
Evans dan Aqilla juga sudah dibawa kembali kerumah Tuan Thosio. Disana Evans sempat bertengkar dengan Abian mengenai semua perlakuannya.
Evans tidak pernah suka dengan sikap Abian yang ingin terlihat menang sendiri, apa lagi sekarang kakaknya benar-benar sudah resmi menikah dengan pria angkuh itu.
"Kalau kamu butuh sesuatu, kamu bisa langsung bilang sama saya!" tawarkan Abian tapi Evans sangat bersikap dingin.
"Saya dengar kamu suka main basket? kebetulan kita punya hobi yang sama. Saya buatkan lapangan kecil dibelakang rumah, siapa tau kamu mau pakai!"
"Saya gak butuh apa pun dari anda! dan kalau pun bukan karena permohonan kak Auris, saya gak akan pernah sudi untuk tinggal dirumah orang angkuh seperti anda Tuan Abian Bara!" ketus Evans dengan melotot.
"Kamu masih membenci saya?"
"Benci? haha!" tertawa kecil.
"Benci? sekedar benci aja gak cukup!" lanjutnya.
"Saya membawa kamu dan kakak kamu kesini, karena saya ingin memperbaiki semuanya."
"Gelas yang pecah gak bisa disatukan lagi menjadi utuh seperti semula Abian!"
"Saya akan tetap perbaiki!"
"Kamu sudah merusaknya!"
"Setidaknya saya sudah mencoba!"
"Ya.." dengusnya kasar sembari melempar tasnya keatas ranjang tidur.
"Saya mencintai Auris!" pandangan Evans kini benar-benar fokus.
"Saya benar-benar mencintai Auris! saya akan buat dia merasakan hal yang sama!"
"Oh ya? kamu mau mendapatkan kepercayaan dari saya? kamu salah orang Abian!" jawab Evans dengan lantang.
"Terserah kamu mau bilang apa! saya akan buktikan omongan saya!"
"****!!"
Abian pergi dengan sedikit mengusung senyumnya, sedangkan Evans semakin dibuat emosi.
Kata-kata Abian sungguh masih terngiang-ngiang ditelinganya.
Setelah hampir setengah hari dibuat syok dan gaduh dengan segala apa yang Abian perlihatkan, tampaknya sudah waktunya mendinginkan kepala dan hati Ibu Sora.
Thomi sudah datang dengan membawa kejutan besar untuk ibu Sora.
Semua orang berada diruang tengah, semuanya memasang wajah datar dan ketegangan menyelimuti seisi ruangan itu. Auris masih berada dikamar atas, sedangkan Evans dan Aqilla berada diruang tengah bersama dengan yang lainnya.
Suara langkah agak berat dan ragu-ragu mulai terdengar mengisi ruangan yang tengah mereka jadikan sebagai tempat berkumpul.
Sesosok anak kecil begitu manis dan sangat tampan berjalan dengan lugas yang langkahnya dibarengi dengan Thomi yang berada tepat disebelahnya.
'Siapa anak kecil itu?'
Begitulah kalimat pertama yang terlintas dalam pikiran ibu Sora.
"Ayo sayang.. Itu papa!" ucap Thomi pada Ken.
"Papa..!" sebut Ken dengan suara tegas.
Abian menghampiri Ken lalu memeluknya.
"Papa?" tanya Ibu Sora.
"Iya ma! Ken Adinata Bara, cucu mama!" jawab Tuan Thosio.
"Ken?" Ibu Sora langsung memeluk cucunya dengan penuh cinta.
Ken tampak bingung dengan pandangan semua orang yang ada disana, terlebih lagi dengan seorang wanita yang kini masih mendekapnya.
"Papa..?" tanya Ken.
__ADS_1
"Ini mamanya papa.." jawab Abian.
"Mamanya papa? berarti.. Nenek?"
