
Esok Harinya
Semua karyawan kantor memperhatikan Thomi dengan serius ketika dia baru saja sampai. Semua pandangan tertuju padanya, sebab wajah yang baru saja kemarin memancarkan kebahagiaan yang hakiki, pagi ini malah memperlihatkan hal yang sebaliknya.
Beberapa memar dan sedikit luka terhampar diwajah tampannya, memar yang masih nampak segar terlihat dibagian sudut bibir dan pelipis matanya.
Pukulan para preman kemarin malam nyatanya menyisahkan luka yang cukup mengganggu kenyamanannya.
"Kalian lihat apa?" tanyanya pada para karyawan yang menatapnya dengan serius.
"Bu-bukan apa-apa pak!"
"Ma-maaf pak.. Teman-teman bapak sudah menunggu diruangan pak Thomi!" beritahu salah satu karyawan.
"Siapa? kenapa gak buat janji dulu sama saya?"
"Anu pak.."
"Kalau bicara yang jelas!" bentak Thomi.
"Itu pak Anthoni, pak Alan dan juga pak Abian! pak."
"Udah lama?"
"Gak begitu lama sih pak."
"Ya udah. Oh iya, saya mau sebelum jam makan siang.., laporan keuangan market bulan lalu segera antar keruangan saya!"
"Baik pak!"
"Siapa yang mengurus surat proposal buat project baru pak Abian yang dimarket?"
"Saya pak!" jawab karyawati yang berada disebelah Amanda.
"Saya mau lihat! antar keruangan saya!"
"Ba-baik pak!"
Jawabnya dan akan pergi. Semuanya menghela napas lega, tapi tiba-tiba Thomi menghentikan langkahnya.
"Ooh ya, satu lagi! buatin saya teh!"
"Teh?"
"Iya!"
"Biasanya pak Thomi gak pernah pesan teh?" bisik beberapa karyawan.
"Kenapa? gak ada yang bisa buat teh?"
"Bi-bisa pak! segera diantar!"
Thomi pergi keruangannya dan melihat teman-temannya sudah menunggu disana. Anthoni dan Alan tertawa geli melihat wajah Thomi yang sudah bonyok. Mereka pikir, seorang Thomi sudah tidak tertarik lagi dengan yang namanya perkelahian.
"Muka Lo kenapa?"
"Elo dipukuli siapa? kenapa gak kasih tau gue?" tanya Abian.
"Udah lah.. Gak penting juga!"
"No Thomi! ini serius! elo kenapa?"
__ADS_1
"Gue lagi cari alamat tempat tinggalnya Thania. Ketemu enggak, gue malah digebuki preman!"
"Cewek itu lagi? move on Thomi move on!" pungkas Anthoni!"
"Gilak lo! gak mungkin lah!"
"Mau sampai kapan? perempuan didunia ini gak terhitung jumlahnya. Dan gak ada satu pun perempuan yang bisa nolak lo! elo nya aja yang terlalu bucin!" sambung Alan.
"Udah lah guys.. Situasinya beda, gue ngerasa bersalah banget!" jawab Thomi lalu menghempaskan tubuhnya disofa empuk dalam ruangannya itu.
Dilain tempat, Office Girl, karyawan pengantar surat proposal, karyawan pengantar surat laporan keuangan, tidak satu pun diantara mereka yang berani untuk menemui Thomi dalam keadaan seperti ini.
Semuanya meminta bantuan pada Amanda untuk mengantarkan semua itu padanya. Meski sudah menolak, tapi wajar lah karena dia masih termasuk pekerja junior, jadi hal itu dimanfaatkan oleh para seniornya.
Dengan terpaksa ia harus masuk kedalam kandang singa itu. Ada para pria tampan didalam sana, kemungkin besar tidak kalah tampannya dengan member idolanya di Group EXO.
Tok Tok
Suara tangan Amanda mengetuk pintu ruangan Thomi lalu setelah itu masuk kedalam setelah mendapat sahutan.
"Ini tehnya pak!" ucap Amanda dan menaruh secangkir teh itu dengan sangat hati-hati.
"Kamu turun jabatan jadi Office Girl?" tanya Thomi memperhatikan.
"Ooh bukan pak! kebetulan Office Girl nya pada sibuk semua!"
"Dan ini juga pak! proposal dan surat laporan keuangan yang bapak pinta!"
"Kenapa kamu yang antar? yang lain pada kemana?"
"Eem.., lagi berhalangan aja pak.." jawabnya dengan sangat berhati-hati.
"Ma-maaf pak!saya kan cuma diminta tolong aja pak.."
"Terus kamu mau? itu udah tugas mereka!"
"Terus saya harus apa pak? memangnya salah kalau ada orang yang minta tolong?"
"Astaga.. Kamu duduk disana!" perintah Thomi menyuruh Amanda duduk dikursi kerjanya.
