
'Ada banyak kesalahan dan hari-hari yang buruk pada masa lalu. Dan tidak akan mungkin bagi seorang pun bisa melupakannya dengan baik. Semua kenangan itu pasti akan tetap menjadi ingatan yang sewaktu-waktu memang akan teringat kembali tanpa permisi. Hanya beberapa orang yang mampu mengendalikannya, yaitu dia yang mampu memaafkan, dan berani berdamai dengan keadaan.'
"Auris! tunggu!!"
Hentikan Karina saat Auris baru saja menuruni anak tangga.
"Mau kemana kamu sama Abian haa?" tanyanya dengan tatapan curiga.
"Apa pentingnya buat kamu? udah mulai penasaran sama kehidupan saya?" tanya Auris balik sembari mengusung senyum sinisnya.
"Saya ingatkan ya sama kamu! jangan coba-coba mendekati Abian dengan rayuan dan tipuan kamu itu. Karena Abian bukan papa yang bisa kamu manfaatkan!"
"Jaga bicara kamu Karina!!" tegaskannya.
"Kenapa? apa yang saya bilang itu memang betul!"
Auris menghela nafas kasar dan mencoba untuk tidak terpancing dengan perkataan Karina.
"Maaf Karina, tapi saya harus pergi sekarang, karena suami saya udah nunggu didepan!" jawabnya dan pergi meninggalkan Karina dengan kekesalannya.
"Kurang ajar!!" erangnya merasa kesal.
........
"Saya gak bisa lama-lama diluar!" beritahu Auris ketika baru saja masuk kedalam mobil.
"Kenapa?"
"Ken,,"
"Ya ampun Auris.. Ada banyak orang dirumah yang sayang dan perduli sama Ken. Bukan cuma kamu aja, jadi kamu gak perlu khawatir!"
Yakinkan Abian dan tanpa izin atau kode apa pun, ia memasangkan safety belt (sabuk pengaman) milik Auris, namun Auris dengan sigap menepis tangan Abian dengan cukup keras.
"Awwghh! kayaknya kamu lebih cocok jadi bodyguard deh dari pada sekertaris!" ejeknya sedangkan Auris hanya mengernyitkan dahinya dan tidak melanjutkan merespon ocehan Abian.
Setelah beberapa menit menghabiskan waktu diperjalanan, akhirnya keduanya sampai di toko pakaian khusus wanita yang sudah menjadi tempat langganan ibu Sora dan Karina.
Bahkan saat baru saja sampai disana, para stuff dan manajer keheranan dengan sosok wanita yang dibawa Abian kali ini. Kenapa ada wanita lain setelah Ibu Sora dan Karina?.
"Kamu bisa pilih pakaian yang menurut kamu cocok buat dikantor. Kamu bisa ganti pakaian disana dan sehabis itu biar saya cek!" ungkapnya.
"Cek buat apa? saya bisa sendiri!" tolaknya lalu meninggalkan Abian dan memilih pakaian yang cocok untuknya bekerja besok.
"Kenapa sih susah banget ngobrol enak sama dia?" gerutu Abian.
Auris masuk kedalam ruang ganti dan memakai pakaian yang tidak jauh berbeda dengan pakaiannya sewaktu pernah menjadi sekertarisnya Thomi.
Sedangkan disisi lain, Abian juga sedang sibuk memilih gaun cantik di bagian ruangan lain.
Gaun simple dan elegan berwarna pink dusty polos yang terlihat smooth menjadi pilihan terakhirnya. Gaun itu sengaja ia beli untuk dihadiahkan kepada Auris, dan tampaknya Abian benar-benar ingin menaklukkan hati Auristela.
Auris keluar dari dalam ruang ganti dan melihat pantulan dirinya didalam kaca yang besar.
"Waah ternyata gue masih langsing kok!" gumamnya dan tiba-tiba Abian datang menghampirinya.
"Kamu gak tau pakaian yang bagus itu gimana ya?"
__ADS_1
"Kenapa? ada yang salah sama pakaian saya? aneh banget tau gak!!" omel Auris.
"Bagus? ini tuh terlalu ketat..!" ketusnya sembari menunjuk kepada baju Auris.
"Roknya juga kependekan!" lanjutnya kesal.
"Apa urusan kamu? ini bagus kok, keliatan seksi lagi!" jawabnya dan spontan Abian mendaratkan telapak tangannya menutup mulut Auris.
"Iihh lepasin!" erang Auris.
"Kamu itu istri saya! saya akan perhatikan semua hal yang ada dalam diri kamu, termasuk pakaian kamu!"
"Jangan mengatur saya Abian!!"
"Saya berhak, karena saya suami kamu!" jawabnya sembari memperlihatkan cincin pernikahan mereka yang sudah melingkar dijari manisnya.
Auris memperhatikan cincin itu dan benar bahwa itu adalah cincin pernikahan mereka. Lantas bagaimana dengan milik Karina? kenapa tidak terlihat cincin pernikahan mereka melingkar dijari manis Abian.
"Kenapa kamu pakai itu? gimana kalau ada orang yang tau?"
"Bukan urusan mereka!" jawabnya lalu meninggalkan Auris dan dia sendiri yang memilihkan pakaian untuk Auris.
Dia begitu fokus memilah baju dan akhirnya dress dengan panjang dibawah lutut menjadi pilihan terbaiknya. Ada berbagai macam warna dan model yang cukup trendi menjadi pilihannya. Tidak ada kemeja dan juga rok span selutut.
"Saya mau jadi sekertaris loh, gak akan cocok.." keluh Auris.
"Saya Direktur Auris! kamu lupa ya?"
