Jenar Ayu

Jenar Ayu
Merinding


__ADS_3

Temannya Jaya Dwipa yang memiliki nama Yoga Nugraha itu, lalu menepuk pundaknya Jaya Dwipa dan berkata, "Kalian tunggu di warung depan itu dulu! Aku akan ambil mobil pick-up kamu untuk aku bawa ke sini"


Semuanya setuju dan langsung menyeberang untuk duduk di warung makan sederhana yang ada di depan bengkel yang jadi satu dengan rumah bercat merah.


Tidak berapa lama kemudian, Yoga sang polisi yang bertugas di bidang kriminal datang dengan mengendarai mobil pickup-nya Jaya Dwipa. Saat mobil pickup itu, Yoga mawar masuk ke dalam bengkel, Jaya Dwipa, Lintang, dan tukang tambal ban yang masih kehilangan kakeknya menyeberangi jalan untuk masuk ke dalam bengkel itu menyusul Yoga Nugraha.


Seorang pria berumur sekitar tiga puluhan tahun, kelihatan belum berkeluarga, karena tidak nampak ada anak kecil di sana, dan pria itu bertubuh pendek kurus, keluar dari pintu samping rumah bercat merah. Pria pendek kurus itu melangkah mendekati Yoga untuk memperkenalkan dirinya, lalu ia juga memperkenalkan diri ke semuanya bahwa ia adalah pemilik bengkel tersebut. Kemudian pemilik bengkel mobil tersebut bertanya, "Ada yang bisa saya bantu?"


Yoga mengatakan kalau mobil pickup yang ia bawa ditabrak di depan pom bensin Garuda dan penyok di bagian belakangnya, Yoga juga mengatakan kalau mobil pickup-nya, butuh untuk ganti oli.


Pemilik bengkel itu menganggukkan kepalanya, "Saya lihat tidak begitu parah penyoknya" dan Yoga langsung bertanya, "Kalau kondisi seperti itu plus ganti oli, kita-kira butuh waktu berapa lama?"


"Sekitar tiga jam. Mau ditunggu apa ditinggal?" tanya si pemilik bengkel tersebut


Yoga menoleh ke Jaya Dwipa dan Jaya Dwipa langsung berkata, "Kita tunggu aja"


"Kalau begitu silakan duduk di ruang tunggu. Kalau lapar dan haus ada warung makan di depan"" Sahut si pemilik bengkel tesebut.


Yoga, Lintang, Jaya Dwipa dan tukang tambal ban mengucapkan kata terima kasih secara bersamaan, kemudian mereka berjalan ke ruang tunggu. Jaya Dwipa, kemudian membuka suara untuk mengajak semua yang duduk di depannya, berdiskusi di sana.


"Di mana kita bisa menemukan jasad anak kecil dan kakek tua di sini?" tanya Yoga ke Jaya Dwipa.


Lintang menyahut, "Kata anak kecil berwajah pucat pasi dengan lingkaran hitam di sekeliling matanya, yang menemui saya, dia disembunyikan di dalam bagasi mobil berwarna oranye"

__ADS_1


"Anak kecil yang menemui kamu itu memakai baju apa?" Tanya Yoga.


"Baju putih dan celana jins berwarna biru, Om" Sahut Jenar Ayu.


Yoga menautkan alisnya ke Lintang lalu ia bangkit berdiri, "Oke. Kalian tunggu di sini! Aku akan mencari keberadaan mobil oranye itu dengan berkeliling di bengkel ini"


"Hati-hati" Sahut Jaya Dwipa.


Tiba-tiba, tukang tambal ban nyeletuk, "Kenapa tengkuk saya tiba-tiba terasa dingin seperti ini?" Tukang tambal ban itu mengelus-elus tengkuknya sembari menoleh ke Jaya Dwipa.


Jaya Dwipa bersitatap dengan Litbang, mereka tersenyum dan berkata secara bersamaan, "Ada yang duduk di antara kita, Pak"


Tukang tambal ban itu sontak melompat untuk menempel ke Jaya Dwipa dan tangannya langsung menangkup lengan atasnya Jaya Dwipa.


