
Auris sudah selesai mandi dan berkemas, handponnya yang sedari malam terjatuh dilantai kembali ia pungut.Tanpa menghiraukan Abian yang berada diruang tamu,ia pergi keluar rumah dengan tergesa-gesa.
Abian menyadari bahwa wanita itu akan pulang sendiri kejakarta dan mungkin saja dia akan menceritakan kejadian tadi malam kepada seseorang.
Tidak ingin hal itu terjadi,Abian mengejarnya dan mereka sempat bertengkar didepan teras rumah.
"Thomi sebentar lagi datang.Saya gak mau ya kalau sampai dia berfikiran yang bukan-bukan nantinya!"pungkas Abian sambil mengepal lengan Auris.
"Berfikiran yang bukan-bukan?kamu sadar gak sama apa yang kamu bilang?jadi kamu menganggap gak terjadi apa-apa,kamu anggap saya apa Tuan Abian Bara?"jawabnya dengan membulatkan netranya.
"Saya gak mau memohon apa pun untuk itu!saya bilang saya akan kasih kamu uang seberapa pun yang kamu mau asal kamu bisa tutupin permasalahan ini!"
Sahut Abian dan sontak itu membuat Auris sakit hati.Dia bahkan rela menjual jantungnya daripada harus menjual kehormatannya.Spontan saja ia melayangkan telapak tangannya dengan hantaman keras tepat mendarat pada pipi mulus seorang Abian.
Abian mengerang kesal dan ingin mengatakan sesuatu,tapi tiba-tiba Thomi datang.
"Kalian udah nunggu dari tadi?"
Abian dan Auris seketika harus bersikap seperti biasanya.
"Kita berangkat sekarang ya!"ajaknya dan mereka pun langsung masuk kedalam mobil lalu segera pergi.
Abian duduk dikursi tengah bersebelahan dengan Auris.Suasana didalam mobil itu begitu canggung hingga Thomi menyadari diamnya Auris.
"Sore nanti kebetulan kita mau ada ketemu sama klien baru,jadi Auris masuk ya hari ini!"pinta Thomi namun Auris meminta izin untuk libur satu hari.
"Duh gimana ya ris,saya tau kamu pasti capek banget sama aktivitas kemarin,tapi ini penting juga!"dengus Thomi.
"Nanti biar sekertaris saya yang bantu kamu!Auris biar cuti hari ini!"jawab Abian dan Thomi tentu terkejut dengan jawabannya.
"Se-bentar..Ini aneh sih, oke-oke.Ini gak lagi dalam waktu kerja kan,jadi kita ngobrol pakai bahasa biasanya.Oke!"ucap Thomi bersemangat.
"Dari tadi gue perhatiin Auris gak ada banyak ngomong.Dan bahkan kamu gak komen apa pun tentang kebaikan Bos kita ini ris.Lo juga bi,tumben banget Lo baik sama Auris?"lanjutkan Thomi dan Abian pun bersikap tenang menjawab pertanyaan Thomi.
"Memangnya salah ya kalau saya baik sama karyawan?"
"Gue kan udah bilang,pakai bahasa tidak formal.Buat obrolan kita sekarang!"
"Lagian Lo juga sih.Memangnya gue harus cekcok terus sama dia?enggak kan?!"pungkas Abian lalu Thomi terkekeh geli.
"Oke..Ini perubahan yang bagus sih..Gue ikut seneng kalau kalian baikan.Walaupun kalian dari dua kehidupan yang jauh berbeda,tapi faktanya kalian berdua temen gue.Jadi harus tetap akur begini!"
Ucap Thomi dan memperhatikan Auris dari kaca spion interior mobil.
Thomi masih memperhatikan Auris yang tidak merespon sama sekali.Auris hanya diam dan sedikit tersenyum.Wajahnya pun terlihat sangat muram.
__ADS_1
Dan tidak sengaja saat masih memperhatikan,Thomi melihat sesuatu yang tidak ingin dia lihat.Entah itu memar atau apa,tepat pada leher bawah telinga Auris,sebuah tanda merah pekat mengukir disana.
(wkwk biasalah)
Senyum semeringah Thomi seketika terhenti.Dia tidak ingin berfikiran yang bukan-bukan,tapi apa yang dia lihat membuatnya bertanya-tanya.Seketika pandangan curiganya beralih pada Abian.
--------
Dirumah,Evans sudah menunggu kakaknya pulang.Wajahnya terlihat kesal dan sudah tidak sabar ingin mengintrogasi Auris.
Apa lagi omongan tetangga dan beberapa temannya disekolah semakin membuatnya tidak nyaman.
Banyak orang yang berfikir bahwa Auris sudah menjadi wanita yang tidak baik.Merebut suami yang sudah beristri dan juga mendapatkan uang yang banyak untuk semua itu.
Auris tidak bisa menjelaskan kepada Evans atau siapa pun tentang bagaimana dia bisa mendapatkan uang untuk biaya pengobatan Aqilla dan uang untuk semua kebutuhan sekolah Evans.
Belum lagi dia menampung Rani dirumahnya dan memberikan kehidupan yang layak untuk seorang wanita yang memang punya banyak kebutuhan.
Dokter Daniel yang memang sangat bersikap baik kepada Auris,tidak jarang mengantarnya pulang jika kebetulan melewati arah jalan yang sama.
Belum lagi Dewinta pernah melihat Auris bertemu dengan Ayah Dokter Yuna disebuah Restoran dan dia mengira bahwa Auris sudah menggoda pria tua.
Entah apa yang sudah orang-orang fikirkan,mereka hanya memberi satu kesimpulan dari apa yang baru mereka lihat.
Setelah menunggu beberapa waktu,Auris pulang diantar oleh Thomi.
