Istri Rahasia Tuan CEO(Secret Wife Mr.CEO)

Istri Rahasia Tuan CEO(Secret Wife Mr.CEO)
Episode 30:Semakin Terlihat


__ADS_3

Abian terbangun dari tidurnya, tidak seperti biasanya, tampaknya pagi ini dia harus mengambil sendiri pakaiannya yang ada di lemari. Biasanya Auris sudah menyiapkan pakaian kantornya diatas tempat tidur, ia hanya perlu memanggil bibik untuk memakaikan dasinya. Lalu setelah itu turun kebawah untuk ikut sarapan. Tapi semua mulai berubah ketika Auris memilih untuk berbeda kamar dengannya.


Abian dan semua orang dirumah belum menyadari bahwa Auris sudah tidak ada dirumah, ketika Abian menyadari jam tangannya yang biasa ia pakai tidak ada didalam lemari atau pun diatas meja nakas samping tempat tidurnya.


Saat itu lah dia menemukan sebuah kertas yang isinya adalah surat perpisahan dari Auris.


"Saya yang ambil jam tangan kamu. Maaf.., saya butuh sedikit uang buat perjalanan saya pergi ketempat yang jauh lebih baik. Jangan tanya kenapa saya pergi, ini demi kebaikan kamu dan Karina. Terlebih lagi untuk kebaikan keluarga BARA. Jangan khawatir, anak kamu berada pada orang yang baik, berhati lembut dan tidak seperti ayahnya. Tolong perhatikan kesehatan papa, jangan menentang mama, perbanyak belajar dari kak Adrian dan keluarga kecilnya. Soal Karina.. hati-hati, saya khawatir kamu akan betul-betul jatuh cinta sama dia. Selamat untuk pernikahan kamu!"


'Auristela Ayana'


Abian merobek-robek dan menghancurkan kertas itu, dia langsung pergi kekamar Auris dan mengecek semuanya. Benar, sudah tidak ada satu pun barang milik Auris atau pun adik-adiknya yang tersisa disana.


"Pa..! Auris pergi kemana?" tanya Abian.


"Pergi? dia belum ada keluar dari kamar sama sekali!"


"Auris pergi! dia, Evans, dan Aqilla! semua barang-barang mereka udah gak ada.." beritahu Abian dan mengejutkan semuanya.


"Apa?! kamu serius Abian? tapi kenapa? kenapa dia pergi?"


"Apa juga mama bilang, liat menantu kesayangan papa! pergi tanpa ngasih tau siapa pun. Dia itu lagi mengandung, itu cucu kita pa!" Ibu Sora malah semakin memperkeruh suasana.


Dengan cepat Tuan Thosio menghubungi Thomi untuk mencari keberadaan Auristela.


Mengingat bahwa ada Amanda disana, ia pun memanggil Amanda untuk menemuinya.


"Ada apa ya pa?" tanya Amanda yang sudah yakin bahwa dia akan ditanyai mengenai Auris.


"Ini waktunya ngeluarin bakat akting Lo Amanda.." gumam Amanda pelan.


"Apa kamu tau dimana keberadaan Auristela saat ini?"


"Tau dong pak! dirumahnya pak Abian kan?"


"Saya serius Amanda.."


"Saya juga serius pak! setau saya Auris disana. Memangnya kenapa ya pak?"


"Auris pergi dari rumah pak Thosio! saya yakin kamu tau dimana keberadaan Auris sekarang. Iya kan?"


"Pergi? bapak jangan bercanda pak, kalau Auris pergi, gak mungkin dia gak kasih tau saya! saya sahabatnya pak, saya gak tau sama sekali kalau Auris udah gak dirumah pak Abian lagi!" jawab Amanda dengan memasang wajah serius.


"Pasti dia betul-betul gak nyaman ada disana, makanya dia pergi. Pak saya mohon sama pak Thomi, cuma bapak yang perduli sama Auris, saya mohon cari Auris sampai ketemu!" lanjut Amanda memohon.


Padahal dalam hatinya, rasanya ia ingin tertawa melihat kepolosan bosnya itu, begitu mudah terpengaruh oleh kata-kata lemahnya.


"Kamu serius gak tau Auris dimana?"

__ADS_1


"Buat apa saya bohong pak.. Saya juga khawatir banget sama keadaan dia sekarang!"


"Astaga.. Dimana sih dia sebenarnya?"


Thomi masih tidak bisa memikirkan apa pun, kemana Auris akan pergi dan dimana dia akan tinggal.


Thomi kembali duduk dikursi kerjanya dan membolak-balikan kertas yang ada di mejanya, rasanya pekerjaan kantor saja masih banyak menumpuk, belum lagi Auris pergi entah kemana.


Ditambah lagi, Amanda mematung diruangannya tanpa melakukan apa pun atau bahkan pergi dari sana.


"Kamu ngapain masih disini?"


"Bapak udah selesai tanya-tanya?" tanyanya polos.