"Jangan panggil nenek dong.. Oma.." sahut ibu Sora sembari tersenyum gurau.
"Oma..? jadi Ken punya oma?" tanya Ken dan wajah itu terlihat begitu bahagia.
"Opa juga!" sambung Tuan Thosio.
Dan tidak berapa lama setelah itu, Auris datang.
"Mama.." Ken langsung menghampiri Auris.
"Mama..?"
Ken tidak bertanya apa pun, dia hanya memasang wajah dengan ekspresi yang sangat bahagia. Dan Auris hanya bisa menjawabnya dengan anggukan.
"Makasih mama.." ucap Ken dan memeluk ibunya.
"Mama kan udah janji sama kamu, semua orang disini sayang sama kamu. Janji harus tetap jadi anak yang baik. Nurut sama oma, opa, om, tante, dan yang lainnya ya!" nasehati Auris dan Ken mengangguk.
"Malam ini opa mau nemenin Ken tidur.." ungkap Tuan Thosio.
Ken melirik kearah ibunya dengan tatapan permintaan izin dan Auris mengangguk sembari tersenyum tipis.
...🌹🌹🌹...
Sejak hari itu begitu banyak hal yang berubah dengan sangat cepat. Aqilla melanjutkan sekolahnya dijakarta, Evans mencari pekerjaan yang sama seperti dibandung, dan tampaknya pekerjaan barunya kali ini tidak begitu buruk.
Ken juga pindah sekolah dari Bandung dan sekarang bersekolah ditempat yang sama seperti Bella. Namun ada sesuatu yang masih dirasa aneh oleh Ken.
'Kenapa dia selalu berada dalam mobil yang berbeda ketika ayahnya pergi mengantar Bella kesekolah dalam satu mobil?'
Tidak jarang Ken memperhatikan sikap ayahnya yang berbeda dengan dirinya dan juga saudarinya yaitu Bella.
Seperti sore itu setelah Ken pulang sekolah, dia memasang wajah murung sembari menuju kamar.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Auris namun Ken tidak bicara apa pun.
"Maaf ma.."
"Sini! cerita sama mama!" pinta Auris dan mengajak Ken duduk disofa dekat tempat tidur.
"Apa ada sesuatu yang mama sama papa sembunyiin dari Ken?"
"Sayang.. Kok ngomong begitu?"
"Kenapa Ken gak pernah diantar sama papa? kenapa cuman Bella aja ma? kenapa harus beda mobil? kenapa temen-temen Ken gak boleh tau siapa papa? kan papa Ken sama papa Bella sama.."
Auris dirundung dengan berbagai macam pertanyaan yang tentu tidak bisa dia jawab dengan jujur.
"Mama gak bisa jawab..?" tanya Ken dan Auris masih terdiam dengan menghela nafas berat.
"Urusan orang dewasa ya ma?"
"Ken..?"
"Oke.." jawabnya pasrah dan Auris langsung memeluk anaknya sebab begitu tidak kuat dengan keadaan saat ini.
"Maafin Ken ya ma.." ungkapnya.
"Tapi ma.. Ken pengen banget.. Diantar papa kalau berangkat sekolah!"
"Besok papa antar kamu!" ucap Abian yang tiba-tiba masuk.
"Beneran pa?"
"Maafin papa ya! besok kita bisa berangkat kesekolah bareng sama Bella!"
"Wahh makasih ya pa.."
__ADS_1
Ken tersenyum senang dan memeluk Abian.
Lalu setelah itu pergi keruang tengah untuk menemui Bella.
"Kamu kenapa masih disini?" tanya Auris ketika Abian masih berada didalam kamarnya dan tidak juga pergi dari sana.
"Kenapa? saya suami kamu Auris.. Saya berhak dong.." jawabnya dan duduk disofa sebelah Auris.
"Malam ini saya mau tidur disini!" lanjutnya dan Auris terlonjak seketika.
"Keluar dari sini sekarang!"