Mendengar Abian menyombongkan kekuasaannya membuat Auris jadi tidak berselera untuk menanggapinya lebih jauh lagi.
Setelah selesai membayar semua barang-barang yang dibeli, mereka pun melanjutkan perjalanan menuju rumah. Kebetulan saat itu hari sudah malam dan mereka masih berada ditengah perjalanan.
"Eeh sebentar! itu bukannya sate Padang itu kan?" ingatkan Auris.
"Ooh bapak itu, iya! dia masih jualan."
"Kamu sering lewat sini?"
"Iya lah.. mau mampir?" tanya Abian menawarkan dan Auris tentu tidak bisa menolak.
Keduanya berbalik arah dan mampir hanya sekedar untuk memakan sate Padang.
Auris benar-benar menikmati waktunya saat ini, sesekali senyumannya tertangkap basah oleh pandangan Abian yang membuat Abian juga ikut senang.
...🔥🔥🔥...
Abian dan Auris sudah sampai dirumah. Ibu Sora dan Karina berada diruang tengah dan melihat kedatangan keduanya. Ketika melihat Auris, ibu Sora langsung memasang wajah masam dan setelah itu pergi menuju kamarnya dengan langkah kesal.
Auris menundukkan pandangannya karena merasa tidak enak dengan sikap mertuanya. Rasanya sudah cukup lama dirinya menjadi bagian keluarga ini, tapi sikap ibu Sora masih saja tidak berubah.
Auris membiarkan Abian dan Karina masuk lebih dulu kekamar mereka.
Sedangkan ia pergi kedapur.
Dan saat didapur, Auris memberikan sebuah bingkisan yang isinya beberapa baju baru untuk asisten rumah tangga mereka yang bertugas didapur.
"Makasih nyonya Auris.. Saya gak tau harus bersikap bagaimana.. Nyonya udah sering banget bantu saya!" ungkapkan bik Susi dengan tulus. Karena memang beberapa waktu yang lalu, saat bik Susi butuh uang untuk sekolah anaknya yang ada dikampung, Auris tidak segan-segan untuk membantu.
__ADS_1
"Bibik berlebihan banget.. Anggap aja ini hadiah karena bibik udah giat kerjanya!"
"Bik, saya boleh minta sesuatu gak?" tanya Auris dengan serius.
"Saya boleh peluk bibik gak?"
Wanita paruh baya itu langsung saja menangis haru dengan permintaan nyonya mudanya. Dan dengan senang hati memeluk Auris dengan penuh cinta.
"Ooh iya nyonya, Bella sama Ken ada dikamar nungguin nyonya. Katanya Bella mau tidur sama nyonya!" beritahunya.
"Ya ampun.. Ya udah bik saya tinggal ya, bibik juga istirahat gih udah malam!!"
Auris dengan cepat menuju kamar dan menemui anak-anaknya.
"Kakak lama banget, dari tadi mereka disuruh tidur tapi gak mau!" keluh Aqilla.
"Ya udah sana kamu istirahat!"
Auris menghampiri Ken dan Bella yang sudah menunggu sedari tadi.
"Kok belum tidur..? Bella juga, kenapa tiba-tiba mau tidur dikamar bunda?" tanya Auris.
"Bella mau dibacain dongeng kayak Ken. Bella boleh disini kan bunda?"
"Boleh dong sayang.. Sekarang biar bunda bacain dongengnya!"
Auris berada ditempat tidur paling pinggir sedangkan Bella dan Ken berada disebelahnya. Kedua bocah itu begitu menikmati cerita dongeng yang Auris bacakan, dan tidak selang berapa lama keduanya tertidur.
Karena kelelahan, Auris juga ikut tertidur setelah itu.
Dan didalam ruangan lain, dikamar Abian, dia dan Karina masih saja cekcok mengenai kepergiannya dengan Auris sore tadi.
"Aku capek Karina.. Please,, jangan sekarang!"
"Aku juga capek Abian..! kenapa sih harus dia jadi sekertaris kamu? oke aku tau kerjaan kita banyak dikantor, tapi masih banyak orang lain yang bisa dijadikan sekertaris. Gak harus Auris!"
"Kalau Auris bisa, kenapa harus orang lain?"
"Sayang.."
"Karina.. Kamu bersikap begini kenapa? kamu cemburu? kamu takut kalau aku suka sama Auris?" tanya Abian dan Karina memasang wajah kesal.
"Gak gitu.., tapi,"
"Menjadikan Auris sebagai sekertaris, gak akan merubah perasaan aku. Besok kita ada meeting kan, sebaiknya kamu istirahat. Aku mau liat Bella udah tidur atau belum."
"Kamu gak akan ngobrol sama Auris kan?"
"Aku gak ada waktu buat itu!" jawabnya meyakinkan.
Abian mendatangi Auris dan masuk kedalam kamarnya karena memang tidak dikunci.
Ia mendapati Auris sudah tertidur pulas dengan kedua anaknya. Abian menghampirinya dan berdiri tepat disebelah Auris.
Abian mengambil buku dongeng yang masih berada ditangan Auris lalu menyimpannya.
"Laki-laki mana yang bisa menolak perempuan setulus kamu Auris? aku tau, ada sesuatu yang papa sembunyikan dan kamu tau itu. Tapi kamu memilih untuk diam demi kebaikan semuanya. Aku yang bodoh karena udah terlalu sering mengecewakan kamu!" ungkap Abian dalam hatinya.
__ADS_1
Abian menarik selimut lalu menyelimuti tubuh Auris dan kedua anaknya. Abian mengusap kening Auris dengan penuh kelembutan lalu meninggalkannya dengan senyuman.