
"Dari mana aja kamu?" tanya Abian dengan menatap sinis Auris dari kursi kerjanya.
Auris duduk dikursi kerjanya dan berusaha mengalihkan pertanyaan Abian dengan cara mengerjakan beberapa tugasnya dilaptop.
"Saya tanya kamu dari mana?" tanya Abian lagi dan kini menghampiri Auris kemeja kerjanya.
"Urusan pribadi.. Gak penting juga.." jawabnya sembari jemarinya yang sibuk mengetik di papan keyboard.
"Urusan pribadi? kamu ketemu siapa?"
"Temen!"
"Temen? atau pacar?"
Auris tidak senang dengan ucapan Abian hingga membuatnya berdiri dari posisi duduknya.
"Dia cuma teman! gak usah ngaco kalau ngomong!" bentak Auris.
Keduanya saling bertatapan dengan pandangan sinis dengan posisi tubuh yang begitu dekat.
"Tapi semanis itu ngobrol sama dia? saya liat bagaimana cara kamu bicara sama dia Auris!"
"Terus kenapa? kamu cemburu?"
"Iya saya cemburu! kamu bahkan gak pernah bersikap semanis itu ke saya!"
"Jangan sama kan antara kamu dan pak Andre!" pungkas Auris.
"Ooh jadi namanya Andre? kamu suka sama dia?"
"Abian! itu bukan pertanyaan! kamu menuduh saya!" bentak Auris.
"Auris! harusnya kamu ngerti dong sama perasaan saya!"
"Ngertiin perasaan kamu? kamu gak salah? kamu ngajak saya makan malam, sedangkan kamu mau menghadiri acara ulang tahun pernikahan kamu sama Karina? otak kamu berfungsi gak sih sebenarnya?"
"Saya bisa cancel!" jawabnya.
"Kamu gak sadar kamu itu siapa Abian? kalau kamu cancel, terus gimana perasaan tamu undangan kamu? itu acara kamu loh!" ingatkan Auris.
"Saya gak perduli Auris!" bantahnya.
"Saya juga gak perduli! ooh iya, satu lagi! malam nanti saya juga dateng kok ke acara kamu. Kamu gak perlu khawatir, saya akan jadi partnernya pak Andre!" beritahunya sembari memperlihatkan senyuman kemenangan.
"Sama dia? Auris kamu gak faham juga apa yang saya bilang? saya gak suka!" bentaknya.
"Terus mau kamu apa? toh juga yang orang-orang tau kita cuma rekan kerja kan? udah lah Abian.. Mulai dari sekarang.. Jangan mengatur apa pun yang saya lakukan!"
Abian merasa bahwa hatinya seakan mendapat goresan dari sayatan sebuah pisau yang begitu tajam. Sudah sekuat mungkin dia berusaha meluluhkan hati Auris, belum lagi berhasil, malah sekarang datang masalah baru lagi.
Auris hendak kembali duduk dikursinya, tapi Abian menarik tangannya dan tanpa dugaan, Abian mencium bibir Auris. Auris tersentak hebat tidak percaya, tapi sebelum melakukan protes, Abian mendekap tubuhnya hingga membuatnya sudah begitu mepet kemeja kerjanya. Abian belum berhenti disitu saja, dia kembali mencium bibir tipis Auris yang rasanya sudah delapan tahun lebih tidak pernah mendapatkan satu ciuman apa pun dari pria mana pun.
Abian semakin memperdalam ciumannya, Auris berusaha mendorong tubuh Abian, tapi pria itu meraih tangan Auris dan memegangnya begitu erat. Auris tidak bisa memberontak lagi sebab Abian sudah semakin menggila, ciuman yang begitu dalam yang membuat Abian memainkan lidahnya didalam sana.
Auris meremas kuat genggaman tangan Abian sedangkan Abian masih begitu menikmati permainannya.
Tok Tok Tok
Moment romantis itu harus berakhir dengan terpaksa karena seseorang diluar sana sedang mengetuk pintu dan akan masuk.