Jaya Dwipa tersenyum dan berkata, "Nggak usah takut, Pak. Kakek itu cuma duduk di antara kita dan Kakek itu terus menatap Anda dengan sorot mata sedih. Saya rasa, Kakek itu beneran kakek Anda yang hilang"


Jenar Ayu yang menyahut, "Tidak. Kakek itu hanya diam saja dan terus menatap Anda, Pak"


Jaya Dwipa menepis pelan tangannya tukang tambal ban dari lengan atasnya dan berkata, "Anda duduk aja dengan tenang. Jangan takut! Ada saya dan cucu saya. Saya dan cucu saya sudah terbiasa melihat wong samar"


"Ta.....tapi saya belum terbiasa" Tukang tambal ban itu kembali mencekal lengan atas Kaya Dwipa dengan tubuh yang masih gemetar.


Rigel menatap Antares putra tunggalnya dengan sorot mata dingin dan perasaan hampa. Rigel bahkan tidak bisa mengenali rasa yang ada di dalam dirinya untuk putra tunggalnya itu, karena dia sendiri juga tidak mengerti apa itu rasa cinta atau rasa kasih. Hanya ada perasaan dingin di dalam hatinya. Namun yang pasti, dia tidak menginginkan siapa pun menyakiti putra tunggalnya termasuk iblis yang berada di dalam dirinya.

__ADS_1


Rigel sontak bangkit berdiri dari tepi ranjang saat ia melihat kedua kelopak mata putra tunggalnya terbuka lebar ke arahnya. Antares langsung bertanya, "Papa kenapa ada di sini? Mama mana?"


Rigel berdiri sambil menunduk untuk menatap Antares dengan sorot mata bingung dan tanpa rasa apapun.


Antares mengucek kedua kelopak matanya sambil bangun dan duduk di atas ranjang. Antares kembali menatap papanya dan bertanya, "Mama mana, Pa?"


Rigel melangkah mundur satu langkah, lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya dan berucap dengan nada datar dan tanpa ekspresi, "Mama kamu pergi"


"Pergi? Pergi ke mana? Kenapa nggak pamit dulu sama Antares?" Antares melompat turun dari atas ranjang dan Rigel kembali melangkah mundur satu langkah.


Antares berdiri di depan papanya dan mendongakkan wajah tampannya untuk meminta penjelasan yang lebih detail ke papa tampannya.


Rigel menunduk dan entah kenapa hatinya tiba-tiba merasa sakit saat kedua bola matanya bertubrukan dengan kedua bola matanya Antares.


"Pa? Kenapa diam? Mama mana, Pa?" Antares kembali bertanya.


Karena tusukan aneh yang ia rasakan di hatinya saat ia bersitatap dengan Antares, Rigel berteriak dan melotot, "Jangan cerewet dan jangan mencari Mama kamu lagi!" Lalu ia berputar badan dengan cepat dan pergi begitu saja meninggalkan Antares.


Yoga berjalan mengendap-endap ke belakang saat si pemilik bengkel dan satu anak buahnya asyik mengerjakan pickup-nya Jaya Dwipa. Yoga melihat di dekat pintu belakang bengkel mobil yang cukup luas itu, ia melihat ada mobil sedan berwarna oranye. Yoga bergumam, "Apa itu mobil yang Jenar maksud tadi?"


Yoga berlari kecil mendekati mobil oranye itu. Rasa penasarannya membuatnya lengah. Dia tidak menyadari kalau sedari awal ia melangkah menuju ke belakang bengkel mobil itu, ada seorang pria asing yang mengikutinya.


Yoga melongok ke dalam mobil oranye itu da. dia tidak melihat apapun di dalam mobil sedan berwarna oranye itu Dia mencoba membuka pintu mobil itu dan tersenyum saat ia mendapati mobil itu tidak dikunci. Yoga lalu mencari tombol untuk membuka bagasi, saat ia sudah menemukan tombol itu, ia langsung memencet tombol itu dan terdengar suara jeglek! dari arah belakang.

__ADS_1


Yoga melangkah pelan ke belakang dan dia tersentak kaget saat ia melihat ada jasad anak kecil di sana. Memakai kaos putih dan celana jins pendek berwarna biru. Persis sama dengan yang digambarkan oleh Jenar Ayu. Yoga bergumam, "Wah, Jenar ternyata mewarisi bakatnya Jaya Dwipa. Sial! Kenapa aku tiba-tiba merinding dan .........."


Bug! Sebuah balok memukul pundaknya Yoga dan Yoga memutar bada sambil memegang pundaknya. Dia bersitatap dengan seorang pria kurus bertubuh jangkung yang tampak asing baginya, namun di saat ia hendak melangkah ke depan, ia jatuh pingsan.


__ADS_2