
Abian dan Auris masih berada diatas pohon guna menghindari beberapa hal yang tidak diinginkan. Hari semakin siang sedangkan mereka juga belum memiliki keberanian untuk bergerak dari posisi mereka.
Apa lagi, Abian baru menyadari bahwa ia kehilangan handphone yang saat ini paling mereka butuhkan. Parahnya lagi, handphone milik Auris juga tidak bisa digunakan.
"Mau sampai kapan kita diatas sini?" tanya Auris dan dengan berani turun kebawah.
"Auris naik! kalau anjing itu datang lagi gimana? bahaya!!"
"Udah pergi!" jawabnya dan pergi dengan kesulitan berjalan.
Abian juga ikut turun dan berjalan bersama dengan Auris.
"Padahal tadi itu saya gak jauh loh masuk kedalam hutan ini, tapi gak tau kenapa tiba-tiba jadi jauh begini!" dengus Auris menjelaskan.
Abian membantu Auris berjalan dengan memegangi tangannya. Dan ketika itu tubuh Auris begitu dingin, wajahnya juga terlihat pucat, tapi dia sendiri malah merasa panas dan gerah. Kemungkinan itu terjadi karena luka pada kakinya. Pasti sangat sakit, tapi Auris masih tetap bisa sekuat itu.
"Kita berenti disini dulu!" ucap Abian dan mereka duduk dibawah pohon besar dan rindang.
"Badan kamu dingin banget!"
"Enggak.. Gerah banget malah!" jawab Auris.
"Dingin banget ris.. Jangan dipaksa jalannya.." nasehati Abian.
Keduanya memutuskan untuk beristirahat disana. Meski perut sudah terasa lapar, tenggorokan mulai terasa haus, tapi mau bagaimana lagi, jika memaksakan kondisi Auris malah akan berakibat buruk. Tidak terasa tenyata hari sudah hampir gelap dan mereka masih berada didalam hutan.
"Hahhh.. Kita gak mungkin maksa jalan sekarang, ini gelap banget!" pungkas Abian.
"Kamu takut?"
"Takut? saya gak takut Auris! saya gak takut, lagian.., kalau kita maksa jalan malam-malam begini, takutnya ada binatang buas atau apa pun itu gimana?"
"Ya udah deh kita disini aja!" jawab Auris.
"Handphone kamu memang mati beneran? sama sekali gak bisa hidup?" tanya Abian memastikan.
Auris kembali mengecek handphonenya dan mencoba menghidupkannya kembali. Dan tiba-tiba handphone itu hidup kembali walaupun dalam kodisi baterai yang krisis. Ketika ingin membuat panggilan pun sudah tidak bisa karena tidak ada signal disana.
Tapi tidak apa, setidaknya ada sedikit penerangan dari senter handphone.
"Saya minta maaf.." ucap Auris dengan tulus.
"Maaf? buat apa?"
"Harusnya saya gak keluyuran diluar sendirian." jelaskannya merasa bersalah.
"Oke.. Saya akan minta pertanggung jawaban atas keteledoran kamu, tapi gak sekarang. Nanti selepas kita keluar dari tempat ini!"
Keduanya sempat tidak saling bicara untuk beberapa waktu karena sudah kehabisan topik pembicaraan. Auris bahkan berselonjor ditanah yang posisinya berjauhan dengan Abian. Dari kejauhan Abian memperhatikan gelagat Auris yang tampaknya tidak nyaman dengan kondisinya.
Luka dikakinya membuat kondisi tubuhnya tidak baik. Auris menggigil kedinginan dan beberapa kali tertangkap oleh pandangan Abian sedang memegangi kakinya yang kemungkinan nyeri akibat luka itu.
__ADS_1
Abian bergeser dari posisinya dan duduk lebih dekat disebelah Auris. Sembari mengecek suhu badannya dengan memegang kening Auris. Keningnya begitu panas, tapi seluruh tubuhnya tampak dingin dan menggigil.
Abian merangkulkan tangannya kepundak Auris dan mendekap tubuhnya hangat dengan pelukannya.
"Abian.." ingatkan Auris hendak menolak tapi Abian memaksa demi kebaikan Auris.
"Saya gak akan macam-macam! jangan gengsi Auris! saya cuma mau membantu!" ungkap Abian dan Auris pun mendengarkannya.
"Kenapa sih kamu selalu tolak saya mentah-mentah? saya kan gak ada niat buruk!" dengus Abian dan Auris tidak menjawab apa pun.
Rasanya tubuh itu begitu dingin dan bercampur dengan hawa panas dari dalam. Rasa nyeri dikakinya juga masih terasa kuat. Auris dan Abian tidak banyak bicara meski saat ini Auris tengah dalam pelukannya.
Dan ketika itu begitu banyak hal yang tiba-tiba ingin Auris tanyakan, tapi pertanyaan mana yang kira-kira tidak akan menyinggung perasaan Abian?.
"Saya boleh tanya sesuatu?" tanyanya tiba-tiba dan tentu pertanyaan itu membuat Abian senang.
"Astaga.. Akhirnya kamu ngomong juga, saya kira tadi kamu pingsan!" goda Abian.
"Saya serius.." ucapnya dengan suara yang tidak penuh energi lagi.
"Oke.. Saya bercanda, ya udah tanya!"
"Tapi kamu harus jujur dan jawab semuanya!"
"Oke.."
"Clara?"
Deg
"Kamu tau dia?" tanya Abian balik.
