
Abian sedang berada di Gereja. Dia berdo'a dengan menutup matanya sembari mengingat kembali semua perlakuan buruknya terhadap Auris.
Kali ini, dia benar-benar ingin memperbaiki semuanya. Abian berharap besar agar Tuhan memberinya kesempatan sekali lagi.
"Lama banget sih dia.." Thomi ngedumel didalam mobil saat menunggu Abian tengah berdo'a.
Tidak mungkin jika Thomi ikut masuk kedalam sana, karena agamanya dan agama Abian berbeda.
Meski keyakinan mereka berbeda, namun kedua sahabat itu nyatanya sudah bersahabat sejak lama dan masih bertahan sampai saat ini.
"Elo bawa mobil! kita berangkat sekarang!" perintah Abian pada Thomi.
"Kita mau kemana sih sebenernya?" tanyanya dengan wajah malas.
"Cari Auris!"
"Haaa!!" Thomi terlonjak kaget dan melotot.
"Buat apa? gak ah gue gak mau! mau cari dimana cobak?" tolaknya.
"Dimana aja terserah.., gue mau secepatnya bisa ketemu dia!"
"Abian please.. Bus sekolah anaknya Auris itu udah balik, elo mau cari dia dimana?"
"Bentar.., maksud Lo apaan? anak auris? Ken itu juga anak gue!"
"Ya.. Ya bukan gitu maksud gue.."
"Kita kebandung sekarang!"
"Ngapain jauh-jauh kebandung? Auris kan disini." gumam Thomi dalam hati.
"Elo mikirin apaan sih? ayo jalan sekarang!"
Dengan terpaksa Thomi mengikuti keinginan Abian. Mau bagaimana lagi, dari pada Abian curiga, lebih baik dia mengikuti alurnya saja.
Masih ditengah perjalanan, mereka berhenti untuk membeli minuman. Dan saat itu hanya Thomi yang pergi keluar sedangkan Abian berada didalam mobil.
Deeerrttrr
Suara handphone Thomi bergetar dan yang menelepon ternyata Amanda. Handphone itu berdering berkali-kali hingga Abian memutuskan untuk mengangkatnya.
"Om Thomi!" suara itu mengejutkan Abian.
"Kok anak kecil?" pikir Abian.
"Kata Tante Amanda, nanti kalau om udah balik.. Belikin Ken mobil-mobilan yang kemarin kita liat itu ya!" pintanya lagi.
"Si-siapa ya?" tanya Abian dan Ken juga gantian terkejut.
"Ini bukan om Thomi?"
"Saya temennya om Thomi.. Kebetulan handphonenya lagi om pinjem. Ooh iya.. Nanti pesan kamu om sampaikan sama om Thomi!" jawab Abian dengan nada lembut.
"Waahh makasih ya om.. Tolong sampaikan juga sama om Thomi, kata Tante sama mama kita gak jadi pergi buat main om. Karena cuacanya lagi gak baik."
"Oke.. Nanti om sampaikan!"
"Makasih om.. Ken tunggu dirumah ya!" katanya dan spontan saja Abian terkejut.
"Ken?"
"Eee tunggu sebentar jangan dimatikan!" ucap Abian.
"Ken?" tanya Abian ragu.
"Iya.. Ini ken!" jawabnya polos.
"Ken Adinata Bara?" sebut Abian lagi.
"Kok om tau sih?"
"Kamu sama siapa disitu sayang?"
"Kenapa om ini tau nama aku ya?" pikir Ken bingung.
__ADS_1
"Halo.. Ken.. Kamu ingat om yang pernah kamu obatin tangannya dikebun binatang waktu itu?"
Abian dengan secara cepat membantu Ken untuk mengingat kembali kejadian pada waktu itu dan ternyata Ken masih mengingatnya.
"Om baik?"
"Ya.. Eemm, oke, kamu tau sulap gak?"
"Iya.. Ken tau.."
"Om bisa sulap loh! percaya gak kalau om bisa Dateng ketemu langsung sama kamu hari ini juga?"
Abian baru memulai triknya, kali ini dia tidak akan kecolongan lagi.
"Beneran om bisa?"
"Iya dong. Tapi kamu janji dulu!"
"Janji?"
"Jangan kasih tau siapa pun kalau om mau ketemu sama kamu! kita kasih kejutan buat mama sama tante Amanda! gimana?" yakinkan Abian dan tentu saja anak kecil itu mengikuti perkataan Abian begitu saja.
"Sampai ketemu nanti Ken.."
Abian mengakhiri panggilan dan menaruh handphone Thomi disaku jasnya.
"Kita lanjut lagi ni?" tanya Thomi yang sudah masuk kedalam mobil.
"Kerumah Lo sekarang!"
"Kerumah gue? ngapain?"
"Menurut lo? kita ngapain harus jauh-jauh kebandung?"
"Bi tolong lah gak usah aneh kayak gini.. Tadi Lo bilang mau kebandung, sekarang kerumah gue."
"Elo yang aneh Thom!" teriak Abian dan kini suasana didalam mobil itu semakin menegangkan.
"Kenapa Lo harus sembunyiin ini semua dari gue?"
"Maksud gue apa? ini apa?!"
Abian memperlihatkan handphone milik Thomi lalu menjelaskan apa yang baru saja terjadi.
"Auris sama Ken ada dirumah Lo kan? sejak kapan? sejak kapan Lo nyembunyiin ini semua dari gue?"
"Abian.."
"Kenapa!!!" teriak Abian lagi dan begitu saja dia tiba-tiba menangis dan tidak perduli dengan situasi saat ini.
"Elo tau kan gue udah susah payah cari Auris selama ini? kenapa Lo harus bohong?"
