Istri Rahasia Tuan CEO(Secret Wife Mr.CEO)

Istri Rahasia Tuan CEO(Secret Wife Mr.CEO)
Episode 48:Kehilangan Alan


__ADS_3

Alan sedang berada dijalan dengan mobilnya, menunggu lampu merah lalu lintas berganti menjadi hijau. Alan bersiul dan sedikit bersenandung santai didalam mobil sembari diiringi oleh lagu-lagu slow rock kesukaannya. Hari ini dia akan menemui Thomi dan akan mengajaknya untuk melakukan misi penting. Alan akan pensiun dari dunia aliran gelap. Dia akan menutup satu persatu club malam miliknya dan akan berusaha tobat dari minum-minuman keras.


Lampu merah berganti hijau, Alan bersiap tancap gas, tapi tiba-tiba kakinya harus menginjak rem dengan spontan karena sebuah mobil yang hampir menyerempetnya.


"Woy!" teriak Alan sembari mengklakson.


Alan memperhatikan mobil itu yang melaju cepat seperti terburu-buru. Mobil itu masih tidak luput dari pandangannya, karena dia merasa tidak asing.


"Karina bukan sih?" pikirnya dan karena penasaran dia mengikuti mobil tadi dan sampai lah disebuah tempat yang jauh dari keramaian.


Beberapa bangunan yang sudah tidak terpakai dan gudang-gudang besar yang sepertinya sudah lama ditinggalkan. Seorang wanita keluar dari dalam mobil dan benar bahwa itu Karina.


Karina bertemu dengan dua orang pria berpakaian rapi dengan jas kantoran dan dua orang pria bertubuh besar dan kekar dengan tato yang terukir hampir disekujur tubuh mereka.


Alan menguping pembicaraan mereka dari sebalik tembok yang tidak jauh dari posisi Karina dan orang-orang tadi.


"Saya mau lebih cepat lagi. Urus perpindahan nama kuasa market menjadi milik saya!" perintah Karina.


"Haa? serius nih? gak mungkin Karina begitu!" pikir Alan yang masih bersembunyi.


"Saya cuma minta market loh! bukan perusahaan pusat! masa begitu aja gak bisa!" lanjut Karina.


"Kita cuma butuh waktu yang lebih dan tidak tergesa-gesa buk Karina. Saya pastikan kalau semua rencana kita berhasil dalam waktu secepatnya!" ucap seorang pria yang memakai jas.


"Bagus.. Kalian boleh pergi dan kembali kemarket!" perintah Karina.


"Dan kalian! cuma nyulik satu perempuan aja susah banget! saya kan udah bilang, segera bawa Auris untuk saya!" perintah Karina kepada pria bertubuh besar.


"Hari ini sulit bos! dia seharian dikantor karena masalah klarifikasi itu, kita gak punya kesempatan buat menangkap dia!"


"Hahh sial! gara-gara masalah itu jadi masalah aku juga!!" maki Karina dalam hatinya.


"Tunggu kesempatan yang baik! saya gak mau kalau sampai ada orang lain yang tau!"


Karina memberikan sejumlah uang kepada kedua pria itu lalu setelah itu akan pergi dari sana.

__ADS_1


Malangnya nasib Alan pada saat itu, tidak sengaja dia terjatuh karena menabrak batu besar ditanah yang membuatnya harus ketahuan.


"Itu kan Alan? tangkap dia!" perintah Karina.


Karena panik Alan tertangkap basah dan harus berkelahi dengan kedua pria bertubuh besar tadi. Beberapa pukulan sempat dilayangkan oleh Alan dan mengenai keduanya, tapi sangat mustahil bisa memenangkan perkelahian itu. Apa lagi Karina sudah menunggu didepan mobilnya hingga sulit untuk bisa melarikan diri.


"Arrgghhh!" erang Alan dan terperosok jatuh ketanah.


Alan dibawa dengan paksa masuk kedalam bangunan yang sangat sunyi. Tangan dan kakinya diikat dengan tali dan dia dihajar habis-habisan.


Karina datang dengan membawa satu botol minuman beralkohol tinggi yang dia dapat dari dalam mobil para pesuruhnya.


"Keterlaluan lo Karina! gue gak akan biarin elo lolos dari Abian! kurang ajar lo!" maki Alan sangat geram.


"Oh ya..? kamu gak liat sekarang kamu lagi dimana dan siapa orang-orang yang ada disekeliling kamu? kamu masih berharap bisa kabur?" pungkas Karina dan berjalan mendekatinya.


"Apa salah Abian dan Auris? kurang kaya apa Lo sampai-sampai harus ngambil kekuasaan keluarga BARA? brengsek lo!!" makinya lagi.


