
Amanda dan Thomi masih berkeliling dikeramaian kota Jakarta, selagi Amanda mengerjakan tugas yang diberikan Thomi, sedangkan Thomi sendiri tengah fokus menyetir.
Mereka pergi ke cafe yang sering Auris datangi, semoga saja mendapatkan informasi dari sana. Saat bertemu dengan Andi pelayan cafe yang sudah mengenal Auris sejak lama, ternyata dia juga tidak mengetahui keberadaan Auris.
Amanda menggeleng-gelengkan kepalanya seakan masih tidak habis pikir dengan kegigihan Thomi.
"Sebegitunya kah? suka atau gimana?" pikir Amanda dalam hatinya.
Apakah Thomi memendam perasaan khusus terhadap Auris, sampai-sampai dia begitu khawatir dengan keberadaannya.
"Terus sekarang apa yang harus kita lakuin? cafe tengah malam tempat dia kerja, cafe ini, dilapangan basket juga gak ada!" pungkas Thomi sembari menendang pinggir ban mobilnya.
"Maaf pak, ini udah lewat dari istirahat jam makan siang. Bapak ada janji ketemu sama klien!" ingatkan Amanda.
"Kamu kok tau?"
"Resepsionis kantor baru aja nelpon saya. Mengenai Auris, nanti bisa kita lanjutkan!"
"Tapi.."
"Saya tau bagaimana Auris, bapak jangan khawatir!" tuturnya meyakinkan.
Thomi pun kembali kekantor dan akan melakukan pertemuan dengan klien. Sementara itu dia meminta Amanda untuk ikut bersamanya dan bersikap seolah menjadi sekertarisnya.
"Saya senang mendengar presentasi Bapak Thomi barusan. Saya akan sampaikan kembali kepada Direktur PT. kami, dan akan segera menghubungi bapak kembali!" ucap klien Thomi.
"Terimakasih atas kerja samanya pak!" jawab Thomi dan pembicaraan itu berakhir dengan jabatan tangan.
"Pekerjaan saya udah selesai, tolong buatin saya kopi!" perintah Thomi pada Amanda.
"Kan ada OG, kok gue lagi sih? waah maksudnya apaan cobak?" gerutu Amanda sembari sibuk mengaduk kopi yang dipinta Thomi.
"Ini dia pak! kopi manis semanis kehidupan bapak.."
Goda Amanda sambil menebar senyuman manisnya.
"Hah.. Amanda.. Amanda.. Tau apa kamu tentang hidup saya!" jawab Thomi dan selanjutnya meminum kopi buatan Amanda.
"Waah.. Hebat juga kamu buat kopinya, kalau begini, saya mau dibuatkan setiap hari!"
"Maksud bapak? saya jadi office girls? waah jangan begitu dong pak!"
"Ya ampun.. Ya bukan lah.. Maksud saya.., kamu sekarang jadi sekertaris saya! dan kalau saya mau kopi, kamu harus buatin dengan rasa yang sama seperti ini!"
"Wahh serius pak? bapak gak lagi bercanda kan?"
"Saya selalu serius Amanda.."
"Makasih banyak loh pak! kalau gitu sekarang saya harus kerjakan apa nih pak?" tanyanya bersemangat.
"Cek jadwal besok, apa saya ada meeting lagi atau enggak. Saya mau keruangan pak Abian sebentar!"
"Baik pak!"
__ADS_1
Thomi pergi keruangan Abian, sedangkan Amanda bersemangat dengan jabatan barunya. Lumayan.. Jabatan baru dan gaji baru sudah menantinya.
Saat Amanda tengah bekerja penuh semangat, tiba-tiba Auris menelpon.
"Iya ris.. Elo udah nyampe? udah dapat tempat tinggal?"
"Udah dong aman itu.. Evans sama Aqilla lagi beresin barang-barang! kerjaan Lo gimana?"
"Gue seneng banget ris, pak Thomi jadiin gue sekertaris dia!"
"Waah serius? Gue ikut seneng dengernya? Eeh udah dulu ya, Aqilla manggil!"
"Oke.. Elo baik-baik disana!"
Amanda menutup teleponnya, dan kembali fokus pada pekerjaannya. Namun tiba-tiba,
"Siapa?" tanya Thomi sembari menatap lekat wajah Amanda.
"Mati gue.." dengusnya pelan.
"Si-siapa? maksud bapak?"
"Yang nelpon barusan!"
"Temen saya pak!"
"Siapa?"
"Ada.. Orang jauh!"
"Ya bukan lah pak!"
"Auris..?"
"Bu-bukan pak.." jawab Amanda dan mulai gugup.
"Jangan bohongi saya!" ucap Thomi dengan nada keras dan membanting map yang ada diatas meja.
"Iya itu Auris!" jawab Amanda tanpa ragu.
