
Evans keluar dari kamar dengan amarahnya,kedua tangannya mengepal keras dan sudah siap menunggu Auris didepan teras rumah.
Rani terkejut ketika melihat hasil USG Auris ada digenggaman Evans,melihat itu Rani mencoba menenangkan Evans dan menjelaskan keadaan sebenarnya agar Evans tidak salah sangka pada kakaknya.
"Ini gak bener!kak Auris gak seperti itu!"
Bela Rani dengan menarik tangan Evans.
"Jangan ikut campur Ran!Lo gak tau apa-apa.Gue masih gak nyangka kalau kak Auris bisa nyembunyiin masalah sebesar ini dari gue!"pungkas Evans.
"Kak Auris gak salah..Jangan minta penjelasan apa pun darinya!"mohon Rani lagi.
"Gak usah ikut campur gue bilang!dengan cara nutupin ini semua dari gue itu udah salah Ran!gue gak akan bisa tinggal diam!"
Evans sudah tidak tahan menunggu kakaknya pulang,dengan nekat dia akan pergi menemui Auris.Tapi Rani bersikeras menghentikannya hingga Rani tidak tahan lagi jika melihat Auris harus bertengkar lagi dengan Evans.Dengan sengaja Rani memberitahukan pada Evans bahwa pria yang sudah menghancurkan kehidupan kakaknya adalah Abian.
Rani menuliskan nama Abian Kaindra Bara disecarik kertas lalu memberikannya pada Evans.
"Kalau kamu mau menyalahkan seseorang,dia yang paling pantas untuk disalahkan.Abian Kaindra Bara yang udah ngancurin kehidupan kak Auristela!"
Tulis Rani dalam selembaran kertas.
"Abian..?"dengus Evans dan tanpa berfikir panjang dia pergi ke-kediaman keluarga Bara dan menerobos masuk pagar rumah keluarga terhormat itu.
"Abian..!keluar lo!"teriaki Evans dengan suara lantang dan tegas.
Perawakan anak SMA itu sebenarnya sangat mudah untuk dihadapi oleh kedua satpam penjaga pagar rumah,tapi bukan Evans namanya jika tidak punya banyak akal.
Dia mengambil batu besar dan menghancurkan gembok pagar dengan paksa.
"Kamu ini kenapa toh dek?jangan macam-macam loh!"ingatkan pak satpam.
"Bapak yang jangan macam-macam!saya ini nekat loh pak,saya lagi pegang batu besar ini!"ancam Evans balik dan dengan cepat berlari menuju rumah Tuan Thosio.
"Abian!keluar lo!"pekik Evans lagi berkali-kali.
Abian yang bersantai diruang tamu dengan keluarganya tentu menjadi terusik.
"Siapa sih teriak-teriak?"keluh ibu Sora lalu mereka pergi keluar.
Abian baru saja membuka pintu utama dan berdiri tepat diteras rumah,dan spontan saja Evans melayangkan bogeman mentah kewajah Abian yang good looking hingga membuatnya terperosok jatuh kelantai.
"Abian..!"pekik semua orang yang ada disana.
"Heh kamu siapa!?"erang Abian menjadi marah.
__ADS_1
Evans tidak perduli dengan siapa saat ini dia berhadapan,tanpa berfikir panjang,Evans memperlihatkan hasil USG Auris kepada Abian dan disaksikan jelas oleh Tuan Thosio,ibu Sora,Adrian dan keluarga kecilnya.
"Auristela Ayana!kakak gue!dasar laki-laki brengsek lo!"
ucapnya dan kembali ingin memukul Abian,tapi saat itu juga dihalangi oleh Adrian.
"Lepasin gue!Lo pikir karna Lo orang kaya,punya segalanya,jadi Lo bisa seenaknya?"
"Kamu ini ngomong apa sih?"tanya Ibu Sora masih belum memahami keadaan yang ricuh itu.
"Mendingan kita bicarakan ini didalam,saya gak mau kalau sampai ada orang luar yang melihat ini!"ucap Tuan Thosio dan membawanya masuk.
"Sekarang kamu bisa jelaskan baik-baik!"lanjutkan Tuan Thosio.
"Saya gak tau kenapa kak Auris menyembunyikan kebenaran ini,tapi saya juga baru tau kalau ternyata kak Auris hamil!"
"Hamil?"
"Dan yang udah ngelakuin itu semua adalah anak bapak sendiri.Abian Kaindra Bara!"beritahunya dan semuanya tersentak kaget.
"Gak mungkin!jangan asal bicara kamu!kamu sengaja kan supaya mendapatkan keuntungan dari semua ini!"pungkas ibu Sora.
"Keuntungan?saya bukan orang yang picik seperti itu ibu Sora Arianti!saya hanya ingin pertanggung jawaban untuk kakak saya!"tegaskan Evans dan suasana semakin memanas disana.
