Istri Rahasia Tuan CEO(Secret Wife Mr.CEO)

Istri Rahasia Tuan CEO(Secret Wife Mr.CEO)
Episode 39:Pernikahan Yang Sebenarnya


__ADS_3

Ting Tong


Suara bel rumah berbunyi, tamu yang tidak diharapkan sebentar lagi akan masuk kedalam rumah dan mungkin akan menciptakan kegaduhan atau pun suasana yang kurang baik.


"Siapa ya? gak mungkin Thomi kan? cepet banget!" pikir Amanda lalu dia pergi untuk membukakan pintu sedangkan Auris dan Ken masih berada diruang tengah sembari menonton tv.


"Abian?!" Amanda melotot karena terkejut.


"Saya mau ketemu Auris!" ucap Abian lalu menerobos masuk begitu saja.


"Om baik?!!" teriak Ken sangat senang dan akan menghampirinya. Tapi Auris langsung menahannya.


"Ken.. Jangan!"


Ken hanya menatap serius ibunya sembari berpikir, kenapa selalu begini? kenapa harus menghindari om baik?.


Anak kecil itu memang tidak bisa membantah perkataan ibunya, dia langsung mendengarkan perintah itu lalu tetap berada disebelah ibunya.


"Auris cukup! jangan bersikap begini! saya juga berhak buat Ken! Saya ayahnya, kamu harus terima itu!" tegaskan Abian dengan nada serius.


Ken kembali melirik kearah ibunya dan juga ayahnya.


"Papa?" ucap Ken pelan.


"Ken.. Iya sayang, ini papa!" jawab Abian dan langsung meraih tangan Ken lalu memeluknya dengan erat.


Sedangkan Thomi dan Amanda hanya bisa menjadi penonton disana.


"Papa?"


"Iya sayang.."


"Abian.. Pergi dari sini sekarang juga!" perintah Auris masih dengan nada pelan agar Ken tidak merasa takut.


"Saya akan bawa Ken!" ucapnya dan itu membuat Auris semakin hilang akal.


Amanda mulai paham bahwa akan terjadi perdebatan hebat sebentar lagi, karena itu dia membawa Ken masuk kedalam kamar.


"Ken.. Kamu disini sebentar ya! jangan kemana-mana.." perintah Amanda.


"Tante.. Om baik itu beneran papanya Ken?" tanyanya dengan ekpresi wajah yang sangat polos. Amanda sungguh tidak ingin mengecewakan bocah kecil itu, dan akhirnya Amanda mengakui itu juga.


"Iya sayang.."


"Kenapa papa marah-marah sama mama?"


"Ken.. Bukan begitu sayang.. Nanti kalau udah waktunya Ken pasti tau! sekarang.. Ken disini dulu ya!"


"Hemm.." Ken mengangguk tanda setuju.


"Dimana akal sehat kamu Tuan Abian? membawa Ken? kamu pikir kamu siapa? ayahnya? terus dimana pertanggung jawaban kamu selama ini haa?" tanya Auris semakin marah.


"Auris! kamu yang pergi meninggalkan saya! kamu gak kasih saya kesempatan apa pun untuk bisa menebus kesalahan saya. Kamu pikir saya sengaja mencampakkan kamu? kamu ingat sekali lagi, apa saya yang menyuruh kamu pergi?"


Auris terdiam dan kembali teringat dengan siasat ibu Sora dan Karina yang pernah dia ketahui pada saat delapan tahun yang lalu.

__ADS_1


"Saya pergi karena saya tau rumah itu bukan tempat yang baik untuk saya!"


"Harusnya kamu tanya ibu kamu sendiri Tuan Abian!" jawab Amanda yang menyahut tiba-tiba.


"Harusnya kamu tanya kenapa Auris bisa pergi saat itu! seharusnya kamu tanya sahabat kamu, kenapa Auris bisa pergi disaat dia butuh seseorang yang paling berhak atas anaknya!" lanjutnya lagi.


