Istri Rahasia Tuan CEO(Secret Wife Mr.CEO)

Istri Rahasia Tuan CEO(Secret Wife Mr.CEO)
Episode 16:Kecewa


__ADS_3

1 Bulan Berlalu


Auris benar-benar tidak kembali bekerja diBARAMARKET sedangkan Evans bertanya-tanya kenapa kakaknya tidak masuk kerja lagi.Tempo hari yang lalu dia bilang dia mengambil cuti,namun sampai saat ini masih belum juga kembali masuk kerja.


"Terus gimana cara kakak bayar uang pinjaman dari pak Thomi?"ingatkan Evans lagi saat mereka sedang sarapan.


"Memangnya kerjaan cuma ada di BARAMARKET doang?"


"Santai aja lah Van..Yang penting sekarang itu kamu,Aqilla,dan Rani!gak usah mikirin apa yang jadi tanggung jawab kakak!"jelaskannya.


"Aqilla harus makan yang banyak biar cepat gede biar bisa gantiin kakak!"ucapnya tidak sengaja dan membuat Evans menghentikan suapan nasi yang akan masuk kedalam mulutnya.


"Gantiin apa kak?"


"Emm itu..Maksud kakak gantiin..Gantiin kakak buat ngomelin kamu kalau kamu pulang kerumah telat!kakak kan mau kerja ditempat lain,nah otomatis kakak bakal sibuk kan.Dan kamu butuh orang yang harus stay buat ngomelin kamu!"jawabnya beralasan.


"Emang harus banget ya diomelin?"


Suasana dipagi hari itu dipenuhi dengan gelak tawa dari seorang kakak beradik yang terlihat sangat bahagia dengan kehidupan sederhana mereka.


Apa lagi yang Auris butuhkan selain kebahagiaan adik-adiknya,rasanya sudah sangat cukup melihat adik-adiknya baik-baik saja,sehat,hidup dengan baik,dan juga bisa selalu tersenyum.


Auris tahu betul jika nanti dia sudah tidak ada,pasti adik-adiknya akan sangat merasa kehilangan.Tapi itu sudah takdirnya,ia sudah pasrah dengan keadaan yang ada.Bahkan saat ini dia tidak perduli dengan kehamilannya,dia harus tetap menepati janjinya kepada Dokter Danie dan Dokter Yuna.


"Kakak mau pergi keluar sebentar,Rani bisa jagain Aqilla kan dirumah?"pinta Auris yang akan pergi menemui Dokter Yuna.


"Ini kan hari Minggu kak,aku juga bisa kalik jagain Aqilla!"sahut Evans.


"Kakak mau kemana?"tanya Rani dengan bahasa isyarat.


"Kamu lupa ya?"tanya Auris lalu beberapa saat dia menyanyikan lagu ulang tahun untuk Rani.


"Ini hari ulang tahun Lo?"kejutkan Evans.


"Kakak mau beli kue..Jadi kalian tunggu dirumah ya..!"ucap Auris lalu memberikan kecupan di kening Rani dan setelah itu memeluknya.


"Semoga bahagia selalu sayang.."Ucap Auris dengan tulus lalu Rani memeluknya.


"Ya udah kakak pergi dulu ya!"


Auris pergi menemui Dokter Yuna dan Dokter Daniel disalah satu restoran tempat biasa ia dan Dokter Yuna bertemu.Sebelum dia mampir ketoko kue,disana mereka membicarakan hal mengenai operasinya yang seharusnya akan segera dilakukan.Mengingat Dokter Reza juga akan secepatnya kembali dari London,jadi..,operasi sudah benar-benar harus disiapkan.


"Saya gak yakin Auris!"keluh Dokter Yuna.


"Gak yakin gimana sih Dok..?saya aja gak ada masalah!"


"Ga usah ngacok deh kamu!bukan cuma nyawa kamu yang mau dipertaruhkan,tapi bayi itu!"


"Saya gak perduli sama sekali Dok!lagi pula ini bukan sesuatu yang saya inginkan.Saya gak mengharapkannya sama sekali!"tegaskan Auris.