Tuan Thosio menatap serius Abian dan tidak mengijinkan Abian pergi kemana-mana sebelum ia menjawab pertanyaannya.
"Saya tau kamu dan saya sangat mengenal kakak kamu.Kalau memang Abian bersalah,saya akan menyelesaikan permasalahannya secepatnya.Pulang dan tenangkan diri kamu!"perintah Tuan Thosio.
Melihat ketenangan Tuan Thosio dalam menghadapi amarahnya,Evans tanpa ragu menuruti perintah Tuan Thosio dan kembali pulang kerumahnya.
"Papa!papa ini apa-apaan sih?gak mungkin lah Abian melakukan itu semua!"omel ibu Sora.
"Mama..Ini akan jadi urusan papa dan Abian.Dia harus jelaskan semuanya.Abian!ayo ikut papa!"perintah Tuan Thosio dan mengajak Abian bicara dipinggir kolam renang ruang belakang rumah.
"Papa percaya gitu aja sama anak itu pa?bisa aja kan dia asal ngomong!"elak Abian dan tiba-tiba saja Thomi datang karena sebelumnya sudah dihubungi oleh Ayahnya.
"Setelah acara Anniversary perusahaan dibogor,kamu kemana?"tanya Tuan Thosio tiba-tiba dan tentu mengagetkan Abian.
"Papa baru tahu ini dari Thomi.Karena kecurigaan dia,dan sekarang sangat bisa dipastikan kalau apa yang dibilang adiknya Auris tadi itu benar!papa gak nyangka sama kelakuan bejat kamu itu Abian!"rundung Tuan Thosio.
"Terus papa nyalahin aku sekarang?pa!itu bisa terjadi karena aku kesal sama papa.Aku benci sama Auris!"
"Abian please..Gue udah bilang sama Lo kalau Auris itu cewek yang baik!"bela Thomi.
"Karena kamu pikir dia itu perempuan gak bener?iya?"gertak tuan Thosio.
__ADS_1
"Iya!memang iya kan pa?dengan alasan apa papa kasih dia uang?sekarang jawab pertanyaan aku!"
Abian dan Tuan Thosio sudah saling bertatap muka dengan pandangan lekat,namun Tuan Thosio tetap tidak bisa menjawab alasan mengenai uang yang dia berikan pada Auris.
"Papa gak bisa jawab kan?"cetus Abian sambil menghela napas kasar.
"Abian..antara papa dan Auristela,seharusnya bukan menjadi alasan kamu untuk melakukan tindakan tidak bertanggung jawab seperti sekarang ini.Papa sudah putuskan,bagaimana pun juga..,kamu harus bertanggung jawab untuk apa yang sudah kamu lakukan."
"Maksud papa apa?"
"Thomi tolong antar saya kerumah Auristela sekarang juga!"perintah Tuan Thosio dan pergi tanpa menjelaskan apa pun kepada Abian dan semua orang yang ada dirumah.
"Tante..Ini ada apa ya?"tanya Karina saat baru sampai dirumah Abian.
"Bukan apa-apa sayang..Ooh iya nanti malam kamu jadi kan ikut acara makan malam kita sekalian merayakan acara ulang tahunnya Rara!"jawab ibu Sora untuk mencairkan suasana.
...****...
Auristela sudah sampai dirumahnya dan mendapati Evans sudah berdiri tegap diteras rumah menunggunya dengan mimik muka yang kusut dan penuh amarah.
"Evans..Kamu kenapa?"tanya Auris polos.
Evans berbalik memalingkan wajahnya lalu dengan tiba-tiba ia menangis begitu saja.
"Evans kamu kenapa?"tanya Auris mulai khawatir sambil mengusap air mata Evans.
"Tadi aku dari rumah Pak Thosio,aku minta Abian jelasin semuanya."jawab Evans dan masih tetap menangis.
"Ma-maksud kamu apa vans?"
Tiba-tiba Evans memeluk Auris.
"Maafin aku kak.Seharusnya aku bisa jagain kakak,kakak gak pantes dapat masalah sebesar ini!"
Ucapnya lalu memperlihatkan hasil USG nya.
"Kakak yang minta maaf..Kakak yang salah..!"
"Kamu ngapain ke rumah pak Thosio?mereka gak perlu tau ini!"pungkas Auris namun tiba-tiba Tuan Thosio dan Thomi sudah berada disana.
"Saya perlu tau ini!"sahut Tuan Thosio.
"Kenapa kamu tidak memberitahukan pada saya Auris?kamu takut?pada saya atau pada Abian?"
Ungkap Tuan Thosio dengan serius dan berharap Auris bisa menjelaskan semuanya kepada dirinya.Dan mungkin saja saat ini Tuan Thosio tengah berfikir untuk membawa Auris kerumahnya atau hanya sekedar memberikan imbalan yang pantas untuk menutupi segala kesalahan Abian?.
__ADS_1