"Laki-laki mana lagi cobak itu?kurang banyak apa lagi uang yang udah dia dapet?"ucap ibu-ibu tetangganya.
"Aku tau kamu gak begitu.Apa pun kenyataan yang gak bisa kamu jelasin ke aku atau pun keorang-orang..,aku yakin kamu punya alasan yang baik!"ucap Thomi yang mempercayai Auris.
"Makasih ya.Kamu bukan cuman sekedar bos yang baik,tapi juga temen yang baik!"
"Eem oh iya ris,aku mau tanya sesuatu."
Thomi ingin bertanya mengenai rasa penasarannya,tapi dia juga merasa bahwa itu akan jadi pertanyaan yang sensitif.Dan akhirnya ia mengurungkannya.
"Lain kali aja deh.Gak penting juga!"jawabnya dan pergi dari sana dengan meninggalkan senyuman penyemangat untuk Auristela.
"Selamat siang adik cantik kakak.."ucap Auris dan memeluk Aqilla.
"Aqilla main diluar gih ajak kak Rani!"perintah Evans.
"Aku mau ngomong sama kakak!"ucap Evans serius.
"Sejak kapan kamu minta izin buat ngomong?"tanya Auris tersenyum.
__ADS_1
"Ini apa?"tanya Evans dan memperlihatkan cek senilai 50 juta yang dikirim oleh Tuan Thosio kepadanya.
Auris membulatkan sepasang netranya dan langsung merampas cek itu dari tangan Evans.
"Itu apa kak?"
"Evans kakak bisa jelasin."
"Jelasin apa lagi kak?"bentak Evans yang sudah tidak bisa menahan amarahnya.
"Itu.. Itu uang.."
"Bayaran dari lukisan?iya?lukisan mana dan kenapa sebegitu banyak uang yang kakak dapat?kak..Aku udah berusaha buat berfikiran positif,tapi apa nyatanya sekarang?"Tanya Evans dan sepasang bola mata yang sudah memerah itu tiba-tiba menumpahkan guyuran air mata.
"Evans.."
"Aku gak pernah malu hidup susah kak!aku malah malu kalau ngeliat kakak bohong kayak gini!"
"Evans..Kamu juga berfikir kalau kakak seburuk itu?"
"Tapi kenyataannya iya kan kak?aku gak tau lagi,,aku kecewa kak!kakak bilang harga diri jauh lebih berharga dari apa pun.Tapi kenapa sekarang kak?kenapa?"ucap Evans dan pergi meninggalkan Auris.
Auris hanya bisa menangis untuk melampiaskan rasa lelah dihatinya.Mengenai uang yang dia dapat dari Tuan Thosio itu benar adanya.
Satu bulan yang lalu saat ingin memberikan hasil lukisan yang dipesan oleh Tuan Thosio,tanpa sengaja Auris mengikutinya ke-sesuatu tempat.
Sebuah rumah sederhana dengan halaman luas yang ditanami dengan berbagai macam bunga yang indah menjadi tempat pemberhentian mobil Tuan Thosio.
Disana ia mendatangi seorang wanita yang sedikit lebih muda dari ibu Sora,istrinya.Tuan Thosio memeluknya lalu dengan bersamaan mengkecup kening wanita itu dan tidak lama kemudian keluar dari rumah seorang wanita cantik seusia Auris.
Mereka tampak bahagia dengan senyum dan tawa itu.Rumah itu juga sedikit jauh dari keramaian dan hiruk pikuknya suara kendaraan kota.
"Ayah lama banget..Aku sama Bunda udah cukup lama nunggu,kenapa baru sekarang datengnya.."ucap wanita bernama Jia yang seusia dengan Auris lalu dia memeluk Tuan Thosio.
Auris terkejut dan dia menyadari bahwa itu adalah sebuah keluarga.Lalu bagaimana dengan ibu Sora dan anak-anaknya?sejak kapan itu terjadi?kenapa wanita itu memanggil Tuan Thosio Ayah?.
Auris kewalahan dengan semua pertanyaan yang tiba-tiba hadir dalam benaknya.Dia ingin pergi dari sana dan berharap apa yang dia lihat barusan hanyalah mimpi.
Saat berbalik kearah belakang dan akan pergi,seorang pria tidak sengaja menubruknya karena berlari tergesa-gesa.Karena itu Tuan Thosio melihat keberadaan Auris disana lalu mendatanginya.
"Saya mohon Auris,jangan ceritakan kepada siapa pun tentang apa yang kamu lihat sekarang!Dia istri dan anak kandung saya.Ini sudah terjadi selama 27 tahun lebih!saya punya alasan untuk semua ini,saya mohon bantu saya!"pinta Tuan Thosio yang bersikap sangat merendahkan dirinya hanya agar Auris tidak mengatakan pada siapa pun.
"Saya cuma kaget pak.Semua ini urusan pribadi bapak,saya gak berhak sama sekali untuk ikut campur.Bapak jangan khawatir!"jawab Auris meyakinkan.
Sejak saat itu Auris tetap merahasiakannya.Hingga pada satu Minggu yang lalu,Tuan Thosio meminta bantuan kepada Auris untuk memberikan uang kepada anak dan istri keduanya melalui cek yang dia berikan.
__ADS_1
Auris tidak menyangka jika itu akan menjadi kesalahpahaman lagi.Auris hanya ingin membantu,dia menerima saja cek yang diberikan Tuan Thosio padanya lalu mencairkannya di Bank dan setelah itu memberikannya kepada Jia dan ibunya.
Itu juga yang menjadi sebab akibat Abian hilang akal pada malam itu.Abian melihat tanda bukti pengiriman uang yang diberikan Ayahnya untuk Auris dengan nilai yang sangat besar.Abian sangat yakin bahwa Auris adalah wanita yang sudah menggoda Ayahnya.