
"Aku tau aku udah keterlaluan berbuat begini karena aku cemburu! tapi aku perempuan, aku istri kamu, wajar kalau aku cemburu liat kamu sama Natasya. Kamu dansa bareng dia, kamu keliatan bahagia!" ungkap Amanda dan sepasang netranya berkaca-kaca.
Thomi jadi merasa bersalah dan mencoba untuk menenangkan Amanda. Tapi tiba-tiba Doni datang.
"Oh Hay manajer Thomi? sama siapa kesininya?"
"Amanda harus pulang sekarang juga karena ini udah larut malam!" jawab Thomi.
"Loh ini kan bukan lagi ada dikantor. Amanda berhak bebas buat hari ini. Biarkan sekertaris anda menikmati hari liburnya!"
"Tapi_"
"Sebentar lagi pestanya juga selesai kok pak! saya bisa pulang sendiri!" sahut Amanda.
Thomi menatap lekat sepasang bola mata Amanda dan menyadari bahwa Amanda serius dengan perkataannya. Tidak ingin semakin memperburuk suasana, Thomi memilih pergi dari suasana panas itu.
Ketika itu Doni sedang memegang segelas minuman jus yang langsung Amanda ambil dari tangannya.
"No alkohol?" tanya Amanda dan Doni mengangguk lalu Amanda meminumnya.
Namun ada yang berbeda dari raut wajah Doni. Sedikit senyuman tersungging dibibirnya, seakan puas dengan apa yang dia lakukan saat ini.
Dengan hanya beberapa tegukan saja, segelas minuman berukuran besar itu habis begitu cepat.
Amanda sedikit bersendawa dan mulai merasa aneh dengan minuman itu ketika tegukan terakhir.
"Kok beda ya?" fikirnya lagi.
"Seru banget ya pestanya?" ucap Doni dan bersikap seolah menikmati pesta malam itu.
Amanda mulai merasa ada yang aneh dengan keadaan perutnya. Tangannya mulai menyentuh tengkuknya yang terasa berat, apa lagi pandangan matanya juga terlihat sedikit kabur.
"Doni! minumannya gak ada alkoholnya kan?" tanya Amanda dengan wajah yang sudah lesu dan lemas.
"Enggak kok.. Memangnya kenapa?"
"Kepala aku pusing! aku mau ketoilet sebentar!"
Amanda mulai bangkit dari posisi duduknya dan akan pergi, tapi rasanya kepalanya serasa ingin lepas. Tubuhnya hampir saja jatuh dan untungnya Doni langsung menangkapnya.
"Sekertaris Amanda gakpapa?" tanya salah satu rekannya yang melihat itu.
"Gakpapa.. Biar saya anter Amanda pulang!" sahut Doni lalu membawa Amanda masuk kedalam mobilnya.
Dengan sedikit kepayahan Doni berhasil membawa Amanda masuk kedalam mobilnya. Sebelum benar-benar tancap gas, Doni melerai rambut Amanda yang menutupi wajahnya sembari tersenyum dengan maksud yang tampak tidak baik.
"Kalian liat Amanda?" tanya Thomi pada beberapa orang setelah menyadari bahwa tidak ada Amanda disana.
__ADS_1
"Baru aja pulang sama pak Andre! kayaknya Amanda lagi gak enak badan pak!" jawab rekan kerja Amanda.
Thomi langsung pergi ke parkiran untuk memastikan apakah mereka.sudah benar-benar pergi atau belum.
Thomi menyalakan GPS dan mengecek keberadaan Amanda dari ponselnya.
Dengan cepat Thomi tancap gas ketika menyadari bahwa Amanda tidak jauh dari posisinya saat ini.
Beberapa menit menghabiskan waktu menembus kepadatan kota Jakarta ditengah malam yang ramai dan sibuk, Doni sampai ditempat yang ia tuju.
Sebuah rumah Mewah didalam kawasan perumahan yang tidak padat penduduk, Doni memapah tubuh Amanda yang setengah sadarkan diri.
Amanda memaksa untuk membuka matanya yang begitu berat, demi melihat keadaan disekitarnya.
"Kita udah nyampek?" tanya Amanda memastikan tapi sepertinya rumah yang ada dihadapannya saat ini tidak terlihat seperti rumahnya.
"Udah.. Sebentar lagi kok!" jawabnya dan membawa Amanda masuk kedalam rumah.
Rumah itu adalah rumah Doni sendiri. Dengan sengaja saat dipesta tadi, dia mencampur jus dengan minuman beralkohol. Doni melakukan itu bukan tanpa alasan, dia begitu tertarik dengan Amanda dan apa lagi malam ini Amanda terlihat sangat cantik dan seksi.
Doni menghempaskan tubuh Amanda diatas ranjangnya, melepas heels tinggi itu dan mengusap lembut wajah Amanda.
"Doni ini dimana?" tanya Amanda dan mulai panik.
Doni membiarkan Amanda bebas dengan rasa paniknya. Dengan sekuat tenaga ia memaksa tubuhnya untuk bisa berdiri tegap dan berjalan menuju pintu yang ternyata sudah dikunci.
