
Pagi ini Thomi tampak senang, itu terlihat dari raut wajahnya yang tidak bisa ia tutupi dari semua karyawan yang ada dikantor.
Semua orang merasa Thomi sedang mendapatkan sesuatu yang baik pada pagi ini. Dari gelagatnya saja sudah kelihatan, senyum lebarnya terukir ketika sedang melewati para karyawan yang sedang sibuk bekerja menghadap layar monitor mereka. Bahkan saat Galih bicara dengannya, Galih tidak mendapatkan satu perintah atau bahkan sepercik omelan darinya.
Pagi tadi saat dirinya baru saja keluar dari mobil dan baru saja berada didepan gedung kantor, tiba-tiba dia mendapat panggilan dari Kepala Sekolah SMP Taruna Jaya. Tempat dimana Amanda pernah bersekolah.
Sangat sulit untuk menemukan informasi tentang Amanda karena pasalnya, nama asli Amanda bukanlah nama yang saat ini ia gunakan. Thomi mengenal Amanda dengan nama Thania Almahira, dan memang itu lah nama asli Amanda.
Hanya saja sejak lulus dari bangku sekolah menengah pertama, Amanda memutuskan untuk dipanggil dengan panggilan Amanda oleh teman-temannya sendiri atau pun pada orang yang mengenalnya.
Kabarnya, Kepala Sekolah Amanda mendapatkan informasi mengenai Amanda melanjutkan sekolah SMA nya. Dan dengan cepat Thomi pergi untuk menemui kepala sekolah itu.
"Saya pikir bapak Thomi sudah melupakan pembicaraan kita ini." sebut ibu Kepala Sekolah.
"Saya sangat berharap agar bisa menemukan Thania Bu, saya juga gak nyangka kalau ibu bisa memberikan informasi sebaik ini!" jawab Thomi sangat bahagia.
"Informasi yang saya dapat memang tidak cukup banyak, tapi paling tidak, pencarian anda untuk bisa menemukan Thania akan jauh lebih mudah!"
"Ya.."
"Thania melanjutkan pendidikannya di SMA Nusa Bangsa. Kabarnya dia tidak melanjutkan pendidikan selanjutnya setelah lulus dari sana. Ada peluang besar agar bapak Thomi bisa menemukannya dengan cepat!" beritahunya menyemangati.
"Terimakasih Bu atas informasinya. Saya mohon undur diri!" ucap Thomi dan dengan cepat menuju SMA Nusa Bangsa.
Sesampai disana, Thomi langsung menemui kepala sekolah dan bertanya banyak hal.
"Thania Almahira... Anda ada fotonya? agar lebih mudah!" pinta bapak kepala sekolah.
Thomi menggelengkan kepalanya dengan berat, hal apa lagi kini yang akan mempersulit pencariannya?.
"Beberapa waktu lalu ibu kepala sekolah dari SMP Taruna Jaya sudah menjelaskan maksud anda kemari, tapi jujur saja, kami tidak bisa mengenali yang namanya Thania Almahira jika tidak ada fotonya.."
"Ada banyak foto pelajar disini, saya tidak yakin anda akan menemukan orang yang dicari dengan mudah!"
Bapak kepala sekolah memberikan buku tebal dengan ukuran besar, isinya adalah foto para siswa-siswi dan lengkap dengan keterangannya.
"Tidak apa-apa pak! biar saya coba!" jawab Thomi serius.
Memperhatikan dan menelaah satu persatu setiap photo yang ada disana. Sudah hampir satu jam Thomi berada disana, melihat ratusan photo mahasiswi dari ruang kelas A sampai ruang kelas G. Wajar saja, setiap kelas memiliki sampai tujuh ruang karena itu termasuk sekolah idola.
Setelah hampir lelah mencari, pandangan Thomi tiba-tiba terhenti pada satu photo mahasiswi kelas XII C. Itu adalah Amanda(Thania Almahira).
"Ini pak! iya dia yang saya cari!"
Kepala sekolah mulai melihat photo itu lalu membaca dan mencari informasi lebih dari berbagai map dan buku-buku yang sudah usang.