"Abian Lo nangis? please lah jangan kayak gini!"
"Brengsek lo Thom!" maki Abian.
"Gue minta maaf!"
Dilain tempat, Karina sudah sibuk mencari keberadaan Abian yang memang pergi tanpa memberitahukan apa pun.
"Marno!!" panggil Karina pada sopir pribadi Abian.
"Iya nyonya, ada apa ya?"
"Mana Tuan Abian? kenapa dia gak ada dikantor?" tanyanya lagi sambil marah-marah.
"Maaf nyonya, saya gak tau kalau itu!"
"Jangan bohongi saya! saya tau kamu bohong, kamu mau saya pecat? dimana Tuan Abian?"
"Anu nya.. Pergi sama Pak Thomi.."
"Pergi kemana?"
"Kalau gak salah sih mau kebandung, tapi saya kurang tau ada urusan apa!"
__ADS_1
"Mendingan kamu jemput Bella sana! cepetan..!!"
"Kebandung? jangan-jangan dia lagi cari Auris?" pikirnya lalu Kariana menelpon para pesuruhnya pada waktu itu.
"Udah ketemu sama perempuan itu?"
"Ma-maaf bos! kemarin udah hampir berhasil, tapi tiba-tiba aja dia dibantu sama temannya yang jago berantem bos. Tapi bos gak usah khawatir! secepatnya perintah bis pasti berhasil!"
"Saya gak mau dengar alasan kalian yang gak jelas! secepatnya temukan dia dan lakukan tugas kalian dengan baik! hahh!" erangnya lalu menutup panggilan.
"Marah-marah aja, punya masalah sebesar apa sih?"
Tiba-tiba Devina datang mengejutkannya.
"Ee kak vin? enggak.. Gak ada masalah apa-apa kok, cuma ini, orang-orang kantor lagi banyak problem."
"Ooh.. Bukan karena Abian pergi gak ngabarin kamu kan?"
"Enggak lah kak.."
"Aku dengar Auris lagi ada dijakarta, kayak kamu harus siap-siap deh."
"Siap-siap buat apa ya kak?"
"Kayaknya rumah ini bakalan kedatangan tamu sepesial! aku takut kamu gak bisa berbaur dengan baik nantinya!"
"Tamu tetap tamu kak Devina.. Dia harus tau apa posisinya kan?"
"Posisi seperti apa yang sekarang kamu bicarakan Karina? Aku pikir.. Tamu yang satu ini sangat tau bagaimana posisinya, itu sebabnya dia datang."
Karina sudah menahan rasa kesalnya dari tadi, tampaknya ucapan kakak iparnya satu ini begitu tajam seperti pisau.
"Ooh iya, kamu masih ikut bantu Abian dikantor?"
"Iya masih."
"Saran aku, kalau kamu masih tetap bantu Abian dikantor, sampai kapan pun Abian gak akan dapet sekertaris atau pun orang yang bisa bantu meringankan pekerjaan dia. Lagi pula, lebih baik kalau kamu fokus sama Bella." usulnya.
"Iya kak, nanti aku coba bicarakan sama Abian."
Devina pergi sembari menyisipkan sedikit senyuman tengilnya. Sebenarnya Devina mendengar semua pembicaraan Karina saat ditelpon tadi, dan dia begitu yakin bahwa perempuan yang Karina maksud adalah Auristela.
"Aku gak tau alasan apa yang membuat kamu pergi dari rumah ini Auris. Tapi apa pun itu, aku harap kamu betul-betul kembali. Keluarga ini butuh kamu!" ucap Devina dalam hati.
Ternyata Rumah keluarga besar Tuan Thosio sedang tidak baik-baik saja. Ibu Sora dan Tuan Thosio ternyata sering bertengkar karena Tuan Thosio sendiri selalu saja pergi dari rumah tanpa alasan. Kecurigaan istrinya mengenai perselingkuhannya, selalu saja dia elakkan dan pungkiri.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Adrian saat mendapati Devina sedang melamun.
"Gakpapa kok.. Cuma.., tiba-tiba aja keinget Auris!"
"Auris? kamu kangen sama dia? sejak kapan kamu punya hubungan baik sama dia sampai-sampai kangen begini!"
"Memangnya aku harus kasih liat kesemua orang tentang kedekatan aku sama dia? Enggak lah.. Walaupun aku sama Auris keliatannya gak dekat, tapi bukan berarti aku gak perduli kan.."
"Iya sih. Tapi kalau dilihat-lihat, mungkin ini semua balasan dari Tuhan buat Abian."
"Untuk kesalahannya terhadap Auris?"
"Ya.. Tapi mungkin udah cukup, Abian udah cukup hancur saat ini. Dia betul-betul rindu sama anaknya sendiri!"
Semua orang tau bagaimana keadaan Abian setelah kepergian Auris. Jika bukan karena Bella, mungkin dia sudah tidak akan perduli lagi dengan perusahaan mereka yang bekerja sama dengan keluarga Karina.
"Jadi selama delapan tahun ini ternyata Lo udah tau keberadaan Auris?"
Abian semakin dibuat tidak percaya ketika Thomi menceritakan semuanya.
"Ayo kita kerumah Lo sekarang!"
"Gue takut Auris marah bi.. Ini keinginan dia!" larangnya lagi.
"Dan gue? gue cuma mau bisa ketemu sama anak gue Thom! gue berhak untuk itu!"
"Oke.. Tapi jangan memaksa apa pun dari Auris! gue mohon sama Lo."
"Ya.."
__ADS_1
Thomi pun kembali melanjutkan perjalanan mereka dan pergi menuju rumahnya. Tanpa Auris ketahui, sebentar lagi dia akan bertemu dengan pria yang tidak diharapkannya.