Istri Rahasia Tuan CEO(Secret Wife Mr.CEO)

Istri Rahasia Tuan CEO(Secret Wife Mr.CEO)
Episode 25:Sate Padang Pemberi Perdamaian


__ADS_3

Abian pulang selepas bekerja seharian dikantor, rasanya seluruh tubuhnya seperti dihantam oleh sesuatu yang kuat. Badan pegal dan ditambah lagi dengan isi kepala yang hampir pecah karena menghadapi tingkah Karina yang semakin menuntut waktu lebih darinya.


Belum lagi Ayahnya sendiri menuntut dirinya untuk semakin memperhatikan Auris dan kehamilannya.


...👣👣...


Dikamar Ibu Sora terlihat Auris sedang mencoba berbicara dengannya dan ingin memijat kaki beliau karena baru saja ia mengalami kecelakaan kecil, terpeleset dikamar mandi.


"Kalau mama gak mau dipijat, biar aku panggil Dokter ya?" usul Auris tapi dia malah diomeli.


"Kamu gak dengar ya saya bilang tadi? saya gak butuh Dokter! apa lagi kamu!"


"Tapi paling enggak, kaki mama biar aku liat sebentar.."


"Jangan panggil saya mama!" bentak Ibu Sora.


Suara ibu Sora yang cukup kuat, terdengar sampai keluar saat Abian tengah melewati depan pintu kamarnya.


Dan diam-diam Abian mengintip sedikit dari celah pintu yang terbuka.


"Tapi papa udah nyuruh saya buat mastiin kondisi mama baik-baik aja.."


"Papa lagi papa lagi! semua yang papa ucapin kamu turutin! kamu dikasih uang berapa sama suami saya sampai jadi begini haa?"


Ibu Sora berbicara dengan nada tinggi hingga urat-urat lehernya nampak sedikit terlihat, sedangkan Auris bersikap tenang dan kembali membujuk ibu Sora hingga ia bosan memarahi Auris.


"Saya bantu pijat ya.."


Dengan pelan Auris mulai memijat pergelangan kaki ibu Sora sambil dibarengi dengan senyuman tulusnya. Rasanya hampir sama seperti sedang memijat kaki ibunya sendiri.


Setelah beberapa saat, Abian masuk dan mengajak Auris untuk pergi mengecek kandungannya.


"Besok saya sibuk jadi sekarang aja mumpung ada waktu!" beritahu Abian lalu berpamitan dengan ibunya.


Abian dan Auristela pergi malam itu kerumah sakit menemui Dokter Yuna.


Disana Abian harus mengenakan masker dan topi agar tidak dikenali oleh orang-orang.


Setelah menghabiskan beberapa waktu untuk USG, akhirnya Dokter Yuna memberikan senyuman semeringahnya.


"Selamat Abian!jenis kelamin bayi kalian laki-laki!"


Tanpa Abian sadari senyuman tipis terukir dibibirnya, harapan yang selama ini diharapkan oleh keluarganya ternyata menjadi kenyataan.


"Kamu harus banyak istirahat, jangan telat makan, jangan melakukan aktivitas yang terlalu menguras tenaga!" saran Dokter Yuna.


"Terimakasih Dokter Yuna!" ucap Auris sedangkan Abian pergi untuk mengurus biaya administrasi.


"Auris.."


"Iya Dok?"


"Bukannya saya mau ikut campur dengan urusan pribadi kamu, tapi..,"


"Gakpapa kali Dok! tanya apa pun yang mau Dokter Yuna tanya!"


"Eem, empat bulan terakhir ini hubungan kalian sama sekali gak terbuka diruang publik loh. Kok bisa? Pak Thosio memang masih merahasiakannya atau gimana?" tanya Dokter Yuna sedikit ragu.


"Dokter Yuna pasti udah tau apa yang akan terjadi kalau semisal orang-orang tau.Ya.., mungkin lebih baik tetap diam!"


"Sampai kapan?"


Auris hanya mengangkat bahu sambil tersenyum tipis. Dia sendiri juga masih tidak tahu harus sampai kapan untuk tutup mulut.


"Semoga semua permasalahan kamu cepat selesai ya!jaga kesehatan kamu dan kandungan kamu!" nasehatinya dengan tulus.


