
Ternyata Karina kembali lagi kekantor dan akan menemui Abian karena dia takut jika Auris akan berdua-duaan dengan Abian.
"Pak Abian lagi kumpul sama temen-temennya buk! gak bisa diganggu kayaknya." beritahu Amanda tapi Karina malah memarahinya.
"Saya gak perlu izin buat ketemu sama suami saya!"
"Tapi ini lagi serius banget buk!"
"Kamu berani ngatur-ngatur saya?!" bentaknya.
"Maaf buk!"
"Dia kan udah minta maaf! lagi pula Abian sendiri yang bilang kalau dia lagi gak bisa diganggu!" sahut Auris.
"Gak bisa diganggu? saya gak mau ya Auris kalau terjadi sesuatu sama suami saya!"
"Maksud kamu apa?"
"Abian kalau udah kumpul sama temen-temennya, dia bisa berbuat gak baik!"
"Pak Abian udah gak minum-minum lagi kok buk!" sahut Amanda.
"Diam kamu! tau apa kamu?!"
"Harusnya kamu bisa percaya sama suami kamu Karina! Abian lagi membahas sesuatu yang penting sama temen-temennya. Masalah pekerjaan! katanya kamu istrinya, begitu aja gak tau. Dalam hubungan, curiga terus-menerus juga gak baik!" ketus Auris dan menatap lekat Karina.
Kini tidak ada lagi rasa takut atau pun diam untuk menghadapi perlakuan Karina.
"Jaga ucapan kamu Auris!"
Karina hendak menampar Auris tapi dengan sigap Auris menangkis tangannya lalu dengan cepat meraih tangan Karina. Auris memegang kuat pergelangan tangan Karina hingga membuatnya merasa sedikit kesakitan.
"Jaga sikap kamu Karina! kamu lupa siapa saya? apa perlu saya harus ingatkan setiap saat, kalau saya.. Juga istri Abian! ya walaupun orang-orang gak tau itu, gak masalah bagi saya! tapi bagi Abian, saya tetap istri Syah nya!" ucap Auris sembari menyunggingkan senyuman tengilnya.
"Lepasin tangan saya!" bentak Karina dan melepaskan tangannya dari cengkraman tangan Auris.
"Istri? itu cuma status Auris! Abian gak punya perasaan apa pun ke kamu!" pungkas Karina.
"Oh ya?" Auris melipatkan kedua tangannya dan bersikap santai.
"Suami kamu sendiri yang datang ke saya Karina.. Untuk sekian tahun lamanya, dia kembali dan menjadikan saya sebagai istrinya. Menurut kamu apa saya yang memulai semuanya? asal kamu tau, saya sudah menjadi bagian terpenting dalam hati dan hidup Abian sejak dia memasangkan cincin ini dijari manis saya!"
Auris memperlihatkan cincin pernikahannya dan merasa puas dengan sikapnya saat ini. Karina semakin kesal dan langsung pergi begitu saja. Tidak ada yang bisa dia katakan lagi selain pergi dari sana.
"Auris... Elo keren banget sumpah!!" teriak Amanda kegirangan.
"Gue ngomong apa sih barusan?" Auris juga tidak percaya dengan apa yang baru saja dia katakan. Keduanya saling berpelukan dan merasa senang.
***
"Duduk!" perintah Abian dan membiarkan Galih duduk disebelah Anthoni.
Semuanya masih belum bicara sepatah kata pun karena jadi merasa canggung.
"Sumpah gue gelik! kita berasa lagi satu ruangan sama cewek!" pungkas Alan sambil tertawa dengan perasaan campur aduk.
"Sejak kapan lih?" tanya Thomi.
"Ma-maksud Lo apa?" tanya Galih berusaha mengelak.
"Sejak kapan lih?" tanya Thomi lagi masih dengan nada yang sangat tenang.
__ADS_1
Galih tidak bisa lagi mengelak, tidak ada alasan lagi baginya untuk berbohong.
"Maafin gue!" ucapnya dengan sepasang netra yang berkaca-kaca.
"Kita gak mau liat Lo mewek begini! kita mau Lo jelasin semuanya!" ucap Anthoni.
"Anthoni! kita bisa omongin ini baik-baik!" lerai Abian.
"Sekarang jelasin ke kita, kenapa Lo bisa ada dibar itu?" tanya Abian.
"Kita tau loh siapa mereka! guy lih! mereka guy!" lanjut Thomi.
"Iya gue tau.."
"Terus Lo ngapain disana? party? gak beres loh lih!" sambung Alan.
"Iya gue party sama mereka!"
"What!!" semuanya menghela nafas kasar dan apa lagi Alan, dia yang memiliki karakter pria cool tentu dibuat geli dengan kelakuan sahabatnya ini.
"Gue udah berusaha buat normal! gue gak bisa.." ungkapnya bersungguh-sungguh.
"Kenapa Lo gak cerita lih..?" tanya Abian.
