
Tok Tok Tok
Suara seseorang mengetuk pintu ditengah perkelahian Evans dan Abian yang mencoba dilerai oleh Thomi dan Dokter Daniel.
"Udah Evans!tenangkan diri kamu!"
Dokter Daniel menenangkan Evans sembari menepuk pelan pundaknya.
"Masuk!"sahut Dokter Yuna dan ternyata itu adalah Rani.
"Saya mau bicara dengan Dokter Yuna dan Dokter Daniel!"ucap Rani dengan bahasa isyarat.
"Rani,kamu ada perlu apa?"tanya Evans bingung.
Rani meminta Evans agar memberikan pulpen dan kertas padanya.Rani menuliskan beberapa kalimat yang membuat semua orang disana tersentak hebat.
"Saya akan menjadi pendonor untuk Randy!saya akan menggantikan kak Auristela!"
"Kamu apa-apaan sih?gak usah ngasal!"bentak Evans.
Rani nampak marah dan meremas kuat tangan Evans,dia kembali mengambil kertas dan menulis disana.
"Saya udah tau semua ini dari awal,saya udah pikirkan ini sejak lama!saya mohon biarkan saya melakukan satu kebaikan buat kak Auris!"
"Rani.."
"Kehidupan saya udah benar-benar sempurna,kak Auris memperbaiki semuanya.Saya udah merasa cukup dengan semua hal yang udah saya dapat dikehidupan saat ini.Saya mohon..Biarkan saya melakukan ini!"
Entah ini sesuatu yang harus diterima dengan kebahagian atau malah sebaliknya,yang pasti semua ini benar-benar harus disyukuri.
Awalnya semuanya menentang permintaan Rani,tapi melihat kesungguhannya dan juga keadaan saat ini,akhirnya semuanya menyetujui itu dan memang tanpa pengetahuan Auris.
Pengambilan darah dan beberapa test dilakukan untuk memastikan bahwa fisik Rani sehat dan setelah mendapatkan hasil dari melewati pemeriksaan, akhirnya pengoperasian pun segera dilakukan.Rani dan Randy dimasukkan kedalam ruangan operasi dan tindakan pun dilakukan.
Dokter Yuna dan yang lainnya sudah menunggu dengan perasaan campur aduk.Empat jam berlalu dan tidak berapa lama kemudian setelahnya,Dokter Reza keluar dari ruang operasi.
"Berhasil!"ungkapnya dan membuat semua orang menghela napas lega.
Randy dipindahkan dari ruang pasca operasi,sedangkan Abian langsung menemui Auris diruangannya.
"Siapa yang kasih izin kamu buat ketemu sama kak Auris?"kejutkan Evans yang tiba-tiba menahan langkah Abian saat hendak masuk kedalam ruang rawat kakaknya.
"Evans..Saya tau kekesalan kamu kepada saya,tapi biarkan saya buat ketemu sama Auris!"
"Buat apa?minta maaf?hah telat!"
"Biarkan Evans!"ucap Tuan Thosio tiba-tiba datang.
"Biarkan dia mengungkapkan penyesalannya!biarkan dia sadar dengan perlakuan buruknya!"lanjutnya.
__ADS_1
Evans pun membiarkan Abian masuk menemui Auristela.
Dan Auris memalingkan wajahnya ketika melihat Abian baru saja memasuki ruang rawatnya lalu berdiri tepat disebelah ranjangnya.
Suasana didalam sana begitu hening untuk beberapa detik lalu kemudian nuansanya berubah ketika Abian mulai mengungkapkan penyesalannya.
"Saya minta maaf!"
"Maaf untuk kesalahan pada malam itu!saya minta maaf karena saya udah salah menilai kamu!"
Ucapnya namun Auris masih tidak menjawab sepatah kata pun.
"Auris..Saya mohon jangan bersikap begini,beri saya jawaban!jangan membuat saya semakin merasa bersalah!"
"Setelah semuanya?tanpa mendengarkan penjelasan dan tangisan seorang wanita pada malam itu,baru sekarang merasa bersalah?"
"Saya gak tau kalau kamu punya masalah seberat ini."
"Jangan mengasihani saya Tuan Abian Bara!saya gak selemah yang kamu pikirkan!"tegaskan Auris dan mulai menatap serius Abian.
"Saya udah tau semuanya,tentang kehamilan kamu,dan..,tentang operasi itu!maafkan saya!"
Ucapnya lalu memberikan selembar kertas yang terlipat.Itu adalah pesan dari Rani yang ia titipkan pada Abian untuk diberikan pada Auris secara langsung.
"Apa ini?"
"Rani!"
"Jangan lari atau pun menghindar kak,biarkan Abian menebus kesalahannya.Untuk kali ini!Hidup Rani udah sangat cukup bahagia karena semua kebaikan kakak.Kalau pesan ini sampai kekakak langsung melalui Abian,itu artinya,operasinya berjalan lancar.Selamat untuk calon jagoan kecil kita.Untuk kak Auristela Ayana..Tetap bahagia dan tetap jadi orang yang baik seperti yang Rani kenal.I love you forever."
