
Hari perlombaan sudah tiba. Dan secara kebetulan, lomba itu dilangsungkan disekolah Bella, anak dari Abian dan Karina.
Saat itu Bella mengikuti lomba bermain piano dan sekaligus diberi kesempatan untuk mengiringi pentas seni anak-anak dari sekolah Ken.
Saat itu Abian dan Karina juga hadir disana untuk menyaksikan penampilan Puteri mereka.
Setelah semuanya sudah siap, pertunjukan pun dimulai. Pentas seni drama Ken dan teman-temannya menjadi pembukaan acara yang sangat manis.
Ketika itu Abian menyadari bahwa ada seorang anak yang sempat mengobati lukanya saat dikebun binatang pada hari itu.
"Itu kan anak itu?" ingat Abian kembali.
Auris berada dikursi belakang dan sangat jauh dari Abian dan Karina, sehingga mereka tidak menyadari berada didalam ruangan yang sama.
Pentas seni anak selesai, kini waktunya perlombaan piano yang salah satu pesertanya adalah putri Abian.
Bella bermain dengan sangat baik dan memukau, dan setelah perlombaan piano selesai, dihari dan tempat yang sama, perlombaan melukis pun dilangsungkan.
Abian hanya fokus memperhatikan Ken yang sedang melukis, kebijakan dan kabaikan Ken benar-benar tidak bisa dia lupakan.
Keesokan harinya setelah semua acara selesai, waktu diumumkannya para pemenang lomba akhirnya tiba.
Abian dan Karina masih menghadiri acara dan duduk dikursi VVIP.
Beberapa nama pemenang dari setiap macam lomba sudah diumumkan. Dan kini saatnya hanya tinggal pengumuman pemenang perlombaan melukis lalu setelah itu diikuti dengan pemenang perlombaan bermain piano.
Juara satu dan dua sudah diumumkan dan tiba waktunya untuk sang juara pertama.
"Selamat kepada murid kelas I dari SD 003 Negeri Bandung.. Ken Adinata Bara.."
Juri mengumumkan nama Ken dengan begitu jelas hingga membuat Abian memperhatikan Ken dengan serius.
"Bara? kenapa harus ada nama Bara nya?" pikir Abian dengan serius.
"Kepada orang tua dari para pemenang lomba seni lukis diharapkan untuk maju kedepan dan mendampingi anak-anaknyanya!" lanjut juri lagi.
Dari kejauhan Auris terlihat bahagia, senyum diwajahnya begitu memperlihatkan betapa bangganya dia dengan puteranya.
Auris naik keatas panggung dan mencium pipi Ken dengan penuh cinta. Ketika itu lah Abian dan Karina tersentak hebat.
"Auris?"
Abian hendak berdiri namun dengan cepat Karina memegangi tangannya dengan sangkat erat.
"Kamu lihat sekeliling kamu sayang! jangan buat keributan disini!" bisik Karina menegaskan.
Tidak ada yang bisa Abian lakukan selain diam dan menjadi penonton yang baik. Anaknya begitu dekat bahkan berada tepat dihadapannya, namun bahkan jemarinya pun tak bisa menyentuh wajah anaknya untuk saat ini.
"Mama!" bisik Ken kesebalik telinga Auris.
"Iya sayang?"
__ADS_1
"Papa liat Ken gak?"
"Emm.." Auris terdiam kebingungan.
"Ma?"
"Iya sayang.. Makanya sekarang kamu harus senyum semanis mungkin, siapa tau aja papa lagi liat kemenangan kamu!"
Ken kembali memasang wajah ceria sembari mengangkat dengan bangga pialanya. Sedangkan Abian disebalik keramain sana, merasakan sesuatu yang sangat menyakitkan. Kenapa harus sesulit ini?
Seolah hatinya tergores sesuatu yang sangat tajam hingga meninggalkan bekas luka yang cukup dalam. Ingin rasanya memeluk erat Ken, tapi tidak ada yang bisa dilakukan selain hanya diam.
...🔥🔥🔥...
Keesokan harinya, secara diam-diam Abian mencari keberadaan Auris dan Ken dipenginapan. Auris sendiri juga tidak mengetahui bahwa kemarin Abian juga menghadiri acara perlombaan, karena memang sebelum diumumkannya kemenangan Bella, Auris sudah lebih dulu pergi dari sana.
Auris pergi kemakam Rani pada siang itu, dan tanpa dia sadari, Abian mengikutinya dari belakang.
"Mama? ini makam siapa?" tanya Ken polos.
"Ini makam adik mama.. Orangnya baik, cantik lagi!"
"Kayak mama?"
"Iya dong.." jawab Auris menggoda.
Setelah selesai dari makam Rani, Auris kembali berjalan menuju bahu jalan dan akan menunggu Taxi disana. Dan saat itu lah Abian menampakkan dirinya disana.