"Tapi Auris..Ini tetap salah."sahut Dokter Daniel.

__ADS_1


"Salah?terus apa yang benar?rencananya dibatalkan?terus gimana sama Randy,pendonor mana yang bisa didapat secepatnya?dan kalau pun ada,gimana caranya saya bisa bayar atas semua kebaikan Dokter selama ini kesaya?"ucap Auris dan membuat Dokter Yuna dan Dokter Daniel tidak bisa berucap apa pun.


"Ini sudah menjadi tanggung jawab dan janji saya!"lanjutnya lagi.


"Oke.."jawab Dokter Daniel tanpa berkata apa pun.


Karena dia sangat faham situasi sekarang.


"Keadaan Randy gak begitu baik sekarang,dia udah rawat jalan dan memang harus dapat penanganan khusus.Saya harap berita tentang kehamilan kamu jangan sampai dia ketahui.Bisa-bisa dia menolak menerima jantung kamu karena kamu lagi mengandung!"beritahu Dokter Yuna.


"Kami akan tetap berusaha cari pendonor yang lain Auris!"


"Kenapa kamu gak minta pertanggung jawaban Abian?bagaimana pun juga dia harus bertanggung jawab untuk ini semua!"pungkas Dokter Yuna.


"Dia gak perlu tau ini Dok!"jawab Auris dengan singkat.


Setelah pertemuannya dengan Dokter Daniel dan istrinya,Auris mampir disebuah toko kue.Disana dia harus antri untuk bisa mendapatkan kue yang dia mau.


Sedangkan dilain tempat,tepatnya diruamah Auris,


Evans sedang berbincang-bincang dengan Rani.Rasanya selama ini dia tidak begitu akrab dengan wanita yang seusianya itu.


"Gue mau tanya Ran!"ucap Evans lalu duduk dikursi kayu yang berada didepan teras rumah bersama Rani.


"Maaf ni ya sebelumnya,kan Lo tuna wicara kan ya?tapi kok bisa denger?setau gue kalau orang yang tuna wicara pasti tuna rungu juga.Eeh tapi gue gak maksud apa-apa loh,cuma tanya doang!"


Rani menanggapi pertanyaan Evans dengan senyuman manisnya hingga membuat Evans jadi salah tingkah.


Lalu kemudian Rani menjawab pertanyaan Evans dengan bahasa isyarat.Menggunakan tangan dan ekspresi wajahnya agar bisa dipahami oleh Evans,namun sayangnya Evans belum cukup faham dengan bahasa isyarat hingga dia harus menggunakan pulpen dan kertas.


Evans menyuruh Rani menulis apa yang ingin dia katakan dikertas yang sudah disiapkan Evans.


"Dulu pas masih kecil aku pernah operasi karena ada masalah di pita suara.Setelah operasi ternyata gak ada perubahan dan akhirnya aku kehilangan suara ku seutuhnya dan gak bisa ngomong lagi!"


Rani menceritakan semua kejadian yang menyebabkan kenapa dia tidak bisa bicara sekarang ini.


Sedangkan dilain tempat Auris masih mengantri ditoko kue.


"Ya ampun lama banget sih!"gerutunya kesal.


Saat itu tiba-tiba saja ada seorang pria jangkung memakai sweater Hoodie hitam,topi hitam dan juga lengkap dengan masker hitam yang hampir keseluruhan menutupi wajahnya.


"Woy!ini antrian gue!"pekik Auris lalu mendorong tubuh pria itu dan membuatnya terjatuh kelantai.


"Pak Abian.."dengus Auris saat mengetahui pria yang menyerobot antriannya itu ternyata adalah Abian.


Dengan cepat Abian kembali memakai topinya dan membenahi maskernya agar tidak diketahui oleh orang-orang yang ada disana.Mengetahui bahwa itu Abian,dengan cepat Auris pergi menghindarinya.


"Auris tunggu!"


Abian spontan menarik pergelangan tangannya dan melontarkan beberapa pertanyaan serius yang tidak bisa dijawab oleh Auris.