Hari sudah hampir larut malam, Abian dan Auris pun melanjutkan perjalanan mereka untuk pulang kerumah. Tetapi pada saat dipertengahan jalan, Auris tiba-tiba mau makan sate yang baru saja dia lihat dipinggir jalan.


"Sate?" tanya Abian terlonjak kaget.


"Iya.. Berhenti sebentar ya.., gak tau kenapa saya pengen banget!" mohon Auris.

__ADS_1


"Buka mata kamu lebar-lebar! ini udah malam, lagian juga apa enaknya makan sate pinggir jalan!"


"Eee jangan sembarangan ya! makanan pinggir jalan itu enak!"


"Enak dari mana, gak higenis!" gerutu Abian.


"Kan yang mau makan saya.."


"Terus kamu gak mikirin bayi yang ada dalam perut kamu ini?" Abian melirik kearah perut Auris sembari ingin menyentuhnya namun belum juga mendarat, dengan sigap Auris menepis tangannya dengan kencang.


"Argghh!" erangnya.


"Jangan sembarangan pegang-pegang!" omel Auris


"Kenapa? itu kan anak saya juga!"


Lagi-lagi Auris tidak menggubris omongan Abian. Matanya masih menjelalak lebar kearah tukang sate yang berada dipinggir jalan.


"Kita udah berhenti disini loh.. Nanggung banget kalau gak keluar.." sebut Auris dengan wajah lesu.


"Ya ampun segitunya banget pengen makan sate! ya udah sana beli sendiri!"


"Kan nyebrang!"


"Ya udah sebrang sendiri!"


"Beneran?"


"Ya iya lah!" jawab Abian acuh dan Auris juga nekat untuk pergi sendiri.


"Eehh tunggu.." hentikan Abian.


"Kenapa..?"


"Kalau pas kamu nyebrang tiba-tiba ada kendaraan yang nyerempet, yang kena bahaya bukan cuma kamu.Tapi bayi saya juga!"


"Diih Do'a nya gak baik banget! amit-amit.."


"Bukan Do'a! saya bicara fakta!" sangkal Abian.


Abian memakai topi dan maskernya lalu setelah itu memegang tangan Auris untuk pergi menyebrangi jalan. Auris menatap wajah Abian yang terlihat tenang jika dalam keadaan seperti ini. Tapi dengan cepat dia tersadar dari pandangannya ketika menyadari bahwa pikirannya sudah terlalu jauh berlayar.


"Ganteng, kaya, punya segalanya, kehidupan yang sempurna memang.Tapi.., udah lah, nyatanya hati ini masih terlalu sakit mengingat semua sikap yang pernah dia perbuat. Biarkan waktu yang merubah segalanya!" batin Auris.


"Duduk disini!" perintah Auris lalu memesan beberapa tusuk sate dengan bumbu kuah kacang dan lengkap dengan kerupuk.


"Uwahh.. Ya ampun enak banget serius!"


Auris benar-benar menikmati seporsi sate miliknya, sedangkan Abian masih belum menyentuh miliknya sama sekali.


"Kok gak dimakan?" tanya Auris keheranan.


"Menurut kamu saya bisa makan makanan kayak gini?iwwhh." memasang wajah kusut.


Auris meletakkan makanannya dan mengambil satu tusuk sate milik Abian lalu dengan paksa memasukkannya kedalam mulut Abian.


Abian terdiam sejenak dan tidak bisa berkomentar. Disatu sisi dia merasa bahwa makanan yang mendarat didalam mulutnya ini tidak buruk, dan disatu sisi lain dia tercengang melihat sikap Auris. Seorang Abian Kaindra Bara yang penuh wibawa dan karismatik seperti dirinya, teraniaya oleh seorang wanita biasa-biasa saja, pendek, dan bukan tipenya.


"Enak kan?" tanya Auris memastikan.


"Saya bisa makan sendiri!" gerutu Abian kesal.


"Ini namanya sate padang. Rasanya gak kalah enak kok sama direstoran!"


"Emang di restoran ada sate padang?"


"Kok tanya saya? saya kan gak pernah makan direstoran!"


"Saya juga gak pernah makan sate direstoran!"


