
Pagi-pagi sekali Auris sudah menyiapkan segala keperluannya untuk hari pertamanya bekerja bersama Abian. Tidak lupa juga dengan segala keperluan Ken yang akan berangkat kesekolah.
Namun dipagi hari itu, terjadi perbincangan yang cukup serius dimeja makan. Seperti hari-hari biasanya, ibu Sora selalu menyudutkan Auris atas keputusan Abian yang tampak membelanya.
"Harusnya Auris itu tetap dirumah! kalau dia ikut kerja, gimana sama Ken?"
"Ma.. Tapi kan Ken banyak yang ngurus dirumah.." jawab Tuan Thosio.
"Iya ma.. Lagi pula, Auris juga butuh udara luar. Gak harus dirumah terus!" sambung Abian.
"Kamu sama aja kayak papa kamu!" omel ibu Sora.
"Tapi Ken ikut seneng loh Oma.. Karena papa sama mama bisa bareng-bareng!" sahut Ken tiba-tiba.
"Oh ya? mama ikut kerja loh sama papa, memangnya Ken mau gak diperhatiin lagi sama mama?" tanya ibu Sora mempengaruhi.
"Sttt mama.." ingatkan suaminya.
"Enggak kok Oma.. Mama selalu perduli kok sama Ken, walaupun mama sibuk. Lagian., mama juga seneng kok bisa bareng sama papa!" ucap Ken sembari tersenyum menggoda kearah Auris.
"Ken.. Ayo habisin sarapannya, nanti kita telat!" ingatkan Auris sembari menyudahi argumen pada pagi itu.
Setelah sarapan selesai, semuanya pergi untuk melanjutkan aktivitas mereka masing-masing.
Abian menyetir mobil sendiri, Karina berada dikursi depan disebelahnya, sedangkan Auris, Ken, dan Bella berada dibelakang. Pagi ini akan menjadi pagi yang berbeda dari hari-hari sebelumnya.
Meski Karina terlihat begitu kesal, tapi dia harus tetap menerima kenyataan itu. Nyatanya, ucapan Abian sudah mempengaruhi seisi kepalanya.
"Aku gak mungkin jatuh cinta sama Auris. Aku jadikan dia sebagai sekertaris, aku cuma mau memanfaatkan dia Karina. Percaya sama aku! aku menikahi dia, Karena aku mau kasih penderitaan buat hidup dia, dan ketika itu terjadi, dia gak akan bisa pergi semudah yang dia harapkan. Dia sudah dalam genggaman seorang Abian Karina!" sebut Abian pada kemarin malam dan berhasil mempengaruhi pikiran Karina.
"Kita sampai.." Abian memberhentikan mobilnya dan membiarkan kedua anaknya pergi menuju gerbang sekolah dengan senyuman bahagia.
"Kalian kok bisa barengan datangnya?" tanya salah satu teman Ken dan Bella.
"Kita kan saudara!" jawab Bella dengan polos dan tiba-tiba Ken menyenggol sikunya.
"Maksud Bella.. Kita ini sahabat baik, jadi udah kayak saudara!" jawab Ken yang sudah mengerti dengan situasi keluarganya.
"Tapi kok tadi satu mobil?" lanjut temannya lagi.
"Mama aku kerja satu kantor sama mamanya Bella, itu makanya berangkatnya bareng." jawab Ken lagi beralasan dan tentu teman-temannya percaya dengan ucapannya.
...****...
"Kenapa ruangan saya disini juga?" tanya Auris ketika menyadari bahwa dia satu ruangan dengan Abian.
"Kamu berharapnya dimana? jangan banyak komentar! mendingan sekarang kamu langsung urus semua pekerjaan saya. Cek jam berapa saya ketemu klien hari ini!" perintah Abian dan dan dia mengantarkan Karina keruangannya dilantai lima.
"Guys! itu beneran Auristela kan?"
__ADS_1
Beberapa karyawan yang melihat Auris disana menjadi sibuk bergunjing. Semuanya cukup terkejut dengan kehadiran Auris, apa lagi dia datang begitu saja, tanpa ada pemberitahuan kepada semua orang.
"Iya lah Auris! kalian pikir siapa lagi?"
Sahut Amanda yang tiba-tiba datang.
"Kenapa balik lagi ke perusahaan? bukannya dia udah lama ngilang ya?"
"Pak Abian bentar lagi juga kasih informasi kok!" jelaskan Amanda dan setelahnya Abian datang untuk memperkenalkan kembali Aurista.
"Sekarang Auris kembali bergabung diperusahaan, dan dia menjadi sekertaris saya. Jadi saya harap kalian semua bisa bekerja sama dengan baik!"
Abian menjelaskan posisi Auris diperusahaan dan tampaknya Auris akan menjadi salah satu orang yang pastinya cukup disegani oleh orang-orang dikantor. Setiap stuff selalu saja kedapatan sedang bergunjing mengenai keluarga BARA, tapi kali ini semuanya harus lebih berhati-hati, Auris adalah pekerja yang sangat setia. Bisa jadi Auris akan melaporkan segala hal yang dia ketahui kepada Abian.
Ketika Abian sedang menjelaskan beberapa hal, ada sesuatu yang membuat Auris cukup terkejut. Ada salah satu karyawati yang dia kenal. Itu adalah Puteri Tuan Thosio dari istri keduanya yaitu Jia.