"Siapa yang menyetujui ini?"bentak Auris.
"Itu keinginan dia,semua orang gak bisa menahannya!"
Setelah permohonan Abian yang belum juga mendapat respon baik dari Auristela,saat itu juga Tuan Thosio,Thomi,dan semua orang-orang terdekat Auris datang menemuinya.Termasuk Tuan Thosio yang sangat berharap agar Auris setuju untuk tinggal bersama keluarga BARA.
"Bukannya saya ingin ikut campur Auris,tapi sudah jadi tanggung jawab dari keluarga Bapak Thosio untuk melakukan tindakan ini kepada kamu dan adik-adik kamu!"nasehati Dokter Yuna.
"Berikan kesempatan pada Abian untuk menebus kesalahannya!"sambung Thomi.
Auris berfikir keras untuk harapan semua orang.Dia tidak ingin jika nanti hidup dan tinggal bersama dengan keluarga besar BARA,sudah pasti kehidupan dirinya dan juga adik-adiknya tidak akan sama seperti sebelumnya.
Setelah memikirkan kembali nasehat semua orang,akhirnya Auris bersedia untuk menerima permintaan Tuan Thosio.
Tidak terlihat kebahagiaan dari raut wajah Abian,namun juga tidak terlihat kekecewaan atau bahkan kekesalan dari sepasang bola matanya yang sedari tadi menatap Auris.
Setelah merasa semua keadaan sudah jauh lebih baik,Auristela pergi menemui Randy yang sudah siuman dan sudah jauh lebih baik.
"Aku udah denger semuanya!"ungkap Randy sembari memeluk erat Auris sebagai ungkapan rasa terimakasihnya.
__ADS_1
Lalu Evans juga memberi pelukan hangat pada Randy dan keduanya terlihat sangat senang karena jika keadaan Randy semakin membaik,maka mereka bisa bermain basket bersama.Seperti keinginan Randy yang selama ini dia harapkan.
Auristela kembali kerumahnya dan menyiapkan semua barang-barang penting yang akan dibawa pindah.
"Kakak kurang yakin Vans..Tapi ini permintaan Tuan Thosio.."ungkap Auris masih ragu.
...****...
Ibu Sora Arianti sangat terkejut ketika melihat kedatangan Auristela dan kedua adiknya datang kerumah megahnya.Bukan hanya untuk sekedar bertamu, melainkan untuk tinggal bersamanya.
Dan untung saja saat itu Karina sedang tidak ada dirumahnya,jadi cukup melegakan karena Karina belum mengetahui semua permasalahan ini.
"Pokoknya mama gak suka perempuan ini tinggal dirumah kita!"bantah Ibu Sora.
"Ini keputusan papa dan siapa pun gak bisa membantahnya.Gak ada alasan untuk tidak menerima Auris disini!"
"Tapi pa..!"lanjutnya sambil mengikuti langkah Tuan Thosio yang akan mengantar Auris kekamarnya.
Amarah Ibu Sora Arianti semakin membludak ketika menyadari bahwa suaminya menempatkan Auris untuk tidur dikamar putera kesayangannya yaitu Abian.
"Pa tapi ini kamar aku.."ingatkan Abian.
"Papa tau!dan Auris istri kamu!"
"Istri?dia bukan siapa-siapa disini pa!"bantah Ibu Sora lagi.
"Sebentar lagi status Auris akan jelas dirumah ini!"
"Pak Thosio gakpapa!saya bisa tidur dikamar yang lain.Ini semua terlalu berlebihan!"ucap Auris melerai kekacauan.
"Iya pa..Masih banyak kamar yang lain!"lanjut Abian.
"Adrian!"panggil Tuan Thosio tiba-tiba.
"Iya pa?"
"Papa mau tanya,Devina sekarang lagi hamil kan?wanita hamil itu,kadang perutnya suka keram.Iya kan Adrian?"
"Iya pa!"
"Nah itu dia!Auris sedang hamil sekarang,papa gak mau kalau sampai terjadi sesuatu yang gak diinginkan nantinya!sekarang Auris gak usah khawatir..,kamu bisa langsung istirahat sekarang!"
"Tapi pak.."hentikan Evans.
"Evans sama Aqilla kamarnya sudah disiapkan..Jadi gak perlu khawatir!"beritahu Tuan Thosio dengan suara yang lembut bahkan beliau sendiri yang mengantarkan Evans dan Aqilla kekamar mereka masing-masing.
Ibu Sora dan yang lainnya tentu tidak bisa membantah Tuan Thosio untuk saat ini.
Nyatanya Tuan Thosio masih sangat merasa bersalah pada Auris.Jika saja Auris tidak membantunya untuk memberikan uang kepada seorang wanita yang dia sebut sebagai istrinya pada waktu itu,mungkin saja Abian tidak akan salah paham mengenai dirinya.
__ADS_1
Bukan hanya sekedar menebus kesalahannya pada kejadian dimasa sebelumnya,tapi saat ini Auris sedang mengandung.Sudah kewajibannya untuk ikut bertanggung jawab atas nama puteranya.