"Thania Almahira dari kelas XII C IPS. Anda yakin ini orangnya?"
"Iya pak saya sangat yakin!"
Bapak kepala sekolah menuliskan sebuah alamat tempat tinggal yang pernah ditempati Amanda disecarik kertas.
"Ini alamat tempat dimana dia tinggal, tapi pak Thomi.., ini sudah sangat lama, saya tidak yakin kalau dia masih tinggal disana!"
"Tidak apa-apa pak! saya tetap akan memastikan! sekali lagi saya sangat berterimakasih atas bantuan bapak!"
"Ya sama-sama pak!"
Keduanya saling berjabat tangan dan tidak terasa hari pun sudah malam. Namun Thomi masih tidak putus semangat untuk mencari keberadaan Amanda.
Saat masih sedang menyetir, Thomi mengangkat sedikit jasnya dan memperlihatkan sesuatu yang tidak biasa tepat pada bagian perut sebelah kirinya.
__ADS_1
Ada bekas luka jahitan seukuran dua jari diperutnya, dan saat itu juga dia teringat pada kejadian yang pernah terjadi antara dia dan Amanda.
Disebuah gudang tua, dia yang dalam keadaan mabuk dan masih dengan karakter yang keras dan Bad Boy.
Bertemu dengan Amanda dan siap untuk melakukan sesuatu yang bejat.
Amanda masih bocah SMP yang hampir lulus pada saat itu, sedangkan dirinya adalah anak SMA yang juga hampir lulus dari pendidikannya.
Tubuh Amanda yang begitu lemah ia hempaskan dengan kuat hingga terpental kesudut tembok.
Dirinya yang brutal tanpa permisi mencium bibir mungil Amanda dan memaksa memainkan lidahnya didalam sana.
Dengan sekuat tenaga Amanda berusaha mendorong tubuh yang kekar itu, namun itu hanya sia-sia.
Kancing baju itu mulai terbuka dua helai dari atas dan memperlihatkan sesuatu yang dinantikan oleh akal busuk Thomi.
Wajah bejat Thomi juga sudah mulai menjajal leher dan tengkuk wanita malang itu, dan ketika tangan nakal itu hendak menyentuh dada Amanda, dengan sigap Amanda mendorong tubuh Thomi dengan kencang hingga ia mampu sedikit menjauh dari pria yang sudah tidak waras itu.
Sebuah botol anggur merah yang kosong tergeletak dilantai, dengan cepat Amanda mengambilnya dan memecahkannya ketembok lalu menyisahkan bagian yang runcing dan t**am.
"Menjauh atau enggak aku nekat!" ancam Amanda yang sudah sangat ketakutan.
Saat itu Thomi tidak akan menyangka jika gadis kecil yang ada dihadapannya itu akan berbuat nekat. Tapi Amanda sudah tidak perduli dengan apa pun. Ketika Thomi semakin mendekatinya,
Srakkkk
saat itu juga Amanda melayangkan pe**an botol itu kearah perut Thomi dan membuat so**kan yang cukup dalam.
Amanda kabur dan pergi menjauh dari tempat itu dan meninggalkan Thomi disana sendirian.
Saat itu nyawa Thomi dapat tertolong karena dia langsung menghubungi Abian dan meminta bantuan.
Suara klakson dari mobil lain membangunkan Thomi dari lamunannya.
"Maafin aku Thania, dimana kamu sekarang? kasih aku kesempatan agar bisa bertanggung jawab untuk kesalahan pada hari itu!"
Setelah melewati keramaian kota, kini mobil yang ia kendarai mulai mengarah masuk kedalam kawasan perumahan yang tidak begitu mewah.
Bukan berhenti pada lokasi itu, mobilnya melaju kembali dan memasuki kawasan rumah kost-kostan berada dipinggir jalan yang masih bisa dimasuki mobil.
Dan mobilnya tiba-tiba harus berhenti disebuah jalan yang tidak begitu ramai.
"Gang Merah ⤴️➡️ Kontrakan Permata Indah."
