
Hari ini adalah hari pernikahan Abian dan Kariana. Acara pernikahan itu digelar dengan sangat mewah, bahkan gaun pengantin yang dikenakan Karina terlihat begitu indah dan sempurna.
Ada banyak wartawan juga disana yang sudah siap untuk mengambil potret keduanya. Karina terlihat bahagia pada hari itu sedangkan Abian sendiri harus menutupi rasa kesalnya atas pernikahan yang dipaksakan ini.
Belum lagi bisa melupakan Clara, sosok wanita yang pernah sangat ia cintai tapi pada akhirnya mengkhianatinya. Clara adalah rahasia kebencian Abian selama ini.
Berteman sejak kecil, dan menjalin hubungan khusus sejak masih duduk dibangku sekolah menengah pertama. Tapi hubungan spesial itu berakhir ketika Abian pindah dan menetap dijepang setelah lulus SMA.
Setelah menjalin hubungan jarak jauh antara Tokyo-Jakarta selama kurang lebih empat tahun, Abian kembali berkunjung ke-indonesiaan dan berniat untuk melepas rindunya dengan Clara.
Namun sesuatu yang menyakitkan harus ia hadapi. Dengan mata kepalanya sendiri, Clara tertangkap basah sedang melakukan hal yang tidak senonoh disebuah hotel dengan seorang pria yang sangat Abian kenal. Yaitu temannya semasa di SMA.
Sejak saat itu. Abian begitu marah dan membenci Clara. Itu lah alasan Abian belum bisa menerima perempuan manapun untuk menetap dihatinya.
Entah itu Auris, atau pun Karina.
"Selamat Bro!" ucap sahabat-sahabat Abian.
Nampaknya senyum yang harus ia perlihatkan dihari spesial ini harus benar-benar terlihat sempurna.
...🍃🍃🍃...
Dua bulan berlalu, menjadi saksi atas keberlangsungan pernikahan Abian dan Karina. Menjadi saksi atas bertahannya Amanda menjadi sekertaris Thomi, dan menjadi saksi atas lahirnya satu-satunya cucu laki-laki keluarga BARA
Auris melahirkan secara normal disalah satu rumah sakit Bandung. Seorang anak bayi laki-laki yang tampan, tidak jauh mirip dengan Ayahnya.
Auris masih mengingat jelas permintaan Tuan Thosio untuk memberikan nama pada anaknya sesuai dengan yang Tuan Thosio inginkan.
'Ken Adinata Bara'
"Itu inspirasi dari siapa kak?" tanya Evans.
"Dari orang yang tepat.." jawab Auris dan tersenyum bahagia.
"Pak Thomi!!" panggil Amanda yang terburu-buru masuk kedalam ruangan Thomi.
"Ada apa?"
"Auris udah melahirkan pak!"
"Kamu serius?" tanyanya tidak yakin.
Amanda menjelaskan semuanya lalu melakukan panggilan Vidio dengan Auristela. Thomi begitu senang melihat keadaan Auris dan bayinya baik-baik saja.
"Kamu yakin Auris.. Abian gak perlu tau ini?" tanya Thomi berusaha membujuk Auris.
"Gak perlu pak Thomi.. Ken akan baik-baik aja meskipun tanpa Abian!"
"Ken? namanya ken?"
"Iya.. Bagus kan?"
"Bagus banget lah.."
"Ooh iya, Amanda gimana pak? ngerepotin bapak gak?"
__ADS_1
"Ya.. begitu lah! tapi karena saya sering dirayu pakai kopi buatan dia yang enak.. Jadi saya gak bisa berbuat apa-apa!" jawab Thomi bergurau.
Setelah merasa cukup puas dengan obrolan mereka, Akhirnya Amanda kembali mengerjakan tugasnya dan begitu juga dengan Thomi.
Waktu istirahat jam makan siang sudah tiba, sebagian karyawan ada yang memesan makanan secara online dan ada pula yang pergi ke kantin dan memesan makanan disana.
Saat Amanda berada di kantin bersama rekan-rekannya, waktu sesi perghibahan pun harus tetap terlaksana.
"Gue ada berita seru! penting banget guys!" beritahu teman Amanda.
"Apa?"
"Tadi kan gue gak sengaja nguping obrolannya pak Thomi sama temen-temennya yang sering kekantor. Besok katanya pak Abian sama temen-temennya itu mau main basket!"
"Terus?"
"Kok terus sih? ya kita nonton lah.."
"Emang boleh?" tanya Amanda.
"Boleh lah.. Tapi permasalahannya, sama kayak Sebelumnya, Pak Thomi gak mau. Dia gak mau ikut main basket!" jawabnya memasang wajah kusut.
"Gak bisa main basket kali.." timpal Amanda.
"Sembarangan lo! Pak Thomi itu jagonya main basket, cuma memang mainnya selalu dirumah. Isunya sih begitu.."
