Istri Rahasia Tuan CEO(Secret Wife Mr.CEO)

Istri Rahasia Tuan CEO(Secret Wife Mr.CEO)
Episode 57:Kecurigaan Andre


__ADS_3

Entah apa yang terjadi pada Abian hari ini, wajahnya tampak pucat dan lesu. Dan pagi ini saat semuanya sarapan bersama, dia memilih untuk langsung berangkat kekantor tanpa ikut sarapan.


Dia begitu terburu-buru untuk pergi bekerja, dan ditambah lagi rasa kesalnya terhadap Karina dan ibunya semakin membuatnya tidak betah dirumah.


Setelah beberapa menit melaju dengan mobilnya menembus kepadatan kota Jakarta, akhirnya Abian dan Auris sampai dikantor dan langsung akan melakukan meeting.


"Dasi kamu belum rapih!" tegur Auris sesast sebelum masuk kedalam ruang meeting.


Abian melirik kearah kerah bajunya dan merasa lelah atas kedunguannya itu. Hanya memakai dasi saja dia tidak bisa.


"Makanya.. Kalau gak bisa jangan sok bisa! begitu aja gengsi!" cetus Auris lalu membenahi dasinya.


"Kamu sakit?" tanya Auris ketika melihat wajah Abian yang bertambah pucat.


"Sakit? jangan ngaco kalau ngomong!"


Ketika itu tidak sengaja Andre yang ikut meeting pada pagi itu, melihat kedekatan Auris dan Abian yang membuatnya sedikit tidak nyaman ketika melihatnya.


"Pucet banget nih orang, sakit apa gimana?" batin Auris yang mendapati keadaan Abian yang semakin kurang baik.


"Pagi pak!" kejutkan Andre yang akan masuk kedalam ruangan.


Auris segera menyudahi tangannya yang sedang merapihkan dasi Abian. Lalu mencoba bersikap sewajarnya.


"Pagi! silahkan masuk!" sahut Abian sembari tersenyum tipis yang membuat Auris kebingungan.


Andre masuk lebih dulu, dan karena penasaran, Auris menghentikan langkah Abian lalu bertanya padanya.


"Kenapa? gak boleh kalau saya bersikap baik sama pacar kamu?" cetus Abian.


"Pacar? jangan sembarangan kalau ngomong!" bantah Auris.


"Kenapa mesti marah? semua orang dikantor juga tau tentang hubungan kamu sama Andre!! semoga langgeng ya!" ucap Abian dan mendorong pelan tubuh Auris yang menghalangi pintu.


"Oh my God.. Kenapa sih makin lama makin ngeselin aja!" umpatnya dalam hati.


****


"Saya rasa penjelasan mengenai tugas ibu Karina, istri saya, sudah jelas! sebelum kita mengakhiri meeting hari ini, ada yang ingin bertanya?" tanya Abian.


Tidak ada satu pun orang yang bersuara meski sebenarnya beberapa diantaranya ada yang sangat ingin bertanya.


"Maaf pak sebelumnya! ada yang mau saya sampaikan!" ucap Auris.


"Silahkan!"


"Beberapa hari yang lalu, ibu Karina meminta berkas hasil pendapatan bulanan tanpa revisi dari saya. Saya pikir, ibu Karina gak ada berhak sama sekali untuk itu. Ini tentang perusahaan, bukan market!"


"Salsa! itu betul?" tanya Abian pada karyawati yang bertugas mendata pendapatan bulanan.


"Betul pak!"


"Maaf pak! tapi kata ibu Karina, dia sendiri yang akan mengurus itu dengan bapak!" sambung salah satu karyawan satunya lagi.


"Itu urusan saya! saya gak mau dibilang makan gaji buta! sebelum datanya sampai ketangan bapak Abian, semuanya harus melewati revisi dari saya!" sahut Auris.


"Tapi buk! saya rasa ibu Karina jauh lebih berhak, jika itu yang beliau pinta. Beliau orang yang lebih dekat dengan pak Abian!" jawab karyawan tadi yang membela Karina.

__ADS_1


"Saya rasa semua orang tau bagaimana pak Abian Kaindra Bara membuat peraturan yang sangat berbeda dengan perusahaan-perusahaan lain! tidak ada hubungan dan masalah pribadi yang boleh diikut campurkan didalam perusahaan! pacaran aja tidak diperbolehkan!" tegaskan Auris dengan sindiran.


Seketika Amanda, Thomi, dan Abian saling melirik karena mendapat sindiran itu dari Auris.


"Walaupun ibu Karina istri dari pak Abian, beliau tidak berhak ikut campur atas pekerjaan yang bukan tugasnya! lagi pula.., ibu Karina sudah punya tanggung jawab sendiri di market!" lanjut Auris.


"Baik saya faham atas keresahan kalian semua! jadi.. Mulai hari ini, apa pun perintah dari ibu Karina yang bukan urusannya, kalian bisa memberi penolakan. Dan lakukan itu dengan bijak!" jelaskan Abian.


"Baik pak.." sahut semuanya.


Dari kursinya, Abian memperhatikan pandangan Andre kepada Auris. Pria itu melontarkan senyuman dan pandangan kagumnya kepada Auris, dan diam-diam Auris menjawabnya dengan senyuman manisnya.


"Baik! meeting hari ini selesai, dan selamat siang!"


Meeting diakhiri dengan solusi yang sudah ditemukan. Semuanya merasa senang karena Auris bisa membantu mereka untuk mengungkapkan keresahan mereka.


"Auris tunggu!" hentikan Abian saat melihat Auris dan Andre pergi bersama.


