
"Ini bukan rasa kasihan atau ungkapan rasa bersalah saya terhadap perlakuan Abian,tapi saya sendiri merasa bersalah karena kesalah pahaman Abian terhadap saya dan kamu.Saya..,akan membawa kamu untuk tinggal dirumah saya!"ucap Tuan Thosio dan membuat Auris terlonjak kaget.
"Ma-maksud bapak?"
"Abian harus bertanggung jawab kan?kehamilan kamu saat ini,bayi itu..,adalah cucu saya.."
"Maaf pak tapi saya punya tempat tinggal sendiri.Saya sudah cukup baik hidup dengan adik-adik saya!"tolak Auristela.
"Tapi saya tetap harus mengambil tindakan Auris!"
"Auris..Apa yang dibilang sama pak Thosio itu benar!"
"Maaf pak,untuk kali ini saya gak bisa!"
"Kak..?"dengus Evans dan menatap serius kakaknya.
"Maaf pak!"yakinkan Auris sekali lagi.
"Saya rasa kak Auris udah kasih jawaban yang jelas,jadi pak Thosio dan pak Thomi bisa segera menyudahi pembicaraan ini!"lanjut Evans dan dengan terpaksa Tuan Thosio dan Thomi harus pulang dengan penolakan mentah-mentah dari Auristela.
"Bapak tenang aja,hati Auris masih benar-benar hancur saat ini,saya yakin Auris pasti akan berubah pikiran nanti!"semangati Thomi.
Saat masih diperjalanan akan pulang kerumahnya,Thomi mendapat pesan WhatsApp dari Evans yang mengajak Thomi untuk bertemu besok selepas dia pulang sekolah.
"Kenapa ya adiknya Auris tiba-tiba minta ketemuan?"batin Thomi merasa penasaran.
...****...
Keesokan harinya Evans sendiri datang menemui Thomi dikantor.Masih dengan memakai seragam putih abu-abunya,Evans cukup mengejutkan Abian dan Galih yang saat itu tengah berada didalam ruangan Thomi.
Abian menaikkan ujung alisnya kearah Thomi seakan bertanya tentang kedatangan Evans.
"Saya perlu bicara sama Pak Thomi!"ucap Evans dengan ekspresi wajah datar pada Abian.
"Empat mata?"tanya Galih pada Thomi.
"Ya.."jawab Thomi.
"Oke..!"jawab keduanya lalu Abian dan Galih pergi dari sana.
"Silahkan duduk!"perintah Thomi.
"Ada hal penting yang mau kamu bicarakan?"tanya Thomi memastikan.
Saat itu juga Evans mengeluarkan sejumlah uang sekitaran 15 juta yang terbungkus didalam amplop lalu memberikannya pada Thomi.
Uang itu dia dapat dari hasil dia bekerja dan mengikuti balap liar dengan taruhan uang dan tanpa sepengetahuan kakaknya.
__ADS_1
"Saya tau ini gak seberapa pak,tapi saya janji akan tetap nyicil semuanya sampai lunas.Saya janji pak!"ucap Evans sangat serius sedangkan Thomi benar-benar tidak mengerti apa-apa.
"Ini uang untuk apa Evans..?"
"Uang yang dipinjam kak Auris!tapi pak Thomi jangan bilang-bilang sama kak Auris ya!"
"Pinjaman?kamu ini ada-ada aja ya,Auris gak punya pinjaman apa pun sama saya atau pun sama perusahaan."perjelas Thomi.
"Pak Thomi serius?tapi..,tapi.."
"Tapi apa?"
"Biaya pengobatan Aqilla,bukannya itu dari pak Thomi?"
"Saya gak tau mengenai itu.Jadi Aqilla udah sembuh?"
"Maaf pak saya masih ada urusan.Saya permisi!"jawabnya dan pergi begitu saja.
"Astaga..Apa lagi sih ini?apa lagi yang kak Auris sembunyiin dari aku?"erang Evans masih tidak percaya.
Derrttrrrrr
Getar dering handphone Evans tiba-tiba berbunyi dari saku celananya dan ternyata itu panggilan dari Randy yang sudah menunggunya dilapangan basket.
"Elo kenapa gak ikut tanding?belaga sok jagoan lo?"omel Randy yang kecewa karena Evans masih belum juga datang kelokasi pertandingan basket.
"Elo masuk sekolah tadi?bukannya Lo lagi sakit ya?"
"Gue biar digantiin aja deh,gak keburu juga!"
"Enak aja Lo kalau ngomong.Gue penggemar terberat Lo jadi jangan kecewain gue dong!"
"Randy udah lah.."
"Kalo Lo ngecewain gue mungkin bentar lagi gue wafat nih karena jantung gue kumat!"ancamnya.
"Heh sembarangan aja Lo kalau ngomong!iya gue kesana!"jawabnya dan Randy tersenyum puas.
Dilain tempat Auristela sedang berada di kamarnya,mengunci diri tanpa ada seorang pun disana.Segelas minuman berwarna kuning cerah tersuguhkan diatas nakas disamping tempat tidurnya.Nampaknya itu jus buah nanas muda,dan beberapa obat peel sudah berada digenggamannya dan akan segera masuk kedalam kerongkongannya.
