
Dokter keluar dari ruang rawat setelah memeriksa keadaan Abian. Dan saat itu ternyata Abian mengalami usus buntu dan harus segera dilakukan tindakan o****i
"Anda tidak perlu khawatir! saya sudah menghubungi pihak keluarga bapak Abian dan sudah mendapatkan izin untuk melakukan operasi!" jelaskan Dokter lalu masuk kedalam ruang operasi.
Auris tampak masih panik dan tidak tenang. Dia masih saja mondar-mandir didepan pintu ruang operasi, sedangkan Andre yang melihat gelagat Auris semakin dibuat penasaran.
"Kenapa ya Auris keliatan khawatir banget?"
"Mama!" tiba-tiba Ken datang bersama dengan keluarga BARA lalu memeluk Auris tepat didepan hadapan Andre.
"Anak kamu?" tanya Andre bingung.
Belum juga menjawab pertanyaan Andre, ibu Sora sudah langsung melontarkan kata-kata menyakitkan dan menyalahkan Auris atas kejadian buruk yang menimpa Abian.
"Saya kan udah bilang sama kamu! kalau gak bisa mengurus anak saya, jangan masih sama dia!" bentak ibu Sora dan membuat Andre merasa tidak nyaman.
Devina yang menyadari pandangan Andre mulai tidak enak, langsung saja melerai keributan itu.
Setelah ibu Sora merasa tenang, Andre kembali menanyakan tentang Ken.
"Iya ini anak aku.." jawab Auris.
"Oh ya? ya ampun kamu ganteng banget sayang.." ucap Andre dan meremas gemas pipi cabi Ken.
"Makasih om.. Om juga ganteng!" puji Ken.
"Kamu bisa aja! emm.., kamu bareng sama mamanya pak Abian?" tanya Andre yang sengaja ingin mendapatkan jawaban tanpa terlihat bahwa jawaban itu adalah sebuah alasan.
Untung saja Ken adalah anak yang pintar dan bijak. Dia menjawab pertanyaan Andre dengan sangat jelas dan membuat kecurigaan Andre berangsur menghilang.
"Ken sama Bella satu sekolah om.. Kita temenan, tadi Ken lagi main sama Bella. Terus Ken diajak kesini buat ketemu mama!"
"Ooh jadi gitu.. Kamu gemes banget beneran. Om jadi mau kenalin kamu sama anak om!"
"Waah boleh tuh!" sahut Auris dan ketiganya tersenyum senang.
Setelah menghabiskan waktu beberapa jam, akhirnya Dokter keluar dari ruang operasi dan menyatakan bahwa operasi berjalan dengan baik.
Dilain tempat, jauh dari kota Jakarta, seorang wanita paruh baya sedang menatap fokus laptopnya. Jari jemarinya sedang mengetik sempurna sebuah kalimat yang isinya "Abian Kaindra Bara Dari Keluarga Tersohor, Lagi-lagi Melakukan Perselingkuhan".
Sebuah berita Hoax disebarkan diberbagai akun sosial media. Beberapa foto Abian yang terpotret sedang berduaan dengan Auris disebarkan tanpa Izin. Wanita itu bukan Jia seperti yang Auris pikirkan. Dia adalah..Clara.
Sembari mengusung senyum tengilnya, dia menyebarkan berita Hoax itu lalu tersenyum puas ketika mendapat begitu banyak respon dari para pengguna sosmed.
Tapi tiba-tiba
"Jadi kamu yang ngelakuin itu semua?!" bentak seorang pria bertubuh tegap tinggi dan tampan.
Pria itu adalah Riyan, suami Clara dan sekaligus teman Abian semasa di SMA yang pernah merebut Clara dari Abian.
Riyan membanting dan menghancurkan laptop milik Clara dan memarahinya habis-habisan.
__ADS_1
"Harus berapa kali aku bilang sama kamu? jangan ikut campur!" bentak Riyan dan me*****r wajah Clara dengan sangat keras.
"Kenapa? kamu takut kalau Abian bakalan hancur karena berita-berita itu?" tanya Clara dengan menatap lekat wajah suaminya dengan pandangan kebencian.