Auris kembali duduk ditempatnya sembari mencoba bersikap tenang dan berpura-pura sibuk dengan semua berkas yang ada dimejanya.
__ADS_1
Sedangkan Abian juga kembali kemeja kerjanya dan dengan terburu-buru merapihkan dasi dan jasnya.
"Masuk!" jawab Abian.
"Maaf mengganggu pak. Ibu Karina bilang, hari ini bapak harus pulang lebih cepat!" beritahu bawahannya.
"Kenapa harus nelpon kamu?"
"Katanya handphone bapak tidak bisa dihubungi!"
Abian mengecek ponselnya dan ternyata sedari tadi Karina menelponnya.
"Ya udah makasih infonya! kamu bisa pergi!"
"Maaf pak sekali lagi! ada titipan buat sekertaris Auris!" beritahunya lagi dan memberikan satu kantong tas yang isinya gaun cantik.
"Dari siapa?"
"Emm.." karyawan itu sedikit ragu untuk menjawab tapi Abian sudah terlanjur memasang wajah menyeramkan hingga membuatnya harus berkata jujur.
"Dari siapa!" bentak Abian.
"Dari pak Andre! manajer Market pak!"
"Ya udah kamu bisa pergi!" jawab Abian dan mengambil tas tadi lalu membukanya.
Abian terkekeh pelan dan memijat keningnya pertanda ketidak senangannya.
"Gaun? katanya cuma teman.."
"Sini Abian!" pinta Auris yang masih tampak gugup.
"Kamu mau terima?" tanya Abian sembari mengeluarkan gaun cantik itu dari dalam tas lalu membuangnya kedalam tong sampah.
"Abian!" teriaki Auris.
Abian mendekati Auris dan merasa puas dengan apa yang dia lakukan.
"Kamu hanya milik saya Auris! kamu istri saya!" bisiknya disebalik telinga Auris dan sekali lagi tanpa izin, ia mengecup leher jenjang wanita itu begitu saja hingga membuat Auris mati kaku.
Abian pergi dari ruangannya dan meninggalkan Auris dengan segala kegalauannya.
Dilain tempat hal yang hampir serupa juga terjadi pada Amanda dan Thomi. Pagi tadi selepas melakukan meeting dengan perusahan sebelah, Amanda harus dibuat cemburu karena diam-diam manajer dari perusahaan kerja sama mereka tampak menyukai Thomi.
Siang ini Amanda masih tengah disibukkan dengan beberapa pekerjaannya hingga membuatnya harus menemui beberapa rekan kerjanya dilantai empat.
"Sekertaris Amanda!" panggil seorang wanita seusianya sembari menepuk pelan bahunya.
"Buk Natasya? masih disini?" tanya Amanda ketika mendapati manajer dari perusahaan yang pagi tadi meeting bersamanya ternyata masih berada dikantor.
"Iya nih, saya mau titip sesuatu boleh?" tanyanya sembari meringis.
"Boleh dong! mau nitip apa dan buat siapa?"
"Emm,, kamu kan sekertarisnya pak Thomi.., jadi saya mau minta tolong kasih ini buat dia ya!" mohonnya dan memberikan satu kantong tas yang berisi kue.
"Haa?" Amanda melongo tidak percaya, dia masih menatap lekat titipan wanita itu yang sudah hampir ia raih.
"Bu-buat pak Thomi?" tanyanya dengan kata terputus-putus.
"Iya.. Saya malu kalau mau kasih secara langsung. Anggap aja ini hadiah karena pak Thomi udah mau jadi partner saya nanti malam!" ungkapnya dan sekali lagi Amanda tersentak hebat dan membuka matanya lebar-lebar.
__ADS_1
"Partner? buat acaranya pak Abian?" tanyanya masih tidak yakin.
"Iya.. Kebetulan saya diundang. Kamu juga datang kan?"
"I-iya dong. Saya pasti datang. Emm,, kalau gitu saya kasih langsung kuenya buat pak Thomi!"