"Kamu mau kemana?" tanyanya.


"Mau makan siang!" jawab Auris.


"Ber-dua?"


"Iya!"


"Wah kebetulan saya juga laper! saya ikut makan siang bareng kalian!" jawabnya dan membuat Andre dan Auris terkejut.


"Ma-makan siang bareng? aah bapak becandanya gak lucu!" pungkas Auris dan tertawa kecil.


"Emm.. Dikantin sih pak!" jawab Andre.


"Gak di market aja sekalian? kamu kan udah selesai disini!" ingatkan Abian.


"Tapi saya yang nawari pak! kebetulan pak Andre penasaran sama kantin kantor!" sahut Auris dan nyengir kuda.


"Ya udah yuk pak Andre!" ajak Auris dan segera meraih pergelangan tangan Andre tapi dengan cepat Abian juga meraih pergelangan tangannya.


"Saya ikut!" ucap Abian.


Andre memperhatikan situasi menegangkan itu, karena tidak ingin memperpanjang perdebatan, akhirnya Andre meng-iya kan permintaan Abian.


"Ya udah kita kekantin sama-sama! nanti keburu jam makan siang selesai!" ucap Andre lalu mereka pergi kekantin bersama-sama.


Sesaat sudah sampai Dikantin dan duduk dikursi paling pinggir, ketiganya menjadi sorotan pandangan setiap orang yang ada disana. Auris duduk sesampingan dengan Andre, sedangkan Abian berada dihadapannya.


"Kamu pesan apa?" tanya Andre yang begitu perhatian kepada Auris.


"Biasanya sih kalau siang begini saya suka makan nasi goreng pak!"


"Setiap hari? gak bosen?"


"Enggak lah.. Kan udah jadi favorit!" jawabnya tersenyum tipis.


"Ya udah deh saya juga nasi goreng!" ucap Andre.


"Gak mau nyoba yang lain pak?"

__ADS_1


"Saya juga suka nasi goreng!" jawabnya dan lagi-lagi melontarkan senyuman manisnya yang membuat Abian terbakar api cemburu.


"Saya juga pesan nasi goreng!" sahut Abian tiba-tiba.


Auris menelan salivanya karena merasa sangat kaku dengan kondisi saat ini. Entah apa yang sedang Abian pikirkan saat ini, tapi yang jelas, itu sungguh membuatnya tidak nyaman.


"Bapak yang lain aja!" ucap Auris.


"Kenapa? saya juga suka nasi goreng!"


"Bapak kan belum sarapan tadi pagi! nanti perutnya gak enakan, yang lain aja!" jawab Auris dan Andre langsung melirik kearahnya.


"Wah ini nih saatnya!" fikir Abian dalam hati.


"Kamu kok tau saya belum sarapan?" Abian mulai menggoda Auris didepan Andre secara langsung.


"Biasanya.. Biasanya kan bapak sarapan dikantor, terus tadi pagi enggak. Makanya saya tau kalau bapak gak sarapan tadi!"


"Kamu memperhatikan saya sebegitunya."


"Gak gitu pak! emm, ibu Sora kan udah nitip pesan kesaya buat liatin keadaan bapak juga kalau dikantor!"


"Ooh.. Makasih loh buat perhatiannya!"


"uhuk uhukk!" Andre pura-pura batuk untuk mengakhiri drama itu.


"Ya udah tiga nasi goreng!" ucap Auris dan perdebatan selesai.


Andre dan Auris menikmati makanan mereka ketika sudah sampai dimeja mereka. Namun tidak dengan Abian, dia hanya memainkan sendok dan garpu yang ada ditangannya. Hanya beberapa suapan saja yang masuk kedalam mulutnya. Bahkan sepertinya, perutnya terisi penuh oleh air karena terlalu banyak minum.


"Pak Abian gak makan?" tanya Andre memperhatikan.


"Saya udah kenyang!"


Abian memegangi perutnya yang terasa sakit dan melilit, merasa tidak nyaman, dia pun memilih untuk pergi dan menyudahi makannya.


Ketika baru saja berdiri, entah karena rasa sakit itu, tiba-tiba saja Abian pingsan dan terjatuh kelantai.


"Pak Abian!!" semua orang tampak panik melihat Abian yang jatuh pingsan.


Dengan cepat Abian dilarikan kerumah sakit.


Andre menyetir mobil sedangkan Auris berada dikursi belakang bersama Abian yang sedari tadi merintih kesakitan.


"Bapak kenapa? dari tadi pagi kan saya udah bilang jangan masuk kerja!" omel Auris dengan raut wajah yang tampak cemas.


"Kamu jangan ngomel-ngomel dulu.. Perut saya sakit banget!" jawab Abian yang masih kesakitan.


Disisi lain Andre lagi-lagi harus menyaksikan keanehan itu. Abian dan Auris memang terlihat tampak dekat


Tidak berapa lama kemudian mereka sampai dirumah sakit. Tubuh Abian dibawa oleh Ambulance Stretcher (tandu ambulans) dan menuju ruang gawat darurat.


Saat masih berjalan cepat menuju ruang rawat, Abian tidak melepaskan genggaman tangannya yang dikepal erat oleh tangan Auris. Andre pun semakin dibuat cemburu dengan kedekatan mereka berdua dan ditambah lagi ada sesuatu yang menjadi pusat perhatian Andre.


Cincin itu. Terlihat begitu jelas, cincin pernikahan yang Abian dan Auris kenakan tampak sama jika dilihat dari sisi mana pun.


"Kenapa bisa sama? ini kebetulan atau apa?" fikir Andre dengan keras.

__ADS_1


__ADS_2