Auris masih berdiri tegap dengan pandangan lekat kearah Abian yang semakin dekat menuju kearahnya.
Sebelum Ken bicara sepatah kata pun, Auris memegang erat tangan Ken lalu menyuruh Ken untuk berada dibelakangnya.
"Kenapa kamu bisa ada disini?" tanya Auris sangat serius.
"Auris, jawab pertanyaan saya! apa itu anak saya?"
Kini Abian berbalik bertanya dengan pandangan serius, posisi mereka sudah begitu dekat dan berpapasan, tapi Auris tetap tidak mengijinkan Abian sedikitpun menyentuh Ken.
"Biarkan saya pergi, jangan halangi jalan saya!" ucap Auris.
"Auris jawab pertanyaan saya!" bentak Abian dan membuat Ken memperhatikannya dengan tatapan aneh.
"Itu bukan urusan kamu!" jawab Auris dan akan pergi tapi Abian dengan sigap menarik tangannya.
"Abian!"
"Saya gak akan pergi sebelum kamu jelaskan semuanya!" ancamnya.
"Lepaskan Abian..!" gertak Auris lagi.
"Jawab pertanyaan saya!" bentaknya sekali lagi.
__ADS_1
"Pelankan nada suara kamu Tuan Abian Bara! atau anak saya akan sama kerasnya seperti kamu!" ungkap Auris dan membuat Abian semakin penasaran.
"Kenapa kamu lakukan semua ini kepada saya Auris? dia juga anak saya!"
Melihat Ken yang semakin terlihat bingung dan merasa aneh, Auris langsung bergegas pergi dari sana dan langsung memesan Taxi dan meninggalkan Abian sendiri dengan sejuta rasa kekesalannya.
"Haaaaaaahhhh!" teriak Abian sekencang-kencangnya.
"Mama.. Mama kenapa marah-marah sama om baik?" tanya Ken.
"Om baik?"
"Iya.., itu om yang dikebun binatang itu ma.."
"Ken.. Apa pun yang udah terjadi tadi, jangan diingat-ingat lagi ya sayang.."
"Tapi ma.."
"Ken.. Please.. Janji sama mama!"
Auris menempelkan kedua telapak tangannya dipipi Ken. Itu adalah kebiasaan mereka ketika sedang melakukan perjanjian. Ken membalasnya dengan kembali melakukan hal yang sama seperti yang ibunya lakukan.
"Tapi ma.. Ken denger sesuatu tadi, kenapa om baik bilang.."
"Ken.."
"Mama.. Gak boleh marah-marah.." goda Ken dan melupakan topik utama pembicaraan mereka.
"Ooh jadi ilmunya om Evans udah nular ke kamu ya? udah jago godain mama.."
Auris menggelitiki perut Ken sehingga membuat keduanya tertawa lepas.
Didikan Auris memang tidak gagal sama sekali, Ken tumbuh menjadi anak yang baik dan bijak.
Meski usianya sangat muda dan kecil, tapi dia mengerti betul bagaimana keadaan ibunya. Bahkan Ken sendiri sudah menyadari bahwa ada sesuatu yang disembunyikan ibunya dari dirinya.
Hanya saja Ken tahu bahwa bukan haknya untuk membuat ibunya merasa tidak nyaman. Ken juga mulai menyadari bahwa ibunya selalu mengelak dan merasa tidak nyaman saat dirinya bertanya tentang ayahnya.
Tidak ada hal lebih yang bisa Ken lakukan diusianya saat ini, meski dia begitu pintar dan bijak, tapi tetap saja dia hanyalah seorang anak kecil yang tidak akan mungkin bisa masuk dan ikut campur kedalam ranah urusan kehidupan orang dewasa.
Dilain tempat, Karina sedang melakukan pertemuan disebuah cafe kopi dengan satu orang pria bertubuh besar dan kekar.
"Saya mau, kamu cari perempuan ini!" beritahu Karina sembari memberikan beberapa foto Auris kepada pria itu.
"Biasanya dia ada dibeberapa tempat seperti yang ada difoto itu, jadi kamu harus bekerja dengan baik!"
"Baik Bos. Tapi, kalau saya udah dapatkan perempuan itu, apa yang harus saya lakukan?"
Karina mengeluarkan sejumlah uang dengan nilai yang cukup besar dari dalam tasnya. Uang didalam amplo itu ia berikan secara cuma-cuma.
"Apa pun bisa kamu lakukan, saya gak perduli! yang saya mau, singkirkan dia. Jangan sampai saya melihat dia lagi. Kamu paham!"
__ADS_1
"Baik Bos! ini tugas yang gampang!" jawabnya lalu keduanya tertawa puas.
Ternyata Karina memiliki sisi jahat yang luar biasa dalam dirinya. Dia tidak perduli apa pun yang akan terjadi, dia merasa tidak ingin disaingi oleh Auris dan dia tidak ingin jika Auris akan kembali lagi di kediaman keluarga Bara.