Karina semakin mendekati Alan lalu tanpa izin menenggak kan minuman beralkohol itu kedalam mulut Alan. Ada sesuatu yang Karina rencanakan.


Kedua pria tadi mulai memakai sarung tangan, mengeluarkan satu pisau runcing. Dan ya!


P**au itu ditusukkan begitu saja keperut Alan dan setelah itu membiarkan Alan disana begitu saja dengan tubuh yang sudah bersimbah darah.


Alan berusaha menghubungi Abian namun tidak mendapatkan jawaban karena Abian tengah sibuk disorot oleh wartawan.


Dan hari itu adalah hari terakhir bagi Alan untuk kehidupannya didunia. Dia mengalami pendarahan dan tidak ada satu pun pertolongan yang bisa ia dapatkan.


"Maafin gue Abian.." ucap Alan diakhir napas terakhirnya.


..........


Abian bersama Auris sedang disorot oleh banyak kamera, ada begitu banyak wartawan yang berada dihadapan mereka. Lalu dengan tenang Abian menjelaskan semuanya.


"Dia sekertaris saya, dan istri saya tau itu. Saya menerima dia bekerja juga karena Karina. Kami dibogor tempo hari karena ada urusan bisnis. Tidak ada hubungan yang lebih antara kami berdua!" jelaskan Abian dan semua orang tampak lega akan hal itu.

__ADS_1


Dilain sisi, Auris menatap lekat wajah Abian ketika berkata seperti itu. Dalam hatinya, 'apakah akan tetap seperti ini? kapan Abian akan mengatakan kepada semua orang bahwa wanita yang saat ini bersamanya adalah istri Syah nya. Apa moment seperti itu akan ada? atau tidak sama sekali.'


"Huuh akhirnya selesai juga.. Saya gak tau masalah apa lagi yang akan terjadi kalau kita gak secepatnya klarifikasi masalah ini." ucap Abian dan saat itu dia mendapati wajah Auris yang kelihatan tidak bersemangat.


"Astaga.. gue ngomong apaan sih? Auris pasti kecewa. Bego!!" maki Abian dalam hati dan kembali mencairkan suasana.


"Abian!!" pekik Thomi dari kejauhan.


Thomi datang dengan wajah memerah dan tergesa-gesa. Begitu langkahnya terhenti tepat dihadapan Abian, air mata tidak lagi bisa ia kendalikan. Bendungan air disela-sela mata itu tak lagi bisa ditahan, dan tumpah begitu saja.


"Elo kenapa?" tanya Abian bingung dan Thomi langsung memeluk Abian begitu saja.


"Alan.. Alan udah gak ada!" beritahunya dengan sangat berat dan berusaha untuk mengendalikan tangisannya.


Abian dan juga Auris tersentak hebat dan tidak percaya, dengan cepat mereka semua menuju rumah sakit dan melihat keadaan Alan disana.


Sesampainya disana, tubuh Alan sudah ditutupi kain putih dan beberapa polisi berada disana.


"Kalian kerabatnya?" tanya pak polisi kepada Abian dan Thomi.


"Korban ditemukan dalam keadaan bersimbah darah dan sudah tidak bernyawa disalah satu bangunan tua. Tempat itu memang sarang persembunyian para pelaku kejahatan. Terdapat luka tusukan diperut korban dan juga korban tampaknya sehabis meminum minuman keras!"


"Minum?"


"Benar pak Abian. Karena bau mulut dari korban sangat begitu menyengat. Kemungkinan besar, korban terlibat permasalahan dengan beberapa orang hingga korban mengalami tusukan dan akhirnya tewas!"


"Dan pelakunya? bagaimana pak?" tanya Abian.


"Sayangnya, tidak ditemukan sidik jari atau tanda-tanda apa pun yang bisa untuk kami jadikan sebagai cara mencari keberadaan pelaku. Kami sangat menyayangkan itu pak Abian!"


"Saya mohon bantuannya pak! tolong lanjutkan kasus ini, saya ingin pelakunya tertangkap!" mohon Abian dan polisi pun berusaha untuk melakukan yang terbaik.


"Kenapa? kenapa harus terjadi kayak gini?" ucap Abian dan masih tidak menyangka dengan kejadian yang menimpa Alan.


Galih dan Anthoni juga menyusul, dan melihat jenazah Alan. Keempat sahabat itu kini harus kehilangan salah satu sahabat mereka. Sedari kecil semuanya sudah berteman dengan sangat baik, meskipun beberapa kali mereka sempat terpisah oleh jarak dan status sosial, tapi pada akhirnya mereka tetap bisa bersama lagi. Tapi kenapa hari ini, mereka harus menghadapi kejadian yang tidak pernah mereka duga akan terjadi.

__ADS_1


__ADS_2