__ADS_1


"Jangan menghindari saya Auris!apa susahnya sih jawab pertanyaan saya?"omel Abian sedangkan Auris masih memaksa melepas cengkraman tangan Abian dari pergelangan tangannya.


"Lepasin tangan saya pak atau saya teriak sekarang!"ancamnya.


"Kamu boleh aja menghindari saya,tapi kenapa Thomi juga?kenapa kamu gak bisa kasih alasan atas pengunduran diri kamu dari perusahaan?atau jangan-jangan kecurigaan Thomi itu benar ya?"tebak Abian asal.


"Kecurigaan apa sih?memangnya apa peduli pak Abian haa?"erangnya marah.


"Jangan buat saya jadi over thinking Auris!kamu beneran hamil ya?"tanya Abian dengan sedikit memelankan suaranya.


Auris terkekeh kecil menutupi kebenaran.


"Hamil?jangan ngacok deh pak!lepasin tangan saya!"perintah Auris dengan tegas tapi Abian masih tidak melepas cengkramannya.


Auris yang sudah hilang kesabaran,spontan saja menepis topi dan membuka paksa masker Abian lalu meneriaki namanya.


"Abian Kaindra Bara?ya ampun gue ketemu sama Abian woy!!minta fotonya dong..!"pekik Auris dengan sengaja.


Semua orang yang ada disana tiba-tiba memfokuskan pandangan mereka kearah Auris dan diwaktu yang bersamaan orang-orang mulai menyerbu kearah Auris saat melihat bahwa disana ada Abian.Semua orang mengeluarkan smartphone mereka untuk siap siaga ingin berfoto dengan Abian,dan karena melihat kegilaan orang-orang tadi,akhirnya Abian memilih untuk pergi dari sana dan segera melaju kencang dengan mobilnya.


"Huuh akhirnya..!"dengus Auris merasa lega.


"Yaahh kok pergi sih..?"keluh karyawati toko kue yang juga fans berat Abian Bara.


"Mbak?saya mau pesan loh!"ucap Auris dengan serius.


"Ya ampun mbak kok telat sih tadi treaknya?mbak udah dapat fotonya prince Abian gak tadi?"tanyanya penasaran.


"Kok malah ngomongin Abian sih mbak?saya mau pesan kue bukan mau nge-ghibahin cowok gak jelas!"


"Gak jelas dari mananya sih mbak?semua orang juga tau kalau prince Abian itu dari keluarga yang jelas dan hebat!mbaknya ngacok kalo ngomong!"


"Astaga..terserah mbaknya deh!saya pesan kue ulang tahun yang kayak baris kedua itu ya.Tulis nama Rani diatasnya nanti!"pinta Auris dan mengakhiri perdebatan mereka.


Kembali keperbincangan Evans dan Rani.Keduanya masih asik bercerita dan bergurau lewat tulisan disecarik kertas.


"Ooh jadi Lo bisa nulis karena sering ngintip anak-anak disekolah pas lagi belajar!"ucap Evans dan terkekeh.


"Terus elo kenal sama kak Auris memang udah lama?itu tuh gimana ceritanya?"tanya Evans dan Rani ingin menuliskannya dilembaran buku yang dipegang Evans.


Namun pada saat akan menuliskannya,ternyata tinta pulpen yang dia pakai sudah habis.


"Yaah habis?kayaknya kak Auris punya deh!gue biar cari dikamar ya dulu!"


Evans pergi kekamar Auris dan mencari pulpen yang masih bisa digunakan.Tapi pada saat tengah mencari,tidak sengaja Evans melihat hasil USG kehamilan Auris tergeletak dilantai dibawah meja.


"Ini kan hasil USG,buat orang hamil gak sih?iya loh bener gue tau ni.Tapi..,punya siapa?"gumam Evans masih belum menyadari.


Evans membolak-balik gambar itu lalu tidak sengaja melihat nama kakaknya tertulis disudut atas gambar.


"Gak mungkin!"erangnya tidak percaya.

__ADS_1


Sepasang bola matanya memerah dan berkaca-kaca seakan masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat.


__ADS_2