"Saya gak akan tanya masa lalu dan permasalahan kamu sama dia, karena saya udah dengar banyak cerita yang saya kira itu cukup membenarkan cerita tentang kalian berdua. Tapi.."
"Tapi apa?"
"Tapi Abian.. Apa kamu membencinya?"
"Apa saya harus jawab?"
"Saya mau mendengar semuanya dari kamu!"
"Auris.. Clara? Clara itu teman saya dari kecil, sahabat, cinta pertama, dan dia impian saya. Sewaktu saya tau kalau saya dikhianati, saya dibohongi, saya marah Auris. Sangat marah! tapi saya gak pernah sekalipun punya rasa benci buat dia. Saya gak bisa!" jelaskan Abian dengan sungguh-sungguh.
"Kenapa?"
"Saya melakukan hal yang sama kayak kamu!"
"Saya?"
"Ya.."
__ADS_1
"Apa?"
"Sebenarnya saya mau jawab, tapi saya takutnya nanti kamu bilang kalau saya lagi godain kamu!" sindir Abian.
"Saya serius Abian.. Apa? kenapa kamu gak punya rasa benci kedia?" tanya Auris semakin penasaran.
"Saya mencoba memaafkan! saya berdamai dengan masa lalu itu. Saya rasa kamu juga tau kalau itu gak gampang, tapi bukan berarti gak bisa! saya gak pernah sedikitpun membenci Clara, saya hanya membenci pengkhianatannya!"
"Kamu masih cinta sama dia?" tanyanya dan Abian tertawa.
"Cinta? buat apa? saya udah punya kamu, kamu lebih dari cukup. Cinta saya buat kamu seutuhnya!" goda Abian dan membuat Auris kesal namun tidak bisa berkomentar apa pun.
.......
Dilain tempat Thomi menjadi sibuk mencari keberadaan Abian. Seharusnya dia memberi kabar jika memang ingin menginap di villa. Tapi sampai hari ini dia tidak juga memberi kabar apa pun.
Apa lagi saat ini sedang terjadi sesuatu yang tidak baik. Entah siapa yang melakukannya, tapi tiba-tiba saja, foto Abian bersama Auris saat sedang berada di halte bus pada malam itu, ada yang memotretnya.
Foto itu disebarkan begitu saja diberbagai sosial media. Tentu itu menjadi sorotan pagi para warga net. Semua orang bertanya-tanya tentang siapa seorang wanita yang bersama dengan Abian pada malam itu. Setiap orang punya porsi mereka masing-masing dalam berimajinasi, ada sebagian orang yang berpikiran positif tapi ada juga yang berasumsi sangat jauh. Banyak orang yang berasumsi bahwa Abian Kaindra Bara telah berselingkuh.
"Masak iya sih pak Abian selingkuh?" ada banyak orang dikantor yang menggunjing Abian dan Auris.
"Enggak.. Kan pak Abian sama Auris lagi pergi ketemu klien dibogor!" jelaskan beberapa karyawan yang lain.
"Iya.. Tapi ngapain cobak duduk berduaan dihalte, pas hujan lagi. Padahal kan ada mobil!"
"Dibukain lagi pintu mobilnya pas Auris mau masuk! kalian semua gak liat foto-foto itu? iih aneh banget tau gak!"
-
🍁🍁🍁
"Saya gak tau den Thomi.. Den bian dari tadi pagi keluar buat cari neng Auris tapi belum balik juga! handphonenya juga gak bisa dihubungi!" beritahu bik Imah pada Thomi yang ternyata menyusul ke villa.
Tidak ada pilihan lain selain menunggu, karena tidak ada tujuan untuk mencari keberadaan Abian dan Auris.
Setelah melewati malam yang panjang dan lumayan menegangkan, Auris dan Abian akhirnya bisa keluar dari dalam hutan.
Abian dengan kaki telanjang tanpa alas apa pun, menggendong belakang Auris dipunggungnya. Keduanya sangat senang karena bisa keluar dari dalam hutan.
"Abian.. Kalian dari mana aja? kenapa Auris?" tanya Thomi dan panik.
Abian menceritakan semuanya sembari mengobati luka Auris dan setelah itu memanggil Dokter.
Setelah kaki Auris mendapat penanganan yang tepat dan baik, Thomi pun menjelaskan keadaan diperusahaan.
Ketika mendengar itu, Auris tidak sengaja berpikir bahwa itu mungkin saja perbuatan Jia. Tapi untuk apa Jia melakukan itu. Tapi sampai saat ini, orang luar yang mengetahui hubungan antara dirinya dan Abian, hanya Jia dan ibunya. Karina? tentu tidak mungkin. Untuk apa Karina melakukan itu, bukankah nama baik keluarganya sendiri juga akan tercemar. Atau mungkin hanya orang iseng saja?.
"Kita bisa balik sekarang dan urus semua itu!" saran Auris tapi Abian menolak.
"Kaki kamu masih sakit, kita tunggu sampai besok!"
__ADS_1
"Kamu harus klarifikasi masalah ini Abian! perusahaan bisa kena imbasnya, gak ada satu pun orang luar yang boleh tau tentang hubungan kita!" tegaskan Auris dan Abian pun menyetujuinya.
Ketiganya bersiap-siap untuk pulang kejakarta. Sedangkan Thomi menyiapkan segala keperluan untuk melakukan klarifikasi didepan para wartawan. Agar keadaan kembali membaik dan orang-orang tidak akan berpendapat buruk lagi dengan Abian.