Abian kini melirik Thomi dan bingung.


"Ibu Sora yang menginginkan semua ini Abian.. Kamu pikir saya pergi hanya karena saya membenci kamu? kamu salah besar!"


"Kenapa baru sekarang?"


"Kenapa baru sekarang?" Auris sedikit terkekeh.


"Apa saya harus kembali pada seseorang yang tidak lagi mengharapkan saya? untuk apa saya menjelaskan sesuatu pada seseorang yang tidak memiliki kepercayaan terhadap saya? pergi tinggalkan saya dan Ken sekarang juga!" perintah Auris.


"Auris! Ken anak saya!"


"Saya tau! tapi bukan sekarang waktunya Ken harus tau semua ini! dia masih terlalu kecil Abian.."


"Abian udah lah.. Ayo kita pergi!" ajak Thomi menenangkan.


"Sampai kapan Auris? sampai saya kehilangan akal sehat saya? sampai Ken dewasa dan dia berpikir kalau saya laki-laki brengsek seperti yang kamu pikirkan?"


Auris semakin kesal dengan ucapan Abian. Dia mendekat pada Abian dengan memandanginya dengan pandangan lekat.


"Saya gak seperti kamu! saya bukan kamu! saya selalu menggambarkan kamu kedalam pikiran Ken dengan sosok seorang ayah yang dia harapkan Abian! gak sedikit pun keburukan kamu yang dia ketahui! kalau kamu masih berpikir bahwa saya gak cukup baik buat Ken, lebih baik kamu pergi dan jangan berharap bisa menemui saya dan anak saya lagi!" Auris menarik tangan Abian dan membawanya sampai keluar pintu.


"Auristela! kasih saya kesempatan untuk membuktikan bahwa saya berhak untuk Ken!"


"Buktikan! buktikan sekarang juga kalau kamu mampu untuk itu!" tantang Auris.


"Abian Lo mau kemana?" teriaki Thomi sedangkan Abian sudah melaju kencang dengan mobilnya.


"Ikutin Abian sayang! aku takut terjadi apa-apa sama Auris!" perintah Amanda lalu Thomi mengikuti Abian dari belakang.


"Bawa papa sekarang juga!"


Tulis Abian didalam chat WhatsApp nya lalu mengirimnya pada sekertarisnya. Abian meminta untuk menyiapkan segala keperluan dan data-data untuk menikah digereja. Dia ingin ayahnya menjadi saksi disana. Abian tidak perduli dengan apa pun, hari ini dia akan menikahi Auristela.


"Kita mau kemana?" tanya Auris kebingungan.


"Nanti kamu juga pasti tau!"


Abian masih fokus menyetir dan tidak selang berapa lama kemudian, mereka sampai ditempat.


Auris terdiam karena bingung, kenapa Abian membawanya ketempat ini?.


Abian mengandeng tangan Auris dan membawanya masuk kedalam. Tidak sulit untuk melangsungkan ritual pernikahan sebab mereka beragama yang sama.


Saat didalam sana, ternyata Tuan Thosio juga sudah hadir disana.


"Auris!"


Tuan Thosio langsung memeluk Auris. Seperti seorang anak dan ayah yang sudah lama terpisah, keduanya begitu saling merindukan.

__ADS_1


"Apa semua ini pa?" Auris masih tidak mengerti dengan perilaku Abian.


Tuan Thosio meraih tangan Auris lalu menggenggamnya dengan erat sembari memasang wajah dengan penuh harap.


"Saya tau begitu banyak tuntutan selama ini, begitu banyak pengorbanan yang sudah kamu lakukan untuk keluarga saya. Dan sekali lagi Auris, menikahlah dengan Abian!"


Auris melepas pagutan tangannya dengan Tuan Thosio sembari merubah posisinya sedikit menjauh dari kedua pria itu. Sedangkan seorang pendeta sudah siap untuk membantu keduanya melakukan proses pernikahan.