"Selamat datang dirumah gue Amanda!" ucapnya sembari tersenyum tengil dan mendekati Amanda yang sudah terpojokkan disudut pintu.
Karena kesal, Doni menampar keras wajah Amanda hingga membuatnya jatuh pingsan.
Doni kembali membawa Amanda keatas ranjang dan dengan sengaja menunggu Amanda tersadar dari pingsannya.
Doni membuka semua pakaiannya dan hanya mengenakan handuk yang melilit dipinggulnya. Ia duduk disofa kamarnya sembari meminum beberapa botol bir dan memperhatikan Amanda dengan pandangan brengseknya.
"Gak ada satu pun perempuan yang bisa menolak gue Amanda.." gerutu Doni.
Disisi lain, Thomi baru sampai didepan pagar rumah Doni. Melihat arah lokasi Amanda yang berhenti tepat ditempat itu. Thomi masuk kelatar rumah yang memang tidak ada penjaga dipagar depan.
Thomi tidak mendapati siapa pun didalam mobil yang sedang terparkir dihalaman. Hanya saja tas Amanda ada didalam mobil.
Thomi sudah yakin bahwa telah terjadi sesuatu yang buruk pada istrinya. Dia mendobrak pintu utama dengan penuh tenaga dan emosional, lalu masuk kedalam rumah dan mengecek semua ruangan.
Kembali pada adegan yang panas, Amanda sudah terbangun dari tidurnya dan masih dengan rasa pusing di kepala yang begitu hebat dan ditambah lagi, sudut bibirnya harus berdarah Karena tamparan Doni.
"Selamat malam sayang.." ucap Doni dan menghampiri Amanda.
"Gue kira Lo udah berubah Don! ternyata elo masih sama aja kayak dulu. Brengsek!" maki Amanda.
__ADS_1
Doni mencengkram rahang Amanda dan menatapnya dengan posisi wajah yang begitu dekat.
"Elo masih bisa nolak gue? Lo gak liat Lo dimana Amanda? gak ada satu pun perempuan bisa nolak satu ranjang sama gue! elo paham itu! dan Lo gak akan bisa lari kemana pun!" ancamnya dan mendorong tubuh Amanda.
"Jangan macam-macam Don!"
"Gue masih ingat gimana Lo sama Auris mempermalukan gue dihadapan banyak orang. Elo nolak gue dan buat gue malu!" teriak Doni.
"Itu pantas buat lo! karena Lo bukan laki-laki baik!" sahut Amanda.
"Waw.. elo berani banget sama gue!" fikirnya dan sekali lagi menghempaskan tubuh Amanda diatas ranjang.
Kini Doni berada tepat diatas tubuh Amanda yang membuatnya semakin ketakutan. Doni masih menatapnya dengan pandangan kejam sembari mencengkram rahangnya.
"Lepasin gue!" ucap Amanda dengan napas terengah-engah karena cengkraman Doni.
"Gue mohon lepasin gue Doni! gue udah nikah.." beritahunya dan Amanda menangis histeris karena merasa bahwa keadaan saat ini adalah akibat dari kesalahannya sendiri.
Doni melirik kejari manis Amanda yang sudah dilingkari oleh cincin pernikahan. Bukannya terkejut, dia malah tertawa.
"Oh ya? bagus dong! gue jadi makin penasaran, seberapa hebat kemampuan Lo diranjang!" jawabnya dan tertawa puas.
Doni semakin menggila, tangannya mulai merobek paksa gaun Amanda hingga memperlihatkan paha mulusnya. Bahkan bibir itu sudah hampir menyentuh bibir Amanda.
"Tolong..!!" teriak Amanda sangat kuat.
"Jangan Doni!" teriak Amanda dan memberontak.
Ketika akan melepas paksa baju Amanda, Thomi datang mendobrak pintu.
"Amanda!!"
Emosi Thomi memuncak ketika mendapati keadaan Amanda yang diperlakukan kurang ajar oleh Doni. Thomi langsung menarik tubuh Doni dan melayangkan pukulan-pukulan keras. Tidak perduli dengan rasa sakit ditangan dan tubuh yang beberapa kali sempat mendapatkan pukulan dari Doni, Thomi masih tidak berhenti menghajar pria brengsek itu hingga membuatnya pingsan.
"Amanda!"
Amanda memaksa turun dari atas tempat tidur dan karena lemas, dia terjatuh kelantai dalam keadaan menangis sejadi-jadinya.
Thomi menghampirinya dan memeluknya dengan erat.
"Maafin aku Thom.." ucapnya sembari menatap lekat Thomi.
Thomi melihat ketakutan yang begitu besar dari tatapan Amanda, sekali lagi dia mendatangi Doni dan memukulinya meski Doni sendiri masih tidak sadarkan diri.
"Kita pulang sekarang.."
"Aku minta maaf.."
__ADS_1
"Enggak sayang.. Aku yang minta maaf! maafin aku!"
Thomi menggendong Amanda kedalam mobil sedangkan Amanda tidak henti-hentinya menangis dan meminta maaf.