"Kamu kenapa?" tanya Abian sembari tertawa menggoda.
"Saya gak lihat ada rasa takut diwajah kamu, jangan-jangan kamu memang berharap supaya bisa berdua-duaan sama saya ya?" godanya lagi.
"Jangan kepedean kamu! keluar dari kamar saya, saya gak mau nanti Karina salah paham!"
"Salah paham? kita pasangan suami istri, harus berapa kali saya jelaskan itu sama kamu?"
"Udah lah Abian.."
"Oke.. Kamu fikir saya beneran mau tidur disini? saya cuma akan tidur dikamar ini kalau kamu sendiri yang pinta!"
"Gue? gak waras ni orang!" gerutu Auris dalam hati.
"Kamu bahkan gak tanya kenapa saya pulang cepat begini kan? istri macam apa kamu Auris.." sindir Abian tapi Auris bersikap acuh.
"Kamu beneran gak tanya kenapa?" tanya Abian lagi dengan serius.
"Bukan urusan saya!"
"Saya kesini karena mau cerita sesuatu sama kamu. Dikantor ada banyak pekerjaan yang gak bisa saya tangani sendiri!" beritahunya.
"Oh ya? istri kamu itu mana? bukannya dia kerja juga di perusahaan kamu!"
Auris sebenarnya sedikit penasaran dengan cerita Abian. Merasa pegal dengan posisi yang sedari tadi berdiri, ia berpindah posisi dan duduk ditempat tidur.
"Karina juga punya banyak urusan! saya butuh sekertaris!" beritahunya lagi.
"Oke.. Saya punya banyak kenalan di market, kalau kamu mau, saya akan cari orang yang cocok!"
"Saya maunya kamu!"
"Saya?" Auris sekali lagi terlonjak kaget.
"Iya.. Saya bukan tipe orang suka memohon dan berharap lebih dari seseorang, asal kamu tau itu! tapi untuk kali ini, saya akan lakukan itu. Kamu harus mau bergabung diperusahaan lagi!" pintanya.
"Kamu mau menjadikan saya umpan? saya gak mau berurusan sama Karina!"
"Karena karina? bukannya ini kesempatan buat kamu?"
"Maksud kamu?"
"Kalau kamu jadi sekertaris saya, pasti Karina akan cemburu. Saya tau Auris, sebenarnya kamu menyimpan perasaan kesal yang cukup besar kan buat Karina? saya bukannya mau jadi profokator, tapi saya rasa ini penawaran yang cukup bagus!"
Abian mencoba meyakinkan Auris untuk bersedia menjadi sekertarisnya. Hanya ini cara terbaik agar dirinya bisa memiliki banyak waktu yang lebih untuk bisa bersama dengan Auris. Wajar saja, tidak ada waktu baginya untuk bisa lebih dekat lagi dengan Auris karena Karina yang selalu sependapat dengan ibunya.
Ibu Sora juga tidak pernah memberinya kesempatan untuk bisa hanya sekedar bicara empat mata dengan Auris meski mereka tinggal dalam satu rumah yang sama.
Mendengar tawaran Abian yang satu ini, sepertinya tidak akan merugikan dirinya, untuk itu Auris tidak ragu menerima tawaran Abian.
"Lagi pula.. Memangnya kamu gak bosan setiap hari dirumah? apa lagi harus berhadapan sama mama."
"Saya terima tawaran kamu!"
"Serius? saya butuh pekerja yang profesional loh, saya gak mau kalau cuma untuk main-main!" ungkap Abian.
"Saya bilang saya mau! kalau kamu ragu, lebih baik gak usah aja deh!"
"Saya tunggu dimobil!" sahut Abian dan langsung pergi.
__ADS_1
"Mau kemana?"
"Cari pakaian yang bagus buat sekertaris baru saya!" sahut Abian dari luar pintu kamar dan berlalu begitu saja.