Istri Rahasia Tuan CEO(Secret Wife Mr.CEO)

Istri Rahasia Tuan CEO(Secret Wife Mr.CEO)
Episode 49:Meyakinkan


__ADS_3

Jenazah Alan sudah sampai ditempat pemakaman dan siap dimakamkan pada hari itu juga. Abian, Thomi, Galih dan Anthoni menjadi orang-orang yang paling terpukul dan paling merasa kehilangan. Keempat pria bertubuh gagah itu tentu tidak dapat menyembunyikan kesedihan dan air mata mereka.


Disana Karina juga menghadiri acara pemakaman, dengan memasang wajah iba dan seakan tidak mengetahui apa pun, ia mulai memainkan perannya sebagai seseorang dengan karakter antagonisnya.


"Kita janji sama Lo lan, kita pasti temuin siapa orang yang ngelakuin ini semua!" ucap Abian.


Setelah selesai dari pemakaman Alan, semuanya kembali melanjutkan aktivitas mereka masing-masing.


"Aku masih gak yakin kalau Alan punya masalah sama orang-orang diluar sana!" imbuh Abian yang sedang menyetir mobil dan satu mobil dengan Karina dan juga Auris.


"Kan polisi udah bilang.., dia itu habis minum-minum. Kemungkinan dia ada masalah!" sahut Karina.


"Aku tau Alan itu gimana Rin.. Aku masih gak yakin!"


"Ya semoga aja polisi bisa cari kebenarannya. Kasusnya kan juga masih lanjut!" ucap Auris menenangkan Abian.


"Kita juga gak bisa menuntut banyak dari polisi! toh juga mereka udah berusaha kan?" lanjut Karina.


"Aku akan tetap cari cara apa pun itu supaya kita tau alasan dibalik meninggalnya Alan!" kata Abian.


"Oh iya, kayaknya mulai dari sekarang, kalian berdua harus berjarak. Aku gak mau ya kalau sampai kejadian kayak kemarin itu terjadi lagi. Orang-orang bisa makin curiga kalau kalian berdua terlalu dekat!" ingatkan Karina.


"Kita kan berusaha untuk terlihat profesional didepan orang-orang. Dengan begitu orang-orang malah gak akan curiga!" alasan Abian.


Auris hanya diam saja dan tidak berkomentar apa pun. Dirinya masih dirundung perasaan bingung, sudah ribuan kali rasanya dia berusaha untuk meyakinkan diri bahwa jangan sampai dihatinya terbuka ruang untuk seorang Abian. Dia selalu berusaha untuk menolak perasaan yang lebih antara dirinya dan juga Abian.


Sembari memperhatikan Abian yang sedang menyetir, jari manis Abian membuatnya merasa bahwa Abian benar-benar serius dengan ucapannya. Cincin pernikahan mereka masih melingkar sempurna dijari manis keduanya, dan parahnya, Karina tidak mengetahui itu.


Katanya cinta, tapi soal hal sekecil itu pun tidak diketahui oleh Karina. Bagaimana bisa Karina melewatkan hal yang satu ini. Apakah Karina benar-benar mencintai Abian atau tidak?.


****


Saat jam makan siang, Auris berada di kantin bersama Amanda. Mereka mengobrol dan seperti biasa membicarakan banyak hal mengenai keluarga BARA. Ketika itu, Jia juga berada disana dan itu adalah kesempatan yang baik bagi Auris untuk bertanya.


"Gue duluan ya!" ucap Amanda dan membiarkan Auris untuk leluasa berbicara dengan Jia.


Auris membawa makanannya pindah satu meja dengan Jia. Lalu dia pun memulai pembicaraan mereka.


"Auris? aku tebak, pasti ada yang mau kamu omongin kan?" tebak Jia.


"Ada sih, tapi saya gak yakin kalau kamu mau jawab!"


"Kamu temen saya, pasti saya jawab!"


"Kamu tau kan soal pemberitaan kemarin?" tanyanya.


"Iya.. Kenapa?"


"Saya.. Saya bukannya menuduh atau apa pun, tapi Jia.. Apa kamu yang udah nyebarin foto-foto itu?"


"Apa? aku? kamu bercanda Auris? buat apa aku ngelakuin itu semua? kamu curiga sama aku?"


"Bukan gitu Jia.. Tapi, cuma kamu yang tau. Saya juga berharap kalau apa yang saya pikirkan ini salah!"


"Saya gak sejahat itu Auris!" jawab Jia dan menyudahi makannya lalu pergi meninggalkan Auris.

__ADS_1


Auris mengejar Jia dan mengikutinya dari belakang. Ketika Jia berjalan terburu-buru, tidak sengaja dia bertubrukan dengan ibu Sora.


"Ya ampun kamu ini! kalau jalan itu lihat-lihat dong!" omel ibu Sora.


Jia sangat tau siapa wanita yang saat ini ada dihadapannya, untuk beberapa detik Jia memandang lekat wajah ibu Sora dengan pandangan segan dan seperti merasa bersalah. Entah kenapa Jia merasa begitu. Dan lamunannya tidak berlangsung lama ketika Auris memanggilnya.


"Ma-maaf buk.." ucap Jia dan mengambilkan tas ibu Sora yang terjatuh dilantai.


"Maaf buk!" lanjut Auris yang sudah berada disebelah Jia.


"Kamu tau siapa saya kan? kalau jalan itu diperhatikan! kamu pikir tempat ini rumah kamu!" omel Ibu Sora lagi dan Auris membela Jia.


"Dia teman saya buk, dia gak sengaja. Kami mohon maaf buk!"


"Maaf-maaf! enak banget bilang maaf!" ketus ibu Sora dan pergi meninggalkan mereka.


