sangat berbeda. Ketika Thomi terbangun dari tidurnya, dia masih mendapati Amanda berada di pelukannya. Meski malam tadi istrinya lebih dulu tidur, tapi pagi ini malah terlambat bangun.
"Sayang.. Udah pagi!" bangunkan Thomi dan mengusap lembut wajah istrinya.
Kening dan seluruh tubuh Amanda terasa panas, sepertinya Amanda demam.
"Sayang.. Kamu sakit?" pastikan Thomi dan sekali lagi menaruh punggung tangannya dikening Amanda.
"Kamu.. Kerja..?" tanya Amanda pelan tanpa membuka matanya.
"Enggak, enggak! aku gak kerja!"
Thomi pergi kedapur dan mengambil air dingin dan handuk kecil untuk mengompres Amanda. Amanda sangat jarang sakit, dia tahu betul jika istrinya sakit, pasti akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk sembuh. Dan ditambah lagi, Amanda paling anti jika ditawarkan dibawa kerumah sakit.
Sampai siang pun Amanda masih kesulitan untuk bangun dari tempat tidur.
"Aku mau mandi!"
"Tapi kamu kan sakit? gak usah! kita kedokter ya?"
"Dokter? aku cuma demam aja.."
"Amanda jangan gini dong.."
"Mendingan kamu masak, aku laper!" mendengar Amanda merasa lapar saja sudah membuatnya kegirangan.
Dengan cepat dia berperang didapur dan menyiapkan banyak makanan enak, sedangkan Amanda masih mandi dan membersihkan diri.
Didalam kamar mandi Amanda beberapa kali muntah karena perutnya serasa melilit.
"Pasti karena minuman itu!"
Setelah selesai, Amanda turun kebawah dan mendapati meja makan yang sudah penuh dengan berbagai macam makanan.
"Kamu masak sendiri?" tanyanya masih dengan wajah lesu dan pucat.
"Iya dong.."
"Semua ini?"
"Sebagian.. Sebagian lagi pesan Gofood!" jawabnya dan Amanda tertawa lepas.
__ADS_1
Thomi menyiapkan makanan dan setelah itu mereka makan bersama. Baru saja dua suapan, dan Amanda menghentikan makannya.
"Aku udah kenyang.."
"Jangan dong.. Baru juga dua suapan!"
"Enggak.."
"Biar aku suapin!" Thomi pindah duduk kesebelah Amanda dan menyuapinya.
"Aku mau muntah!" beritahunya dan berlari menuju wastafel dan memuntahkan makanan yang dia makan.
"Ini pasti karena minuman itu! ayo kita kerumah sakit sekarang juga!"
Thomi memaksa membawa Amanda kerumah sakit agar diperiksa keadaannya. Setelah membiarkan Amanda diperiksa oleh dokter untuk beberapa saat, akhirnya pemeriksaan pun selesai.
"Bagaimana keadaan istri saya Dokter?" tanya Thomi sangat khawatir.
"Saya cukup khawatir ketika mendengar bahwa ibu Amanda meminum minuman beralkohol. Karena itu sangat membahayakan kandungannya!" ucap Dokter yang membuat sepasang suami istri itu melongo kebingungan.
"Kandungan? ma-maksud Dokter?"
"Usia kandungan ibu Amanda masih sangat muda sekali dan rentan terhadap banyak hal!"
"Apa Dok? istri saya hamil?" tanya Thomi masih tidak yakin.
"Loh kenapa? bapak dan ibu tidak mengetahui tentang kehamilan ini?"
"Sama sekali gak tau dok! sudah bertahun-tahun kami mengharapkan ini Dok, saya hampir gak percaya!" ungkap Thomi yang merasa sangat bahagia.
"Itu artinya ini hadiah dari Tuhan, atas kesabaran bapak dan ibu. Selamat atas kehamilan ibu Amanda yang sudah mencapai empat Minggu kehamilan!" beritahunya.
"Empat Minggu dok?" tanya Amanda lalu dia dan Thomi berpelukan karena merasa sangat bahagia.
"Ini kehamilan pertama Ibu Amanda, dan memang.. Sangat rentan terhadap sesuatu. Untuk itu, ibu Amanda harus menjaga kesehatannya dengan baik, dan kurangi pekerjaan yang memang membutuhkan tenaga lebih!"
"Baik Dokter! saya sangat senang dan sangat berterimakasih untuk semuanya!"
Tidak ada yang tidak mungkin didunia ini, rencana Tuhan selalu lebih baik dari apa yang manusia rencanakan. Thomi dan Amanda begitu bahagia dengan harapan mereka yang sudah terharapkan. Saat dikantor pun, Thomi membagikan kue dan makanan kepada para karyawan untuk tanda syukurnya.
"Ini ada hajat apaan ini pak?" tanya beberapa karyawan.
"Bukan apa-apa.. Saya cuma lagi ada sedikit rezeki dan.. Hati saya lagi baik!"
Salah satu teman Amanda memintanya untuk mengambilkan berkas dilantai satu dan memintanya untuk segera cepat mengantarkan.
"Ya elah mand.. Jalannya dicepetin biar cepet nyampek!" pinta temannya.
Thomi tidak sengaja mendengar itu lalu ia menyela pembicaraan mereka.
"Sekertaris Amanda lagi gak enak badan, jadi saya pinta, jangan memberikan banyak pekerjaan buat dia!" ucap Thomi.