"Jadi kamu pelakunya?"
Sesuatu yang tak terduga terlihat jelas disana. Karina datang dengan santai dan mendekati Clara lalu men****rnya begitu saja. Dua p*****n dari telapak tangan dua orang yang ia benci tampaknya semakin memperbesar rasa benci dan amarahnya.
Karina dan Riyan ternyata sudah berselingkuh dan menjalin hubungan terlarang tanpa sepengetahuan Abian. Itu terjadi tiga tahun terakhir ini. Karina dan Riyan sengaja bekerja sama untuk mengambil kekuasaan keluarga BARA. Clara yang tidak bisa membantah dan melakukan penolakan ternyata sudah diancam.
Clara memiliki seorang anak perempuan berusia delapan tahun yang mengalami kelumpuhan. Riyan yang tidak bisa menjadi kepala keluarga yang baik malah semakin memanfaatkan itu. Biaya pengobatan dan terapi anaknya sendiri dia penuhi dengan baik jika saja Clara juga melakukan hal yang sama. Clara harus mematuhi perintahnya dan juga perintah Karina jika dia ingin anaknya baik-baik saja.
Jika saja Clara melakukan pengkhianatan, maka hal buruk akan anaknya dapatkan. Melihat sikap Riyan dan Karina yang semakin berulah, membuat Clara menjadi muak. Dan itulah sebabnya, Clara menyebarkan berita-berita Hoax agar harga diri dan bisnis Abian hancur. Jika itu terjadi maka rencana Riyan dan Karina yang ingin menguasai kekayaan Abian akan sia-sia.
"Saya dan Riyan sudah susah payah untuk sampai difase ini! saya gak mau tau, hapus semua berita-berita itu! apa kamu mau kalau anak kamu gak dapet pengobatan sama sekali?!" ancam Karina.
"Awas aja kalau kamu masih bertindak b***h!" bentak Riyan sembari meremas kuat dagu Clara.
"Aku laper sayang, mendingan kita pergi dan cari ketenangan diluar!" ucap Karina dan pergi dengan tangan yang saling berpagutan dengan tangan Riyan.
Clara hanya bisa menangis sesenggukan sembari meratapi nasibnya yang begitu buruk. Mungkin ini karma atau semacam balasan dari Tuhan atas perbuatannya dimasa lalu pada Abian.
...🍃🍃🍃...
Keesokan harinya Abian sudah boleh dibawa pulang karena permintaannya sendiri yang bersikeras untuk pulang. Selama dirumah sakit, dia tidak bertemu dengan Auris yang memang dilarang oleh ibu Sora.
"Abian gak mau makan!" tolaknya saat ibu Sora ingin menyuapinya.
Dia ingin Auris yang mengurusnya sampai dirinya benar-benar sembuh. Awalnya ibu Sora sangat menolak karena dia tidak ingin jika anaknya semakin dekat dengan wanita yang dia benci itu. Tapi demi kesembuhan Abian, terpaksa dia harus mengenyampingkan egonya.
Auris masuk kedalam kamar Abian dan mendapati wajah ibu Sora yang melihatnya dengan pandangan sinis. Ibu Sora pergi dan keluar dari kamar Abian tanpa memberikan senyuman pada polos itu.
"Maaf ya sikap mama masih begitu!" ucap Abian.
"Saya gak merasa itu kesalahan! mama cuma butuh waktu buat bisa menerima saya!" ucap Auris dengan tenang dan duduk disudut kasur Abian lalu menyuapinya.
"Memang makan dari suapan tangan istri itu luar biasa ya? enak banget!" puji Abian sembari menggoda.
"Mau makan atau saya tinggal sekarang!" sahut Auris dan memasang wajah datar.
"Iya deh saya gak akan protes!"
Abian makan dengan sangat lahap dan menghabiskan makanannya tanpa protes atau bicara apa pun pada Auris. Setelah itu Auris pergi kekamar mandi dan meninggalkan tas dan ponselnya dinakas sebelah tempat tidur Abian.
"Auris sebentar! saya boleh pakai handphone kamu buat nelpon mama? handphone saya masih sama mama soalnya!"