Jia menarik tangan Auris dan membawanya kesudut ruangan untuk diajak bicara.


"Itu istrinya papa kan?" ucap Jia.


"Maafin perlakuan ibu Sora ya!" mohonnya.


"Aku kesal liatnya! jadi selama ini kamu tinggal di keluarga BARA, begitu perlakuannya?"


"Mama cuma butuh waktu lebih buat bisa Nerima saya!"


"Kamu dengar aku baik-baik Auris! kamu curiga kalau aku yang udah nyebarin foto itu kan? Itu bukan aku. Tapi sekarang aku bakalan buat hal yang sama seperti kejadian kemarin!"


"Maksud kamu?"


"Jia kamu ngomong apa sih?" ketus Auris.


"Kamu cuma perlu bersuara Auris, speak up! kamu istri Syah nya Abian. Kamu bisa kasih cucu laki-laki untuk pak Thosio. Semua orang tau kalau itu harapan terbesar dari keluarga BARA, dan kamu bisa wujudkan itu!" ujar Jia.


"Enggak Jia.. Perusahaan akan kacau karena masalah ini!"


"Mau sampai kapan? sampai kapan kamu harus diam dan gak dianggap begini? kamu bisa Auris. Sedangkan Aku, aku gak bisa! orang-orang gak akan percaya kalau aku juga anak pak Thosio. Cuma papa yang mengakui itu!" ucapnya dengan penuh rasa kekecewaan.


"Apa yang bisa kita perbuat? semuanya demi papa kan? kalau kita buka mulut, semua kesuksesan yang selama ini dengan susah payah papa raih, akan hancur dalam sekejap. Papa pasti malu!"


"Aku gak perduli Auris! kalau kamu gak mau, aku sendiri yang akan bereskan semua ini!" ungkapnya lalu pergi meninggalkan Auris.


Auris menarik napas dalam seakan tidak percaya dengan keadaan saat ini. Sesaat masih dalam keadaan melamun, Abian datang menghampirinya dan dengan begitu saja meraih tangan Auris lalu menggenggamnya.


"Kamu apa-apaan sih! lepasin!" Auris menarik tangannya dan melepaskan genggaman tangan Abian dari tangannya.


"Kamu kenapa? ada masalah?"


"Masalah? saya gak pernah merasa punya masalah! kamu yang punya banyak masalah!" ketusnya.


"Oh ya?"


Keduanya saling berbicara dalam posisi masih berjalan menuju ruangan mereka.


"Ada yang kamu lupakan Auris!" ingatkan Abian.

__ADS_1


Auris meliriknya dengan penasaran.


"Gaun yang saya kasih. Nanti malam kamu gak bisa menolak! saya udah siapkan semuanya!"


"Saya sibuk!"


"Kamu lupa lagi Auris.."


"Apa lagi?"


"Saya sudah bantu kamu keluar dari hutan! kamu gak ingat?"


"Gak ada permintaan lain?"


"Gak ada tawar menawar nona Auristela.."


"Hemm oke!"


"Jangan bilang kalau kamu juga lupa satu hal lagi."


"Apa?"


"Kamu lupa kan kejadian pada waktu malam kita didalam hutan?"


"Apa?"


"Kamu yakin gak ingat? ooh iya, kamu kan tidur waktu itu." jawabnya dan semakin membuat Auris merasa penasaran.


"Apa Abian? apa yang gak saya tau?" tanya Auris dengan nada pelan agar orang-orang tidak mendengar obrolan mereka.


"Saya lupa, tadi office girls buatin saya kopi. Belum diminum, saya duluan ya!" ucapnya dan melangkah lebih cepat menuju ruangannya.


Auris merasa geram dengan tingkah Abian, dengan cepat dia berjalan mengikuti Abian masuk kedalam ruangannya.


"Abian!" panggil Auris dan langsung mengunci pintu.


"Kenapa dikunci? jangan buat saya berpikiran yang bukan-bukan Auris!" goda Abian.


"Abian saya tanya! apa yang kamu lakuin pas waktu saya tidur?" tanya Auris dengan wajah serius sedangkan Abian semakin menjahilinya.


"Makanya.. Kalau tidur itu jangan terlalu pulas, jadinya kamu gak tau kejadian malam itu kan?"


"Abian! jangan bercanda!"


"Kamu istri saya Auris.. Saya gak butuh izin apa pun untuk melakukan apa yang saya mau, selama itu tidak menyakiti kamu. Iya kan?"


"Saya pikir kamu udah berubah! walaupun saya istri kamu, tapi saya gak bisa Abian. Harusnya kamu tau itu!" pungkas Auris dengan nada tinggi lalu sepasang bola mata itu tampak berkaca-kaca.


"Kenapa? karena kamu gak cinta sama saya? karena kamu belum punya perasaan apa pun terhadap saya?" tanyanya dan kini keduanya saling bertatapan serius dengan posisi tubuh yang berhadapan dan sangat dekat.


"Saya berhak atas diri kamu!" tegaskan Abian lalu tanpa izin memeluk tubuh Auris dan mendekapnya sangat erat.


Auris mendorong tubuh Abian dengan kuat dan mencoba melepaskan pelukannya, tapi itu tidak menghasilkan Apa pun. Abian mengusap lembut kepala Auris dan mencoba menenangkannya.


"Kamu bohong Auris! kamu bukan hanya tidak mencintai saya, kamu juga menyimpan rasa takut. Kamu takut kepada saya!" ucap Abian sedangkan Auris semakin dibuat menangis sejadi-jadinya dengan perkataan Abian yang memang benar.

__ADS_1


"Kalau kamu masih takut, itu artinya, saya masih tetap seorang Abian seperti delapan tahun yang lalu!" lanjutnya dan masih memeluk erat Auris.


__ADS_2