Sedangkan Rani yang sedari tadi mengetuk-ngetuk pintu kamar Auris masih tidak mendapatkan respon apa pun.
Kembali pada Evans yang sudah sampai ditempat pertandingan basket dan sudah ditunggu oleh Randy.
Saat itu pertandingan berjalan lancar dan sudah sangat dipastikan team Evans memenangkan pertandingan dan bisa mengalahkan saingannya yaitu team Andre.
"Hahh sial!kenapa sih dia jadi ikut tanding!"erang Andre tidak terima dengan kekalahannya.
__ADS_1
"Ya elah..Kalah ya kalah aja kalik,gak perlu ngedumel begitu!"sindir Randy saat dirinya dan Evans bertemu dengan Andre dan beberapa temannya diruang ganti.
"Maksud Lo apaan haa?gue heran deh,elo siapanya cowok belagu ini sih?sering banget berdua!apa jangan-jangan..,"ucap Andre terhenti lalu disambung oleh teman sebelahnya.
"Gay?Oh My Good!no..kalian gak normal ya?"
Evans dan Randy habis-habisan mendapat hujatan dari Andre dan teman-temannya.Saat itu sebenarnya Evans tidak ingin meladeni para perusuh itu,namun keadaan memaksanya.
"Jangan ngasal ya Lo kalau ngomong!gue heran deh kenapa seorang Andre Wijaya bisa masuk team basket terbaik di SMU Merah Putih,jadi leader lagi.Padahal prestasinya kalah besar sama sensasi!"ucap Randy.
"Ooh mungkin..,karena ada nama seorang Wijaya dibelakang nama lengkapnya?miris ya?kepopuleran,prestasi,bisa dibeli pakai uang!"sambung Randy sembari memasukkan kedua kepalan tangannya kesaku celananya.
"Karena orang tua ya?kasian banget,gak ada yang bisa dibanggakan!"lanjut Randy lagi.
Pipi Andre terlihat memerah dan begitu juga dengan teman-temannya,nampaknya amarah itu sudah memuncak dan sudah waktunya untuk terlampiaskan.
Tanpa aba-aba Andre dan ke-empat temannya menyerang Evans dan Randy.
"Pengecut banget ya Lo pada,beraninya keroyokan!"pekik Randy saat dirinya berhasil merobohkan kedua teman Andre.
Dengan nafas yang sudah mulai terengah-engah,Randy masih terlihat bersemangat dengan perkelahian itu.Rasanya sudah begitu lama dia tidak sebebas ini,dengan penuh semangat dia melayangkan pukulan-pukulan itu dan membantu Evans yang tengah kewalahan menghadapi Andre.
Seperkian menit berlalu dan terlihat Andre dan teman-temannya sudah terkapar dilantai.Evans dan Randy masih berada pada posisi tegap dengan memasang kuda-kuda sempurna,meski sebenarnya nafas keduanya sudah terengah-engah.
Tetapi perkelahian itu nampaknya belum juga berakhir,spontan saja secara membabi buta,Andre berdiri dan mendorong tubuh Randy dan Evans dengan sangat kuat hingga keduanya terperosok menubruk loker.
"Agghhhh!"erang Randy dan mulai merasa sesak yang serius.
Evans semakin dibuat emosi ketika mendapat serangan membabi buta dari Andre,dengan cepat dia berdiri lalu kembali menghajar pria sombong itu.Wajah keduanya terlihat memar dan sedikit bercakan darah keluar dari sudut bibir dan pelipis mata mereka.Merasa sudah waktunya berakhir,Evans dan Andre ternyata sudah memikirkan objek yang sama. Keduanya saling melayangkan pukulan yang cukup kuat yang mendarat tepat pada perut mereka masing-masing hingga membuat keduanya terjatuh.
"Evans..!"teriak Randy dan mencoba berdiri membantu Evans.
Tetapi pada saat itu Andre sudah hilang akal,sebuah bola basket yang berada tepat disebelahnya dengan spontan ia lempar dengan keras dan tepat mengenai dada Randy.
Nafas dan detak jantung itu serasa berhenti untuk beberapa detik lalu kemudian aktif kembali dengan rasa yang sesak luar biasa.
Randy terkapar dilantai dengan meremas dadanya dengan sangat kencang karena menahan sesak dan sakit yang luar biasa.Rasanya nafas itu masih tersangkut dikerongkongan dan begitu sulit untuk menerjang keluar dari dalam mulutnya.
"Randy!Rand..!"pekik Evans dan membantu Randy untuk bernafas dengan baik.
Andre dan teman-temannya terlihat panik lalu mereka pergi begitu saja.
"Enggak..Ini belum waktunya.."rintih Randy dalam hati.
"Enggak..Elo gak boleh kayak gini!"ucap Evans dan langsung menggendong Randy dipunggungnya.
"Tolong..!Tolong!!"teriak Evans meminta bantuan kepada orang-orang yang ada disana.
__ADS_1
"Kalian kenapa?"tanya guru olah raga mereka sangat panik.
"Tolongin Randy pak!"mohon Evans yang terlihat meneteskan air matanya sedangkan Randy sudah pingsan dan tidak sadarkan diri.