Auris meminjamkan handphone nya dan dipakai oleh Abian. Ketika itu Andre mengirim pesan WhatsApp yang memastikan bahwa Auris menerima ajakannya untuk pergi besok selepas pekerjaan kantor selesai.
Merasa memiliki peluang yang bagus, Abian membalas pesan dari Andre dan mengatakan bahwa Auris tidak bisa pergi.
"Udah selesai kan? saya mau tidur udah malam juga!" ucap Auris yang baru keluar dari kamar mandi dan spontan Abian menggeser posisi duduknya dan merapihkan kasurnya untuk memberikan ruang bagi Auris.
__ADS_1
"Kamu ngapain?" tanya Auris heran.
"Katanya mau tidur!"
Auris tertawa mendengar ucapan itu.
"Tidur dikamar saya! bukan disini!" tegaskan Auris.
"Saya minta kamu kesini buat jagain saya Auris! bukan cuma buat nyuapin kayak tadi!" keluh Abian dan tidak terima.
"Jadi.. Kamu mau saya tidur disini? bareng sama kamu? jangan ngaco!" jawabnya dan berkacak pinggang.
Abian susah payah berdiri dan berjalan mendekati Auris lalu mengomelinya.
"Kamu beneran gak peduli sama saya?" tanyanya sembari mengernyitkan dahi.
"Jangan bicara kayak anak kecil Abian! saya perduli, tapi bukan berarti saya harus satu kamar sama kamu!" protes Auris.
"Ooh jadi gitu.. Ini pertama kalinya saya ngerepotin kamu loh!"
"Maaf Tuan Abian.. Tapi besok saya harus kekantor! dan satu lagi! saya udah ada janji sama pak Andre!" ucapnya sembari tersenyum tipis dan berkacak pinggang.
"Oh ya? saya udah batalin pertemuan kamu sama Laki-laki sok kegantengan itu!" beritahu Abian dan menjelaskan kejahilannya.
"Ngeselin banget sih kamu! saya kan udah bilang, jangan ikut campur sama urusan saya!" bentak Auris.
"Jadi kamu beneran gak mau direpotin?"
"Abian.."
"Kamu lupa ya? dulu waktu kamu hamil, mual-mual, tengah malam minta kekamar mandi. Ngegendong kamu, ngurusin kamu. Kamu kira yang ngelakuin itu semua siapa? Andre? itu saya Auris! yang ngerawat kamu dengan penuh kasih sayang, kamu pikir itu Andre? itu saya!" ungkitnya.
"Kenapa kamu jadi ngungkit masa lalu? kamu gak tulus ngelakuin itu semua Abian? aku baru tau ya kamu sekejam ini!"
"Saya gak ngungkit apa pun! saya cuma ngingetin kamu, cuma ada satu pria didunia ini yang peduli dan sayang sama kamu. Dan itu saya! bukan Andre atau siapa pun!"
"Chh! saya gak akan kemakan omongan sok manis kamu itu!"
"Kamu masih gak yakin?"
"Iya!"
"Kalau gitu kamu pergi kekamar kamu dan gak usah pedulikan saya! besok kan kamu mau jalan sama pacar kamu itu!" pungkasnya dan kembali merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur.
Saat Auris hendak pergi dan sudah memegang gagang pintu kamar, Abian menghentikannya.
"Auris!"
"Kenapa? udah lah Abian.. Jangan maksa saya!"
"Tas kamu ketinggalan!" beritahu Abian dan menahan senyumnya.
__ADS_1
"Cepetan sana balik kekamar kamu! gak perlu pedulikan saya! biarin nanti malam tiba-tiba perut saya sakit, terus saya gak bisa gerak, terus saya susah napas, dan gak ada satu orang pun yang tau!" gerutu Abian tapi Auris tetap pergi.
Padahal dalam hati Auris, dia juga merasa sedikit khawatir jika terjadi sesuatu yang buruk pada Abian. Tapi karena gengsi, dia memilih untuk tetap pergi meninggalkan pria tampan dan sedikit angkuh itu.