"Padahal kan kita pengen liat badan sixpack nya pak Thomi.." sambung temannya yang satunya lagi.
"Diih lebay banget.." ketus Amanda.
"Makanya Amanda.. Elo kan sekertarisnya, pikirin dong cara supaya pak Thomi mau ikutan main basket!"
"Kok gue sih?"
"Ya kali aja elo punya ide!"
Amanda berpikir keras untuk permintaan rekan-rekannya. Mungkin permintaan mereka terlihat aneh dan terlalu berhasrat, tapi memang keanehan manajer mereka satu itu semakin membuat semua orang penasaran.
Setelah selesai makan siang, Amanda kembali melanjutkan pekerjaannya sembari memikirkan rencana yang tepat.
Dan akhirnya setelah pekerjaannya selesai, Amanda bersiap-siap untuk bicara pada Thomi.
Dan Auris menjadi korban Amanda.
"Auris pengen liat bapak main basket.. Please ya pak mau.."
"Jangan ngawur kamu Amanda! kamu mau bilang Auris lagi ngidam? dia udah melahirkan Amanda.. Ini cuma akal-akalan kamu aja kan?"
"Enggak pak.. Kalau bapak gak percaya, saya telpon Auris sekarang!"
Amanda menelpon Auris yang sebelumnya sudah ia ajak kompromi.
"Ooh.. Iya pak, maaf ya pak Thomi.. Sebetulnya Evans yang butuh. Dia dengar Abian sama Pak Thomi jago main basket, nah pas dia tau kalian mau main basket.., dia mau lihat. Katanya buat belajar dari bapak." jelaskan Auris.
"Tapi gimana ya,, saya gak percaya diri Auris!"
__ADS_1
"Kenapa? saya juga penasaran liat pak Thomi jago atau enggak main basketnya. Nanti kalau ada waktu buat kita ketemu, saya mau deh main basket bareng bapak. Kita lihat, jago saya atau pak Thomi!" goda Auris.
Setelah berpikir kembali, tidak ada salahnya juga jika mencoba. Dan ya, Thomi menyetujuinya.
"Makasih pak.. Nanti minta izin Amanda buat vidioin ya?"
"Oke Auris.."
"Gimana? kamu puas?" tanya Thomi dengan nada berat pada Amanda.
"Hehe!" dengusnya sambil nyengir kuda.
"Tapi kamu harus hati-hati. Nanti pas liat saya tanding, kamu suka lagi sama saya!"
"Haa?"
"Aura karismatik dari diri saya keluar semua kalau lagi main basket!" goda Thomi.
"Hahaha! bapak ada-ada aja!" tertawa geli.
"Saya serius!"
"Saya udah punya pacar pak! jadi saya gak mungkin tergoda sama kekarismatikan bapak!"
"Oh ya?"
"Iya! pacar saya juga lebih berkarismatik dari pak Thomi!"
"Lanjutin pekerjaan kamu!" perintah Thomi menyudahi gurauan mereka.
...🥵🥵...
Hari yang sudah dinantikan oleh para kaum hawa dikantor, sudah tiba. Bangku penonton dilapangan basket yang biasa Abian dan teman-temannya jadikan tempat latihan, terlihat ramai ditempati.
Abian dan teamnya sudah mengenakan pakaian olahraga basket. Semua wanita yang melihat, berteriak histeris dan memberikan semangat yang berkobar-kobar.
"Pak Abian... Pak Abian...!" teriaki para penonton.
"STARS MARKET! Woooo yeeeahhhyyy!!"
Sedangkan suporter dari team perusahaan teman Abian yang menjadi lawannya kali ini juga tidak kalah hebohnya.
Dan ketika Thomi mulai memasuki lapangan, para wanita berteriak histeris. Untuk pertama kalinya, manajer mereka mengenakan pakaian terbuka seperti itu. Padahal bentuk perut yang sixpack itu masih tertutup oleh baju seragam yang ia pakai. Tapi para wanita dengan mata liarnya, sudah mampu berkhayal jauh dan pikiran mereka sudah traveling entah kemana.
"Pak Thomi! pak Thomi!"
Peluit dibunyikan dan waktu pertandingan dimulai. Amanda benar-benar merekam pertandingan itu dengan handphonenya. Sembari memperhatikan Thomi yang sedang fokus bermain.
Tetesan keringat mulai membasahi baju para pemain, sesekali Thomi mengibaskan rambutnya dan membuat jantung Amanda berdetak tidak normal.
Saat berhasil memasukkan bola kekeranjang, Thomi melihat kearah Amanda dan dalam kesempatan mengedipkan sebelah matanya.
"Duuh bahaya nih. Jangan baper Amanda.. Jangan.." Gerutu Amanda tidak jelas.
Nampaknya manajernya itu semakin membuat perasaannya tidak karuan.
__ADS_1