Istri Rahasia Tuan CEO(Secret Wife Mr.CEO)

Istri Rahasia Tuan CEO(Secret Wife Mr.CEO)
Episode 56:Auris Galau


__ADS_3

"Berarti sekarang pekerjaan kamu dikantor jadi lebih berkurang ya?" ucap Andre pada Auris saat mereka tengah makan siang bersama di sebuah restoran dalam market.


"Maksud kamu?"


"Wakil Direktur Market sekarang kan istrinya pak Abian! jadi kamu pasti sekarang ngurus pekerjaannya pak Abian aja!"


Auris terkejut mendengar itu, kenapa dia bisa ketinggalan informasi sepenting ini. Dan kenapa bisa Karina menjadi wakil Direktur market?


"Emm.. Ya.. Lumayan lah.." jawabnya.


Andre memperhatikan jari manis Auris yang masih memakai cincin pernikahannya.


Dalam hatinya, kenapa cincin itu masih tampak begitu nyaman melingkar dijari manisnya?.


"Auris!" panggil Andre berniat bertanya lebih serius.


"Ken masih sering ketemu papanya?" tanyanya yang membuat Auris melotot.


"Kenapa?"


"Maaf kalau aku terlalu penasaran sama kehidupan kamu."


"Enggak kok gakpapa! soal papanya Ken.. Masih sering jenguk kok, walaupun aku sama papanya Ken udah pisah.., itu gak akan membuat jarak antara Ken dan papanya!" jawab Auris berbohong lagi.


"Aku boleh tanya lagi?"


"Boleh dong!"


"Kamu.. Kamu gak pernah terpikirkan buat.." ucapnya terhenti.


"Buat apa?"


Andre tidak jadi bertanya dan malah terfokus pada bumbu spaghetti yang menempel diujung bibir Auris.


"Eeh maaf!" ucap Andre lalu membersihkan sudut bibir Auris dengan tisu.


"Ya ampun maaf ndre!"


"Enggak, enggak.. Aku yang minta maaf!" jawabnya dan keduanya tertawa kecil.


Setelah makan siang selesai, Auris kembali kekantor dan berniat untuk bertanya pada Abian. Tapi mengingat kejadian beberapa hari yang lalu, tentang ciuman itu, Auris menjadi dibuat tidak percaya diri untuk banyak bicara dengannya.


Dimeja kerjanya, Auris hanya fokus pada pekerjaannya dan tidak memperhatikan Abian yang sedari tadi mencuri pandang kearahnya. Entah itu pandangan baik, atau buruk, entah lah. Tapi itu cukup mengganggu ketenangannya.


"Halo.. Kalau saya ingin bertemu dengan wakil Direktur BARAMARKET, siapa yang paling bisa untuk saya hubungi ya?" tanya seorang pengusaha dari sambungan telepon yang terhubung pada Auris.


"*Kebetulan saya Sekertaris dari wakil Direktur BARAMARKET pak apa ada yang bisa saya bantu?"


"Saya ingin melakukan pertemuan dengan ibu Karina Nataline sore ini. Bisa sampaikan pesan ini kepada beliau?"


"Ibu Karina Nataline?" tanya Auris kurang yakin.


"iya!"


"Emm baik pak! akan saya sampaikan dan beberapa menit lagi kami akan menghubungi bapak kembali. Selamat siang pak!"


Auris menutup panggilan lalu dengan terpaksa dan berani harus membicarakannya dengan Abian.


"Kenapa?" tanya Abian yang sudah mengetahui gelagat Auris.


"Saya gak mau berdebat panjang sama kamu. Saya mau tanya.., kenapa Karina bisa jadi wakil Direktur market dan bukan kamu? sejak kapan perpindahan itu dilakukan?"


Abian berdiri dari posisi duduknya dan juga terkejut mendengar kabar itu.

__ADS_1


"Kamu gak lagi bercanda kan? saya juga gak tau tentang itu!" jawabnya.


"Kalau gitu kamu tanya sama istri kamu itu!" ucap Auris dan tiba-tiba salah satu karyawan masuk tanpa mengetuk pintu.


"Ma-maaf pak! ibu Sora ada didepan, mau ketemu bapak!" beritahunya.


Stuff wanita itu terlanjur sedikit mendengar pertengkaran Abian dan Auris hingga membuatnya semakin penasaran. Rasanya tidak lah wajar dan pantas jika seorang karyawan berbicara dengan nada tinggi kepada atasannya seperti yang dilakukan Auris barusan.


Ibu Sora masuk kedalam ruangan Abian dan dia pun menjelaskan alasan kenapa Karina dijadikan sebagai wakil Direktur BARAMARKET.


"Mulai tahun ini perusahaan kita lebih banyak bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan besar yang dipromosikan langsung oleh perusahaan keluarga Karina. Ada banyak pengusaha yang percaya dengan perusahaan kita karena keluarga Karina. Jadi.. Untuk lebih mempermudah progres dan statistik perusahaan kita, mama fikir, menjadikan Karina sebagai wakil Direktur market itu keputusan yang baik!" jelaskan ibunya.


"Tapi ma.. Kenapa aku bisa gak tau tentang semua ini?"


"Sekarang kamu kan udah tau!"


"Terus papa?"


"Oh kamu gak usah khawatir! papa setuju, kalau bukan atas persetujuan papa.., mama gak mungkin berani melakukan ini semua."


"Hay sayang..!" Karina yang tiba-tiba datang dan membuat Auris menjadi semakin muak.


"Kamu udah tau?"


"Udah!" jawab Abian singkat.


"Maaf ya kalau kamu baru tau sekarang. Sebetulnya udah lama aku mau kasih kabar ini ke kamu, tapi waktu itu kamu lagi ada dibogor sama dia!" ketus Karina dan melirik kearah Auris.