"Ma-maaf pak kalau jawaban saya salah! saya gak ada maksud apa-apa! maaf pak Thomi.. Maaf pak Abian..!" ucap Amanda sambil membungkukkan bahunya kedepan.
"Duuh salah ngomong apa gimana ya gue?" gumam Amanda dalam hati.
"Saya nyuruh kamu duduk disana buat ngecek semua laporan itu.. Cek sama file yang udah saya siapkan!"
"Ooh gitu ya pak? sekarang?"
"Ya iya lah!"
Amanda dengan sigap melaksanakan titah dari Thomi. Dengan semangat dia mengerjakan semua tugas itu.
"Siapa?"
"Karyawan.. plus temennya Auris!"
"Temennya Auris?" tanya Alan.
"Pantes aja perangainya sama!" cetus Abian.
"Tapi cantik juga sih.." goda Anthoni.
__ADS_1
"Ngomongin Auris jadi gue ingat sesuatu. Ucapin selamat dong guys buat temen kita yang satu ini!" lanjut Alan sembari menepuk bahu Abian.
"Pacaran enggak.., tau-tau istrinya udah mau dua aja!"
Deg!
Pulpen ditangan Amanda seketika berhenti bergerak dari jemarinya. Menikah lagi? sama siapa? terus Auris?.
"Maksud Lo apaan?" tanya Thomi.
"Elo belum tau? Abian mau nikah sama Karina! keren kan?"
"Elo serius bi? terus Auris gimana?"
"Ya gak gimana-gimana.., dia tetap dirumah!"
"Abian.. Jalan pikir Lo gimana sih sebenarnya? Auris masih hamil loh? Dan Lo mau nikah sama Karina?" tanya Thomi lagi masih tidak yakin.
"Gue tau itu gak bener Thom! tapi Karina terlanjur tau mengenai Auris, dia maksa atau enggak dia bakalan lapor semua permasalahan ini keorang tua dia. Elo tau sendiri kan gimana Karina? pasti dia bakalan menambah buruk keadaan!"
"Iya tapi kan.. Auris gak pantes dapat masalah sebesar ini! gue ngebayanginnya, elo hidup bahagia sama dia!"
"Pikiran Lo kejauhan Thom! ya begini lah yang namanya hidup. Isinya ujian semua!" pungkas Alan.
"Sa-saya izin ketoilet sebentar pak!"
Amanda tiba-tiba bersuara dan meminta izin untuk keluar dari ruangan yang sudah mulai gerah itu.
Hatinya semakin serasa terbakar mendengar obrolan para kaum adam itu, rasanya kuku-kuku tajamnya ingin sekali mencabik-cabik wajah Abian.
Sudah terlalu banyak permasalahan yang dia perbuat dan yang menjadi korban adalah Auris.
Kapan dia berhenti menganggu ketenangan hidup sahabatnya itu.
...🔥🔥🔥...
Hari sudah malam dan Karina masih berada dikediaman Tuan Thosio. Dia menunggu kepulangan Abian dan berencana untuk tidak membiarkan Abian tidur satu kamar dengan Auristela.
"Sekarang kamu tidur disini! aku gak mau ya kalau sampai kamu tidur dalam satu ruangan sama Abian!"
Auristela dipindahkan dikamar yang berbeda. Masih dilantai atas, namun berjarak dengan kamar Abian.
"Oke.." jawab Auris dengan santai.
Dia tidak perduli sekalipun harus berjarak sangat jauh dari Abian, toh juga dia tidak memiliki perasaan apa pun pada pria berhati batu itu.
"Bagus deh kalau kamu gak berkomentar apa pun. Kamu harus sering-sering sadar diri, siapa kamu dan apa posisi kamu dirumah ini!" sambung Karina dan pergi dari sana.
Abian menelepon bibik dan memastikan bahwa Karian sudah pulang, dan setelah itu baru lah ia berani untuk pulang kerumah. Jika bertemu dengan Karina, maka urusannya akan sangat panjang. Tubuhnya dan pikirannya hari ini masih terlalu lelah untuk menghadapi sikap Karina yang punya banyak tingkah.
Sesampainya dikamar, dia cukup terkejut melihat tidak ada lagi pakaian Auris berada didalam lemari. Sedangkan biasanya jam segini, Auris pasti sudah berada didalam kamar sambil menonton Live streaming idolnya.
Sedangkan segelas susu hangat untuknya sudah tersuguhkan dinakas samping ranjang tidur. Dan setelah itu Auris akan menawarkan minuman itu dengan ekpresi wajah datar tanpa senyuman.
Tapi kenapa hari ini tidak?
Abian melempar jasnya diranjang tidur lalu pergi keluar. Dan langkah panjangnya terhenti ketika baru saja melewati sebuah kamar yang sudah lama tidak terpakai.
"Auris?"
Dia masuk dan menghampiri Auris didalam sana.
__ADS_1