"Ya udah.. Tapi ini enak kan?"

__ADS_1


"Biasa aja!" jawabnya singkat namun masih menikmati sate Padang yang sudah habis entah berapa tusuk banyaknya.


"Udah kenyang?" tanya Auris sambil melihat makanan Abian yang habis tidak tersisa.


Abian tetap saja dengan sikap dinginnya, tidak menjawab pertanyaan Auristela dan langsung membayar makanan mereka.


"Ini pak!" Abian hendak membayar tagihan makanan mereka yang tidak seberapa, namun Auris tiba-tiba menyela dan membayar makanan mereka dengan uang seratus ribu rupiah.


"Kamu pikir saya gak bisa bayar?"


"Negatif banget pikirannya, bukan gitu.. Saya.., lagi pengen traktir kamu aja! sebagai tanda terimakasih karena udah mau mampir disini!"


"Gak usah kepedean! saya terpaksa! Ayo pulang udah kemalaman!" jawab Abian dan menggandeng kembali tangan Auris untuk sebrang.


...****...


Keduanya sudah sampai dirumah dan tidak mendapati siapapun yang masih terjaga. Semuanya sudah tertidur karena memang Auris dan Abian pulang sudah larut malam.


Sampainya didalam kamar, Auris langsung menyiapkan tempat tidurnya. Dan guling menjadi saksi atas batas wilayah kekuasaan antara Abian dan Auristela.


Abian mematikan lampu dan bersiap untuk tidur, tapi Auris meminta agar lampunya dihidupkan kembali karena dia masih belum ingin tidur.


"Apa lagi..?" keluh Abian.


"Sebentar lagi.. Saya masih belum bisaa tidur!" mohonnya sambil memasang wajah lesu.


Abian menghela nafas kasar lalu berbalik badan dan menyelimuti tubuhnya sendiri.


Kini Auris berada tepat disebelahnya, bukannya tidur dan mengistirahatkan pikirannya, Abian malah penasaran dan ingin menanyakan sesuatu pada Auris.


"Saya mau tanya sesuatu!"


"Kalau saya gak bisa jawab?"


"Saya memaksa! anggap pertanyaan saya kali ini adalah perintah papa. Jadi kamu harus jawab!"


"Hmmm" dengus Auris dengan posisi bertolak belakang dengan punggung Abian.


"Kamu masih marah mengenai perbuatan saya sewaktu di villa pada waktu itu?"


Deg


Detak jantung Auris serasa berhenti berdetak untuk beberapa detik lalu kemudian berdetak kembali dengan tempo cepat.


"Saya harus jawab?"


"Ya.."


"Itu adalah kehancuran terbesar dalam hidup saya. Menurut kamu, apa wajar kalau saya udah lupa sama semua itu?"


Deg


Tiba-tiba hati Abian serasa terkena hantaman sesuatu yang keras. Pertanyaan Auris kini berbalik menyerang logikanya.


"Seumur hidup itu gak akan mungkin bisa saya lupakan dan gak akan mungkin hilang dari ingatan saya. Tapi.., bukan berarti saya harus selalu mengingatnya."


"Saya gak pernah melakukan hal seperti itu pada perempuan yang baik. Saya salah menilai kamu pada hari itu. Karena ada sesuatu yang membuat saya jadi begitu!"


"Apa?"


"Kamu membenci saya?" tanya Abian tanpa menjawab pertanyaan Auris lebih dulu.


"Selama ini, saya hanya berusaha untuk memaafkan semua hal buruk yang udah terjadi. Bukan untuk mengingat atau mengungkitnya. Hanya memaafkan,itu yang membuat saya masih bertahan!"


"Sungguh?"


"Ya.."


"Emm oh yaa.., soal cek yang papa kasih?itu buat apa?"


tanyanya dan kini berbalik arah menghadap punggung Auris.

__ADS_1


"Udah larut malam! masih banyak pekerjaan besok dikantor!selamat malam!" ucap Auris dan mematikan lampu.


Rasanya sudah impas untuk sesi tanya jawab itu. Ada beberapa pertanyaan yang tidak bisa Abian jawab dan begitu juga sebaliknya. Nampaknya masih banyak rahasia yang keduanya sembunyikan.


__ADS_2