"Astaga Amanda.. Seharian kita keliling kota ngabisin waktu dan tenaga.. tapi ternyata kamu tau keberadaan Auris? kamu main-main sama saya?"
"Bukan begitu pak!"
"Terus apa? sekarang jelasin semuanya! dimana Auris? hubungi dia sekarang!"
"Auris ada dibandung, dia udah dapat tempat tinggal yang jauh lebih baik disana. Saya mohon sama pak Thomi, jangan beritahu siapa pun tentang keberadaan Auris sekarang.."
"Kamu berani memerintah saya?"
"Pak.. Please lah pak Thomi.. Itu kemauan Auris sendiri!"
Dengan terpaksa Amanda menjelaskan dengan jujur alasan kepergian Auristela. Perlakuan ibu Sora tidak seharusnya ditutup-tutupi lagi.
__ADS_1
"Menurut bapak, apa pantas Auris mendapatkan ketidak adilan itu? biarkan Auris tenang untuk kali ini. Biarkan dia memilih jalannya sendiri!" mohon Amanda.
"Saya gak masalah kalau dipecat pak, tapi saya mohon.., jangan sampai ada orang lain yang tau tentang ini!"
Thomi semakin dibuat bingung, dia tau seburuk apa pun perlakuan Abian selama ini, dia tetap yang paling berhak atas bayi yang ada dalam kandungan Auris.
Tapi mendengar penjelasan Amanda, rasanya akan sangat hancur perasaan Auris, jika keluarga Abian menariknya kembali masuk kedalam rumah yang menjadi sebab rasa sakit hatinya.
"Saya gak habis pikir, kenapa baru sekarang kamu ngasih tau saya. Saya anggap kamu udah memaksa saya untuk tutup mulut. Ya.., saya akan coba untuk merahasiakan ini!" jawab Thomi dengan berat.
"Terimakasih pak.. Terus.., saya masih tetap jadi sekertaris bapak kan?"
"Karena saya butuh, jadi ini keberuntungan kamu!"
"Ya ampun bapak baik banget sih.. Makasih pak Thomi..!" ucapnya sangat bersemangat.
...****...
3 Bulan Kemudian
Hari-hari Abian dihabiskannya untuk bekerja, sibuk dengan persiapan pernikahan, dan juga sibuk menghadapi keinginan Karina.
Dan Devina pun juga sudah melahirkan bayi perempuan yang sangat cantik dan manis.
Saat itu Devina merasa kehilangan, meski sikapnya pada Auris cukup dingin, tapi sebenarnya dia tidak menginginkan Auris pergi.
Berita dibeberapa stasiun televisi sudah memuat pemberitaan tentang Abian dan Karina. Dua pengusaha muda dari keluarga kaya raya akan melangsungkan acara pernikahan mereka.
Kemana pun Abian pergi, para wartawan akan mengikutinya dan mewawancarainya habis-habisan. Wajar saja, seorang Abian Kaindra Bara akan melepas masa lajangnya diusianya yang sudah mencapai tiga puluh tahunan, dan akan menikah dengan seorang wanita berusia dua puluh tujuh tahun.
Sama-sama dari keluarga kaya dan terhormat pula.
"Dasar cowok gak punya perasaan!" gerutu Evans saat dirinya tengah menonton televisi dan melihat pemberitaan Abian dan Karina.
"Sensi banget! gak usah sibuk mikirin mereka, biarin aja!" jawab Auris dan duduk disamping Evans yang tengah duduk dikursi sederhana mereka yang terbuat dari rotan.
"Tapi aku jengkel liatnya kak.. Acara lamaran heboh, nikah heboh. Lebay banget.."
"Apanya yang lebay? namanya juga mereka orang penting!" Auris tertawa melihat tingkah adiknya.
"Kakak benci gak sih liat mereka kayak begitu?"
"Aduh pertanyaan kamu.. Gak ada yang lain?"
"Aku aja capek loh kak liat kelakuan mereka, kalau memang Abian laki-laki yang bertanggung jawab, dia pasti membela kakak. Bukan Tante sora!"
"Ya enggak lah.. Kan itu ibunya.."
"Satu hal yang harus kamu tau. Kakak dan Abian belum menikah, cuma anak ini yang jadi alasan hubungan kakak dan Abian. Tante Sora bersikap buruk karena dia masih belum bisa terima kenyataan antara Abian dan kakak."
"Tau ah kak! aku gak suka liat mereka!"
"Belajar memaafkan Evans.. Kamu gak perlu memaksa diri kamu buat suka atau enggak sama mereka, cukup maafkan semua hal yang membuat hati kamu sakit. Sekalipun sikap mereka masih tetap sama, paling enggak kamu gak akan ngerasain sakit karena kamu udah gak perduli. Karena kamu udah memaafkan semuanya.."
__ADS_1
Auris mencoba menasehati sang adik. Jujur saja sebenarnya tidak mudah melakukan semua itu. Tapi mencoba pun tidak akan jadi masalah.