"Buat apa? elo bisa ngerubah prilaku bejat gue ini? kalian bisa buat apa? kita semua punya banyak kesibukan yang gue gak mau kalau masalah gue membebani kalian!"
"Maksud Lo apaan?" Alan menarik kerah baju Galih dan merasa geram.
"Alan stop!" hentikan Abian.
"Kita sahabatan dari SMA bego!! kita susah seneng sama-sama. Elo kira Lo hebat banget diam begini! harusnya elo cerita!" pekik Alan.
"Gue gak normal! gue udah bohongi kalian semua. Gue bukan temen yang baik!" katanya sembari hanya bisa tertunduk malu.
"Sejak lulus SMA Thom! gue gak bisa! gak semudah yang kalian pikirin!"
"Anjirr! lama juga ya!" sahut Alan.
"Jadi gimana dong?" tanya Anthoni.
"Gini aja, gue siapin kamar dihotel paling bagus. Gue siapin cewek disana, dan terserah mau sampek pagi atau mau sampek berhari-hari Lo disana itu terserah lo!!" usul Alan lalu Abian menepuk bahunya.
"Gak usah bercanda lan! ini serius!"
"Gue serius! kita harus paksa naluri Galih! biar dia tertarik sama cewek!!"
"Elo emang sama sekali gak tertarik sama cewek lih?" tanya Anthoni karena penasaran.
"Gue gak bisa jelasin.."
"Gak usah lebay gitu jawabnya! yang macok dong! Lo harus jelasin sedetail mungkin!!" omel Alan.
"Perasaan gue lebih tertariknya tuh sama cowok.. Kalau ke cewek tuh biasa-biasa aja!"
"Mau muntah gue dengernya serius!!" jawab Alan.
"Anggap masalah ini serius!" kata Thomi dan Alan menyela.
"Memang serius! serius banget malah!"
"Gue belum selesai lan.. Dengerin dulu! anggap masalah ini serius dan kita harus bantu Galih normal lagi!"
__ADS_1
"Sulit sih kayaknya!" sahut Anthoni.
"Kita gak tau perasaan Lo sekarang ini gimana lih, tapi kita tetap bakalan usaha gimana caranya supaya elo balik lagi jadi Galih yang normal!" sambung Abian.
"Sekali lagi gue minta maaf sama kalian semua! dan makasih banget karena kalian udah care sama gue!" ucap Galih dengan tulus.
"Makanya kalau ada apa-apa itu cerita ke kita! jangan dipendam sendiri!!" omel Alan.
........
Abian semakin kesulitan berpikir dengan jernih, masalah Galih kali ini benar-benar serius, tidak bisa dibiarkan jika Galih masih memiliki karakter buruk seperti itu.
"Kita pulang sekarang?" tanya Abian pada Auris yang sudah bersiap-siap tancap gas.
"Ya.."
Auris memperhatikan wajah Abian yang sedari tadi tampak murung. Karena penasaran, Auris pun bertanya padanya.
"Ada masalah?"
"Emm.. Enggak.."
"Capek?" tanyanya lagi tanpa melihat kearah Abian.
"Perhatian banget.. Jangan-jangan kamu memang udah ada perasaan lebih ya ke saya?" goda Abian.
"Jangan merubah topik pembicaraan!"
"Hahh.. Belum ada ya? nanti kalau kamu udah cinta sama saya.., kamu bisa bilang!" jawabnya sembari tersenyum menggoda.
"Mendingan tadi saya naik Taksi!" gerutu Auris.
"Emm,, kamu ada temen yang masih single gak?" tanyanya tiba-tiba.
"Cewek? cowok?"
"Ya cewek lah.."
"Buat apa? kamu mau nambah istri lagi?"
"Istri?" terkekeh geli.
"Kamu aja udah lebih dari cukup!" godanya lagi.
"Kalau kamu mau tanya hal serius, tanya sekarang sebelum saya bad mood!" ketusnya.
"Iya-iya.. Saya mau jodohin buat Galih!"
"Ooh. Nanti saya bantu!"
"Yang seksi ya!"
"Maksud kamu apa? dasar otak mesum!" omelnya.
"Astaga Auris.. Saya belum selesai ngomong.. Galih lagi ada masalah, dia gak tertarik sama perempuan!" jelaskannya dan menceritakan semuanya.
"Ya kan saya gak tau.."
"Saya bingung, kira-kira di bisa normal lagi gak sih?"
"Kalau dia berusaha dan ada banyak orang yang mendukung dia, pasti bisa. Intinya.., jangan meninggalkan dia cuman karena satu kesalahannya. Dia butuh kepercayaan dan dukungan!" nasehatinya.
__ADS_1
"Ya ampun.. Saya beruntung banget ya bisa jadi suami dari perempuan kayak kamu. Baik, bijak, cerdas, cantik, jago berantem lagi!"
Auris tidak menjawab sepatah kata pun, dia hanya berharap segera cepat sampai dirumah agar tidak berlama-lama bersama dengan Abian dan mendengarkan rayuan tidak bermutunya.