Istri Rahasia Tuan CEO(Secret Wife Mr.CEO)

Istri Rahasia Tuan CEO(Secret Wife Mr.CEO)
Episode 46:Terjebak Didalam Hutan


__ADS_3

Auris tidak sadar jika dia tertidur di sofa ruang tengah kemarin malam sehabis menikmati makan malamnya. Pagi-pagi saat terbangun, dia sudah mendapati tubuhnya diselimuti dengan selimut tebal. Pantas saja tidurnya tadi malam begitu nyenyak.


"Yang kasih selimut ke saya bibik ya?" tanyanya ketika bertemu dengan bik Imah.


"Bukan neng, itu den bian!" beritahunya.


"Terus.. Abiannya dimana sekarang?"


"Ada dikamar neng.."


Auris membereskan tempat tidurnya dan juga akan mandi setelah semuanya beres.


Deeeerrrrrrrrtttt


Suara handphone milik Abian berdering dan yang menelpon itu adalah Karina. Auris sedikit tersenyum dengan maksud merencanakan sesuatu.


"Halo Karina.."


"Dimana Abian? kenapa kamu yang angkat teleponnya?" tanyanya dengan suara yang terdengar sangat curiga.


Auris masuk kedalam kamar Abian dan mendapati Abian tengah mandi didalam kamar mandi. Auris memiliki rencana yang cukup bagus ketika itu. Ia menaruh handphone Abian menempel dipintu kamar mandi dan ya.., Karina mendengar suara air didalam kamar mandi.


"Abian lagi mandi! kamu perlu sesuatu?" tanya Auris dengan suara mengsugesti pikiran Karina.


"Aku mau ngomong sama Abian! kasih handphonenya!"


"Kebetulan saya juga baru mandi Rin.. Masih sibuk milihin baju. Abian masih dikamar mandi, ada yang mau disampein? kalau ada biar saya sampaikan nanti. Ooh iya, kaki kamu gimana?"


Tutttttt


Karina memutuskan panggilan dan disana ia terlihat begitu marah. Wajahnya memerah ketika mendengar perkataan Auris yang sama sekali tidak ingin dia dengar.


"Kurang ajar!!" erang Karina.


Abian sudah selesai mandi dan keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk. Didapatinya Auris berada didalam kamarnya dan sedang memegang handphonenya.


"Tadi Karina nelpon!" beritahunya dan memberikan handphone Abian.


"Kamu angkat?"


"Menurut kamu?"


"Kamu bilang apa?"


"Menurut kamu saya harus bilang apa?" jawab Auris dengan balik bertanya lalu keluar dari kamar Abian dengan wajah datar.


Setelah mandi dan merasa segar, Auris pergi kehalaman belakang rumah dan memperhatikan sekelilingnya. Ia menghirup udara segar pagi itu dengan penuh ketenangan, rasanya sudah cukup lama tidak merasakan kedamaian seperti ini. Semenjak dia memiliki Ken, dia tidak punya sedikit waktu untuk memanjakan diri. Setiap hari bekerja dan harus terlihat baik-baik saja dalam pandangan adik-adiknya.


Ia mengeluarkan handphone miliknya.la mengambil gambar yang ada didepannya. Memotret beberapa objek yang tampak bagus dalam pandangan matanya.


Merasa belum cukup puas dari kejauhan, Auris pergi sedikit jauh lagi kearah depan. Dia begitu takjub dengan keindahan tempat itu. Pohon-pohon besar dan menjulang tinggi juga tumbuh segar ditanah subur yang saat ini tengah ia pijak.


"Ya ampun.. cantik banget!" ungkapnya.


Tanpa Auris sadari dia berjalan sudah cukup jauh dari villa. Ketika menoleh kearah belakang, tidak ditemukannya villa yang barusan saja ia tinggalkan.


"Perasaan gue gak jauh-jauh banget perginya. Jangan-jangan gue nyasar?" pikirnya lagi dan mulai tampak cemas.


Auris melangkah agak cepat dan hasilnya.. Masih tetap sama. Memang dia menelpon Abian, hanya saja signal tidak begitu baik, suaranya tidak begitu jelas.

__ADS_1


Dengan berat hati, kali ini Auris harus mengalami sedikit kesulitan. Dia harus terjebak didalam hutan yang tadinya dia anggap begitu indah dan memukau.


Sedangkan Abian yang masih berada didalam villa ikut dibuat khawatir. Abian dengan terburu-buru masuk kedalam hutan dan berharap bisa segera menemukan Auris disana.


"Auris!!" teriaknya memanggil nama Auris yang juga tidak mendapat jawaban.


Malangnya nasib Auris, bukan hanya terjebak didalam hutan, tapi kakinya juga dalam masalah. Karena berlari tidak karuan, pergelangan kakinya tergores Tunggul kayu yang runcing.


"Awwwwhh!!"


Kakinya mengeluarkan darah yang cukup banyak, dan dia tidak bisa berjalan lebih jauh lagi. Dia duduk bersandar dibawah pohon yang cukup besar dan berharap Abian atau siapa pun bisa menemukannya disana.


Abian kembali menelpon Auris tapi tidak menjawab jawaban apa pun. Karena handphone milik Auris mati kehabisan baterai.


"Auris!!" teriak Abian lagi.


"Abian?" Auris mendengar suara Abian dengan jelas.


Dia berteriak memanggil nama Abian dengan semangat, sudah cukup lega karena Abian datang mencarinya.


"Abian!!" teriak Auris dengan kencang dan sekuat tenaga.


Abian mendengar suara Auris yang tidak begitu jauh dari posisinya saat ini, dengan cepat dia berlari mendatangi arah suara itu. Dan dia pun menemukan Auris dalam kondisi yang tidak cukup baik.