"Hahh.. Ya udah lah.. Kembali kepekerjaan kamu!"


"Ba-baik pak!" Amanda hendak pergi, tapi Thomi teringat sesuatu lalu dia menghentikan Amanda.


"Tunggu!!"


"Iya pak?"


"Ambil semua kertas-kertas yang ada dimap merah ini, kumpulin, bawa dan ikut sama saya!" perintah Thomi.


Thomi dan Amanda masuk lift untuk turun kelantai bawah. Sembari berfikir mencari keberadaan Auris, jasa Amanda akan bermanfaat untuk mengerjakan tugas-tugasnya saat nanti berada didalam mobil.


"Kita mau kemana pak?" tanya Amanda saat mereka berdua masih berada didalam lift.


"Sa-saya ikut pak? memangnya harus ya?" tanya Amanda dengan penuh hati-hati.


"Map yang kamu bawa itu, itu pekerjaan saya, jadi saya mau kamu lanjutin nanti pas kita cari Auris. Sekalian kamu mikir dimana tempat yang biasa Auris datangi! udah paham sekarang?"


"Ooh gitu ya pak! baik pak!"


Belum juga sampai dilantai bawah, tiba-tiba terjadi guncangan hebat didalam lift. Lift kemudian mendadak berhenti dilantai enam lalu lampu tiba-tiba mati dan membuat Amanda berteriak histeris.


Bayangan masa lalu suramnya tiba-tiba terlintas dikepalanya, memori tentang wajah pria bejat itu kembali menghiasi ingatannya, tampaknya Amanda selama ini mengalami trauma yang cukup serius.


"Haaaaaaaaa!" teriak Amanda dan tidak perduli dengan sekelilingnya.


"Ini cuma mati lampu! jangan panik!"


Suara Thomi bukannya membantu malah membuat Amanda semakin panik, suara itu terdengar sangat mirip dengan suara pria dimasa lalunya. Memang tidak salah mendengar, itu memang suara Thomi, suara orang yang sama namun dengan karakter yang sudah jauh berbeda.


"Jangan mendekat! atau.." ucapan Amanda tiba-tiba terhenti. Kini dia benar-benar serasa melihat kembali kejadian itu.


"Atau apa?" tanya Thomi ikut panik dan kewalahan.

__ADS_1


"Haaaaaa.. Auris!!" teriak Amanda lagi dan memukuli Thomi.


Entah pukulan itu melayang tepat pada wajahnya atau pada seluruh bagian tubuhnya. Semuanya masih gelap dan tidak terlihat.


Thomi mengambil handphonenya dan menghidupkan senternya.


"Saya manajer Thomi! tenang.. kamu lihat saya!" perintah Thomi dan menarik tangan Amanda lalu menatap matanya dengan lekat.


"Sadar Amanda..!" ucap Thomi dengan tegas.


"Pa-pak Thomi?"


Suara Amanda nampak mulai membaik, tidak berteriak histeris seperti sebelumnya.


"Kamu tenang.. Kita ada dilantai empat, saya akan panggil petugas!"


Thomi menghubungi resepsionis dan meminta untuk mendatangkan bantuan secepatnya.


Beberapa menit kemudian lampu didalam lift sudah hidup, sekarang hanya tinggal menunggu petugas untuk menyelamatkan mereka.


Keduanya duduk dilantai sembari menunggu bala bantuan.


"Kamu kenapa sih tadi? saya jadi ikut panik!"


"Ini masih lama lagi ya pak?"


"Pertanyaan saya belum kamu jawab, jangan kasih saya pertanyaan kalau pertanyaan saya sendiri belum kamu jawab!" omel Thomi.


"Emm.. Saya takut gelap!"


"Itu doang? cuma karena takut gelap?"


"Ruangan sempit, gak ada cahaya, apa lagi kalau gak cuma saya sendiri diruangan itu."


"Kenapa?" tanya Thomi mulai serius.


"Ada masa lalu gak enak aja!"


"Apa?"


Amanda hanya menggelengkan kepalanya, tidak melanjutkan kembali pembicaraan mereka.Dan tidak berapa lama kemudian, pintu lift terbuka.


Semua orang nampak lega melihat Thomi dan Amanda baik-baik saja.


Keduanya diberi minum air mineral untuk menenangkan diri, terlebih lagi Amanda yang hampir kehabisan suaranya karena berteriak histeris.


"Kita bisa lanjut buat pergi? kalau keadaan kamu belum cukup baik, kamu bisa istirahat. Biar saya aja yang cari Auris!"

__ADS_1


"Enggak pak! saya ikut, saya udah baikan kok!" jawabnya meyakinkan.


Keduanya pergi untuk mencari keberadaan Auris. Amanda sebenarnya tidak tega melihat Thomi, dia begitu serius dan gigih mencari Auris, tapi mau bagaimana? ini semua demi kebaikan Auris dan keadaan yang ada.


__ADS_2