Ketika Auris hendak pergi melangkahkan kakinya mengikuti Abian, wanita itu tersenyum kearahnya dan Auris pun semakin yakin bahwa apa yang dia lihat itu benar.
Sudah sampai didalam ruangannya pun, Auris masih saja memikirkan Jia.
Entah dengan alasan apa Jia bisa bekerja diperusahaan Tuan Thosio. Semoga saja tidak ada rencana buruk yang akan dilakukan Jia, tapi melihat perlakuan Tuan Thosio kepada dia dan ibunya, kemungkinan besar Jia tidak akan mungkin melakukan hal yang tidak baik.
Saat Karina sudah tidak ada diantara Abian dan Auris, ini lah waktunya bagi Abian untuk meluncurkan serangan mendadaknya untuk merayu hati seorang Auristela Ayana.
"Ini ambil!" ucapnya sembari menaruh kantong tas berisi gaun yang ia beli kemarin hari.
"Ini apa?"
"Hadiah!"
"Hari ini bukan hari ulang tahun saya!" jawabnya agak malas dan kembali fokus pada laptopnya.
"Anggap aja itu hadiah dari saya, karena kamu mau kembali lagi bekerja diperusahaan!"
"Saya bersedia balik lagi disini karena saya rindu dengan pekerjaan ini. Bukan karena perintah kamu!"
"Terserah kamu mau bilang apa. Nanti malam saya mau kamu pakai dan datang ketempat yang sudah saya siapkan!" perintahnya dan kembali duduk dikursi kerjanya.
Auris melihat isi tas itu dan menemukan gaun yang begitu cantik didalamnya. Namun bukan Auris namanya jika terpancing semudah itu. Auris mendatangi Abian dan menaruh kembali tas itu dimeja kerjanya.
"Kenapa dibalikin?"
"Saya gak bisa terima ajakan kamu!"
"Kenapa? saya mau ajak kamu makan malam, apa itu merugikan?" tanya Abian melotot.
"Saya gak mau lagi berurusan sama Karina Abian! kamu pikir mulut istri kamu itu gak tajem kalau menghina saya? saya capek, kalau saya udah kehabisan kesabaran, jangan salahkan saya kalau terjadi sesuatu yang buruk sama dia!" ingatkan Auris dengan serius.
"Heyy.. Biasa aja kali. Gak harus emosian begitu!"
__ADS_1
"Saya serius!"
"Auris.. Kalau saya punya salah yang belum bisa kamu maafkan, ini waktunya saya untuk perbaiki itu. Biarkan saya mendapatkan maaf dari kamu!"
"Jangan merayu saya dengan kata-kata manis kamu!"
"Astaga.. Saya tulus Auris, masak begini aja saya harus merayu-rayu."
Auris masih bersikap acuh dan jual mahal, tapi rayuan dari Abian tidak bisa dia hindari dan akhirnya dia menyetujui ajakan Abian.
"Saya memberikan baju ini dan ngajak kamu makan malam, bukan ajakan dari seorang Abian, tapi sebagai suami kamu!"
Auris mengambil kembali baju itu dan menyimpannya. Sedangkan Abian sedikit mengusung senyumnya dan merasa gemas dengan tingkah Auris.
Auris kembali fokus pada pekerjaannya, sedangkan Abian dari kejauhan masih saja memperhatikan wajah Auris dengan pandangan lekat. Rasanya begitu damai dengan suasana saat ini.
"Auris! buatin saya kopi dong!" perintah Abian dan Auris menghela napas kasar.
"Harus saya ya?"
"Saya kangen rasa kopi buatan kamu." godanya.
"Saya buatin sekarang!"
Auris pergi dengan terpaksa dan akan menyiapkan kopi yang spesial untuk Abian. Meski sangat kesal, Auris tetap membuatkan kopi yang nikmat, karena bagaimana pun Abian adalah suaminya. Tidak pantas rasanya jika dia berprilaku buruk pada suaminya sendiri, apa lagi sekarang Abian juga sedang berusaha untuk merubah sikapnya.
"Abian beruntung banget ya bisa dapat istri kayak kamu!" ucap Jia yang tiba-tiba sudah berada disebelah Auris.
"Jia.. Kamu Jia kan?"
"Ya.. Seperti yang kamu lihat."
"Sejak kapan kamu kerja disini? emm maksud aku, kenapa.." Auris tampak gugup karena takut salah bertanya.
"Auris.. Aku tau kok kamu mau tanya tentang apa. Kamu tenang aja, aku gak mungkin ngelakuin hal buruk. Aku kerja diperusahaan papa karena usaha aku kok. Bukan karena papa!"
"Ya.. Aku ikut senang karena kamu bisa kerja disini dan kita bisa ketemu lagi."
"Mama apa kabar?" tanya Auris merubah topik pembicaraan.
"Baik.. Ngomong-ngomong.., selamat ya atas pernikahan kamu sama Abian!"
"Kamu tau?"
"Aku bukan Abian yang gak tau apa-apa dengan kehidupan dia sendiri Auris!" jawabnya sembari tersenyum tipis.
"Ya.."
"Kamu tenang aja! aku bisa jaga rahasia kok!" jawabnya dan pergi meninggalkan Auris dengan senyuman yang penuh dengan tanda tanya.
__ADS_1