Semua karyawan yang melihat itu hanya bisa saling melirik satu sama lain seakan masih tidak mengerti dengan sikap atasan mereka saat ini.
"Ma-maksud bapak?"
"Lanjutkan pekerjaan kalian!" perintahnya lalu menggandeng tangan Amanda dan membawanya pergi dari sana.
"Diih kenapa sih pak Thomi? perhatian banget sama Amanda!" pungkas beberapa stuff wanita.
"Jangan-jangan pak Thomi lagi kesem-sem sama sekertaris Amanda?"
"Aah gak mungkin lah!"
Semua orang tampak bingung dengan gelagat Thomi, apalagi pagi ini Thomi sudah bersikap sangat baik pada para karyawan dan ditambah lagi dia begitu perhatian dengan Amanda. Siapa yang tidak penasaran akan hal itu.
Auris baru mengetahui tentang kehamilan sahabatnya itu saat waktu jam istirahat makan siang. Mereka bertemu dikantin lalu saling bertukar cerita.
"Gue seneng banget denger kabar ini mand!"
__ADS_1
"Apa lagi gue rist! Bener yang Lo bilang, gak ada usaha yang sia-sia! dan kesabaran gue sama Thomi selama ini akhirnya terbayar tuntas!" ucapnya.
Setelah membicarakan kabar bahagia itu, Auris pun menceritakan tentang keresahannya yang memang dia butuh seseorang untuk mendengarkan ceritanya.
"Elo kenapa? cerita aja rist.." pinta Amanda lalu Auris pun menceritakan beberapa moment saat dia bersama Andre kemarin malam.
Flashback
Auris sudah sampai dirumah keluarga Andre, disana dia bertemu dengan orang tua Andre yang ternyata masih mengingat Auris.
"Andre kemarin sempat cerita sama Tante,, Tante gak nyangka bisa ketemu kamu lagi!" ungkap ibu Andre sembari memeluk Auris.
"Iya Tante.. Aku juga gak nyangka kita bisa ketemu lagi!"
"Kamu tambah cantik lagi!" puji ibu Andre.
Seorang anak perempuan seusia Ken tiba-tiba datang dan berteriak memanggil "papa" kepada Andre lalu memeluknya.
"Papa.."
"Sayang.."Andre memeluk anak itu lalu menggendongnya.
"Ini anak aku!" beritahu Andre dan Auris terbelalak kaget.
"Ya ampun cantiknya.. Hay.. Kamu namanya siapa?" tanya Auris sembari mengusap lembut rambut anaknya Andre.
"Nisa! Tante siapa?" tanyanya polos.
"Ini temennya papa sayang.." sahut Andre.
Auris dan yang lainnya duduk disofa ruang tamu sembari berbincang-bincang menceritakan masa lalu Andre dan Auris semasa SMA. Auris bertanya pada Nisa dimana ia bersekolah, dan kebetulannya, Nisa sekolah ditempat yang sama seperti Ken.
"Waah satu sekolah dong sama anak Tante!"
"Oh ya? anak kamu sekolah disitu juga?" tanya Andre.
"Iya.. Namanya Ken!" beritahunya.
"Ken? yang jago ngelukis itu tante?" tanya Nisa yang mengetahui siapa itu Ken.
"Kamu tau?"
"Tau dong Tante.. Waktu itu aku juga pernah dibantu sama Ken pas temen-temen aku jahil!" ungkapnya.
"Ya ampun.. Kebetulan banget ya?" sahut ibu Andre dan Andre tersipu malu.
"Wah gak enak perasaan gue." gumam Auris dalam hati.
Auris sangat penasaran karena selama mengobrol dia tidak melihat istri Andre berada disana. Karena penasaran, dia memberanikan diri untuk bertanya.
Lalu Andre menjawab bahwa istrinya sudah meninggal ketika usia Nisa masih sepuluh bulan. Auris terkejut dan merasa tidak enak dengan itu, tapi keluarga Andre sangat memakluminya.
Dan yang membuat Auris semakin dibuat jantungan dan tidak nyaman, ketika Ibu Andre dengan spontan saja membicarakan hubungan antara dirinya dan Andre dan malah ia sangat berharap agar Andre dan dirinya bisa segera memiliki hubungan yang serius.
"Andre udah cerita bagaimana status kamu saat ini, dan saya juga tau bagaimana kamu. Ya.. Saya berharap kamu dan Andre bisa memiliki hubungan yang lebih baik lagi!" ucap Ayah Andre.
"Emm.. Ya.. iya om!" jawab Auris dan terlihat sangat ia kaku.
"Papa ada-ada aja ngomongnya!" sahut Andre mencairkan suasana.
"Itu bener ndre.. Kalian keliatan cocok banget loh!" timpal ibunya dan semakin membuat Auris mati kaku.
Flashback off
"Hahahah!!" Amanda tertawa meledek kepada Auris mendengar cerita itu.
"Kok elo ketawa sih?"
"Makanya rist.. Jangan berlagak mau buat Abian cemburu! kan jadi ribet begini urusannya."
__ADS_1
"Ya gue kan gak tau kalau Andre seserius itu! gimana ya ngejelasinnya?"
Hay readers.. Author sangat berterimakasih atas dukungan dan semangatnya🙏. Kira-kira kalau kalian jadi Auris, apa yang akan kalian lakukan kalau sedang berada diposisi nya saat ini? Menolak Andre? atau masih tetap berhubungan dengannya supaya Abian cemburu?.