"Saya dan menantu saya lagi mau bicara hal yang serius! kamu bisa keluar sekarang!" perintah ibu Sora kepada Auris.


"Mama.." ingatkan Abian untuk tidak bicara kasar pada Auris.


"Baik buk! saya permisi!" ucap Auris lalu pergi dari sana.


"Masa iya sih Auris berani bentak-bentak pak Abian?" tanya salah satunya.


"Iya gue liat sendiri! mereka tuh udah gak kayak Bos sama bawahan!"


"Jangan-jangan bener, Auris sama pak Abian ada hubungan gelap?"


"Iih kok Auris mau ya?"


"Elo bego apa gimana? perempuan mana yang bisa nolak seorang Abian Bara? jangankan Auris, gue kalau dijadikan selingkuhan juga mau!"


"Murah banget lo! ya jangan lah! amit-amit dah jangan sampe kayak Auris!"


"Eghemm!" Auris tiba-tiba menyeruak masuk dan menghentikan pergunjingan itu.


"Lagi ngomongin apa sih? kayaknya seru banget.." tanya Auris berpura-pura tidak tahu apa-apa.


"Biasa lah rist.. Masalah uang kost-kostan!" jawab temannya dan nyengir kuda.


"Ooh.."


"Kita duluan ya!" ucapnya lalu pergi menjauh dari Auris.


Auris menatap pantulan dirinya didalam cermin. Masih memikirkan dengan permasalahannya yang semakin hari semakin bertambah.


Sudah sangat jelas bahwa Andre berusaha untuk mendekati dan menaklukkan hatinya, sedangkan disisi lain, dia juga belum memiliki keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya pada Andre bahwa dia masih memiliki seorang suami.


...***...


...Hari ini Karina tidak berada dirumah karena urusan pekerjaan, dia harus pergi keluar kota dan tidak bepergian bersama dengan Abian....

__ADS_1


Pagi itu Abian melihat Evans sedang bermain basket dilapangan belakang rumah yang pernah dia siapkan.


Abian mendatangi Evans dan mengajaknya untuk bermain bersama. Meski mendapatkan begitu banyak penolakan, pada akhirnya Evans harus mencoba kemampuan Abian. Dan lagi pula, bermain dengan sedikit curang, tampaknya tidak buruk jika dilakukan kepada Abian.


"Kamu yakin bisa nagalahin saya?" tanya Evans lalu melakukan teknik overhead pass dan bola masuk sempurna kedalam keranjang dan Evans memenangkan pertandingan one by one itu.


"Kamu baru menang satu kali" ucap Abian.


"Baru menang satu kali? ch kamu berharap akan ada permainan selanjutnya?" tanya Evans dan berdecak kasar.


"Ini baru awal! saya akan menang disetiap pertandingan yang kamu tawarkan!" jawab Abian santai.


"Hahh.. Jangan berharap lebih Abian! saya bukan seperti kak Auris yang bisa kamu hipnotis dengan ucapan kamu itu!" pungkas Evans sembari duduk dikursi panjang dan meminum air mineral dinginnya.


"Kenapa kamu selalu berfikir kalau saya seburuk itu?"


tanyanya dan duduk disebelah Evans.


"Karena itu fakta!"


"Kamu terlalu berfokus pada satu titik dimana itu menjelaskan tentang semua keburukan saya. Sampai kamu gak bisa lihat sedikit aja, sesuatu yang baik dari diri saya!" yakinkan Abian.


"Saya melihat apa yang saya lihat!"


"Kamu melihat apa yang mau kamu lihat! jangan mempermainkan pikiran kamu Evans.. Terkadang hati juga butuh kesempatan untuk berperan! saya tau bagaimana perasaan kamu. Semarah apa pun kamu kepada saya.., saya tau kamu tidak membenci saya!" ucap Abian dan membuat kedua pria itu saling bertatapan serius.


"Itu yang kakak kamu ajarkan kepada saya! tidak membenci siapa pun untuk kesalahannya!" lanjut Abian sembari menepuk pelan bahu Evans.


Mendengar perkataan Abian, Evans langsung pergi dan tidak ingin bicara lagi.


"Vans.. Mau kemama?" tanya Auris yang ternyata datang menemuinya.


"Bengkel!" jawabnya singkat lalu pergi meninggalkan Auris dan Abian disana.


"Kenapa Evans? kamu ngomong apa sampai buat dia jutek begitu?"


"Bukan apa-apa.. Urusan pria!" jawabnya.


"Kalian habis main basket? Evans mau?" tanya Auris yang menyadari Abian sudah mandi keringat.


"Ya mau lah! kamu aja yang gak mau!"


"Udah tua! ingat umur!"


"Tua-tua begini, tapi masih ganteng kan?" goda Abian.


"Jangan cari masalah Abian! ini masih pagi!"


"Astaga Auris.. Apa susahnya mengakui itu?"


"Pakaian kamu udah saya siapkan! hari ini ada meeting sama karyawan senior tentang pengalihan jabatan kamu!" ingatkan Auris dan mengubah topik pembicaraan.


"Iya, iya.." jawabnya lesu.


Saat ingin berdiri dari duduknya, tiba-tiba perut Abian terasa sakit dan entah kenapa Auris menjadi sangat khawatir. Pasalnya, Abian memang tidak pernah sakit selama yang dia tahu.


"Kamu kenapa?"


"Gak tau! mules!"


"Kamu belum sarapan?" tanya Auris dan Abian mengangguk.


"Hahh! kenapa sih kalau gak ada Karina kamu selalu ngerepotin saya!" omel Auris dan membawa Abian masuk kedalam rumah.

__ADS_1


__ADS_2