Thomi membaca tanda jalan yang terbuat dari kayu dan papan kecil yang tertancap dipinggir jalan menuju sebuah gang, yang hanya bisa dilewati sepeda motor dan pejalan kaki.
"Mobil gak bisa masuk lagi. Hah gue jalan nih?"
Dengan terpaksa ia harus berjalan untuk masuk kedalam gang sana. Sambil berjalan Thomi memperhatikan setiap rumah dan sekelilingnya.
Jam sudah menunjukkan pukul 22:15 WIB. Dan suasana dijalan itu begitu sepi dan sudah tidak ada satu pun orang yang berada diluar. Paling hanya pengendara sepeda motor yang masih lalu lalang, itu pun jarang sekali, kemungkinan sepuluh menit sekali.
"Mau kemana mas?" tanya seorang pria paruh baya yang mengagetkannya.
"Ya ampun mas.. Saya kaget!!"
"Ya maaf mas.. Ooh iya, kalau boleh tau mau kemana masnya malam-malam begini?"
"Mau ke kontrakan Permata Indah mas! kontrakan itu beneran ada mas?" tanyanya memastikan.
"Ada mas bener! sekitaran 300 meter dari sini, gak jauh lagi kok!"
__ADS_1
"Beneran mas? wahh makasih ya mas!" jawab Thomi nampak senang.
"Mau ngontrak disana mas?"
"Bukan mas.. Saya lagi cari teman!"
"Itu kontrakan rata-rata penghuninya udah lama banget mas tinggal disana! temen mas nya memang orang sini berarti ya?" tanyanya lagi.
Meski sedikit risih dengan pertanyaan-pertanyaan itu, tapi Thomi harus tetap bersikap tenang.
"Iya mas.." jawab Thomi sambil tersenyum paksa.
"Tapi mas, bahaya loh kalau masih berkeliaran diluar pas jam segini!"
"Kenapa memangnya?"
"Masnya betulan mau tau?"
"Boleh.."
"Kalau lebih dari jam sepuluh malam masih mondar-mandir diluar, hati-hati sama preman mas! mereka suka malak orang!"
"Minta-minta uang maksudnya?"
"Iya! dan kalau mendekati jam dua belas malam, kalau masih ada diluar kayak kita begini, iihhh" ucapnya terhenti dan memasang wajah kengerian.
"Kenapa mas?"
"Mbak yang suka pakai daster putih kegedean itu mas!"
"Ma-maksudnya..?" tanya Thomi tidak mengerti.
"Mbak Kunti mas.. Kuntilanak!"
"Hantu?"
"Iya.. iih beneran loh mas!"
"Terus.. Masnya kenapa masih berkeliaran diluar?"
"Saya?"
"Iya?"
"Itu rumah saya! dibelakang mas!" jawabnya sambil menunjuk kearah belakang Thomi.
"Ya udah deh mas saya masuk duluan! iihh ngerih mas!" lanjutnya dan dengan terburu-buru masuk kedalam rumahnya.
"Ya ampun.. ngulur waktu aja tuh orang!" gerutu Thomi dan kembali melanjutkan langkahnya.
Setelah hampir sampai ketempat yang dituju, tepat dijalanan yang sangat sepi, langkah Thomi harus terhenti karena dihadang oleh empat orang pria bertubuh besar.
"Wahh... Jam tangan Lo bagus juga!" ucap salah seorang diantaranya.
"Baju bagus, jam bagus, muka.., ya lumayan juga. Dompet pasti bagus juga dong? serahin barang-barang Lo itu!" seru yang satunya lagi.
"Saya gak ada masalah sama kalian! menjauh dari saya!" ucap Thomi dan menghiraukan semuanya.
Tapi keempat pria itu menghadangnya lagi dan dengan cepat melayangkan beberapa pukulan. Thomi terpaksa harus melawan dan bertarung pada malam itu. Menghadapi empat pria dengan perawakan yang tegap dan cukup kuat sudah jelas tidak akan mungkin bisa ia lawan sendiri.
Dan terpaksa Thomi harus menyerahkan jam tangan dan semua yang yang ada didalam dompetnya.
__ADS_1
"Sial!!" teriaknya sangat keras.