"Auris! kaki kamu!"


"Saya gakpapa.." ucapnya lirih dan bersikap seolah luka itu tidak cukup buruk.


"Kaki kamu berdarah!"


"Saya tau!"


"Kalau kamu kehabisan darah gimana? makanya jangan asal pergi!" omel Abian.


"Pasti sakit banget!" dengus Abian dan menatap lekat Auris.


"Gakpapa.." jawabnya dan menghindari pandangan Abian.


Tanpa basa-basi, Abian menggendong tubuh Auris dan membawanya pergi dari sana. Tapi tanpa dia sadari, ketika itu handphonenya terjatuh dari dalam saku celananya. Dan habislah keberuntungan mereka.


"Turunin saya Abian!" Auris menolak dan memukuli badan Abian.


"Memangnya kamu bisa jalan? jangan sok kuat Auris!" pungkasnya dan tidak menghiraukan Auris.


Auris tidak bisa menolak mentah-mentah pertolongan Abian, bagaimana pun juga memang benar bahwa saat ini kakinya masih terasa begitu sakit.


Tidak bisa berkata apa-apa, dia hanya bisa mengumpat karena kesal.


Sudah berjalan cukup jauh dan membuat Abian ngos-ngosan, namun jalan keluar pun belum juga ditemukan.


"Saya capek.." keluh Abian dan menurunkan Auris.


"Ini dimana sih sebenarnya? jam berapa?"


"Masih pagi!"


"Terus jalan keluarnya dimana?" Auris terlihat semakin khawatir.


"Kalau saya tau.., dari tadi kita udah gak disini lagi!"

__ADS_1


"Kok kamu jawabnya gitu? kamu nyalahin saya?"


"Saya gak bilang begitu.."


"Tapi dari nada kamu bicara, memperlihatkan kalau kamu lagi nyalahin saya!" omel Auris.


"Enggak sayang.." ucap Abian keceplosan karena merasa gemas dengan tingkah Auris.


"Apa? apa kamu bilang?" Auris semakin terpancing amarahnya dan berusaha meraih Abian yang ada dihadapannya untuk melayangkan pukulan. Tapi kakinya masih terlalu sulit untuk dikendalikan, dia hampir terjatuh dan dengan sigap Abian menangkap tubuhnya.


Bak drama romansa dalam drama-drama Korea dan sinetron SCTV, keduanya saling bertatapan dan sepasang bola mata itu saling menatap lekat dan hampir tidak berkedip untuk beberapa detik.


"Astaga.. Gue tau dia masih tetap tampan kayak delapan tahun yang lalu, tapi stop Auris! ini cuma kedok, pria yang ada dihadapan Lo sekarang ini adalah monster!" gerutu Auris dalam hati.


Tidak boleh terpancing, jangan sampai hati seorang Auris luluh hanya karena perangkap kecil ini.


"Lepasin!" ucap Auris dan kembali pada posisi yang benar.


"Kita pelan-pelan aja jalannya, kalau kamu memang gak mau saya gendong!" usul Abian.


Abian membantu Auris berjalan sembari memegangi tangannya agar tidak terjatuh. mereka berjalan untuk beberapa jam namun tetap saja tidak menemukan jalan keluar. Malah, pohon-pohon disekeliling mereka terlihat semakin banyak dan semakin ngeri saja.


Ketika itu ada anjing hutan yang menghentikan langkah mereka. Berlari untuk menghindari pun tidak akan mungkin bisa luput dari kejaran hewan itu.


Ada sebuah pohon yang cukup besar disebelah mereka, dengan pelan dan penuh kehati-hatian Abian membantu Auris untuk memanjat pohon itu.


Si anjing masih belum terlihat bringas, dia masih menerka-nerka dari jarak empat meter dari posisi Abian yang sedang kesusahan membantu Auris untuk bisa memanjat pohon.


"Auris cepat!!" paksa Abian karena semakin takut.


"Saya lagi usaha!!"


"Injak bahu saya!!" perintah Abian dan membiarkan Auris menginjak bahunya.


'Siapa orang yang berani dan pernah menginjak bagian tubuh seorang Abian? biarkan Auris menjadi makhluk pertama yang melakukan itu'.


Dengan susah payah Auris berhasil naik dan sudah berada diatas pohon, sedangkan Abian masih bersusah payah untuk naik.


Gukkk Gukkk


Anjing hutan itu mulai bersiap untuk mengejar. Dan tanpa aba-aba, anjing itu berlari kencang kearah Abian dan hampir saja, jika Abian lambat beberapa detik saja, sudah pasti kakinya akan digigit.


Bukannya pergi, anjing itu malah masih tetap menggonggong dibawah.


"Husss pergi!!"


Masih tetap tidak pergi, Abian melempar sendal yang ia pakai jauh dari posisi mereka. Dan akhirnya anjing itu pergi juga.


"Huuh akhirnya.." dengus Auris merasa lega.


"Untung aja ada pohon ini!" lanjutnya.


"Untung ada saya! bukan karena pohon ini!" protes Abian tidak terima.


"Hmm.. Makasih!" ucap Auris datar.


"Haa? makasih? gak salah nih?" tanyanya tidak percaya.


"Iya.. Te-ri-ma-kasih!"

__ADS_1


"Auris-Auris.. Bukan begitu caranya berterimakasih, harus ada senyuman yang terukir lebar dibibir itu!" ajarinya sembari ingin menyentuh wajah Auris. Tapi Auris langsung menepisnya.


"Jangan mengatur saya Abian! kita bukan lagi ada dikantor, saya bukan sekertaris kamu disini!!" omel Auris dan Abian pun lagi-lagi harus diomeli habis-habisan oleh istrinya yang satu ini.


__ADS_2