Dilain tempat, Thomi sudah berhenti tepat didepan gedung gereja. Dia masih keheranan dan bingung, kenapa Abian membawa Auris ketempat itu.


"Ya Allah.. Gak ngapa-ngapain kok didalam, cuma penasaran aja sama Abian. Hamba janji gak akan aneh-aneh.." ucap Thomi sangat gugup, dan dengan terpaksa dia masuk kedalam sana untuk menemui Abian.


"Saya hanya tidak ingin jika kamu pergi dan tidak mendapatkan pertanggung jawaban dari keluarga saya. Izinkan saya memperbaiki semuanya Auris!" mohon Tuan Thosio.


"Ken butuh Ayahnya, sebesar apa pun rasa kecewa kamu terhadap saya, tetap Ken gak berhak untuk merasa kehilangan saya Auris. Terserah, benci saya selama apa pun yang kamu mau. Tapi saya juga berhak buat ken! biarkan Ken hidup dengan keluarga yang lengkap!" sambung Abian.


Abian menatap lekat Auris lalu meraih tangannya dan bersamaan dengan itu menggandengnya. Abian berjalan menuju mimbar dengan langkah yang bersamaan dengan Auristela.


Dan entah apa yang terjadi pada Auris, dia menjadi pendengar yang baik untuk semua ucapan Abian. Dia memikirkan kembali bahwa benar, Ken sangat membutuhkan sosok seorang Ayah.


Apa yang seharusnya Auris lakukan sekarang?


Apa kah kembali kerumah itu adalah keputusan yang baik?


Pendeta sudah membacakan do'a-do'a lalu diikuti dengan janji suci pernikahan dari Abian yang tanpa disadari sudah berlangsung begitu saja.


"Silahkan untuk mempelai wanita!"


ucap pendeta dan seketika menghancurkan lamunan Auris. Abian menatap lekat sepasang bola mata Auris sembari mengusung senyum tipis.


"Percaya lah Auris!"


Seakan Abian berkata dengan penuh tanggung jawab hingga tidak memberikan Auris kesempatan untuk berpikir menolaknya.


Abian cukup terkejut ketika Auris benar-benar mengucapkan janji suci pernikahan dengan suara yang lantang dan percaya diri.


"Apakah salah satu dari kedua belah pihak ada yang merasa keberatan? atau adakah yang merasa bahwa semua ini dipaksakan?" pastikan pendeta.


"Tidak!" jawab Auris dengan tegas.


Lalu setelah itu proses pemasangan cincin dilakukan. Dan setelah itu selesai dilangsungkan, Abian mencium kening Auris dan setelah itu berpelukan.


"Permainan apa lagi ini Abian? kalau begitu, biarkan saya memperlihatkan bagaimana peran saya sebenarnya!" bisik Auris disebalik telinga Abian.


Tanpa gaun pengantin yang mewah, tanpa dihadiri oleh banyak orang dan kerabat, keduanya menikah dan menjadi pasangan yang syah dalam agama dan juga negara.


...🔥🔥🔥...


Ibu Sora, Karina, dan semua orang dirumah tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Abian datang bersama dengan Auris dengan tangan yang sudah saling bergandengan. Abian tidak melepaskan genggaman tangan mereka meski ibu Sora sudah memasang wajah yang menyeramkan.


"Abian! apa-apaan ini? kenapa perempuan ini kamu bawa kesini?" ibu Sora terlihat begitu marah.


"Abian dan Auris udah menikah ma! sekarang, Auris juga menantu mama. Jadi Abian harap, mama bisa bersikap jauh lebih baik lagi sama Auris!"


"Menikah? jangan bercanda kamu Abian?!" sahut Karina.

__ADS_1


"Apa kamu pikir menikah itu suatu candaan? apa pun tanggapan semua orang dirumah ini, mulai sekarang, Auris juga berhak untuk tinggal dirumah ini!"


jawab Abian lalu membawa Auris masuk kedalam kamarnya. Dan tanpa perduli dengan bagaimana semua orang memperhatikan mereka.


__ADS_2