"Makasih banyak ya buk Amanda!" ucapnya dan memegang tangan Amanda tanda rasa terimakasihnya.
"Lepasin tangan gue sebelum gue murka.. Dasar pelakor!" umpat Amanda dalam hati.
"Ya udah saya permisi! sampai ketemu dipesta!" ucapnya lalu pergi begitu saja.
"Waah pak Thomi beruntung banget ya. Udah lah sesama manajer, cantik lagi!" ucap beberapa rekan kerja Amanda.
"Kayaknya sebentar lagi pak Thomi mau melepas masa lajangnya deh. Buk Natasya beruntung banget.." sambung temannya.
"Kalian ngomong apaan sih?" bentak Amanda.
"Loh kok ngegas? wah gak beres nih, kayaknya sekertaris kesayangan pak Thomi lagi cemburu!" goda teman-temannya.
"Cemburu? saya bukannya cemburu, tapi pak Thomi lagi fokus sama pekerjaannya. Dia gak ada waktu buat cari jodoh!" jawab Amanda dengan nada juteknya lalu pergi dari sana.
"Diih kok malah dia yang kesel!" ungkap temannya.
"Ya wajar lah.. Bertahun-tahun jadi sekertaris, Deket malah, eeh taunya sampai sekarang gak punya hubungan serius!" sambung teman-temannya yang lain dan mereka menertawai nasib Amanda. Padahal mereka tidak tau saja jika Amanda dan Thomi adalah pasangan suami istri.
Amanda masuk kedalam ruangan Thomi dan mendapati Thomi masih fokus dengan pekerjaannya.
"Sayang.. Udah selesai urusannya?" tanya Thomi dengan nada yang begitu lembut.
Amanda tidak menjawab apa pun. Dia menaruh tas yang berisi kue tadi keatas meja kerja Thomi lalu dia duduk disofa dalam ruangan itu.
"Ini apa?"
"Liat aja sendiri!" jawab Amanda dengan wajah malas.
"Kue? waahh kamu beli atau buat sendiri?" tanya Thomi dan tanpa bertanya lebih jauh lagi, dia memakan kue itu begitu saja.
"Dari Natasya!" jawab Amanda dan spontan Thomi mengehentikan mulutnya untuk memakan kue itu.
"Kenapa udah? habisin dong!" perintah Amanda dan Thomi langsung meminta maaf padanya.
"Aku minta maaf ya.. Kamu jangan berfikir yang bukan-bukan! Natasya kasih ini mungkin karena kita itu udah lama gak ketemu. Dan juga.."
"Ooh jadi sebelumnya kalian udah saling kenal?" putus Amanda.
"Dia temen aku waktu SMA. Kalau kamu gak percaya, tanya deh Abian. Dia tau kok!"
"Abian? berarti hubungan kamu sama dia Deket banget ya? sampai-sampai Abian juga tau?"
"Gak gitu.."
"Oh iya, dia bilang makasih karena kamu udah mau jadi partner dia buat acara nanti malam!"
"Nah itu dia! aku baru aja mau ceritain itu ke kamu. Tapi karena tadi kamu kelantai empat, jadinya aku gak sempat obrolin itu sama kamu!" beritahu Thomi dengan jujur tapi Amanda sudah terlanjur kesal.
"Tapi kamu mau kan? kamu terima ajakan dia?" pastikan Amanda.
"Bukan gitu.. Tapi.., dia kan rekan bisnis kita, dia juga disana sama beberapa orang dari meeting kita tadi pagi. Kan gak enak kalau aku nolak!"
"Gakpapa.. Itu hak kamu! kalau gitu aku juga mau cari partner buat acara nanti malam!"
__ADS_1
"Sayang.. Gak gitu juga dong.."
"Selamat bekerja pak Thomi.. Pekerjaan kita banyak hari ini, jadi biarkan saya bekerja dengan damai. Karena nanti malam ada acara luar biasa yang sudah menunggu!!" jawab Amanda dan kembali mengerjakan pekerjaannya.